BAB 61 - BAB 70

BAB 61

Walaupun Pang Tong dan Fa Zheng terus memaksa, Liu Bei dengan teguh menolak rencana pembunuhan Liu Zhang dengan mengadakan perjamuan walaupun itu artinya dia akan mendapatkan seluruh daerah dataran barat.

Keesokan harinya ada sebuah perjamuan lagi diadakan, saat ini didalam kota Fu Cheng dimana Liu Bei dan Liu Zhang berbicara saling terbuka satu sama lain dan mereka sangat bersahabat.

Ketika semua telah terlena oleh arak dan musik, Pang Tong berbicara kepada Fa Zheng, "Karena tuan kita tidak mau mengikuti rencana kita, kita lebih baik menyuruh Wei Yan untuk melakukan tarian pedang dan membunuh Liu Zhang."

Wei Yan segera datang, dengan pedang ditangan dan dia berkata, "Tidak ada hiburan lain dipesta ini, mungkin aku akan dapat memperlihatkan tarian pedang untuk menghibur kalian semua."

Segera Pang Tong memanggil beberapa pengawal bersenjata dan mengatur mereka di daerah sekitar tempat perjamuan sampai Wei Yan sudah menjalankan rencananya.

Melihat hal ini para pejabat Liu Zhang mulai bertatapan dengan sinar mata-mata bertanya-tanya apa yang terjadi.

Lalu salah seorang dri mereka. Zhang Ren, mengeluarkan pedangnya juga dan berkata, "Seorang lawan diperlukan untuk membuat tarian pedang ini berjalan baik. Jadi aku akan menunjukan kemampuanku juga."

Lalu mereka berdua memulai tarian itu, ketika beberapa saat Wei Yan merasa tidak ada jalan maka dia menatap Liu Feng yang segera mengerti dan mengambil posisi.

Segera 3 orang jenderal dari barat juga mengikuti berdiri dan bermain pedang serta berkata, "Dan kamu bertiga akan ikut juga. Ini akan menambah hiburan dan kesenangan ditempat ini."

Tetapi Liu Bei mulai melihat bahwa masalahnya mulai serius. Dia segera mengeluarkan pedang salah satu pengawalya , dia berdiri di tengah ruangan perjamuan itu dan berteriak, "Kita semua tampaknya terlalu banyak minum hinggal mabuk. Tidak ada yang perlu kita masalahkan mengenai hal itu, tetapi ini bukanlah perjamuan "HONG MEN", dimana pembunuhan akan dilakukan. Segera singkirkan pedang kalian atau aku akan membunuhmu !"

"Mengapa membawa pedang disebuah pertemuan antar saudara ?" kata Liu Zhang, disaat yang sama memerintahkan para bawahannya untuk menyingkirkan senjata2x mereka.

Lalu Liu Bei memanggil semua jenderal Liu Zhang dan memberi mereka arak seraya berkata, "Kalian tidak perlu ragu lagi. Kami berdua adalah bersaudara, dari darah dan daging yang sama. Kami membicarakan suatu rencana besar dan tujuan kami adalah satu."

Para jenderal Liu Zhang segera berterima kasih dan pergi.

Liu Zhang berkata pada Liu Bei, "Saudaraku, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu ini."

Lalu mereka duduk sambil minum-minum sampai larut malam, keduanya merasa sangat senang. Ketika Liu Bei mencapai kemahnya, dia menyalahkan Pang Tong karena telah menyebabkan kekacauan itu.

"Kenapa kau memaksaku untk melakukan suatu perbuatan yang salah ? hal seperti ini tidak boleh terulang kembali." Kata Liu Bei.

Pang Tong segera berpamitan dan menarik napas dalam-dalam.

Ketika Liu Zhang mencapai kemahnya, pemimpinnya menunggu dia dan berkata, "Tuan, Kau melihat maksud sebenarnya dari perjamuan itu, kami berpikir bahwa akan lebih bijak jika kau kembali kedalam kota."

"Saudaraku itu berbeda dari manusia pada umumnya." Jawab Liu Zhang.

"Dia mungkin tidak merencanakan pembunuhan ini, tetapi orang-orang disamping dia hanya mempunyai satu tujuan, yaitu untuk memanfaatkan tanah ini demi keuntungan mereka sendiri."

"Jangan kau menabur perpercahan diantara kami dan membuat kami saling membenci." Kata Liu Zhang.

Suatu hari, dia dan Liu Bei sedang bersantai-santai di tempat peristirahatan Liu Zhang. Kemudian tiba-tiba prajurit perbatasan datang dan melaporkan bahwa pasukan Zhang Lu telah menyerang Yi Zhou dan sekarang berada di Benteng Perbatasan Jia Meng. Segera Liu Zhang meminta Liu Bei untuk pergi dan mempertahankan tempat itu. Liu Bei setuju dan segera menuju ketempat itu dengan pasukannya.

Segera Para bawahan Liu Zhang meminta tuannya untuk segera menempatkan pasukannya dititik2x strategis, sehingga untuk menjaga kemungkinan Liu Bei mencoba merebut daerah itu. Awalnya Liu Zhang tidak ingin dan menolak, tetapi setelah mereka memohon padanya dengan sangat, dia pun akhirnya menyerah dan mengijinkan hal itu. Dia mengirim Yang Huai menjaga Bai Shui, Gao Pei ke Sungai Fu, dan Yan Yan dipercaya untuk menjaga Ba Zhou.

Lalu Liu Zhang kembali ke Cheng Du dan Liu Bei segera pergi ke Jia Meng. Setelah tiba disana, Liu Bei segera memenangkan hati rakyat disekitara sana dengan menjaga disiplin ketat pasukannya.

Berita mengenai apa yang terjadi dibarat ini terdengar diselatan dan Sun Quan menggumpulkan semua penasehatnya untuk membahas masalah ini.

Lalu Gu Yong berkata, "Aku memiliki suatu rencana untuk diusulkan. Liu Bei dan pasukannya sekarang jauh dan terpisah oleh daerah yang sulit untuk dilalui. Oleh Karena itu, saranku adalah untuk merebut daerah sekitar Sungai dan membuka jalan menyerang ke Jing Zhou dan Xiang Yang, mereka pasti akan jatuh ketanganmu."

"Rencana ini sungguh baik." Kata Sun Quan.

Tetapi tiba-tiba ada suara terdengar dari belakang tirai, dan berkata, "Kau harus menghukum mati orang yang barusan merencanakan kematian dari putriku."

Semua orang terkejut, ternyata itu adalah suara ibu suri sun.

Lebih lagi, dia tampak sangat marah ketika dia masuk dan berkata, "Apa yang akan terjadi pada putri satu-satunya diriku yang merupakan istri Liu Bei ?"

Dia lalu berbalik dengan mata penuh amarah dan berkata pada Sun Quan, "Kau adalah pewaris ayah dan kakakmu dan mendapatkan semua tanah ini tanpa usaha sedikitpun. Tetapi kau masih tidak puas dan melupakan apa yang telah diraih oleh darah dan dagingmu sendiri serta ingin mengorbankan adikmu hanya untuk menambah sedikit tanah milikmu."

"Bukan, bukan begitu ! Aku tidak akan pernah ingin melanggar keinginan dan perintah ibu."

Ibu Suri sun segera pergi dari ruang pertemuan itu dan dia masih tampak sangat marah.

Sun Quan lalu menarik napas dalam-dalam dan bersedih.

"Kita kehilangan kesempatan ini ! Kapankan Jing Zhou akan menjadi milikku ?"

Sementara dia masih merenung, Zhang Zhao datang dan berkata, "Apa yang menyebabkan tuanku bersedih ?"

"Bukan masalah besar, hanya saja hari ini aku gagal mendapatkan keinginanku."

"Kesulitan ini mudah untuk dihilangkan. Pilihlah beberapa orang terpercaya dan perintahkan dia membawa surat rahasia pada Sun Shang Xiang serta katakan bahwa ibunya sakit keras. Berikan dia 500 orang pengawal dan perintahkan dia untuk segera keluar dari Jing Zhou. Mendengar bahwa ibunya ingin menemuinya, dia pasti akan segera pulang kerumah dan mungkin dia akan membawa anak semata wayang Liu Bei dengannya. Liu Bei pasti akan mau untuk menukar Jing Zhou dengan putranya. Jika dia tidak mau kau tetap dapat untuk mengirim pasukan."

"Rencana ini sangat baik. Aku akan mengirim Zhou Shan, dia adalah seorang pemberani. Dia biasanya selalu menemani kakakku dimasa mudanya. Dia adalah orang yang tepat untuk pergi."

"Rahasiakanlah hal ini dan perintahkan Zhou Shan untuk segera berangkat," Kata Zhang Zhao.

Lalu diputuskan bahwa Zhou Shan membawa dengannya 500 orang prajurit yang menyamar menjadi pedagang. Dia menurunkan jangkar ditepi sungai dan mendarat. Dan dia segera pergi ke kediaman Liu Bei dan meminta ijin bertemu Lady Sun dan kemudian memberikan surat padanya. Ketika dia telah membaca bahwa ibunya sedang sekarat, dia mulai menangis dan menanyakan banyak hal kepada Zhao Shan.

Zhaou Shan lalu mengarang cerita dan berkata, "Ibu suri Sun sangat menginginkan melihat dirimu. Jika kau tidak segera pergi, aku takut semuanya akan terlambat. Ibu Suri Sun jugai ingin melihat si kecil Liu Chan sebelum dia mati."

Lady Sun berkata, "Kau tahu bahwa paman kaisar sedang berada di barat. Dan aku harus memberitahukan pada Guru Naga bahwa aku ingin pulang."

"Tetapi apa yang akan kau lakukan jika Guru Naga berkata dia harus memberitahukan dahulu pada suamimu dan menunggu persetujuannya ?" Tanya Zhou Shan.

"Tampaknya tidak mungkin aku pergi tanpa meminta persetujuan."

"Perahuku sudah menunggu ditepi sungai dan kau hanya perlu keluar dari kota ini dan kami akan mengantarmu." Kata Zhou Shan.

Berita mengenai ibunya yang sekarat telah sangat membuat gelisah Sun Shang Xiang. Dia segera meminta tandunya disiapkan dan dengan membawa Liu Shan bersamanya dia pergi menuju tepi sungai. Dia segera berangkat sebelum orang-orang diistananya memberitahukan padanya mengenai apa yang dilakukan olehnya.

Tetapi ketika perahu baru saja berangkat tiba-tiba terdengar suara berteriak, "Jangan pergi dahulu ! Biarkan aku mengucapkan salam perpisahan pada Lady Sun."

Suara itu adalah teriakan Zhao Yun. Dia baru saja kembali dari inspeksi pasukan disekitara sungai ketika dia mendapat laporan bahwa Lady Sun pergi. Segera dia menuju tepi sungai secepatnya dan dia tiba tepat pada waktunya. Perahu itu telah mulai mengembangkan layarnya dan Zhou Shan berdiri dianjungan dengan tombak ditangannya.

"Siapakah kau berani sekali menghalangi perjalanan nyonyamu ?" Teriak Zhou Shan.

Zhou Shan memerintahkan agar prajuritnya segera berlayar dan dia juga meminta mereka untuk menyiapkan senjatanya untuk bertempur. Perahu ini bergerak dengan bantuan angin dan arus yang kuat.

Tetapi Zhao Yun berusaha mengikuti disepanjang tepi sungai.

"Nyonyaku boleh pergi kemana saja dia suka, tetapi aku hanya ingin mengucapkan sepatah kata padanya." Teriak Zhao Yun.

Zhou Shan berpura-pura tidak mendengar dan memerintahkan prajuritnya untuk meningkatkan kecepatan. Zhao Yun mengikuti dari tepi sungai sejauh 4-5 Km. Lalu dia melihat ada perahu nelayan sedang berada ditepi sungai. Dia segera turun dari kudanya dan naik keatas perahu itu. Kemudian dia meminta para nelayan mengantarkannya kepada perahu yang ditumpangi lady Sun.

Ketika dia mendekat, para prajurit dari dataran selatan menghalau dia dengan tombak. Segera dia menancapkan tombaknya pada lambung perahu Zhou Shan lalu dia melompat keatas tombaknya dan tolakan dari batang tombaknya membuatnya terpental menuju keatas geladak dari perahu itu. Dia lalu menyiapkan pedang langitnya. Para prajurit dari dataran selatan terkejut dan ketakutan, lalu Zhao Yun masuk kedalam badan kapal itu dan disana dia menemui Lady Sun dengan Liu Chan didalam pangkuannya.

"Kenapa kau bersikap kasar ?" Tanya Lady Sun dengan marah.

Zhao Yun segera menaruh kembali pedangnya dalam sarungnya dan berkata, "Kemanakah nyonya akan pergi dan kenapa dia pergi secara diam2x ?"

"Ibuku sakit dan sekarat. Aku tidak punya waktu untuk memberitahukannya pada siapapun mengenai keberangkatanku."

"Tetapi mengapa tuan muda juga kau ajak jika ingin mengunjungi orang sakit ?" Tanya Zhao Yun.

"Liu Chan adalah jg anakku dan aku tidak akan meninggalkannya."

"Nyonya kau telah salah. Tuanku hanya mempunyai satu putra dan aku telah menyelamatkan putranya dari ratusan ribu pasukan Cao-Cao didalam perang besar di Chang Fan Po dan Dang Yang. Tidak ada alasan mengapa kau harus membawanya pergi."

Lady Sun segera marah dan berkata, "Kau Jangan mencampuri urusan keluargaku, kau prajurit rendahan !"

"Nyonya, jika kau ingin pergi maka pergilah, tetapi tinggalkanlah tuan muda bersamaku."

"Kau adalah pemberontak, melompat keatas perahu ini seperti itu !" teriak Lady Sun.

"Jika kau tidak meninggalkan Tuan Muda bersamaku, aku tidak dapat membiarkanmu pergi, terserah padamu apa yang akan kau lakukan." Kata Zhao Yun.

Lady Sun berkata kepada para pengawalnya dan memintanya untuk menangkapnya. Tetapi Zhao Yun tidak butuh waktu lama untuk mengalahkan mereka. Kemudian dia berusaha merebut Liu Chan dari tangan Lady Sun, tetapi Lady Sun tidaklah selemah itu karena dia bisa ilmu bela diri. Zhao Yun yang tidak ingin melukai istri tuannya itu hanya mendorongnya sehingga terjatuh dan mengambil Liu Chan. Lalu dia naik menuju geladak perahu itu. Dia berusaha untuk mengarahkan perahu ini kembali ketepi sungai, tetapi tidak dapat. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Lady Sun yang baru tersadar dari pingsannya segera berteriak dan meminta para pengawalnya merebut kembali Liu Chan. Tetapi Zhao Yun dengan sebelah tangannya menggengam pedang langit dan sebelahnya memegang putra tuannya itu tidak dapat didekati oleh siapapun.

Zhou Shan memerintahkan agar perahu mencari angin yang terbaik dan arus untuk segera dapat sampai ketepi selatan. Perahu itu telah berada ditengah2x sungai, dimana angin sangat kencang. Zhao Yun yang satu tangannya memegang Liu Chan tidak dapat berbuat banyak.

Ketika tampaknya tidak ada harapan, Zhao Yun melihat ada sekelompok kapal perang mendekati, dia melihat bendera berkibaran dan genderang perang bertabuhan. Dia berpikir bahwa semuanya telah berakhir dan dia telah jatuh kedalam perangkap dataran selatan. Ketika dia melihat bahwa yang berdiri diatas anjungan adalah Zhang Fei, dia sangat lega.

Zhang Fei berteriak, "Kakak ipar ! Tinggalkan keponakanku."

Zhang Fei sedang mengawasi daerah ini ketika dia mendengar kepergian kakak iparnya secara tiba-tiba. Dan dia segera membawa kapal2x perangnya menuju sungai Yu untuk mencegatnya. Dia tiba tepat waktu dan segera dengan pedang ditangan dan tombak ularnya dia naik keatas kapal Zhou Shan. Ketika Zhang Fei sudah naik keatas kapal, Zhou Shan mengeluarkan pedangnya dan bergerak kearahnya. Zhang Fei yang melihat hal ini segera menusukan tombaknya dan diapun tergeletak mati di atas geladak kapal itu.

"Kenapa kau bertindak sangat kasar ?" Teriak Lady Sun yang sekarang ketakutan.

"Kakak ipar, Apakah kau tidak memikirkan kakakku ketika kau melakukan perjalanan gila ini ? Hal semacam ini barulah hal yang kasar ? "

"Ibuku sangat sakit dan ini adalah masalah hidup dan mati. Jika aku harus menunggu ijin suamiku, aku pasti akan terlambat. Jika kau tidak membiarkanku pergi sekarang, aku akan membunuh diriku sendiri."

Zhao Yun dan Zhang Fei lalu berdiskusi”Tampaknya tidak ada cara untuk membenarkan bahwa seorang bawahan memaksa istri tuannya untuk melakukan bunuh diri. Lebih baik kita tetapi membawa anak ini dan membiarkan perahu dari selatan pergi."

Mereka lalu berkata, "Kami tidak dapat membiarkan istri tuan kami untuk mati secara tidak terhormat. Jadi kami akan pergi sekarang. Kami percaya kau tidak akan melupakan tuan kami dan kau akan segera kembali."

Dengan membawa Liu Chan, Zhao Yun dan Zhang Fei segera pergi dan kapal dari dataran selatan tetap melanjutkan perjalanannya.

"Cukup puas dengan keberhasilan ini. Kedua pendekar itu kemudian berlayar kembali. Sebelum mereka pergi jauh, mereka bertemu Zhuge Liang dengan sekelompok kapal perang menyusul. Dia sangat senang menemukan bahwa mereka telah berhasil mendapatkan kembali Liu Chan dan ketiganya kembali ke Jing Zhou dimana seluruh kejadian itu dituliskan didalam surat yang segera dikirimkan pada Liu Bei.

Ketika Lady Sun tiba dirumahnya dia menceritakan kematian Zhou Shan dan direbutnya Liu Chan. Sun Quan langsung marah atas gagalnya rencana ini dan dia bermaksud untuk menyerang Jing Zhou sebagai balas dendam atas kematian utusannya ini."

"Sekarang karena adikku telah tiba kembali dirumah, maka aku tidak perlu takut lagi untuk menyerangnya. Dan aku akan segera membalaskan dendam kematian dari jenderalku."

Lalu dia memanggil para penasehatnya untuk mempertimbangkan sebuah ekspedisi.

Tetapi belum mereka dapat memutuskan sebuah rencana, tiba-tiba datang berita bahwa Cao-Cao mengirim pasukannya menuju selatan dengan 400.000 prajurit. Dia ingin membalaskan kekalahannya di Chi Bi. Segera semua orang mencari cara untuk memukul mundur penyerangan ini.

Penasehat Zhang Hong yang sedang berada dirumahnya karena sakit baru saja meninggal dan dia mengirim surat wasiat kepada tuannya.

Isi Wasiat itu adalah agar pusat pemerintahan daerah selatan dipindahkan ke Mo Ling.

Sun Quan membaca surat wasiat terakhir ini didalam pertemuannya dengan para pejabatnya. Dia berkata, "Zhang Hong sangat setia sampai kematiannya. Aku tidak dapat tidak memenuhi nasehat terakhirnya."

Dan Sun Quan segera memerintahkan untuk membangun kota yang diberi nama Shi Dou di Mo Ling. Dan dia mengubah nama daerah itu menjadi Jian Ye. Dia bermaksud untuk membangun ibu kota bagi seluruh kekuasaannya disana. Jian Ye artinya "PONDASI KEKUASAAN".

(*Jian Ye sekarang sudah tidak ada, namanya telah berubah menjadi NAN JING/ Nanking)

Sebagai pertahanan menghadai Cao-Cao. Admiral Lu Meng mengusulkan membuat benteng di tepi sungai Ru Xu.

Beberapa pejabat tidak menyetujuinya dan berkata, "Ketika musuh muncul, kau harus mendarat ditepi sungai yang lain dan kemudian kembali. lalu Apa gunanya benteng di tepi sungai ?"

Lu Meng menjawab, "Seseorang harus menjaga segala kemungkinan. Menang dan kalah bisa saja terjadi. Jika ada masalah mendesak dan pasukan tidak dapat mencapai tepi sungai, dan bagaimana mereka akan berangkat ? Mereka akhirnya membutuhkan tempat berlindung."

Sun Quan berkata, "Persiapan menghadapi kemungkinan2x. Usulan yang bagus. Jika kita mempersiapkan rencana untuk menghadapi masalah yang masih jauh maka kesedihan yang akan mendekat telah menghilang sebelum masalah itu tiba."

Lalu mereka mengirim prajurit untuk membuat Benteng di tepi sungai Ru Xu dan mereka berkerja siang dan malam. Segera benteng itupun rampung.

DiIbu kota, kekuasaan dan pengaruh Cao-Cao sangatlah besar dan bertambah setiap harinya. Penesehat tinggi, Dong Zhao mengusulkan gelar Raja Muda harus diberikan kepada Cao-Cao.

Dong Zhao berkata, "Didalam sejarah, tidak ada seorangpun yang jasanya melebihi dirimu, tuan perdana menteri. Bahkan tidak juga Raja Muda Zhou atau Lu Wang. Selama 30 tahun ini kau telah mempertaruhkan nyawamu, kau telah diterpa angin dan bermandikan hujan, kau telah menghilangkan kejahatan dari seluruh kekaisaran, kau telah menenangkan keadaan dan merestorasi kekaisaran. Siapakah negarawan yang dapat disejajarkan denganmu ? Akan sangat cocok bila kau menjadi Raja Muda Wei dan menerima '9 Kehormatan' sehingga seluruh jasa dan kebajikanmu diketahui semua orang."

(*9 kehormatan (Chiu Zun Yan) itu adalah:

1.Kereta Kuda yang ditarik oleh 8 kuda.

2.Pakaian Istana yang memiliki simbol naga.

3.Musik pada perjamuan dengan orkestra istana.

4.Pintu merah, lambang kekayaan.

5.Anak tangga bertahtakan naga dan burung phoenix perlambang

perlindungan.

6.Pengawal Macan Kekaisaran, Prajurit Khusus sebanyak 300 orang.

7.kampak kekaisaran: lambang kekuasaan dan simbol upacara.

8.Busur dan 100 anak panah perlambang kekuatan.

9.Alat2x doa yang terbuat dari giok. )

Walaupun begitu, tidak semua pejabat istana memiliki pendapat yang sama.

Kata penasehat tinggi Xun Yu, "Hal ini tdk boleh dilakukan, tuan perdana menteri. Kau mengumpulkan kekuatan untuk membangkitkan rasa kebenaran pada rakyat. dan dengan kekuatan itu kau mengembalikan otoritas kekaisaran. Sekarang kau harus tetap loyal kepada kaisar. Orang yang bajik mencintai rakyatnya tdk akan melakukan hal ini."

Cao-Cao tidak senang dengan kata-kata ini.

Dong Zhao lalu berkata, "Bagaimana kita dapat mengecewakan keinginan banyak orang hanya karena perkataan satu orang saja ?"

Lalu sebuah surat dikirimkan kepada istana dan Ambisi Cao-Cao dan keinginannya segera disetujui dengan gelar Raja Muda Wei ditambah pula dengan '9 kehormatan'.

"Aku tidak pernah berpikir akan melihat hari ini !" Kata Xun Yu sambil menarik napas dalam-dalam.

Kata-kata ini sampai ketelinga Cao-Cao dan dia marah. Dia menganggap bahwa Xun Yu sudah tidak lagi akan membantu dia atau mendukungnya lagi.

Pada musim dingin ditahun ke 17 masa Jian An/tahun ke 22 masa pemerintahan kaisar Xian. Cao-Cao memutuskan untuk mengirim pasukan ketanah selatan dan memerintahkan agar Xun Yu ikut. Xun Yu mengerti dari hal ini bahwa Cao-Cao menginginkan kematian dirinya, akhirnya dia menolak penunjukan itu dengan alasan sakit. Suatu hari ketika Xun Yu berada dirumahnya, dia menerima sebuah kotak yang dikirmkan untuknya berserta surat yang ditulis oleh Cao-Cao. Dia membuka kota itu dan tidak menemukan apapun disana. Dia mengerti dan dia membunuh dirinya sendiri dengan meminum arak beracun dan mati. Dia berumur 52 tahun ketika itu.

Berita kematian Xun Yu tiba pada Cao-Cao dalam suratnya yang dikirim oleh Xun Yun anak dari Xun Yu. Lalu Cao-Cao menyesal telah melakukan hal ini dan dia memerintahkan agar pemakaman Xun Yu dilakukan dengan tata cara bangsawan. Dia juga memberikan gelar kebangsawanan bagi Xun Yu.

Pasukan Utara kemudian mencapai Sungai Ru Xu dimana kemudian Cao-Cao mengirim pasukan pendahuluan sebanyak 30.000 prajurit dibawah Cao Hong untuk mengarungi sungai.

Segera Cao Hong melaporkan, "Kapal2x perang musuh menutupi tepi sungai tetapi tidak ada tanda2x pergerakan."

Merasa Curiga Cao-Cao memimpin pasukannya menuju sungai untuk melihat musuh dan menempatkan pasukannya. Disungai dia melihat kapal2x perang berbagai jenis dibariskan menurut tempatnya masing2x, setiap divisi ditandai oleh bendera yang berbeda-beda. Peralatan tempur mereka berkilapan terkena sinar matahari. Ditengah2x kapal itu ada kapal perang besar dengan panji2x perang bertuliskan 'PENGUASA DAERAH SELATAN, SUN QUAN'.

"Dialah seharusnya anak yang ku punya. Tidak seperti anak2xnya Liu Biao." Kata Cao-Cao dengan penuh kekaguman.

Tiba-tiba, Bunyi ledakan terdengar dan kapal2x perang itu berlayar kearahnya. Pasukan Cao-Cao segera mundur dengan segera. Pasukan Sun Quan lalu menekan posisi pasukan Cao-Cao yang sedang melarikan diri. Tetapi dari arah selatan muncul lagi pasukan yang dipimpin oeh Han Dang dan Zhou Tai sehingga Cao-Cao terkepung. Tetapi disaat itu Xu Chu yang membawa 10.000 prajurit Elit Cao-Cao segera membuka jalan dan menolongnya. Mereka menerjang masuk ketengah-tengah pasukan Selatan yang sudah mendarat ditepi sungai untuk menolong tuannya. Xu Chu berhasil membunuh beberapa pulih prajurit Selatan sebelum kembali mengawal Cao-Cao.

Ketika Cao-Cao kembali kekemahnya, dia segera memberikan imbalan pada Xu CHU Yang menyelamatkan nyawanya. Dan dia memarahi para jenderal lainnya yang terlalu cepat melarikan diri.

"Kalian membuat semangat pasukan menjadi tumpul. Dan jika kalian melakukan hal ini lagi maka aku akan menghukum mati kalian."

Pada Tengah malam, tiba-tiba terdengar keributan dari arah gerbang perkemahan. Ketika Cao-Cao keluar, dia menemukan bahwa musuh telah diam2x mendekati perkemahannya dan sekarang melemparkan obor untuk membakar perkemahan itu. Para pasukan dari selatan segera berusaha mendobrak gerbang perkemahan itu dan kemudian masuk menyerang, pembantaian berlangsung hingga pagi menjelang. Lalu setelah itu pasukan Cao-Cao segera mundur lagi.

Cao-Cao samgat kesal karean kekalahan ini. Dia duduk diatas tendanya membaca buku strategi perang ketika Cheng Yu masuk dan menemuinya.

"Tuan perdana mentri. Kau sangat mengetahui strategi perang, apakah kau sudah lupa dengan aturan menyerang secepatnya ? Tentaramu telah siap, tetapi kau menunda bertindak dan membiarkan musuhmu membuat kemah di sungai Ru Xu. Sekarang kau akan sulit untuk merebut tempat ini. Akan lebih baik jika kita mundur ke ibukota dan menunggu saat baik lainnya."

Cao-Cao mendengarkan tetapi tidak berkata apa-apa. Setelah beberap saat Cheng Yu pun berpamitan. Cao-Cao tetap duduk didalam tendanya. Dan kemudian dia tertidur. Tiba-tiba dia mendengar ada suara derap langkah kuda dan didepannya ada sungai yang tiba-tiba terbit matahari merah yang besar sekali. Sangat terang sehingga matanya terlalu silau untuk menatapnya. Melihat kelangit dia melihat ada dua matahari lagi yang seperti hal baru saja dilihatnya. Dan dia melihat bahwa matahari yang pertama tiba-tiba terbang keatas dan jatuh diantara bebukitan didepannya dengan suara seperti suara halilintar."

Hal ini membangunkannya. Dai berada ditendanya dan ternyata bermimpi dan penjaga digerbang kemahnya sedang mengumumkan hari menjelang malam.

Segera dia mengambil kudanya dan berkuda keluar dengan pengawalan 50 prajurit berkuda. Dia menuju tempat didalam mimpinnya itu. Segera dia memandang sekelilingnya, ada pasukan berkuda yang datang jg kesana dengan Sun Quan sebagai pemimpinnya. Sun Quan menggunakan helm yang terbuat dari emas dan baju Zirah dari perak.

Melihat musuh besarnya, Sun Quan tidak menunjukan rasa takut tetapi dia tetap diatas kudanya yang berdiri tegap diatas keempat kakinya.

Menunjuk kepada Cao-Cao, Sun Quan berkata, "Lihatlah menteri terkuat yang menguasai seluruh dataran tengah didalam telapak tangannya ! dia telah mencapai puncak kekayaan dan kekuasaan tetapi tidak puas dan masih harus mengacau didaerah selatan."

Cao-Cao menjawab, "Kau tdk patuh dan atas perintah kaisar aku harus menghancurkan dirimu."

"Omong kosong apa itu! APakah kau tidak malu, semua orang telah tahu kau mengontrol setiap keputusan kaisar dan kau juga adalah tiran bagi para bangsawan. Aku bukanlah pemberontak melawan dinasti, tetapi aku berkeinginan untuk menangkapmu dan mereformasi pemerintahan."

Cao-Cao menjadi sangat marah dan memerintahkan jenderalnya untuk menangkap Sun Quan. Tetapi belum dapat mereka mematuhi perintah itu, Han Dang, Zhou Tai, Chen WU dan Pan Zhang memimpin dua kelompok pasukan dari kiri dan kanan, mereka lalu memanahi pasukan Cao-Cao itu. Cao-Cao segera berbalik dan kabur, pasukan Selatan terus mengejar dia. Ketika itu tiba-tiba Xu Chu datang dgn pasukan Elitnya yang segera menyelamatkan Cao-Cao dan membawa dia kembali kekemahnya. Pasukan dari dataran selatan kemudian kembali ke sungai Ru Xu.

Sendirian di tendanya, Cao-Cao berpikir, "Sun Quan ini pasti bukanlah orang biasa dan karena didalam mimpiku ada matahari yang jatuh disana, maka dia pastilah akan menjadi Kaisar."

Dia mulai berpikir apakah lebih baik kembali ke ibu kota, hanya saja dia takut pasukan dari selatan akan mengejarnya. Akhirnya kedua pasukan hanya berhadap-hadapan selama sebulan penuh, Pertempuran kecil kadang2x terjadi. Dan kemenangan kadang pada pihak Cao-Cao dan kadang pada pihak Sun Quan.

Dan hal ini berlangsung hingga mendekat Tahun Baru, dan hujan musim semi pun tiba membuat sungai meluap dan daratan menjadi rawa. Mereka sangat menderita dan Cao-Cao menjadi sedih dihatinya. Dia mengadakan rapat dan disana bawahannya terbelah menjadi dua pendapat, yang satu ingin segera kembali dan yang lainnya ingin bertahan sampai musim panas tiba. Cao-Cao tdk dapat memutuskan.

Lalu tiba-tiba datang utusan dari selatan membawa surat dari Sun Quan.

Dalam Suratnya Sun Quan Berkata, "Kau dan aku adalah sama-sama pelayan Han. Tetapi kau tidak memikirkan rakyat dan hanya memikirkan perang, karena itu kau menyebabkan banyak penderitaan. Apakah ini adalah kelakuan orang yang baik ? Sekarang musim semi hampir tiba dan hujan deras akan menyertai. Kau lebih baik memudurkan pasukanmu selagi masih bisa. Jika tidak kau akan dapat melihat kekalahanmu di Chi BI terulang kembali. Akan sangat baik jika kau mempertimbangkan masalah ini."

Dibalik surat itu ada tulisan yang berbunyi, "Kedamaian tidak akan ada untukku selama kau hidup !"

Cao-Cao membaca surat itu dan tertawa.

"Sun Quan berkata jujur !" Kata dia.

Dia segera memberi imbalan pada utusan itu dan memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Ibu Kota. Gubernur Lu Jiang, Zhu Guang, dipeirntahkan untuk menjaga Huan Cheng.

Sun Quan juga akhirnya kembali ke Jian Ye.

Ketika dia memanggil para penasehatnya untuk berkumpul, dia berkata, "Cao-Cao telah kembali ke utara. Liu Bei berada di Jia Meng. Bagaiman pendapat kalian apabila sekarang kita membawa pasukan kita untuk menyerang Jing Zhou ?"

Seger Zhang Zhao menawarkan rencana lain, "Jangan gerakan pasukan. Aku tahu bagaimana membuat Liu Bei tidak dapat kembali ke Jing Zhou."

BAB 62

Zhang Zong berkata, "Jika kau melakukan ekspedisi menuju barat, Cao-Cao pasti akan kembali untuk menyerang. Lebih baik tulislah dua surat, satu untuk Liu Zhang, katakan padanya bahwa kau berkerja sama dengan Liu Bei untuk merebut daerah barat dan kedua tuliskan pada Zhang Lu dan mintalah dia menyerang Jia Meng. Liu Bei tidak akan dapat berada didua tempat pada saat yang bersamaan, karena dia akan tertekan dari depan dan belakang. Sementara itu kau dapat mengerahkan pasukanmu menuju Jing Zhou."

Sun Quan menyetujui, dia menulis dua surat dan dikirimkan oleh dua orang utusannya.

Sementara itu, Liu Bei telah memenangkan hati rakyat di sekitar Jia Meng dimana pasukannya sekarang berada. Ketika menerima kabar mengenai kepergian istrinya dan penyerangan Cao-Cao di Ru Xu, Dia memanggil Pang Tong dan menceritakan masalhnya.

"Pemenang Di Ru Xu, siapapun dia pasti akan menyerang Jing Zhou berikutnya." Kata Liu Bei pada Pang Tong.

"Kau tidak perlu khawatir, Aku tidak berpikir baik Selatan maupun utara berani menyerang daerah itu selama Zhuge Liang masih berada disana. Tetapi tuanku, tulislah surat pada Liu Zhang dan katakanlah bahwa kau harus kembali ke Jing Zhou karena ada masalah mendadak. Penyerangan Cao-Cao ini akan dapat menjadi alasan yang bagus. Jg mintalah dia kirimkan 40.000 prajurit dan bahan persediaan untuk 1 bulan. Yakinkan dia bahwa kau tetap akan menjaga daerah ini. Dengan tambahan persediaan dan pasukan itu maka kita akan dapat berbuat apapun seperti yang kita mau."

Liu Bei setuju dan dia segera mengirim utusan ke Cheng Du. Ketika utusan ini sampai di Cheng Du, Yang Huai dan Gao Pei, komandan penjaga benteng Sungai Fu juga berada disana dan meminta untuk ikut dalam membahas masalah ini.

Setelah membaca surat ini, Liu Zhang berkata pada Yang Huai, "Mengapa kau tidak segera berangkat ?"

"Karena surat itu, tuanku. Liu Bei ini sejak hari pertama dia memasuki Yi Zhou, dia sudah selalu mencuri hati rakyat. Hal ini menunjukan bahwa dia mempunyai niat tidak baik. Aku pikir kau sebaiknya menolak permintaanya. Untuk membantunya akan sama seperti menambahkan minyak kedalam api."

"Tetapi kami bersaudara dan aku harus membantunya." Kata Liu Zhang.

Tiba-tiba Seseorang berkata,"Liu Bei dari dahulu adalah seorang pengembara oportunis. Jika kau tetap membiarkanya tetap berada di Yi Zhou serta memberikannya pasukan dan persediaan maka kau sama seperti memberi sayap pada harimau."

Dia adalah Liu Ba, seorang yang berasal dari Ling Ling. Kata-katanya membuat Liu Zhang Ragu dan bimbang. Huang Quan jg membujuk dengan sangat dan akhirnya Liu Zhang memutuskan hanya memberi Liu Bei 4.000 prajurit tua dan persediaan makanan untuk seminggu saja. Pada saat yang sama dia memerintahkan agar pasukannya dikirimkan untuk menjaga tempat2x strategis.

Ketika Liu Bei mendapatkan bahwa permohonannya dijawab dengan pasukan yang tua dan persediaan yang sedikit, dia menjadi marah dan berkata, "Aku telah mempertaruhkan nyawaku dan pasukanku untuk membantu pertahananmu, dan beginikah balasanmu untukku ! Kau memang kejam dan sekarah. Bagaimana kau mungkin mengharapkah aku untuk melindungimu ?"

Liu Bei menyobek surat itu dan segera memerintahkan utusan itu kembali. Utusan itu segera kembali ke Cheng Du menceritakan apa yang terjadi.

Lalu berkatalah pang Tong, "kau terlalu baik dan menekankan kemanusiaan serta kebenaran. Tetapi sekarang semua itu telah berakhir setelah kau merobek surat itu."

"Apa yang harus kulakukan selanjutnya ?" Tanya Liu Bei.

"Aku memiliki 3 rencana. Kau boleh memilih mana yang kau inginkan."

"Apa saja 3 rencanamu itu ?"

"Yang pertama adalah segera menyerang Cheng Du dengan seluruh kekuatan kita sekarang. Kedua adalah merebut Benteng Sungai Fu, dan menyingkirkan kedua jenderal penjaganya karena mereka adalah pendekar terkenal didaerah barat ini. Jika kau memberi alasan untuk kembali ke Jing Zhou, mereka pasti akan keluar menyambutmu dan setelah itu kau dapat menangkapnya dan membunuh mereka. Setelah mendapatkan tempat itu dan jg Fu Cheng maka Cheng Du akan menyusul berikutnya. Yang ketiga adalah kita kembali ke Jing Zhou dan menyerang daerah Yi Zhou dengan pasukan besar. Tetapi jika kau terlalu lama memutuskan hal ini maka kau akan dalam kesulitan besar dimana tidak ada suatu apapun dapat menyelamatkan kau."

Liu Bei menjawab, "Dari 3 hal itu, aku pikir yang pertama terlalu terburu-buru dan yang terakhir terlalu lama, Maka aku memilih yang kedua."

Lalu Surat ditulis dan dikirmkan pada Liu Zhang yang isinya karena ada serangan Cao-Cao di Qing Ni maka Pasukan Liu Bei harus kembali dan karena masalahnya sangat mendesak maka dia tidak bisa berpamitan dahulu.

"Aku tahu bahwa keinginan sebenarnya Liu Bei adalah kembali ke Jing Zhou, "Kata Zhang Song ketika dia mendengar surat yang dikirimkan pada Liu Zhang itu.

Zhang Song lalu menuliskan surat pada Liu Bei. Ketika dia sedang mencari orang untuk mengirimkan surat itu, adiknya Zhang Su, Gubernur dari GuangHan datang untuk menemuinya. Zhang Song menyembunyikan surat itu dalam lengan bajunya sementara dia berbincang-bincang dengan adiknya. Lalu kemudian mereka berdua berbincang-bincang dan minum-minum. Lalu surat itu tiba-tiba terjatuh tanpa sepengetahuan Zhang Song, Seorang pelayan Zhang Su melihatnya dan mengambilnya. Setelah Zhang Su pergi, Pelayannya itu memberikan surat itu pada Zhang Su yang lalu membacanya.

Surat itu berisi permintaan Zhang Song agar Liu Bei segera menyerang Cheng Du dan dia akan membantunya dari dalam.

"Rencana kakakku ini akan menyebabkan kehancuran seluruh keluarga," Kata Zhang Su yang segera menemui Liu Zhang dan menyerahkan surat itu.

"Aku selalu memperlakukan kakakmu dengan baik !!" Kata Liu Zhang dengan marahnya.

Liu Zhang segera memerintahkan agar Zhang Song ditangkap di penggal berserta seluruh isi rumahnya.

Setelah Liu Zhang menyadari adanya persekongkolan ini, Liu Zhang segera mengumpulkan penasehatnya dan meminta saran mereka.

Huang Quan lalu berkata, "Tindakah segera harus dilakukan. Kirimlah pesan pada setiap pos2x penjagaan dan benteng2x agar mereka selalu waspada. Dan juga Jangan ijinkan siapapun masuk dan meninggalkan Jing Zhou."

Perintah segera diberikan dan setiap tempat2x strategis segera bersiaga.

Sementara itu, menjalankan rencana Pang Tong, Liu Bei bergerak menuju Fu Cheng, Disana dia mengirimkan utusan untuk mengundang kedua jenderal agar datang dan berpamitan. Tetapi kedua jenderal itu tidak segera merespon undangan ini.

"Apakah maksud sebenarnya dari penarikan mundur pasukan ini ?" Tanya Yang Huai kepada Gao Pei.

"Liu Bei ini harus mati, mari kita sembunyikan pisaui dibalik baju kita dan bunuhlah dia ditempat itu. Hal ini akan membuat masalah tuan kita selesai."

"Rencana yang sangat baik." Kata Yang Huai.

Lalu mereka berdua dengan membawa hanya 200 prajurit, keluar menemui Liu Bei untuk mengucapkan selamat tinggal.

Dalam perjalanan menuju Sungai Fu, Pang Tong berkata pada Tuannya, "Kau harus waspada pd mereka berdua jika mereka datang untuk menemuimu. Jika mereka tidak datang, maka seranglah benteng itu segera."

Ketika dia katakan hal itu, tiba-tiba angin kencang datang dan menjatuhkan bendera dan panji2x perang. Liu Bei bertanya, ada pertanda apakah ini.

"Hal ini artinya keterkejutan. Kedua orang itu pasti akan berusaha membunuhmu. Jadi kau harus berhati-hati."

Segera Liu Bei memakai bajur Zirah sebanyak dua lapis dibalik jubah sutranya. Dia juga menyiapkan pedangnya agar mudah disiapkan saat dibutuhkan. Ketika kedua jenderal, Yang Huai dan Gao Pei tiba, pasukan Liu Bei diperintahkan berhenti dan segera membuat tenda.

Lalu Pang Tong berkada pada Wei Yan dan Huang Zhong, "Berapapun banyaknya prajurit musuh, pastikan tidak ada dari mereka yang kembali."

Yang Huai dan Gao Pei yang membawa pisau yang disembunyikan datang menghadap serta membawa arak dan daging. Mereka melihat tdk ada persiapan dilakukan untuk menghindari penyerangan dan mulai berpikir bahwa urusan membunuh Liu Bei adalah suatu yang mudah. Mereka segera masuk kedalam tenda dimana Liu Bei duduk disana bersama penasehatnya.

Mereka berkata," Kami mendengar, paman kaisar, bahwa kau akan melakukan perjalanan jauh, oleh sebab itu kami datang menawarkan hadiah kecil ini untuk mengucapkan selamat jalan."

Lalu mereka mengisikan cangkir arak Liu Bei.

Lalu Liu Bei berkata, "Kalian jg mempunyai tugas berat untuk menjaga benteng perbatasan, jenderal, aku harap kalian mau minum lebih dahulu."

Mereka meminumnya dan Liu Bei berkata, "Aku mempunyai masalah rahasia untuk kubicarakan denganmu."

Segera ke 200 prajurit yang menyertai mereka dipimpin masuk kedalam kemah dan meninggalkan mereka berdua yang menuju tenda pribadi Liu Bei.

Segera setelah mereka masuk, Liu Bei berteriak, "Jenderalku, tangkaplah kedua pemberontak ini."

Segera Liu Feng dan Guan Ping keluar dari balik tenda itu. Yang Huai dan Gao Pei segera melawan. Tetapi Liu Feng dan Guan Ping yang telah siap segera berhasil menangkap mereka berdua.

"Tuanmu dan aku adalah berasal dari keluarga yang sama, kenapa kau mau membunuhku dan membuat keretakan diantara kami berdua ?"

Pang Tong lalu memerintahkan kedua orang itu diperiksa dan menemukan pisau dibalik baju mereka. Lalu keduanya diperintahkan untuk dieksekusi segera. Tetapi Liu Bei ragu dan tidak ingin untuk menghukum mati mereka. Tetapi Pang Tong tetap memaksa bahwa mereka pantas dihukum mati. Dia memerintahkan Algojo untuk melaksanakannya segera. Lalu kedua orang itu segera dipenggal.

Liu Bei mengumpulkan semua prajurit yang menyertai kedua jenderal itu, dia memberikan arak bagi meeka dan berkata, "Pemimpinmu melakukan konspirasi dan menyebabkan keretakan diantara aku dan tuanmu. Aku juga menemukan mereka membawa pisau dibalik baju mereak dengan maksud membunuhku. Kalian tidak melakukan kesalahan apapun dan tidak perlu takut."

Para prajuritnya berterima kasih pada Liu Bei dan bersujud padanya.

Lalu Pang Tong berkata, "Jika kalian mau menunjukan jalan sehingga pasukan kami dapat merebut benteng itu, kalian akan diberikan imbalan."

Mereka setuju. Malam itu pasukan berangkat, dengan 200 prajurit berada didepan sebagai penunjuk jalan.

Ketika dia sampai di benteng mereka memanggil penjaga gerbang dan berteriak, "Bukahlah gerbang ! Jenderal telah kembali lebih awal karena ada urusan penting."

Mendengar yang memanggil adalah suara temannya sendiri, penjaga gerbang tidak curiga akan ada sesuatu dan mereka membuka gerbang. Begitu gerbang dibuka, pasukan musuh segera masuk kedalam benteng dan mendapatkan Benteng ditepi Sungai Fu tanpa perlu meneteskan setetes darahpun. Pasukan yang bertahan didalam benteng segera menyerah pada Liu Bei dan menjadi bagian pasukannya. Ke 200 prajurit yang membawa mereka dihadiahkan emas dan sutra yang banyak. Setelah mengatur kembali pasukannya, Liu Bei membuat pertahanan2x dibenteng itu dan menjadikannya markas utama.

(*PING PU XUE REN, TIDAK MENETESKAN SETETES DARAHPUN. Sebuah ungkapan yang sering dipakai untuk mengaskan keberhasilan tanpa butuh usaha yang keras)

Untuk beberapa hari mereka menghabiskan waktu dengan mengadakan pesta dan perjamuan atas keberhasilan ini.

Ketika Liu Zhang mendengar apa yang terjadi, dia berkata, "Aku tidak pernah berpikir bahwa hal seperti ini akan terjadi."

Lalu para pejabat Yi Zhou berkumpul dan membahas apa yang harus dilakukan untuk menahan laju pasukan Liu Bei.

Huang Quan berkata, "Mari kita kirimkan pasukan untuk mempertahankan Luo Cheng segera. Luo Cheng adalah jalan utama yang harus dia ambil untuk dapat menyerang kemari. Dia mungkin memiliki banyak pasukan veteran dan jenderal hebat. Tetapi dia tidak akan dapat melewati Luo Cheng dengan mudah."

Lalu 4 jenderal dikirim untuk mempertahankan Luo Cheng dengan 50.000 prajurit. Mereka adalah Deng Xiang, Ling Bao, Liu Gui dan Zhang Ren.

Ketika mereka pergi ke Luo Cheng ,Liu Gui berkata, "Dibukit sebelah barat ada seorang pendea Tao yang dijuluki " KEHAMPAAN" (An Xi). Dia memiliki kemampuan dapat membaca masa depan. Mari kita kunjungi dia dan tanyakan bagaimana peruntungan kita."

"Kenapa seseorang harus mengunjungi pertapa ketika dia akan menahan serangan musuh ?" Tanya Zhang Ren.

"Confusius berkata bahwa untuk menjadi tahu adalah hal yang mulia. Jadi lebih baik kita tanyakan kepadanya apa yang harus kita lakukan dan kita hindari."

Segera mereka pergi keatas sebuah bukit untuk mengunjungi tempat pertapaannya. Mereka kemudian berkuda dan setelah tiba diatas bukit mereka bertanya dimanakah tempat orang suci itu kepada seorang tukang Kayu yang memberitahukan pada mereka bahwa orang suci itu hidup ditempat tertinggi diatas puncak bukit yang tertinggi. Mereka lalu memanjat dan akhirnya bertemu dengan sesoeang yang memakai pakaian pendeta tao. Liu Gui dan Zhang Ren segera bersujud dan memberitahukan padanya mengenai maksud dan kedatangan mereka.

"Bagaimana mungkin seorang seperti aku mengetahui mengenai kejadian duniawi ?" Kata pertapa itu.

Tetapi setelah beberapa lama Liu Gui memohon lagi dan lagi akhrinya Pertapa itu meminta selembar kertas dan pena, dia menuliskan 8 huruf.

"PHOENIX JATUH, NAGA TERBANG,

KALAH MENANG,SUDAH DITAKDIRKAN"

"FENG YUN, LONG FEI,

SHI YING,SHI MING"

Setelah membaca ini, mereka maish meminta agar dia memberitahu mengenai nasib masing2x orang, tetapi dia menjawab, "Mengapa kau masih menanyakan hal itu ? Tdk ada yang dapat menghindar dari takdirnya."

Liu Gui lalu berusaha bertanya lagi, tetapi pertapa itu lalu memejamkan matanya seperti dia sedang tidur. Akhirnya mereka berpamitan dan berterima kasih lalu turun kembali dan berkdua menuju Luo Cheng.

"Kita harus mempercayai kata-katanya." Kata Liu Gui

"Apa yang kita dapat dari mendengarkan orang tua bodoh itu ? " Tanya Zhang Ren.

Akhirnya mereka sampai di Luo Cheng.

Ketika mereka sampai Liu Gui berkata, "Luo Cheng adalah jalan utama menuju Cheng Du. Kita harus membuat pertahanan yang kuat. Dua dari kita akan menjaga benteng ini dan dua lagi akan berkemah didepan kota."

Lalu Deng Xiang dan Ling Bao membangun benteng kecil diluar kota. 20.000 prajurit diperintahkan untuk membangunnya. Kedua jenderal itu masing2x membawa 10.000 prajurit dan mendirikan benteng 40 Li Jauhnya dari kota.

Setelah sungai Fu berhasil dikuasai, Liu Bei meminta nasehat dari penasehatnya apa yang harus dilakukan berikutnya. Pang Tong berkata bahwa mereka harus berusaha menguasai Luo Cheng.

Pasukan pengintai melaporkan, "Liu Zhang telah mengirim 4 jenderalnya untuk menjaga kota itu, dan dua benteng telah dibangun 40 Li jauhnya dari kota itu."

Lalu Liu Bei mengumpulkan bawahannya dan bertanya siapakah yang akan menyerang kemah itu. Huang Zhong menawarkan dirinya.

"Jenderal, Bawalah pasukanmu dan pergi. Imbalan akan diberikan jika kau berhasil merebut benteng itu."

Huang Zhong berterima kasih pada tuannya dan ketika dia sedang memimpin pasukannya tiba-tiba seseorang berkata, "Jenderal Huang terlalu tua untuk pergi memimpin tugas ini. Aku berharap dapat mengantikan tempatnya."

Yang berbicara adalah Wei Yan.

Huang Zhong menjawab, "Aku telah mendapat penugasanku. Kenapa kau ingin menghalangi jalanku ?"

"Karena tugas ini terlalu berat untuk jenderal tua seperti kau. Kedua jenderal yang menjaga benteng itu telah terkenal akan kehebatan dan keberaniannya. Mereka masih muda dan kuat. Aku khawatir kau tidak akan dapat mengalahkan mereka. Jika kau gagal, maka rencana besar tuan kita akan gagal. Oleh sebab itu aku harap dapat mengantikanmu dan niatku tulus untuk itu."

Huang Zhong marah karean Wei Yan selalu menggunakan alasan umurnya yang sudah tua itu.

"Tua, aku ??? beranikah kau bertarung denganku dengan menggunakan senjata, anak kecil ?" Tanya Huang Zhong.

Wei Yang merasa terhina dipanggil anak kecil dan dia berkata, "Aku sangat berani dan biarkan tuan kita menjadi jurinya. Pemenangnya akan memimpin ekspedisi ini, apakah kau setuju, Jenderal Tua ?"

Huang Zhong lalu meminta agar anak buahnya membawakan pedangnya. Dan Wei Yan juga melakukan hal yang sama.

Tetapi Liu Bei menghentikan hal ini dan berkata, "Aku membutuhkan kalian berdua untuk menjalankan tugas ini. Ketika 2 macan bertarung, satu pasti akan kalah. Dan aku tidak dapat kehilangan salah satu dari kalian."

"Kalian berdua tidak boleh berkelahi. Karena ada dua kemah yang akan direbut maka masing2x dari kalian akan merebut satu tempat. Yang pertama berhasil merebut benteng itu akan dianggap melakuakn jasa lebih besar dan mendapat imbalan lebih."

Keputusan ini disepakati dan diputuskan bahwa Huang Zhong akan melawan Ling Bao dan Wei Yan melawan Deng Xiang.

Tetapi setelah mereka bergerak, Pang Tong menyarankan, "Kau, Tuanku, Bawalah pasukan dan ikuti mereka. Aku khawatir mereka bertempur satu dengan yang lainnya."

Liu Bei meninggalkan pengawasan kota Fu Cheng pada Pang Tong dan dia membawa Liu Fen dan Guan Ping berserta 5.000 prajurit bersamanya.

Setelah menerima perintah, Huang Zhong segera pergi kekemahnya dan memerintahkan agar sarapan dilakukan pagi2x sekali dan setiap orang siap bergerak begitu matahari terbit. Ketika waktunya tiba, dia segera menggerakan tentaranya menuju bukit sebelah kiri.

Tetapi Ketika Huang Zhong mulai bergerak, Wei Yan telah mencuri informasi dari kemahnya dan mengatur agar pasukannya begerak lebih dahulu sebelum pasukan Huang Zhong bergerak. Dia memerintahkan agar lonceng dilepaskan dari kuda2x pasukannya dan prajuritnya diperintahkan tidak bersuara ketika keluar. Bendera dan panji2x perang dilipat dan senjata ditutupi agar pergerakan mereka tdk diketahui.

Wei Yan berpikir bahwa jika dia dapat menyerang benteng yang ditugaskan untuk direbut Huang Zhong terlebih dahulu sebelum dia merebut benteng yang ditugaskan untuknya. Dia lalu memutar arah ke benteng yang dijaga Ling Bao dan disana dia memerintahkan anak buahnya untuk membunyikan genderang perang.

Walaupun masih pagi sekali, Ling Bao telah memerintahkan pasukannya untuk siap dan berjaga. Begitu mendengar tanda penyerangan, Pasukan bertahan segera mengatur posisinya dan menepatkan para pemanah2xnya disekeliling benteng. Wei Yan berkuda dan langsung menuju kearah Ling Bao. Mereka berdua bertarung 20 jurus lebih. Pasukan merekapun saling bertempur. Pasukan Wei Yan yang habis melakukan perjalanan jauh masih sangat kelelahan sehingga ketika itu mereka tidak dapat bertahan dan dibantai. Wei Yan mendengar keributan dan kekacauan pasukan dibelakangnya segera menghentikan duelnya dengan Ling Bao dan kembali kebelakang serta memimpin pasukannya pergi dari sana. Pasukan Ling Bao terus mengejarnya. Wei Yan akhirnya kalah dan mundur.

Ketika Wei Yan merasa telah aman dan dia memutuskan untuk beristirahat, tiba-tiba pasukan Yi Zhou muncul dibalik bukit. Mereka lalu memukul genderang perang. Pimpinan merek Deng Xiang berteriak pada Wei Yan untuk menyerah. Tetapi Wei Yan tidak mengindahkannya dia segera naik keatas kudanya dan segera kabur. Tetapi kudanya terjatuh karena kelelahan, Wei Yan terjungkal ketanah. Deng Xiang besama pasukannya segera menuju arahnya, Ketika melihat Wei Yan Jatuh, Deng Xiang segera menyiapkan tombaknya dan bersiap membunuh Wei Yan. Wei Yan mengira bahwa dirinya akan mati, tetapi baru saja tombak itu diangkat. Tiba-tiba ada anak panah besar menembus dada Deng Xiang yang lalu membuatnya terjatuh ketanah dan mati.

Ling Bao disaat yang sama datang untuk mengejar Wei Yan melihat Deng Xiang Jatuh segera berusaha untuk mencapai Wei Yan dan membunuhnya, tetapi tiba-tiba ada pasukan lain turun dari atas bukit dan pemimpinnya berteriak, "Jenderal Huang Zhong disini !"

Ling Bao menyiapkan panahnya dan akan memanah Huang Zhong, Huang Zhong yang melihat hal ini juga menyiapkan panahnya dan ketika Ling Bao melepaskan panahnya, Huang Zhong jg melakukan hal yang sama. Panah Huang Zhong yang lebih besar segera melesat dan membelah dua panah Ling Bao karena kekuatan tarikan busur panah Huang Zhong yang sangat hebat. Ling Bao yang melihat hal ini lalu berusaha mundur dan kabur. Lalu Huang Zhong segera menyelamatkan Wei Yan. Segera Huang ZHong membawa Wei Yan yang terluka menuju benteng Deng Xiang yang telah dibunuhnya. Disana Ling Bao kembali untuk menantangnya berduel. Huang Zhong dengan pedangnya melayani Ling Bao sampai 10 jurus lebih ketika Ling Bao merasa bahwa dia tidak kuat melayani kekuatan Jenderal Tua itu. Segera Ling Bao pergi untuk kembali kebentengnya. Huang Zhong memerintahkan pasukannya tidak mengejar.

Ketika Ling Bao sampai dibentengnya, dia melihat bahwa bendera dan panji2x perang dibentengnya telah berganti. Dia mendekati dan menatap bentengnya. Lalu Pemimpin benteng itu mengenakan baju Zirah berwarna perak dan memakai pakaian sutra berwarna hijau, dia adalah Liu Bei. Disampingnya ada Guan Ping dan Liu Feng.

"Mau apa kau datang ? Benteng ini telah menjadi milikku. Aku telah merebutnya."

Tanpa tempat untuk bertahan, Ling bao kemudian kembali ke Luo Cheng. Dia belum jauh ketika dia masuk dalam perangkap dimana dia berhasil ditangkap dan dibawa kepada Liu Bei.

Penyergapan itu direncanakan oleh Wei Yan yang mengetahui bahwa dia melakukan kesalahan, dia segera mengumpulkan pasukannya yang tersisa dan menempatkan pasukannya untuk menjebak pasukan musuh yang mundur.

Liu Bei memerintahkan agar setiap pasukan Yi Zhou yang menyerah untuk diperlakukan dengan baik. Semua yang terluka juga diperintahkan agar dirawat tidak perduli dari pasukan mana. Liu Bei jg memberikan pilihan bagi mereka yang tertangkap, yaitu untuk mengikutinya atau pergi.

Dia berkata, "Kalian para prajurit juga mempunyai orang tua serta anak atau istri. Dan mereka yang ingin kembali pulang dapat pergi dengan bebas. Jika ingin mengikuti pasukanku, maka aku jg mengucapkan terima kasih."

Setelah membereskan perkemahan dan membuat pertahanan, Huang Zhong datang pada Liu Bei dan berkata, "Wei Yan harus dihukum mati atas ketidakpatuhannya."

Wei Yan segera diperintahkan datang, dia datang bersama Ling Bao yang ditangkapnya hidup-hidup. Liu Bei memutuskan bahwa jasa untuk dapat menangkap musuh seimbang dengan kesalahannya. Liu Bei jg memerintahkan Wei Yan untuk mengucapkan terima kasih pada Huang Zhong karena telah menyelamatkannya. Mereka berdua akhirnya bersahabat dan tidak berseteru lagi. Wei Yan menundukan kepalanya dan mengakui kesalahannya dan Huang Zhong diberikan imbalan yang besar oleh Liu Bei.

Ling Bao dibawa kehadapan Liu Bei untuk ditentukan nasibnya. Liu Bei membuka ikatan Ling Bao dengan tangannya sendiri dan memberikan dia secangkir arak. Setelah dia meminumnya, Liu Bei bertanya maukah Ling Bao menyerah.

"Karena kau telah memaafkan aku akan mengikutimu, Lebih lagi, kedua temanku yang lain. Liu Gui dan Zhang Ren adalah sahabatku dan kami telah bersumpah untuk hidup dan mati bersama. Jika kau membebaskan aku, aku akan kembali dan membawa mereka untukmu, sehingga kau akan mendapatkan LuoCheng."

Liu Bei sangat senang menerima tawaran ini. Dia memberi Ling Bao pakaian dan kuda serta memerintahkan dia untuk kembali kekota menjalankan rencananya.

"Jangan biarkan dia pergi, jika kau lakukan maka kau tdk akan pernah melihatnya lagi." Kata Wei Yan.

Liu Bei menjawab, "Jika aku memperlakukan manusia dengan kebaikan dan keadilan, mereka tidak akan mengkhianati kepercayaanku."

Lalu Ling Bao pun dibebaskan.

Ketika Ling Bao kembali kekotanya dia bertemu dengan dua temannya dan berkata pada mereka ,"Aku telah membunuh banyak musuh dan kabur dengan mengendarai kuda mereka."

Ling Bao tidak berkata apapun mengenai dirinya yang telah tertangkap. Utusan dikirim ke Cheng Du untuk meminta bantuan segera.

Kehilangan jenderalnya, Deng Xiang membuat Liu Zhang sedih. Dia memanggil para penasehatnya untuk berkonsultasi.

Lalu anak tertuanya, Liu Xun berkata, "Ayah, biarkan aku pergi mempertahankan LuoCheng."

"Kau boleh pergi anakku, tetapi siapakah yang akan pergi besamamu ?"

Lalu Wu Yi maju menawarkan dirinya. Dia adalah adik ipar Liu Zhang.

Liu Zhang berkata, "Baiklah kau boleh pergi, adik iparku, tetapi siapakah wakilmu yang akan kau bawa ?"

Wu Yi merekomendasikan dua orang, Wu Lan Dan Lei Tong. 20.000 prajurit diberikan pada mereka untuk segera berangkat menuju LuoCheng. Liu Gui dan Zhang Ren lalu menyambut kedatangan mereka dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Wu Yi berkata, "Jika musuh mendekati tembok kota, maka akan sulit untuk mengusir mereka pergi. Menurut kalian berdua apa yang harus kita lakukan ?"

Ling Bao menjawab, "Kota ini berada ditepi sungai Fu dan arusnya sangat kuat. Perkemahan musuh berada di kaki bukit. Dengan 5.000 prajurit aku daapt mengalihkan aliran air sungai, dan membanjiri kemah mereka. Air sungai akan menengelamkan Liu Bei dan pasukannya."

Rencana ini disetujui dan Ling Bao dipercaya untuk menjadi pelaksana. Wu Lan dan Lei Tong diperintahkan untuk mengawasi perkerjaan itu. Mereka mulai mempersiapkan peralatan untuk mengalihkan aliran air sungai.

Liu Bei pergi Ke Fu Cheng untuk berkonsultasi dengan Pang Tong dan dia meninggalkan Wei Yan dgn Huang Zhong untuk menjaga kedua benteng dan perkemahan mereka. Mata-mata telah melapirkan bahwa Sun Quan telah mengirim utusan untuk berkerja sama dengan Zhang Lu dan meminta Zhang Lu segera menyerang Jia Meng dan sementara Sun Quan akan bergerak ke Jing Zhou.

"Jika mereka melakukan itu maka aku akan terjepit dari depan dan belakang. Apakah kau memiliki saran lain ?" Tanya Liu Bei.

Pang Tong lalu bertanya pd Meng Da , "Kau berasal dari Shu dan sangat ahli dalam topografi daerah ini. Apa yang harus dilakukan untuk membuat benteng di Jia Meng dapat dipertahankan ?"

"Biarkan aku membawa satu orang temanku dan aku akan mempertahankan benteng itu. Aku akan menjamin keselamatan benteng."

"Siapakah yang akan kau ajak ?" Tanya Liu Bei.

"Dia dahulunya adalah jenderal Liu Biao, namanya Huo Jun dan dia berasal dari Nan Jun diselatan."

Permintaan ini disetujui dan kedua jenderal itu segera berangkat ke Benteng Jia Meng.

Setelah pertemuan selesai, Pang Tong kembali ke tempat peristirahatannya, kemudian Penjaga pintu mengatakan padanya bahwa ada tamu yang ingin menemuinya. Pang Tong lalu menemuinya dan dia melihat orang itu berbadan besar dan tinggi dan memiliki wajah seperti bangsawan. Rambutnya dipotong pendek dan dia berpakaian compang-camping.

"Siapakah engkau, tuan ?" Tanya Pang Tong.

Tamu itu tidak menjawab tetapi dia segera langsung masuk kedalam ruangan utama dan berbaring diatas kursi panjang. Pang Tong curiga atas sikapnya ini dan mengulangi pertanyaanya.

Tamu itu menjawab, "Biarkan aku beristirahat sebentar. Setelah itu aku akan berbicara denganmu mengenai apapun didunia ini."

Jawaban ini hanya menambah misteri mengenai siapa orang ini. Tetapi Pang Tong meminta anggur dan makanan dibawakan untuknya. Setelah memakannya, dia berbaring dan tertidur.

Pang Tong sangat bingung dan berpikir bahwa orang ini adalah mata2x. Tetapi dia meminta Fa Zheng untuk menemuinya dan bertanya mengenai tamunya itu.

"Pasti itu adalah Peng Yang." Kata Fa Zheng.

Fa Zheng masuk kedalam dan melihatnya.

Segera tamu itu bangun dan berkata, "Aku harap kau baik-baik saja sejak terakhir kita bertemu !"

BAB 63

Fa Zheng dan Peng Yan adalah teman lama dan mereka berdua sangat senang ketika saling bertemu.

"Ini adalah Peng Yan dari Guanghan, salah satu pahlawan di Yi Zhou. Dia tidak pandai berkata-kata dan pernah menyinggung Liu Zhang. Akhirnya Peng Yan ini dihukum dengan dicukur rambutnya dan juga dipaksa masuk biara. Itulah sebabnya rambutnya pendek."

Lalu Pang Tong bertanya mengapa dia kemari.

"Aku datang untuk menyelamatkan pasukanmu, Aku akan menjelaskan seluruhnya ketika aku bertemu dengan Jenderal liu Bei."

Utusan segera dikirim untuk menemui Liu Bei, yang segera datang.

"Berapa banyakkah pasukanmu, jenderal ?" Tanya Peng Yang ketika Liu Bei tiba.

"Sekitar 40.000-50.000 prajurit.", Jawab Liu Bei.

"Sebagai seorang Jenderal kau tentu sangat tahu mengenai posisi langit dan bumi dalam Strategi perang. Perkemahanmu berada ditepi sungai Fu. Jika aliran air sungai itu dibelokkan dan musuh menempatkan pasukan dibelakang dan depan, maka tidak akan ada satupun prajuritmu yang dapat lolos."

Liu Bei segera menyadari bahwa hal itu memang benar.

Peng Yang lalu melanjutkan, "Dilangit, Posisi Rasi Bintang "Beruang Besar" (Ursa Major) sedang mengarah kebarat dan Venus berada berhadapan dengan kita. Pertanda ini sangat buruk artinya dan petaka mengancam, Jadi kita harus berhati-hati."

Liu Bei menawarkan Peng Yang jabatan sebagai penasehatnya. Lalu dia mengirim perintah pada penjaga perkemahannya untuk selalu waspada dan memperhatikan apabila ada usaha-usaha untuk mengalihkan aliran air sungai Fu. Ketika perintah ini tiba, Huang Zhong dan Wei Yan setuju untuk saling bergantian berjaga siang dan malam.

Pada suatu malam yang sedang berhembus angin kencang dan hujan lebat. Ling Bao berserta 5.000 prajuritnya sedang bergerak melintasi tepi sungai untuk mencari tempat yang cocok untuk mengalihkan aliran air sungai. Tetapi tiba-tiba terdengar suara teriakan dari belakang dan munculah pasukan Jing Zhou. Wei Yan datang mengejarnya berserta pasukan patrolinya. Pasukan Ling Bao kacau balau dan mereka saling berusaha kabur sehingga satu dengan yang lainnya saling terluka karena terinjak2x oleh teman sendiri. Karena badai dan Angin kecang dan keadaan gelap sekali, Ling Bao dan Wei Yan tidak tahu arah mana yang harus diikuti. Lalu tiba-tiba Ling Bao dan Wei Yan sudah berhadap-hadapan dan merekapun bertarung. Ling Bao yang menggunakan tombak panjang susah untuk melawan karena Wei Yan yang menggunakan pedang selalu mendesaknya dalam jarak yang dekat. Akhirnya tidak berapa lama Ling Bao pun tertangkap. Wu Lan dan Lei Tong yang datang untuk menolong Ling Bao segera dihadang oleh Hujan Panah dari Pasukan Huang Zhong dan dengan segera merekanpun mundur. Wei Yan membawa Ling Bao menemui Liu Bei. Liu Bei melihat Ling Bao dan segera marah kepadanya karena tidak tahu berterima kasih.

"Aku telah memperlakukanmu dengan baik dan membebaskanmu, tetapi kau membayarku dengan hal ini. Aku tidak dapat memaafkanmu lagi."

Akhirnya Ling Bao dipenggal dan Wei Yan diberi imbalan. Perjamuan diadakan untuk menghormati Peng Yang.

Segera setelah itu, Ma Lian datang dari Jing Zhou menuju Fu Cheng untuk membawa Surat yang berasal dari Zhuge Liang. Ma Liang melaporkan semua baik-baik saja di Jing Zhou dan memberitahu bahwa Zhuge Liang berkata Liu Bei tidak perlu khawatir. Isi Surat Zhuge Liang adalah untuk menasehati Liu Bei bahwa dia melihat tanda2x petaka diwilayah barat. Seorang pemimpin akan jatuh dari tempatnya. Dia menyarankan agar Liu Bei menghentikan Operasi militer dan menunggu sampai musim semi tiba.

Setelah membaca hal ini, dia berkata, "Aku akan kembali ke Jing Zhou dan membicarakan masalah ini."

Tetapi Pang Tong menentang usulan ini, karena dia berpikir dalam hatinya bahwa Zhuge Liang iri atas keberhasilannya dan ingin mencegahnya dari memperoleh keberhasilan dalam menguasai daerah barat.

Lalu Pang Tong berkata, "Aku jg telah membuat perhitungan dan aku melihat pertanda bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk menguasai daerah barat. Aku telah melihat peruntunganmu bahwa saat ini kau pasti akan mendapatkan tanah barat ini dan aku tidak melihat tanda2x buruk pada dirimu. Oleh karena itu jangan ragu lagi, tuanku, majulah dengan berani."

Liu Bei akhirnya mengikuti saran Pang Tong. Dia memerintahkan Huang Zhong dan Wei Yan untuk segera menggerakan pasukan.

Pang Tong bertanya pada Fa Zheng jalan mana yang mereka harus pilih untuk dilalui. Kemudian Fa Zheng mengeluarkan peta yang ditinggalkan Zhang Song untuknya.

Fa Zheng berkata, "Diutara pegunungan ini ada jalan yang menuju gerbang timur. Diselatan ada juga jalan yang menuju gerbang barat. Kedua jalan ini cocok untuk dilintasi pasukan besar."

Lalu Pang Tong berkata pada Liu Bei, "Dengan Wei Yan memimpin pasukan, aku akan berangkat melalui jalur selatan, sementara kau tuanku dengan Huang Zhong akan melalui jalur utara. Kita akan menyerang Luo Cheng pada saat yang bersamaan."

Liu Bei menjawab, "Aku telah terlatih sebagai pemanah berkuda dan terbiasa dengan jalan setapak. Oleh sebab itu, Jian Shi (Instruktur), aku pikir lebih baik kau yang melewati jalan utama dan aku melewati jalan kecil."

"Melalui jalan utama yang dijaga aku yakin kau lebih cocok dan kau pasti bisa mengatasi segala rintangan itu. Biarkan aku yang melewati jalan kecil."

"Tidak, aku merasa tidak cocok dengan rencana ini. Kemarin aku bermimpi bahwa ada sesuatu yang membawa gada besi muncul dan melukai lengan kananku sehingga aku sakit sekali. Aku sangat yakin ekspedisi kali ini akan ada masalah."

Pang Tong menjawab, "Ketika seorang prajurit pergi berperang, dia dapat terbunuh atau terluka. Dia menerima apapun takdirnya. Tetapi apakah seseorang harus menjadi ragu oleh hanya karena mimpi ?"

"Alasan sebenarnya dari keraguanku adalah surat dari Zhuge Liang. Oleh sebab itu aku harap kau tetap berada disini dan menjaga benteng sungai Fu. Apakah kau setuju ?"

Pang Tong tersenyum, "Zhuge Liang telah memenuhi pikiranmu dengan keraguan. Alasan sebenarnya dari dia adalah dia tidak ingin aku mendapatkan jasa dari menyelesaikan sebuah rencana besar seorang diri. Itu adalah sebabnya dia menulis surat itu dan keraguanmu telah menyebabkan kau memiliki mimpi buruk. Tetapi aku tidak melihat hal yang menjadi pertanda buruk. Dan aku telah siap mengorbankan. Aku Harap, tuanku, kau tidak berpikir-pikir lagi dan segera bersiap menggerakan pasukan."

Lalu Perintah segera diberikan agar sarapan dilakukan lebih dini dan pasukan segera bergerak. Huang Zhong dan Wei Yan masing2x memimpin sekelompok pasukan. Mereka berdua berangkat terlebih dahulu, lalu kemudian Liu Bei dan Pang Tong naik keatas kudanya dan mengikuti. Tiba-tiba Kuda Pang Tong meringking dan lalu terjatuh serta melemparkan penumpangnya.

Liu Bei lalu langsung turun dari kudanya dan mencoba menenangkan kuda Pang Tong itu,setelah itu dia berkata pada Pang Tong, "Mengapa kau mengendarai Kuda Sial ini ?"

"Aku telah mengendarainya sejak lama dan dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya." Jawab Pang Tong yang lalu berdiri serta membersihkan pakaiannya.

"Kuda seperti itu hanya akan membahayakan saja. Berkudalah dengan kudaku yang telah sangat terlatih dan tidak akan mengecewakanmu dan aku akan menggunakan kudamu ini."

"Aku sangat berterima kasih pada kebaikanmu. Aku tidak akan pernah dapat membalas kebaikanmu walaupun mati 1000 X."

Segera mereka berpencar menuju arah masing2x. Setelah penasehatnya meninggalkannya, Liu Bei merasa Tidak tenang.

Ketika berita mengenai penangkapan Ling Bao sampai ke Luo Cheng, Wu Yi dan Liu Gui berdiskusi bersama.

Sedangkan rekan mereka, Zhang Ren berkata, "Aku tahu ada sebuah jalan kecil di tenggara kota yang sangat strategis. Aku akan membawa pasukan kesana sementara kalian berdua mempertahankan kota ini."

Segera berita mengenai pergerakan pasukan musuh terdengar oleh mereka, Zhang Ren memimpin 3.000 prajurit pemanah dan 2.000 prajurit berkuda dan infantri menuju jalan kecil dan menempatkan jebakan penyergapan. Ketika Wei Yan lewat, mereka tidak menyerangnya. Kemudian setelah beberapa saat, pasukan utama dibawah Pang Tong segera tiba.

Para prajurit yang bersembunyi itu melihat bahwa penunggang kuda itu mengendarai kuda berwarna putih dan mereka berkata, "Itu pastilah Liu Bei yang duduk dikuda putih !"

Zhang Ren yang melihatnya merasa senang hatinya dan dia segera memberikan perintah pada para prajuritnya yang bersembunyi diatas tebing.

Pang Tong melewati sebuah tebing tinggi dan disisinya banyak sekali hutan lebat. Dalam hatinya dia merasa khawatir dengan keadaan ini, kemudian dia memberhentikan kudanya dan bertanya jika ada diantara prajuritnya mengetahui nama tempat ini.

Salah satu prajurit berkata," Tempat ini dinamkan, 'TEBING PHOENIX JATUH'(FENG YUN BAN PO) "

Pang Tong lansung cemas, "Sebuah pertanda buruk. Nama Pendeta taoku adalah 'Phoenix Muda'. Tidak ada keberuntungan bagiku ditempat ini."

Dia memutuskan untuk mundur. Tetapi tiba-tiba muncul bunyi ledakan dan panah berterbangan dari berbagai sisi seperti hujan yang menyiram bumi. Seluruh prajurit yang bersembunyi mengarahkan panahnya pada dia menunggang kuda putih. Pang Tong yang tidak dapat menghindar segera terkena panah diseluruh tubuhnya, diapun langsung tewas. Pang Tong meninggal diusia 36 tahun.

Dengan kematian pemimpinnya maka pasukan JingZhou menjadi kacau, 1/2 lebih pasukan itu tewas karena serangan panah. Beberapa berhasil lari dari tempat itu tetapi dimulut tebing sudah ada pasukan yang menunggu mereka. Prajurit yang selamat segera menemui Wei Yan dan memberitahukan apa yang terjadi. Wei Yan segera berusaha berbalik. Tetapi karena pasukannya sedang kacau maka dia mengalami kesulitan untuk mengatur barisan.

Lalu akhirnya atas saran dari prajuritnya dia memutuskan untuk terus maju dan memutar sampai dapat menemukan Jalan Utama dan berharap dia bertemu dengan pasukan Huang Zhong dan Liu Bei.

Mereka bergerak dan ketika telah keluar dari jalan setapak itu dan mendekati jalan utama, tiba-tiba dari hadapan mereka muncul awan debu yang menandakan musuh mendekat. Wu Lan dan Lei Tong datang membawa pasukan untuk membantu Zhang Ren.

Wei Yan sekarang terdesak dari dua sisi. Lei Tong dan Wu Lan dari depan serta Zhang Ren dari belakang. Pasukan Wei Yan yang sudah terlanjur berbelok sulit untuk mengatur barisan menghadapi serangan pasukan kavaleri dari samping. Begitu pasukan Wu Lan dan Lei Tong sampai, banyak pasukan Wei Yan yang terbunuh.

Wei Yan dalam keadaan terdesak lalu memerintahkan pasukannya berperang sampai mati dan bertahan sebisanya. Dia mencoba mencari jalan keluar dari kepungan. Dia menggunakan pedangnya segera menyerang seperti Macan terluka. Pasukan Lei Tong banyak yang tewas ditangannya, kekuatannya dahsyat seperti Beruang buas.

Tetapi pasukan musuh terlalu banyak, dan pasukan Wei Yan tidak lebih dari 500 orang saja. Dia sudah sangat terdesak dan juga telah terluka. Disaat-saat kritis ini, dia memperhatikan bahwa pasukan belakang musuh sedang kacau. Segera musuh berbalik dan meninggalkan dia. Wei Yan segera maju dan melihat bahwa Pasukan JingZhou yang dipimpin Huang Zhong telah tiba.

"Wei Yan bertahanlah, aku akan menolongmu !!!" Teriak Huang Zhong ketika melihat Wei Yan sedang terdesak dan terluka.

Sekarang Pasukan Yi Zhou sedang kacau karena tidak dapat mengatur barisan ketika pasukan Jing Zhou yang dipimpin Huang Zhong menyerang dari belakang mereka. Pasukan Yi Zhou mengalami kekalahan sangat besar, lebih dari 15.000 prajurit Yi Zhou tewas dan tertangkap oleh musuh. Walaupun begitu Pasukan Wei Yan yang tinggal beberapa ratus orang saja berserta pasukan Huang Zhong yang kelelahan jg tidak lebih baik keadaannya.

Pasukan Huang Zhong dan Wei Yan segera mengejar sisa2x tentara Yi Zhou yang lari, ketika mereka telah mendekati Kota. Liu Gui segera menyiapkan 20.000 prajurit untuk keluar menyerang. Huang Zhong dan Wei Yan yang melihat hal ini segera mundur dan kembali keperkemahannya.

Pasukan Liu Bei yang baru tiba segera berusaha membuat pertahanan dan benteng kecil, tetapi Pasukan Zhang Ren yang baru keluar dari jalan kecil berserta 3 jenderal lainnya membawa 30.000 prajurit segera datang menyerang.

Dengan pasukan Huang Zhong dan Wei Yan yang kelelahan maka Liu Bei tidak dapat mempertahankan benteng tersebut dan terpaksa mundur tanpa bertempur. Pasukan Liu Bei walaupun berhasil mundur tetapi mereka semua sekarang kelelahan dan kelaparan berusaha untuk secepatnya kembali ke benteng di Fu Cheng. Tetapi pasukan Zhang Ren masih terus mengejar mereka dari belakang.

Disaat itu pasukan Liu Bei bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Liu Feng dan Guan Ping yang diperintahkan untuk menyerang pasukan pengejar. Guan Ping dan Liu Feng berhasil menyerang musuh dan mengejar mereka sampai sejauh 10 Li. Liu Bei dan pasukannya berhasil kembali ke Fu Cheng dengan keadaan sangat letih dan kelaparan. Hari itu lebih dari 25.000 prajurit JingZhou tewas dan tertangkap serta ribuan lainnya terluka.

Liu Feng dan Guan Ping tiba kembali membawa banyak kuda2x yang ditinggalkan oleh pasukan musuh, walaupun begitu pasukan JingZhou sebenarnya mengalami kekalahan terbesar dalam perang hari itu.

Liu Bei segera mencari tahu bagaimana keadaan Pang Tong. Sisa2x pasukan yang mengikuti Pang Tong tiba kembali di Fu Cheng dan memberitahukan Liu Bei kabar buruk itu. Dia memberitahukan bahwa Pang Tong dan Kudanya telah tewas terkena ratusan anak panah. Liu Bei lalu langsung menghadap arah barat dan berduka sekali.

Walaupun tubuh Pang Tong jelas keberadaannya, dia tetap mengadakan upacara pemakaman dan seluruh pasukan berlutut untuk menghormatinya.

Lalu kata Huang Zhong, "Sekarang Pemimpin pasukan sudah tidak ada, pasukan kita banyak yang terluka dan kelelahan, prajurit sedang tidak memiliki semangat tempur, aku yakin bahwa musuh akan kembali menyerang benteng ini. Apa yang harus kita lakukan ? Aku pikir kita lebih baik mengirim utusan ke Jing Zhou memanggil Zhuge Liang untuk menyelamatkan kita. Musuh telah berhasil menguasai jalan utara dan selatan, kita tidak mempunyai jalan mundur kecuali melintas sungai."

Dan pada saat itu datanglah pasukan musuh dipimpin oleh Zhang Ren untuk mengajak bertempur.

Huang Zhong dan Wei Yan berharap dapat keluar dan bertempur. Tetapi Liu Bei tidak mengijinkannya, dia berkata, "Kita telah mengalami kekalahan besar dan sekarang prajurit sedang tidak bersemangat. Lebih baik kita bertahan didalam kota sampai Zhuge jiang Shi tiba."

Huang Zhong dan Wei Yan segera mengatur pertahanan dan menjaga dengan ketat benteng itu. Guan Ping segera dikirim melintas sungai untuk meminta bantuan ke Jing Zhou, dia segera berangkat.

Di Jing Zhou, saat itu adalah hari ke 7 bulan ke 7 dan pada malam harinya Zhuge Liang sedang mengadakan perjamuan. Pembicaraan saat itu adalah mengenai keadaan di dataran barat. Tiba-tiba ada meteor terang sekali melintas diangkasa menerangi seluruh angkasa malam. Hal ini sangat mengelisahkan Zhuge Liang sampai dia tidak sengaja menjatuhkan Cangkir Araknya, dia segera menangis."

Para tamunya keheranan dan bertanya mengapa dia menangis.

Zhuge Liang berkata, "Aku telah menghitung posisi langit dan mengetahui bahwa ada petaka sedang terjadi di barat sana, seorang pemimpin kita pasti telah tiada. Aku telah menulis surat pada Tuan kita bahwa dia harus berhati-hati. Setelah melihat bintang jatuh itu, aku yakin Pang Tong telah tewas."

Lagi dia menangis dan berkata, "Tuan Kita telah kehilangan sebelah tangannya !"

Para tamu segera menjadi gelisah, tetapi mereka hanya 1/2 percaya bahwa hal itu memang terjadi.

"Kita akan mendengar beritannya dalam beberapa hari." Kata Zhuge Liang.

Perjamuan itu berakhir dengan kesedihan dan para tamu pulang sambil bertanya-tanya mengenai hal itu. Beberapa hari kemudian, ketika Zhuge Liang sedang mengadakan rapat dengan Guan Yu dan jenderal lainnya, mereka melaporkan Guan Ping tiba seorang diri membawa surat dari barat. Ketika surat itu dibuka, mereka mengetahui bahwa Pang Tong tewas disaat yang sama dengan ketika melihat adanya bintang jatuh itu.

Zhuge Liang lalu langsung berduka dan yang lain jg turut bersedih.

Lalu Zhuge Liang berkata, "Aku harus pergi menolong tuanku. Dia sedang terdesak dan tidak akan dapat bertahan lagi."

"Jika kau pergi. Siapakah yang menjaga daerah ini ? Daerah ini sangat penting sekali." Tanya Guan Yu.

"Urusan mengenai daerah ini diserahkan padaku dan aku tidak menemukan seorang lain yang lebih pantas menggantikan aku selain kau jenderal. Aku yakin kau akan mampu menjaga daerah ini demi sumpahmu yang kau ambil ditaman persik bersama dengan tuan kita. Tugas ini sangatlah sulit dan kau harus waspada serta bijak."

Guan Yu menerima penugasan ini tanpa ragu dan alasan apapun. Sebuah perjamuan khusus diadakan untuk penyerahan stempel penugasan dan penguasaan daerah dari Zhuge Liang pada Guan Yu.

"Seluruh masa depan Dinast Han terletak ditanganmu, Jenderal." Kata Zhuge Liang ketika dia menyerahkan simbol jabatan kepada Guan Yu.

"Ketika seseorang mendapatkan kehormatan menerima tugas besar ini, dia hanya akan dibebaskan oleh kematian saja." Jawab Guan Yu.

Tetapi kata-kata "kematian" itu tiba-tiba membuat Zhuge Liang merasa gelisah. Dan dia bermaksud ingin meminta Guan Yu menarik kembali ucapannya yang telah terlanjur diucapkannya itu.

"Sekarang bagaimana jika Cao-Cao menyerang, apa yang kau lakukan ?" Kata Zhuge Liang.

"Aku akan memukul mundur dia dengan seluruh kekuatanku."

"Tetapi bagaimana jika Cao-Cao dan Sun Quan menyerang bersamaan, apa yang kau lakukan ?"

"Lawan mereka berdua, 1/2 dari pasukanku untuk masing2x tempat."

Zhuge Liang berkata, "Jika begitu, Jing Zhou pasti akan kalah. Aku akan memberimu nasehat dan jika kau terus mengingatnya maka Jing Zhou akan selamat."

"Apakah nasehat yang akan kau berikan, guru naga ?" Tanya Guan Yu.

"Utara, Lawanlah Cao-Cao. Selatan, Bersekutulah dengan Sun Quan."

"Kata-katamu akan kuukir didalam hatiku."

Segera Zhuge Liang jg menugaskan orang-orang berbakat untuk membantu Guan Yu mengurus masalah administrasi. Dia menugaskan Ma Liang, Mi Zhu dan Yi Ji untuk membantu urusan sipil dan Mi Fang, Liao Hua, Guan Ping dan Zhou Cang untuk urusan Militer.

Setelah ini selesai, dia segera mempersiapkan pasukan untuk berangkat ke dataran barat. Zhang Fei dengan 10.000 prajurit terlatih dikirim melalui jalan darat menuju Ba Zhou dan Kemudian ke Luo Cheng. Dan dia diperintahkan untuk segera sampai. Semakin cepat dia sampai maka jasanya semakin besar. Sedangkan Zhao Yun memimpin pasukan melintas sungai dan menuju Luo Cheng dari sungai, dia membawa 10.000 prajurit. Zhuge Liang mengikutinya dari belakang membawa 15.000 prajurit.

Diantara yang mengikuti Zhuge Liang, ada Jian Yong dan Jiang Wan. Jiang Wan adalah pelajar terkenal dari Ling Ling. Dia menjabat sebagai kepala sekertariat bagi Liu Bei.

Zhuge Liang, Zhao Yun dan Zhang Fei bergerak pada hari yang sama.

Sebelum pergi, Zhuge Liang berkata pada Zhang Fei,"Jangan kau anggap enteng pasukan YiZhou ini. Karena banyak jenderal2x dan pemimpin2x hebat diantara mereka. Dalam perjalananmu kau harus bisa mendisiplinkan pasukanmu dari menjarah dan merugikan rakyat. Dimanapun kau berhenti, kau harus baik pada penduduk dan Jangan sampai kemarahanmu membuatmu dibenci pasukanmu. Aku berharap kau segera sampai ke LuoCheng."

Zhang Fei dengan gembira naik keatas kudanya dan berangkat. Dia segera mengerahkan pasukannya melalui jalur selatan menuju BaZhou dan disepanjang perjalanannya, banyak penjaga perbatasan dan pemimpin desa atau kota kecil menyerah padanya dan dia memperlakukan mereka semua dengan baik.

Ketika dia mendekati BaZhou, pasukan pengintai dari barat memberitahukan pada gubernur tempat itu, Yan Yan. Yan Yan adalah salah satu dari jenderal veteran di Yi Zhou dan walaupun dia sudah cukup tua, dia tidak kehilangan keberaniannya dan masih dapat memegang tombak yang berat.

Karena sangat terkenal dan berani, Yan Yan bukanlah orang yang akan menyerah dengan segera. Jadi ketika Zhang Fei dan pasukannya mendekat, dia segera waspada terhadap pasukan Zhang Fei yang berkemah sejauh 5 li dari tembok kota. Lalu tiba-tiba datang utusan dari Zhang Fei yang meminta Gubernur Ba Zhou menyerah.

Zhang Fei berkata pd utusannya, "Katakan pada Si Tua itu untuk menyerah atau aku akan meremukan seluruh tulangnya dan meratakan seluruh tembok kota dan tidak membiarkan satu mahluk hidup apapun tetap hidup."

Yan Yan termasuk salah satu jenderal yang tidak menginginkan Liu Bei masuk ke Yi Zhou.

Ketika Yan Yan mendengar bahwa Liu Bei menguasai Benteng di tepi Sungai Fu dan kota Fu Cheng, dia sangat marah dan ingin memimpin pasukan untuk menyerang Liu Bei. Tetapi dia khawatir musuh akan menyerang Cheng Du melalui BaZhou dan dia akhirnya menyiapkan pasukan ditempat ini.

Ketika Zhang Fei tiba dia segera menyiapkan pasukannya yang berjumlah sekitar 5.000-6.000 prajurit untuk bertahan.

Lalu kata salah seorang penasehatnya, "Jenderal, kau harus berhati-hati melawan seseorang yang hanya teriakannya dapat menakutkan ratusan ribu pasukan Cao-Cao di Chang Ban Po. Bahkan Cao-Cao sendiri sangat berhati-hati bila berhadapan dengannya. Kau harus bertahan didalam didalam benteng ini, dan Jangan keluar menyerang. Jika musuh telah kehabisan bahan makanan maka mereka akan terpaksa kembali kedaerah mereka. Zhang Fei ini memiliki emosi yang tidak terkendali. Jika dia dibuat marah, maka kemarahannya akan dapat membuat dia menyakiti prajuritnya sendiri. Jika kau menghindari untuk bertempur maka dia akan kasar dan kekejamannya pada pasukannya sendiri akan membuat mereka memberontak. Saat itu kau dapat menyerang dan berhasil.

Yan Yan berpikir bahwa nasehat ini sangatlah baik. Dia segera memutuskan untuk bertahan dan menepatkan pasukannya disepanjang tembok.

Lalu Zhang Fei mengutus lagi utusan untuk meminta Yan Yan menyerah, tetapi Yan Yan berkata, "Berani sekali dia berkata seperti itu padaku ? Pikinya, aku jenderal Yan Yan, akan menyerah kepada orang seperti dia. Aku akan mengirimkan pesan juga padanya."

Lalu Yan Yan memerintahkan prajuritnya untuk memotong telinga dan hidung utusan itu. Dan kemudian dia dikirim kembali kepada Zhang Fei. Ketika Zhang Fei menlihat hal ini, darahnya langsung mendidih dan dia memaki-maki Yan Yan. Dia segera memakai pakaian perangnya dan menunggang kuda hitamnya. Dia mendekat ketembok kota dan menantang duel dengan Yan Yan. Tetapi para penjaga tembok hanya balik memaki Zhang Fei saja dan mereka tidak menjawab tantang ZHang Fei. Akhirnya setelah hari menjelang malam, Zhang Fei kembali kekemahnya karena tidak ada yang menjawab tantangannya.

Keesokan harinya Zhang Fei memimpin kembali pasukannya ketembok kota dan menantang lagi. Tetapi tantangan itu tdk dijawab dan mereka hanya saling memaki saja. Yan Yan kali ini memanah helm Zhang Fei sehingga Zhang Fei terkejut. Hal ini membuat Zhang Fei makin marah.

Dengan menunju pada Yan Yan, Zhang Fei berkata, "Aku akan segera menangkapmu, kau kakek tua, Dan setelah itu aku akan memisahkan tulang dan dagingmu."

Lalu lagi hari itu usaha Zhang Fei sia2x. Pada hari yang ketiga, Zhang Fei dan pasukannya mengitari benteng kota itu dan memaki-maki mereka.

Kota itu terletak didaerah yang berbukit-bukit. Sehingga terkadang Zhang Fei dapat melihat seluruh isi kota itu dari atas bukit. Dia melihat para prajurit telah bersenjatakan lengkap untuk bertempur tetapi mereka tidak menjawab tantangan dan juga dia melihat penduduk membawa batu dan lumpur untuk memperkuat tembok kota. Lalu Zhang Fei memerintahkan agar pasukan berkudanya untuk turun dari kuda dan duduk sehingga mereka tidak terlihat oleh musuh. Dia berharap hal ini akan menipu musuh sehingga mereka berpikir bahwa dia hanya seorang diri jauh dari pasukannya dan ini akan memancing mereka keluar kota. Tetapi ternyata musuh tdk terpancing dan akhirnya dia kembali lagi kekemahnya.

Malam itu, Ditendanya, Zhang Fei mencoba mencari cara untuk dapat mengalahkan musuh yang tidak mau bertempur dengannya. Kemudian, dia menemukan sebuah ide bagus. Keesokan harinya, dia mengirimkan sedikit pasukannya untuk menantang musuh, biasanya dia selalu membawa hampir seluruh pasukannya. Dia berharap strategi ini dapat membuat Yan Yan keluar dari kota dan menyerang pasukannya yang berjumlah sedikit itu. Tetapi hal ini juga gagal, dan sekarang setelah 5 hari dia mulai menjadi tidak sabar.

Malam itu, dia berpikir kembali. Kali ini dia menemukan sebuah rencana lagi. Dia memerintahkan pasukannya untuk mencari kayu bakar dan juga mengitari daerah sekitar kota untuk mencari tahu keadaan jalan disana. Tdk ada lagi prajuritnya yang datang menantang dan memaki-maki. Yan Yan mulai bingung apa yng terjadi, dan dia mengirim mata2x.

Hari itu ketika pasukannya kembali kekemah, Zhang Fei sedang duduk ditendanya dan marah2x serta memaki musuhnya itu.

"Si Jenderal Tua itu ! Aku dapat mati kesal dibuatnya." Teriak dia.

Lalu tiba-tiba sdia melihat ada 3 atau 4 prajurit yang berdiri di depan tendanya dengan harapan menemuinya.

Dan salah satu dari mereka berkata, "Jenderal, Jangan biarkan emosi menguasaimu. Kami telah menemukan suatu jalan kecil yang dapat digunakan untuk melewati kota itu."

"Kenapa kau tidak datang dan katakan padaku dari kemarin2x ?" Teriak dia.

"Karena kami baru saja menemukannya hari ini ?" kata mereka.

"Aku akan segera berangkat kesana, Malam ini makanan harus telah siap sebelum tengah malam dan kita akan segera berangkat melewati kota musuh tanpa diketahui mereka. Aku akan memimpin perjalanan dan kalian akan bertindak sebagai pemandu jalan."

Kemudian perintah diberikan pada pasukan untuk bersiap.

Setelah yakin semuanya lengkap, dia segera memulai perjalanan. Mata-mata Yan Yan akhirnya kembali kekota dan melaporkan apa yang terjadi.

Ketika mendengar apa yang terjadi dia tertawa dan berkata, "Jadi begitu rencananya, Aku tidak dpt menahan tawaku atas kebodohan orang ini. Dia mencoba untuk sembunyi dariku dan bergerak dengan membawa seluruh persediaannya bersamanya. Dan jika aku menyerangnya dari belakang, maka kemanakah dia akan pergi ? Dia sangat bodoh sekali sampai aku tidak perlu membuat rencana apapun. Aku akan menyiapkan seluruh pasukanku. Makanan harus sudah siap sebelum tengah malam dan pasukan harus bersembunyi didalam hutan, sampai setelah sebagian besar pasukan musuh lewat dan Zhang Fei sudah jauh didepan, baru kita akan menghajar mereka."

Akhirnya Yan Yan menempatkan pasukannya seperti yang telah direncanakannya, Dia bersama beberapa jenderalnya segera mengatur posisi menunggu Zhang Fei. Kemudian setelah lewat tengah malam, lewatlah pasukan Zhang Fei ditempat itu. Zhang Fei saat itu meminta agar pasukannya untuk mempercepat langkahnya dan kereta2x persediaannya tertinggal beberapa Li dibelakangnya.

Ketika hampir sebagian besar pasukan Zhang Fei telah lewat, Yan Yan memberikan signal menyerang. Bunyi genderang perang terdengar dan pasukan yang bersembunyi segera keluar dan menyerang kereta brang terlebih dahulu.

Pasukan Yi Zhou lalu keasikan menjarah barang-barang dari kereta itu ketika tiba ada bunyi gong dan muncul pasukan baru yang mengepung Yan Yan.

Pada saat yang sama ada suara berteriak, "Kau, pemberontak Tua ! Jangan lari. Aku telah menunggu kesempatan ini lama sekali."

Yan Yan lalu melihat bahwa itu adalah Zhang Fei yang berteriak.

Yan Yan sebenarnya terlalu takut untuk dapat mempertahankan dirinya. Tetapi kedua Jenderal itu akhirnya bertarung. Zhang Fei sengaja memberikan Yan Yan kesempatan untuk menyerangnya terlbih dahulu. Yan Yan segera menerjang Zhang Fei dengan pedangnya. Tetapi Zhang Fei menghindari Serangan itu. Yan Yan lalu mencoba lagi dengan sekuat tenaga, tetapi Zhang Fei menahan serangan itu hanya dengan tombaknya yang dipegang tangan kanannya sementara tangan kirinya menarik baju Zirah Yan Yan dan segera melemparkannya dari atas kuda ketanah. Yan Yan yang terjatuh segera berusaha bangun, dan belum dia sadar benar dari jatuhnya, dia kemudian melihat Zhang Fei yang meninjunya dengan tangan kosong. Dia kemudian pingsan dan dijadikan tawanan dengan diikat tali.

Pemimpin pertama yang dilihat Yan Yan bukanlah Zhang Fei, tetapi seseorang yang diberikan pakaian yang sama dengannya. Untuk menambah kekacauan, Zhang Fei juga membiarkan kereta barangnya diisi barang-barang berharga agar pasukan Yan Yan menjarahnya.

Pasukan Yi Zhou akhirnya menjatuhkan senjatannya dan menyerah semua. Akhirnya gerbang kota BaZhou dibuka untuknnya dan Zhang Fei memerintahkan pasukannya untuk tidak menyakiti rakyat, dan dia membuat pernyataan untuk menenangkan penduduk disana.

Satu demi satu sekelompok algojo membawa masuk para tawanan.

Zhang Fei duduk diruang utama dan akhirnya Yan Yan yang baru tersadar segera dibawa kehadapannya. Yan Yan menolak untuk berlutut kepada Zhang Fei.

"Kenapa kau tidak menyerah saat pertama kali kuminta ? Berani sekali kau menentangku ?" Teriak Zhang Fei dengan marahnya.

"Karena kau hanyalah gerombolan penjahat yang menyerang daerahku ! Kau boleh memenggalku tetapi aku tidak akan menyerah !" Jawab Yan Yan tanpa rasa takut sedikitpun.

Zhang Fei sangat marah serta memaki-makinya dan ingin memberikan hukuman mati padanya.

"Bunuhlah aku jika kau mau. Kenapa kau masih memaki-maki aku ?" kata Yan Yan.

Lalu Zhang Fei teringat pesan Zhuge Liang dan dia juga kagum atas keberanian Yan Yan. Dia lalu berdiri dan meminta algojo itu pergi. Lalu dia melepaskan ikatan Yan Yan dan memberinya pakaian yang baru.

Dia lalu meminta Yan Yan duduk dan berkata, "Aku mengetahui bahwa kau adalah seorang pendekar. Aku harap kau tidak mengingat kata kasar yang telah kuucapkan padamu. Aku hanya terbawa emosi saja jika aku minum arak."

Lalu Zhang Fei memberikannya arak sebagai tanda permohonan maaf dan memperlakukan Yan Yan dengan baik.

Yan Yan tersentuh oleh tindakan Zhang Fei ini dan dia lalu bersujud dan menyerah.

Lalu Zhang Fei bertanya pada Yan Yan bagaimana cara menguasai seluruh daerah Barat.

Yan Yan lalu menjawab, "Aku hanyalah seorang jenderal dari pasukan yang kalah. Aku berhutang nyawa pada kau sebagai, tetapi aku tidak akan membantumu membuat peperangan dan menyengsarakan penduduk daerah barat. Walaupun begitu aku dapat mengatakan padamu bagaimana menguasai Cheng Du tanpa perlu mengerahkan pasukanmu."

BAB 64

Yan Yan yang diminta sarannya untuk menguasai daerah barat segera memberikan sebuah rencana pada Zhang Fei.

"Seluruh pos2x penjagaan dan benteng dari tempat ini sampai ke LuoCheng berada dalam pengawasanku. Dan semua komandan serta jenderal2x disana berhutang budi padaku untuk kedudukan mereka sekarang. Aku akan membalas jasa anda dengan meminta mereka semua menyerah seperti yang telah kulakukan. Biarkan aku memimpin pasukan didepan dan aku akan meminta mereka satu demi satu menyerah."

Zhang Fei segera berterima kasih padanya, dan kemudian dia segera menjalankan rencana ini. Ketika pasukan Yan Yan tiba disebuah pos penjagaan, Yan Yan memanggil komandan tempat itu dan memintanya menyerah. Terkadang ada satu atau dua yang ragu untuk menyerah dan Yan Yan akan berkata, "Kalian Lihat, Aku saja telah menyerah dan mengapa kalian tidak ?"

Kemenangan tanpa jatuh korban ini membuat banyak orang bergabung bersama pasukan itu. Akhirnya jumlah pasukan Zhang Fei bertambah jumlahnya mendekati 25.000 prajurit.

Sementara Zhuge Liang yang melewati Jalur sungai menuliskan surat untuk Liu Bei dan segera menuju LuoCheng. Ketika Liu Bei menerima surat itu dia mengumpulkan bawahannya dan menjelaskan isi surat itu. Dia memerintahkan mereka semua untuk menggerakan pasukan pada hari ke 22 dibulan ke 7 untuk bergerak ke LuoCheng.

Lalu Huang Zhong berkata, "Setiap hari musuh menantang kita bertempur dan setiap hari juga kita menolaknya. Mereka pasti telah lelah dan aku mengusulkan agar malam nanti kita menyerang kemah mereka. Kita akan menyerang ketika mereka tidak siap dan pasti mendapatkan kemenangan."

Liu Bei setuju untuk mencoba. Dia merencanakan penyerangan pada malam hari, Huang Zhong berada disisi kanan dan Wei Yan berada di kiri sementara dia sendiri berada ditengah. Mereka akhirnya berangkat sebelum tengah malanm dan segera sampai di kemah Zhang Ren. Mereka menemukan bahwa musuh dalam keadaan tidak siap, mereka segera menerjang perkemahan itu dan membakarnya. Api berkobar dengan ganasnya dan tentara YiZhou kabur dalam kekacauan dan mencari perlindungan di LuoCheng.

Keesokan harinya Liu Bei mendekati kota LuoCheng dan mengepungnya. Zhang Ren tetap berada didalam bentengnya dan tidak keluar. Pada hari yang ke 4, Liu Bei memimpin penyerangan kegerbang barat sementara Huang Zhong dan Wei Yan menyerang gerbang Timur. Utara dan selatan dibiarkan terbuka untuk membiarkan pasukan YiZhou kabur jika mereka ingin.

Diselatan gerbang, terbentang bukit2x dan pegunungan, sementara sungai Fu yang berarus deras berada diutaranya. Untuk alasan inilah mengapa kota itu tidak dapat dikepung dari 4 arah. Dari atas tembok kota, Zhang Ren melihat penyerangan dan dia memperhatikan Liu Bei sepanjang hari tanpa lelahnya pergi kesana dan kemari untuk mengarahkan penyerangan. Dia juga melihat bahwa ketika sore menjelang pasukan Pengepung sudah mengalami kelelahan. Segera dia mengirim dua jenderal, Wu Lan dan Lei Tong untuk keluar dan memutar menyerang Huang Zhong dan Wei Yan dari belakang, sedangkan Zhang Ren mencari jalan untuk menyerang Liu Bei. Untuk seolah-oleh terlihat bahwa pasukan mereak tidak berkurang, Zhang Ren memerintahkan penduduk kota untuk berpakaian tentara dan berpatroli diatas benteng. Serta dia memerintahkan untuk terus membunyikan genderang dan berteriak. Sedangkan para pemanahnya diperintahkan terus memanah seolah-olah ada seorang komandan yang mengaturnya.

Ketika matahari terbenam, Liu Bei memerintahkan pasukannya berhenti dan kembali keperkemahan. Pada saat ini tiba-tiba terdengar suara terikan dan ZhangRen menyerang dengan pasukannya. Pasukan Liu Bei segera kacau karena serangan tiba-tiba ini. Dan kedua jenderalnya juga sedang menghadapi Wu Lan dan Lei Tong sehingga tidak dapat membantu. Pasukan Liu Bei yang sudah kelelahan segera dengan mudah dikalahkan dan Liu Bei terpakasa melarikan diri menuju sebuah bukit. Zhang Ren besama pasukannya terus membuntuti dari belakang. Segera Liu Bei hanya tinggal seorang diri dan dibelakangnya Zhang Ren dengan ribuan pasukannya mengejar Liu Bei. Kuda Liu Bei yang telah kelelahan tidak dapat berlari dengan cepat dan lama-lama Zhang Ren semakin mendekat. Lalu dihadapan Liu Bei muncul lagi pasukan baru.

"Pasukan dari depan dan belakang ! Tentu langit ingin aku mati hari ini !" Teriak Liu Bei.

Tetapi ketika pasukan dari depan mendekat, dia mengenali bahwa itu adalah pasukannya dan pemimpinnya yang berada didepannya adalah Zhang Fei.

Zhang Fei dan Yan Yan kebetulan mengambil rute itu dan Zhang Fei lalu langsung berkuda sendiri kedepan untuk melihat apa yang terjadi ketika dikejauhan dia melihat ada awan debu berterbangan.

Zhang Fei dan Zhang Ren lalu kemudian bertemu dan dengan segera Zhang Fei menyerang pasukan Zhang Ren yang berusaha mendekati Liu Bei. Hanya dengan sekali tebasan, lebih dari 5 prajurit langsung terbelah menjadi dua. Kemudian pasukan Zhang Ren mundur karena ketakutan. Melihat hal ini Zhang Ren maju kedepan dan berduel dengan Zhang Fei. Zhang Fei lalu menebaskan tombaknya yang ditahan dengan tombak Zhang Ren. Zhang Ren langsung merasakan kekuataan Zhang Fei yang sangat besar. Setelah 10 jurus akhirnya Zhang Ren merasa tidak dapat mengalahkan Zhang Fei dan pada saat ini pasukan utama dipimpin oleh Yan Yan tiba.

Melihat keadaan tidak menguntungkan untuknya Zhang Ren segera kabur. Zhang Fei mengikuti dan mengejarnya sampai sejauh tembok kota dimana dia tidak dapat mendekati karena jembatan tariknya telah diangkat begitu Zhang Ren masuk gerbang.

Lalu Zhang Fei kembali pada kakaknya untuk melaporkan kedatanganya dan cerita selama perjalanannya.

Mendengar Zhuge Liang belum tiba, Zhang Fei bergembira dan berkata, "Jadi aku mendapatkan Jasa lebih besar karena tiba lebih dahulu padahal dia melintasi sungai."

Liu Bei berkata, "Tetapi bagaimana kau dapat tiba begitu cepatnya melihat daerah sulit yang harus kau lewati ? Apakah kau tidak mendapatkan perlawanan ?"

Zhang Fei menjawab, "Sebenarnya Aku telah mendapatkan 45 benteng dan pos penjagaan sepajang perjalanan. Aku memperkerjakan jenderal Yan Yan yang aku tangkap. Jadi ini bukan jasaku seorang sehingga aku bisa tiba ditempat ini tanpa usaha yang besar."

Zhang Fei menceritakan cerita mengenai penangkapan Yan Yan dan jasanya dari awal sampai akhir dan dia akhirnya memperkenalkan Yan Yan pd Liu Bei.

Liu Bei berkata, "Jenderal, Kedatangan adikku yang cepat semua berkat bantuanmu dan aku dapat selamat hari ini jg karena kau membantu adikku tiba lebih awal."

Segera Liu Bei mengambil Jubah emasnya dan memakaikannya pada Yan Yan.

Lalu utusan datang dan melaporkan, "Jenderal Huang Zhong dan Wei Yan sedang melawan Wu Lan dan Lei Tong dan sekarang bala bantuan musuh dibawah Wu Yu dan Liu Gui tiba. Jenderal Huang Zhong dan Wei Yan terdesak dan melarikan diri kearah timur."

Zhang Fei segera meminta kakaknya untuk pergi bersamanya menyelamatkan mereka. Ketika Wu Yi dan Liu Gui melihat pasukan baru yang dipimpin Zhang Fei tiba, mereka segera mundur dan masuk kedalam kota.

Wu Lan dan Lei Tong yang telah berada lebih didepan segera terpotong jalan mundurnya oleh keberadaan pasukan Zhang Fei ini. Sekarang Wei Yan dan Huang Zhong yang melihat ada bantuan segera berbalik dan menyerang Wu Lan dan Lei Tong. Wu Lan dan Lei Tong menghadapi dua pasukan dari depan dan belakang akhirnya tidak dapat berbuat banyak dan mereka menyerah dan diterima. Liu Bei pun kembali ke kemahnya didekat kota.

Kekalahan ini membuat Zhang Ren kesal. Dia memanggil 2 jenderal yang tersisa dan meminta saran.

Wu Yi dan Liu Gui mengusulkan mengusulkan, "Situasi kita sekarang terdesak,kita harus mengirim pesan ke Cheng Du untuk meminta bantuan."

Zhang Ren setuju,"Besok aku akan keluar dan menantang mereka perang. Jika mereka setuju dan bertempur. Aku akan berpura-pura mundur dan pergi keutara kota. Ketika mereka mengejarku, pasukan lain harus keluar mengejar mereka dari belakang. Hal ini akan membuat kacau pasukan mereka."

"Biarkan aku ikut keluar denganmu," Kata Wu Yi, "Jenderal Liu Gui dapat tetap berada disini untuk menolong anak tuan kita, Liu Xun menjaga kota."

Hal ini juga disetujui, Keesokan paginya Zhang Ren keluar kota untuk menantang, Pasukannya mengibar-ngibarkan bendera dan berteriak keras-keras. Segera Zhang Fei maju menjawab tantangan dan keluar. Dia langsung menerjang kearah Zhang Ren dan melawannya. Setelah kira2x 10 jurus, Zhang Ren sengaja kabur, Zhang Fei mengikutinya. Dan Ketika Zhang Fei melintas di gerbang utara, tiba-tiba Pintu Gerbang terbuka dan ada pasukan lain keluar. Zhang Ren berbalik dan menyerang Zhang Fei. Zhang Ren bersama pasukannya terkepung diantara dua pasukan dan tidak bisa keluar dari kepungan.

Zhang Fei akhirnya terdesak oleh musuh, dan sekarang dia sudah sampai ke tepi sungai. Disaat yang kritis ini, tiba-tiba sekelompok pasukan berkuda tiba disisi sungai dan Seorang jenderal langsung menerjang ke arah Wu Yi. Wu Yi yang tidak siap segera terjatuh dari kudanya dan ditangkap. Pasukan Wu Yi akhirnya kabur. Sementara pasukan Zhang Ren yang melihat pasukan baru tiba, segera kembali kedalam benteng. Zhang Fei pun akhirnya terbebas dari kepungan.

Jenderal yang baru itu adalah Zhao Yun yang tiba disaat yang tepat.

"Dimanakah Zhuge Jiang Shi ?" Tanya Zhang Fei.

"Dia telah tiba. Aku pikir sekarang dia sedang menemui tuan kita." Jawab Zhao Yun.

Lalu Wu Yi digiring menuju kembali kekemah Liu Bei dimana Zhuge Liang telah berada disana. Zhang Fei segera turun dari kuda dan memberi hormat padanya.

Zhuge Liang lalu sangat terkejut dan berkata, "Bagaimana mungkin kau dapat tiba sebelum diriku ? Ini benar-benar diluar perhitunganku."

Liu Bei menceritakan mengenai kisah siasat Zhang Fei dan keberhasilannya mengajak Yan Yan bergabung.

Zhuge Liang lalu memberi selamat pada Zhang Fei dan berkata, "Jika Zhang Fei bertindak dengan keahlian tinggi seperti itu, Keberuntungan tuanku benarlah besar sekali."

Ketika Wu Yi dibawa menemui mereka, Liu Bei bertanya apakah dia mau menyerah.

"Kenapa tidak, lihatlah aku adalah seorang tawanan." jawab Wu Yi.

Segera Liu Bei melepaskan ikatannya. Zhuge Liang mulai menanyainya mengenai masalah pertahanan.

Wu Yi berkata, "Liu Xun anak dari Liu Zhang bersama Liu Gui dan Zhang Ren adalah komandan yang tersisa menjaga benteng itu. Liu Gui tidak perlu terlalu dipikirkan. Tetapi Zhang Ren adalah yang harus diwaspadai."

"Oleh sebab itu sebelum kita dapat merebut kota, kita harus menangkap Zhang Ren," Kata Zhuge Liang, "Aku melihat ada jembatan disebelah timur. Apa nama jembata itu ?"

"Jembatan itu dinamakan 'Jembatan Angsa Emas' ( Jin Se Yan Qiao) "

Zhuge Liang lalu berkuda menuju jembatan itu dan memperhatikan daerah sekitarnya.

Setelah kembali keperkemahan dia segera memanggil Huang Zhong dan Wei Yan untuk diberikan perintah.

Kepada mereka dia berkata, "Ditimur kota ada jembatan yang disebut 'Jembatan Angsa Emas' dan kira2x 5 Li diselatan tempat itu ada semak2x dan pepohonan yang lebat. Wei Yan akan memimpin 1.000 prajurit untuk menyerang hanya pasukan berkuda. Huang Zhong akan memimpin 1.000 prajurit berpedang dan membunuh kuda2x. Ketika Zhang Ren kehilangan pasukan berkudanya. Dia akan pergi menuju jalan berbukit, disana dia akan ditunggu oleh Zhang Fei."

Kemudian Zhao Yun dipanggil dan diberikan perintah, "Kau akan menyiapkan penyergapan didekat jembatan, Kau harus menghancurkan jembatan itu begitu Zhang Ren melintas. Setelah itu kau harus berjaga disana untuk menjaga agar dia tidak lari ke utara. Buatlah dia terdesak agar kabur keselatan, Zhang Ren akan jatuh ketangan kita."

Setelah pengaturan ini selesai, Zhuge Liang lalu memimpin pasukannya sendiri dan menantang musuh untuk berperang.

Liu Zhang yang telah mendapatkan surat dari LuoCheng segera mengirim dua jenderalnya, Zhang Yi dan Zhuo Ying kekota itu untuk membantu pertahanan kota Luo Cheng. Zhang Ren mengirim Zhang Yu untuk menolong Liu Gui mempertahankan Kota, sementara Zhuo Ying memimpin pasukan bersama dia untuk menghadapi musuh.

Zhuge Liang melintas jembatan itu dengan pasukan yang kacau balau. Dia sendiri hanya berpakaian biasa saja dan memain-mainkan kipasnya. Dia duduk di kereta kecil yang ditarik 4 orang. Beberapa pengendara kuda berada disisinya sebagai pengawal.

Setelah melintasi jembatan, Zhuge Liang berhenti dan menunjuk pada Zhang Ren dan berkata, "Beranikah kau menghadapi aku dan tidak menyerah ketika 1.000.000 tentara Cao-Cao akan lari ketika mendengar namaku ? "

Zhang Ren melihat formasi pasukan Zhuge Liang yang kacau balau, dimana prajurit2xnya berbaris dgn asal2xan.

Dengan senyum sinis, Zhang Ren berkata, "Orang-orang berkata bahwa Zhuge Liang seperti dewa dan strateginya tak terkalahkan. Aku pikir ini semua hanya omong kosong."

Lalu Zhang Ren memerintahkan agar pasukannya segera maju menyerang dan dia pun menerjang kearah Zhuge Liang. Zhuge Liang segera meninggalkan keretanya dan naik keatas kuda lalu seorang diri kabur menuju sisi lain dari jembatan. Zhang Ren yang melihat ini segera mengejarnya. Ketika dia telah melewati sisi satunya dia melihat bahwa ada pasukan tentara telah menunggunya disana. Kemudian dia tersadar bahwa ini semua hanyalah perangkap.

Pasukan itu dipimpin oleh Yan Yan dan Liu Bei, mereka kemudian segera menyerang Zhang Ren dan pasukannya. Zhang Ren kemudian ingin berbalik kearah jembatan tadi. Tapi ternyata jembatan itu telah dihancurkan oleh Zhao Yun. Dia terpaksa menuju arah selatan, Pasukannya yang tersisa segera dikejar dan dihancurkan oleh Zhao Yun. Zhang Ren bergerak keselatan menyusuri tepi sungai. Kemudian dia tiba ditempat yang berumput tinggi. Tiba-tiba dari balik rerumputan itu munculah Wei Yan dan pasukan tombaknya yang segera menghabisi para penunggang kuda dan sementara dari sisi satunya muncul Huang Zhong yang membunuh kuda2x itu. Potongan tubuh Kuda dan Mayat manusia bergelimpangan disana. Hanya sedikit yang selamat dan kebanyakan dari mereka dijadikan tawanan.

Tidak ada satu pasukan infantripun yang selamat, tetapi beberapa prajurit kavaleri masih mengikuti Zhang Ren yang melarikan diri menuju Bukit diselatan. Ketika Zhang Ren tiba disana, tiba-tiba Zhang Fen dan pasukannay muncul dari balik bukit. Begitu mereka bertemu Zhang Fei, Zhang Fei langsung berteriak keras sekali sehingga pasukan Zhang Ren segera panik dan melarikan diri. Zhang Ren yang tidak dapat mengendalikan kudanya yang ketakutan akibat terikan Zhang Fei segera terjatuh dan akhirnya dia diikat dengan tali dan dijadikan tawanan. Melihat Zhang Ren telah tertangkap, pasukannya yang lain yang dipimpin oleh Zhuo Ying segera menyerah pada Zhao Yun. Sesampainya dikemah mereka semua merayakan kemenangan ini dan Liu Bei menghadiahkan emas dan sutra pada Zhuo Ying.

Ketika Zhang Ren dibawa masuk oleh Zhang Fei, Zhuge Liang duduk disamping tuannya, Liu Bei.

"Kenapa kau bertahan begitu lama sementara jenderal YiZhou lainnya telah menyerah ?" Tanya Liu Bei.

"Dapatkah pelayan yang setia memiliki tuan kedua ?" Teriak Zhang Ren, Matanya menatap penuh kebencian pada Liu Bei.

"Kau tidak tahu bagaimana menggunakan kesempatan. Menyerah sekarang artinya adalah kau akan hidup."

"Aku mungkin menyerah hari ini, tetapi itu tidak akan lama. Aku pasti akan menyesalinya. Kau lebih baik membunuhku."

Liu Bei tetap menunjukan kebaikan hatinya dan ingin agar Zhang Ren menyerah padanya, tetapi Zhang Ren sangat keras kepala dan tetap tidak mau menyerah. Akhirnya perintah hukuman mati diberikan padanya, hal ini membuat namanya menjadi simbol kesetiaan diseluruh daerah barat.

Liu Bei bersedih untuk Zhang Ren, walaupun Zhang Ren adalah musuh tetapi dia adalah pendekar dan jenderal yang hebat. Zhang Ren diberikan pemakaman yang megah sebagai tanda hormat, makamnya diletakan disisi 'Jembatan Angsa Emas' dimana seluruh orang yang melewati jembatan itu akan mengingat kesetiaanya.

Keesokan harinya pasukan bergerak menuju Luo Cheng, Yan Yan dan jenderal lainnya yang telah menyerah sebelumnya memimpin jalan didepan.

Didepan gerbang mereka memanggil penjaga benteng, "Bukalah gerbang dan menyerahlah, maka kota ini akan selamat dari kehancuran."

Dari atas gerbang, Liu Gui memaki Yan Yan dan segera mengambil busurnya untuk memanah Yan Yan. Tetapi ketika Liu Gui baru akan memasang anak panahnya, seseorang lalu membunuhnya. Segera gerbang dibuka dan kota itupun menyerah.

Ketika Liu Bei memasuki kota itu, Liu Xun lari dari gerbang barat menuju Cheng Du.

Liu Bei segera menenangkan keadaan. Dia mencari tahu siapakah yang telah membunuh Liu Gui dan mereka berkata dia adalah Zhang Yi dari Wu Yan. Zhang Yi akhirnya diberikan imbalan dan hadiah atas jasanya ini.

"Sasaran kita berikutnya adalah ChengDu, tetapi kita harus menenangkan daerah sekitar sini agar kita dapat dengan aman melanjutkan penyerangan ke Cheng Du. Oleh sebab itu aku pikir kita harus mengirim Zhang Fei, Zhao Yun, Wu Yi, Yan Yan, Zhang Yi dan Zhuo Ying untuk pergi kedaerah-daerah disekitar sungai seperti Chang Yang, De Yang dan Ba Xi untuk menyakinkan penduduk disana dan menekan perlawanan dari pasukan Yi Zhou yang tersisa. Setelah itu maka kita tidak akan perlu mengkhawatirkan apapun dalam penyerangan ke Cheng Du." Kata Zhuge Liang.

Para jenderalpun dikirim menuju tempat mereka masing2x dan Zhuge Liang lalu mengamati daerah-daerah sekitar Cheng Du untuk merencanakan penyerangan.

Para prajurit Yi Zhou berkata, "Satu-satunya tempat yang dapat kau harapkan akan dipertahankan mati2xan oleh Liu Zhang adalah MianZhu. Setelah kau mendapatkan tempat ini maka Cheng Du sudah berada didalam gengamanmu."

Lalu Fa Zheng diminta menemui Zhuge Liang untuk diajak berdiskusi.

"Dengan jatuhnya Luo Cheng, Daerah barat ini praktis telah jatuh ketanganmu. Biarkan tuan kita memberikan kemurahan hatinya pada penduduk dan kita tidak akan perlu menggunakan senjata untuk mengamankan daerah ini. Aku akan menulis surat pada Liu Zhang dan memintanya menyerah." Kata Fa Zheng.

"Hal ini akan sangat baik jika kau dapat melakukannya." Kata Zhuge Liang.

Kemudian surat itu ditulis dan dikirimkan pada Liu Zhang.

Liu Xun anak dari Liu Zhang, pada saat itu telah berada di Cheng Du dan melaporkan pada ayahnya mengenai kekalahan Luo Cheng. Liu Zhang segera memanggil para penasehatnya untuk berdiskusi."

Penasehat Zheng Du berkata, "Walaupun Liu Bei telah berhasil merebut kota dan benteng, tetapi pasukannya masih terbilang kecil. Sumber persediaannya juga tidak banyak. Oleh sebab itu rencana terbaik kita adalah untuk memindahkan orang-orang di Ba Xi dan Zi Tong menuju tempat lain. Lalu kita bakar kedua tempat itu, seluruh persediaan dan juga beras akan kita musnahkan semua. Kita tetap bertahan di Cheng Du dan memperkuat kota. Setelah itu maka Liu Bei tidak akan mendapatkan bahan makanan dan kelaparan akan membuatnya kalah. Kita harus menolak semua ajakan bertempur, maka dalam 100 hari mereka akan mundur."

"Aku tidak menyukai rencana itu. Mengusir penyerang dengan maksud mengembalikan kedamaian adalah hal yang benar, tetapi sampai sekarang aku tidak pernah mendengar cara2x menyengsarakan penduduk untuk melawan musuh yang menyerang dapat dibenarkan. Saranmu tdk bisa dijalankan." Kata Liu Zhang.

Pada saat itu surat dari Fa Zheng tiba dan segera Liu Zhang membacanya.

Liu Zhang lalu marah besar setelah dia membaca surat itu. Dia segera merobek surat itu dan mulai memaki sipenulis, "Fa Zheng, si pengkhianat itu ! Berani sekali dia berbicara soal menyerah padaku !!!"

dan Liu Zhang lalu mengusir utusan itu. Dia segera mengirim pasukan dibawah Fei Guan, adik iparnya untuk segera menjaga Mian Zhu.

Fei Guan segera meminta agar Li Yan dari NanYan dijadikan asistennya, dan mereka berdua lalu bergerak bersama 30.000 prajurit menuju Mian Zhu.

Pada saat ini, Gubernur Yi Zhou, Dong He menulis surat menyarankan agar Yi Zhou berkerja sama dengan Han Zhong untuk mengalahkan Liu Bei.

Tetapi Liu Zhang menolak usul ini dan berkata, "Apa gunanya meminta bantuan dari daerah musuh kita. Zhang Lu tidak akan mengirimkan apapun."

Dong He menjawab, "Mereka mungkin musuh, tetapi Liu Bei telah menguasai Luo Cheng dan keadaan sekarang sangat mendesak. Jika kau menuliskan surat padanya serta mengindikasikan apa bahaya untuknya jika Liu Bei menguasai Yi Zhou maka aku yakin dia pasti membantu."

Lalu surat ditulis dan dikirimkan ke Han Zhong.

2 tahun telah berlalu sejak Ma Chao kalah dan melarikan diri menuju daerah Qiang di barat laut. Dia telah berteman dengan mereka dan dengan bantuan pasukan mereka dia telah menguasai daerah barat laut. Ekspedisinya sangalah berhasil, Orang-orang langsung membukakan gerbang baginya begitu namanya disebutkan. Hanya Ji Cheng yang masih bertahan, tetapi sebenarnya kota itu sudah akan menyerah. Gubernur Ji Cheng, Wei Kang, telah mengirim banyak surat untuk meminta bantuan pada Xiahou Yuan di Chang An. Tetapi Xiahou Yuan tidak dapat melakukan apapun tanpa persetujuan Perdana menteri dan oleh sebab itu dia mengirim surat ke Xu Chang. Wei Kang merasa hal ini akan memakan waktu lama dan oleh sebab itu dia mengadakan rapat dan para penasehatnya menasehatinya untuk menyerah.

Tetapi salah satu dari merekam Yang Fu, menolak dengan tegas usul penyerahan diri ini, "Kita tidak dapat menyerah pada pemberontak macam Ma Chan dan gerombolannya."

"Masih adakah harapan yang tersisa untuk kita ?" Tanya Wei Kang dengan putus asanya.

Walaupun Yang Fu meminta Wei Kan agar tidak menyerah, tetapi Wei Kan akhirnya memutuskan untuk menolak usul tersebut dan akhirnya dia membuka pintu kota serta menyerah.

"Kau hanya menyerah karena ini piliban terakhirmu, Maka ini bukanlah penyerah sebenarnya." Kata Ma Chao.

Segera dia memerintahkan Wei Kan dan seluruh keluarganya dihukum mati. Mereka semua berjumlah 24 orang.

Tetapi ketika mereka memberitahu pad Ma Chao bahwa Yang Fu adalah yang bertanggung jawab atas penundaan yang lama ini, Ma Chao tidak menghukum Yang Fu tetapi memujinya dan berkata, "Yang Fu hanya menjalankan tugasnya."

Ma Chan lalu menunjuk Yang Fu dan kedua temannya, Liang Kuan dan Zhao Qu untuk menjadi bawahannya.

Suatu hari Yang Fu berkata pada Ma Chao, "Istriku meninggal di Lin Tao. Aku harap dapat meminta cuti untuk 2 bulan dan memakamkan dia."

Segera Yang Fu diberi ijin dan pergi. Didalam perjalanan dia menuju rumah sepupunya, jenderal Jiang Xu, Komandan daerah Li Cheng. Ibu dari Jenderal Jiang Xu adalah bibi dari Yang Fu.

Ketika Yang Fu melihat dia, Yang Fu langsung menangis dan berkata, "Aku adalah pria yang tidak beruntung ! Kota yang kupertahankan telah hilang dan tuanku telah mati. Aku terlalu malu untuk melihatmu. Sekarang Ma Chao ini sudah menguasai banyak daerah dan banyak dari mereka yang membencinya. Tetapi sepupuku ini masih berdiam diri dan tidak melakukan apapun terhadap Ma Chao. Apakah hal ini pantas bagi seorang pelayan negara ?"

Yang Fu lalu menangis kembali.

Wanita tua itu tergerak oleh kesedihan Yang Fu, dia segera memanggil anaknya dan berkata padanya, "Kau adalah penyebab petaka yang menimpa keluar Wei kang."

Lalu berbalik pada Yang Fu dia berkata, "Apa yang dapat kita lakukan sekarang ? Kau telah menyerah padanya dan lebih dari itu kau telah menerima berkerja padanya."

"Itu memang benar, Aku telah menyerah dan menerima menjadi bawahannya. Tetapi hal ini aku lakukan dengan keinginan mencari kesempatan untuk membalaskan dendam tuanku."

"Ma Chao sangat pemberani dan sulit untuk dihancurkan." Kata Jiang Xu.

"Tidak terlalu sulit. Walaupun dia berani tetapi dia tidaklah pintar. Aku telah menaruh dua orang kepercayaanku didalam pasukannya. Mereka akan membantu kita melawan dia jika kau, saudaraku, mau meminjamkan pasukanmu padaku."

"Mengapa kau masih ragu jg anakku ? Apakah kau mau hidup selamanya ? Untuk tewas didalam kesetiaan dan kebenaran adalah tewas dijalan yang baik. Jangan kau pikirkan diriku, jika karenaku kau tidak mendengarkan saran Yang Fu, sepupumu ini, maka aku akan mati segera sehingga kau dapat membebaskan pikiranmu dari diriku."

Jiang Xu akhirnya menurut dan segera bertindak. Dia segera memanggil dua bawahannya, Yin Feng dan Zhao Ang dan berdiskusi dengan mereka.

Sekarang Zhao Ang punya seorang anak, Zhao Yue yang merupakan seorang perwira dipasukan Ma Chao. Ketika Zhao Ang terpaksa harus setuju untuk melawan atasan dari anaknya, dia tampak sangat tidak senang dan kembali kerumah untuk berbicara dengan istrinya.

Dia berkata, "Hari ini aku diminta untuk ikut dalam rencana menghancurkan Ma Chao dan membalaskan dendam Wei Kang. Tetapi anak kita berada dibawah Ma Chao dan Ma Chao pasti akan menghukum mati anak kita segera setelah dia mendengar bahwa aku mengangkat senjata melawan dia. Apa yang harus kulakukan ?"

Tetapi istrinya dengan marah menjawab, "Apakah seseorang harus menggerutu mengenai hidupnya jika ingin membalaskan dendam tuannya atau ayahnya ? Berapakah harganya seorang anak jika dibandingkna dengan kesetiaan dan tugas negara ? Tuanku, jika kau tetap memikirkan mengenai anakmu itu, maka aku akan mati dihadapanmu."

Akhirnya Zhao Ang tidak ragu lagi dan dia segera mempersiapkan pasukannya. Pasukan ini kemudian segera berangkat. Jiang Xu dan Yang Fu berkemah dikota Li Cheng. Zhang Ang dan Yin Feng berkemah dia QiShan. Istri Zhao Ang menjual perhiasannya dan pergi kedalam kemah suaminya serta mengadakan perjamuan bagi pasukan itu.

Ketakukan Zhan Ang mengenai nasib anaknya menjadi kenyataan. Segera setelah Ma Chao mendengar bahwa Zhao Ang menentangnya, dia segera menghukum mati Zhao Yue. Kemudian berserta Ma Chao, Ma Dai dan Pang De dia segera mengerahkan kekuatan menuju Li Cheng. Pasukan Dibawah Jiang Xu dan Yang Fu lalu bersiap menghadapinya. Kedua pemimpin itu mengenakan pakaian berwarna putih sebagai tanda berkabung bagi Wei Kang.

Mereka berteriak pada Ma Chao, "Pengkhianat ! Pemberontak !"

Ma Chao marah dan segera menerjang mereka, Kemudian pertempuranpun terjadi. Dari pertama telah terlihat bahwa Pasukan Yang Fu dan Jiang Xu tidak dapat menahan pasukan Ma Chan dan akhirnya mereka terpaksa mengundurkan diri. Ma Chaopun dengan bersemangat mengejar mereka. Tetapi segera dia mendengar suara keributan dibelakangnya. Kemudian dia berbalik dan melihat bahwa pasukan Zhao Ang dan Yin Feng menyerangnya dari belakang. Segera dia akhirnya terkepung diantara dua pasukan. Ketika dia sedang berusaha mepelaspaskan kepungan ini, tiba-tiba datang pasukan baru berbendera kekaisaran. Pasukan itu dipimpin oleh Xiahou Yuan yang baru menerima surat perintah untuk membantu Wei Kang dan menghadapai Ma Chao.

Tiga serangan yang mengepung dia dirasakan terlalu berat bagi Ma Chao, dan dia memutuskan mundur, Pasukannya berada dalam kekacauan. Dia segera melarikan diri bersama sisa2x pasukannya menuju Ji Cheng. Dia memanggil penjaga gerbang, tetapi tiba-tiba hujan panah menyerangnya. Dia segera menangkis semua panah itu dengan tombaknya. Segera, Liang Kuan dan Zhao Qu muncul dan membawa Istri Ma Chao, Lady Yang keatas tembok kota. Istrinya langsung dipenggal dihadapan Ma Chao, Lalu mayatnya dilemparkan kebawah. Lalu berkitnya ke 3 anak Ma Chao dan juga anggota keluarganya yang lain yang berjumlah 10 orang atau lebih, Mereka semua dipenggal didepan matanya dan darahnya disiramkan serta tubuhnya dilempar kebawah tembok kota dan jatuh tepat dibawah kaki kuda Ma Chao. Kepala-kepala mereka digantungkan diatas tembok kota.

Kemarahan langsung memuncak didalam diri Ma Chao. Dia nyaris jatuh dari kudanya. Tetapi Karena keadaan mendesak, Pang De dan Ma Dai langsung membawanya pergi karena Xiahou Yuan dan pasukannya telah mendekat. Dalam pelariannya, mereka hanya ditemani kurang dari 500 prajurit berkuda saja. Segera mereka dihadang oleh Yang Fu dan Jiang Xu, Ma Chao, Ma Dai dan Pang De melihat posisi mereka terjepit tidak bertempur terlalu lama dan memilih untuk terus lari. Mereka bergerak kearah selatan dan setelah keluar dari Daerah hutan lalu mereka dihadang oleh pasukan Zhao Ang dan Yin Feng. Ma Chao dan kedua jenderalnya melawan dengan sekuat tenaga, pertempuran sengit terjadi, Tetapi Karena Kekuatan Ma Chao yang luar biasa maka pasukan Zhao Ang dan Yin Feng dapat dipukul mundur. Pada saat itu pasukan Ma Chao hanya tersisa 60 prajurit berkuda saja.

Kira2x tengah malam, mereka tiba di Li Cheng. Didalam kegelapan, penjaga gerbang mengira bahwa yang kembali adalah pasukan mereka. Dia segera membuka gerbang. Ketika mereka menyadari kesalahan mereka, maka sudah terlambat. Ma Chao langsung menguasai gerbang kota dan memerintahkan agar prajuritnya menjaga gerbang, sedangkan dia berserta beberapa yang lainnya segera melakukan pembantaian tidak perduli apakah penduduk atau prajurit. Seluruh kota dihabisinya hingga jalanan penuh darah dan mayat2x begelimpangan.

Kemudian dia kerumah Jiang Xu dan dia menyeret ibu dari Jiang Xu. Wanita itu tidak menunjukan ketakutannya, tetapi dia terus memaki Ma Chao sampai akhirnya kemarahannya memuncak dan Ma Chao membunuh wanita tua itu dengan pedangnya. Segera mereka menuju kediaman Yin Feng dan Zhao Ang dimana mereka membunuh semua orang yang ditemuinya. Satu-satunya yang selamat adalah Lady Wang istri dari Zhao Ang yang sedang mengikuti suaminya.

Tetapi Pasukan Xiahou Yuan segera tiba dan Ma Chao dengan 60 prajuritnya tentu tidak dapat menghadapi kekuatan Xiahou Yuan. Ma Chao kemudian keluar melalui gerbang barat dan dia pergi sejauh 15 Li sebelum akhirnya bertemu dengan Pasukan yang dipimpin oleh Yang Fu.

Lalu dengan kemarahan memuncak Ma Chao segera menerjang menuju Yang Fu. Setiap prajurit yang menghalangi jalan Ma Chao langsung tewas. Ma Chao telah kalap dan membunuh dengan membabi buta seperti harimau terluka. Ma Dai dan Pang De yang melihat hal ini segera mengambil kesempatan untuk memutar kebelakang dan menyerang pasukan Yang Fu dari belakang. Ma Chao setelah mengosongkan jalannya segera berhadapan dengan Yang Fu dan ke 7 saudaranya. Sekarang pertempuran menjada 8 melawan 1 orang. Tetapi kekuatan Ma Chao sangatlah luar biasa. Ke 8 orang itu tidak dapat menandinginya. Satu demi satu mereka mati mengenaskan, Ma Chao yang sudah seperti binatang buas haus darah segera membunuh mereka semua. Yang Fu yang sudah terluka parah tetap berusaha melawan Ma Chao sampai akhirnya dia jatuh dari kudanya.

Mengira Yang Fu telah tewas, Ma Chao yang khawatir dikejar pasukan Cao Ren segera melanjutkan perjalanan. Sekarang dia hanya bersama 2 jenderalnya dan 6 prajurit berkudanya saja. Xiahou Yuan yang berhasil menguasai Li Cheng tidak mengejar Ma Chao, tetapi dia langsung menenangkan penduduk dikota itu dan didaerah Xi Zhou. Setelah itu dia membuat surat yang dikirimkan pada Cao-Cao untuk memberi imbalan pada atas jasa Jiang Xu dan yang lainya yang telah membantunya. Yang Fu yang terluka berat juga dikirim dengan tandu keibu kota untuk memperoleh perawatan. Ketika Dia tiba di Xu Chang, Cao-Cao menemuinya dan ingin memberinya gelar bangsawan.

Tetapi Yang Fu menolak kehormatan itu dan berkata, "Aku tidak berjasa apapun dan tidak pantas menerima kehormatan ini. Kematian haruslah menjadi milikku dan bukan kehormatan ini. Bagaimana mungkin aku dapat menerima gelar itu ?"

Cao-Cao memuji integritas dan kesetiaannya dan dia tetap memberikan gelar kebangsawanan itu.

Setelah lolos dari pengejarnya, Ma Chao dan beberapa pengikutnya memutuskan untuk pergi ke Han Zhong dan berkerja pada Gubernur Zhang Lu. Zhang Lu menerimnya dengan senang hati, karena pikirnya Ma Chao dapat membantunya untuk mendapatkan seluruh daerah Yi Zhou. Lebih lagi dia berpikir untuk menikahkah putrinya dengan Ma Chao sehingga mempererat hubungan mereka. Tetapi salah satu jenderal Zhang Lu tidak senang dengan hal ini.

"Petaka yang menimpa istri Ma Chao dan keluarganya adalah seluruhnya kesalahannya sendiri. Apakah kau akan memberikan anakmu kepadanya sebagai istri setelah semua yang dilakukannya ?" Tanya Yang Bo.

Zhang Lu mulai memikirkan masalah ini dan mengurungkan niatnya. Tetapi berita mengenai hal ini sampai pada Ma Chao yang sangat kesal dan ingin mencari cara menyingkirkan Yang Bo. Yang Bo dan Yang Song, saudaranya, disisi lain juga mencari cara menghancurkan Ma Chao.

Pada saat itu utusan dari Liu Zhang tiba di Han Zhong dan memohon bantuannya untuk menghadapi Liu Bei. Zhang Lu langsung menolaknya, tetapi Huang Quan kemudian datang dari Yi Zhou dengan tugas yang sama. Dia pertama bertemu dengan Yang Song dan berbicara kepadanya serta menjelaskan keuntungan dari rencana itu.

Huang Quan berkata, "Timur dan barat dari Yi Zhou seperti bibir dgn gigi, mereka saling tergantung. Jika Yi Zhou hilang apakah Han Zhong dapat hidup dengan tenang. Sebaliknya jika kau membantu kami maka Tuanku, Liu Zhang akan memberimu 20 kota sebagai kompensasi."

Akhirnya Yang Song menemui tuannya dan mengajak serta Huang Quan. Kepada Zhang Lu, Huang Quan jg berkata sama dan menjelaskan masalahnya. Akhirnya Zhang Lu berjanji untuk membantunya.

Tetapi Yan Pu, Salah satu penasehat Zhang Lu berkata, "Permohonan bantuan ini hanyalah taktik saja. Liu Zhang dan Kau adalah musuh lama. Janjinya tidak dapat dipercaya."

Lalu kemudian ada seorang lainnya lagi yang menginterupsi dan berkata, "Aku mungkin tidak berguna dalam perdebatan ini, tetapi jika kau berikan aku pasukan. Aku akan menangkap Liu Bei ini dan kau akan mendapatkan ke 20 kota itu."

BAB 65

Lalu Ma Chao berdiri dan berkata, "Aku telah menikmati kebaikan dari tuanku, yang aku pikir tidak akan dapat aku balas. Sekarang biarkan aku memimpin pasukan untuk merebut Jiameng dan menangkap Liu Bei. Lalu, Tuanku, Liu Zhang pasti akan kehilangan ke 20 kota itu dan mereka semua akan menjadi milikmu."

Hal ini membuat Zhang Lu senang dan dia segera mengirim Huang Quan kembali dan berjanji akan membantu. Lalu Zhang Lu memberikan 20.000 prajurit kepada Ma Chao untuk dipimpin. Pada saat ini Pang De sedang sakit parah dan tidak dapat ikut dalam ekspedisi ini jadi dia tetap bertahan di Han Zhong. Zhang Lu memerintahkan Yang Bo sebagai pengawas ekspedisi. Ma Chao dan Ma Dai segera mempersiapkan diri untuk bergerak ke Jiameng.

Sementara itu Utusan yang dikirim Fa Zheng kembali ke LuoCheng untuk melaporkan, "Zheng Du menasehati Liu Zhang untuk membakar seluruh padang rumput dan seluruh bukit antara Luo Cheng dengan Cheng Du. Dia juga meminta agar lumbung2x beras dikosongkan dan tanah pertanian dibumi hanguskan. Seluruh rakyat akan dipindahkan ke Cheng Du dan mereka akan bertahan didalam kota itu serta tidak keluar menyerang."

Berita ini menyebabkan Liu Bei dan Zhuge Liang khawatir, karena hal ini akan membuat pasukan mereka dalam posisi berbahaya, tetapi Fa Zheng hanya tersenyum saja.

"Jangan khawatir, Rencana ini dapat menyebabkan pukulan besar bagi pasukan kita,tetapi hal ini tidak mungkin terjadi. Liu Zhang tidak akan melakukan hal itu." Kata Fa Zheng.

Segera mereka mendengar kabar bahwa Liu Zhang tidak menjalankan rencana ini, dan ini membuat Liu Bei lega.

Lalu Zhuge Liang berkata, "Jika begitu maka sekarang kita harus segera merebut MianZhu, karena setelah kota itu dikuasai maka Cheng Du sudah pasti akan menjadi milik kita."

Liu Bei lalu memerintahkan Huang Zhong dan Wei Yan membawa pasukan dan segera merebut MianZhu. Ketika Komandan MianZhu, Fei Guan mendengar pengerahan pasukan ini, dia memerintahkan Li Yan segera keluar untuk melawan mereka. Li Yan keluar membawa 3.000 prajurit. Kedua pasukan segera mengatur formasi dan barisan masing2x. Huang Zhong lalu menantang duel dengan Li Yan. Mereka bertarung lebih dari 50 jurus dan tidak ada satupun yang menang. Zhuge Liang yang melihat hal ini segera memerintahkan agar gong dipukul dan Huang ZHong pun kembali kedalam pasukannya.

Ketika Huang Zhong kembali dia berkata, "Zhuge Jiang Shi, kenapa kau memerintahkan aku mundur disaat aku mulai dapat mengatasi perlawanan musuhku ?"

"Karena aku lihat Li Yan tidaklah mudah ditundukan dengan kekuatan. Esok hari jika Li Yan menantang duel maka kau harus menerimanya. Lalu kau harus berpura-pura mundur menuju bukit. Disana akan ada kejutan menunggunya."

Huang Zhong setuju untuk menjalankan rencana ini dan keesokan harinya dia setuju menerima tantangan Li Yan. Setelah 10 jurus, Huang Zhong dan pasukannya berpura-pura mundur karena kalah. Li Yan yang merasa diata angin segera mengejar mereka menuju daerah berbukit. Tiba-tiba dia seperti tersadar akan adanya bahaya dan segera memerintahkan pasuknannya berbalik.

Tetapi belum sempat dia mundur, Wei Yan dan pasukannya sudah berada dibelakagnya.

Dari Bukit dibelakang Wei Yan, Zhuge Liang muncul dan berkata, "Kau lebih baik menyerah ! Jika tidak, maka pasukanmu akan dihancurkan oleh para pemanah yang semuanya ingin membalaskan dendam Pang Tong kami."

Li Yan yang melihat bahwa dibelakangnya ada Wei Yan dan didepannya ada Huang Zhong serta disekelilingnya banyak pasukan pemanah segera membuang senjatanya dan memutuskan menyerah. Tidak ada satu prajuritpun yang terluka hari itu dan Li Yan segera dibawa kehadapan Liu Bei yang memperlakukannya dengan baik. Li Yan akhirnya bersedia untuk mengabdi pada Liu Bei. Li Yan jg bersedia untuk membujuk agar Fei Guan menyerah.

"Walaupun dia ada hubungan keluarga dengan Liu Zhang, tetapi Fei Guan dan aku adalah teman dekat. Ijinkanlah aku pergi dan membujuknya."

Segera Li Yan diijinkan untuk pergi dan mencoba membujuk Fei Guan untuk menyerah. Li Yan akhirnya berhasil meyakinkan Fei Guan dan pintu gerbang kotapun dibuka dan Liu Bei memasuki kota.

Segera setelah Liu Bei masuk ke Mian Zhu dia kemudian langsung merencanakan penyerangan ke Cheng Du.

Ketika hal ini terjadi datanglah utusan dari pos perbatasan memberitakan, "Ada pasukan besar mendekat dari arah timur dibawah pimpinan Ma Chao, Ma Dai dan Yang Bo. Mereka menyerang benteng perbatasan dan benteng itu akan segera kalah jika bantuan tidak segera dikirimkan."

"Kita memerlukan Zhang Fei dan Zhao Yun untuk menghadapi hal ini." Kata Zhuge Liang.

"Tetapi Zhao Yun sedang pergi hanya Zhang Fei yang ada disini dan mari kita segera kirimkan dia."

"Jangan katakan apapun, tuanku. Biarkan aku membuat semangatnya memuncak dan dia akan memberikan kemenangan pada kita." Kata Zhuge Liang.

Segera Zhang Fei mendengar ada bahaya ini, dia segera masuk dengan tergesa-gesa dan berteriak, "Aku harus berpamitan kakakku ! Aku akan pergi melawan Ma Chao ini."

Tetapi, Zhuge Liang berpura-pura tidak mendengar hal ini dan berkata pada Liu Bei, "Ma Chao telah menyerang benteng di Jiameng dan kita tidak mempunyai siapapun untuk memukul mundur mereka. Tidak ada yang dapat melawannya kecuali kita meminta Guan Yu agar kemari dari Jing Zhou. Guan Yu pasti dapat mengalahkannya."

"Kenapa kau menyepelekanku, Jiang Shi ?" Teriak Zhang Fei, "Bukankah aku pernah memukul mundur ratusan ribu tentara hanya dengan teriakanku ? Pikirmu aku tak mampu melawan si bodoh Ma Chao itu ?"

Zhuge Liang berkata, "Tetapi Ketika kau memukul mundur musuh kala itu, kau berhasil karena musuh ragu. Jika mereka tidak ragu maka kau tidak akan dapat selamat begitu mudahnya. Sekarang seluruh dunia telah mengetahui mengenai Ma Chao dan 6 pertempuran di sungai Wei dan juga bagaimana dia membuat Cao-Cao harus memotong janggutnya dan membuang jubahnya. Ma Chao hampir saja membunuh Cao-Cao. Tugas ini bukanlah tugas yang ringan dan bahkan Guan Yu mungkin saja gagal."

"Yang penting aku ingin pergi dan jika aku tidak dapat mengalahkan orang ini, aku akan menerima konsekwensinya."

"Baiklah, aku akan membiarkanmu pergi jika kau menuliskan niatmu sebagai bukti. Aku juga akan meminta tuan kita membawa pasukan sebagai pasukan pendukung dibelakangmu. Dia dapat menyerahkan tugas menjaga kota ini ditanganku sampai Zhao Yun kembali."

"Aku juga ingin pergi." Kata Wei Yan.

Wei Yan diijinkan untuk membawa 500 prajurit berkuda mendahului Zhang Fei sebagai pasukan Pengintai. Wei Yan tiba lebih dahulu di Jia Meng dimana dia disana langsung berhadapan dengan pasukan Yang Bo. Mereka bertempur selama 1 jam dan akhirnya Yang Bo tewas didalam pertempuran ini.

Setelah ini Wei Yan berambisi untuk mencoba mengambil kesempatan menghadapi Ma Chao dan membuat Jasa. Lalu dia terus masuk kedaerah musuh tanpa menunggu pasukan utama. Kemudian dia melihat bahwa musuh telah menyiapkan formasi bertempur. Pemimpinnya adalah Ma Dai, Wei Yan mengira dialah Ma Chao, dia segera menerjang ke arah Ma Dai. Segera sebelum Wei Yan sampai, Ma Dai segera membalikan kudanya dan kabur, Wei Yan segera mengejarnya dari belakang. Tetapi, Tiba-tiba Ma Dai berbalik dan melepaskan anak panah, Wei Yan yang terkejut dan tidak siap segera terluka ditangan kirinya yang tertancap anak panah itu.Akhirnya Wei Yan segera berbalik dan kabur. Pada saat ini, Ma Dai dan seluruh pasukannya mengejar Wei Yan yang mencoba melawan sebisanya dengan ke 500 prajurit berkudanya. Tetapi karena dia terluka dan kalah jumlah maka segera dia terdesak.

Disaat2x yang kritis tiba-tiba terdengar suara teriakan yang dapat mengetarkan angkasa dan membelah bumi. Pasukan buru muncul diatas bukit dan dengan segera menerjang menuruni bukit menuju arah pasukan Ma Dai.

Zhang Fei baru saja tiba. Ketika dia mendengar suarat pertempuran, dia segera naik keatas bukit dan melihat apa yang terjadi, kemudian dia melihat bahwa Wei Yan terluka. Segera Zhang Fei berusaha menolong temannya itu.

Ma Dai yang melihat ada pasukan dari atas bukit menuju kearahnya segera menghentikan pertempuran dan memerintahkan pasukannya kembali menyusun formasi dan bersiap menghadapi musuh.

Zhang Fei setelah mendekat lalu berkata, "Siapakah namamu ? "

"Aku adalah Ma Dai dari Xiliang."

"Karena kau bukanlah Ma Chao, cepatlah pergi, kau bukanlah tandinganku. Kau beritahukanlah pada Ma Chao bahwa Zhang Fei dari Yan berada disini."

"Berani sekali kau bersikap seperti itu padaku ?" Teriak Ma Dai dengan penuh amarah. Dan dia segera menerjang kearah Zhang Fei dengan tombaknya. Zhang Fei langsung menahan serangan Ma Dai itu, awalnya dia mengira serangan ini akan sangat lemah tetapi Zhang Fei cukup merasakan bahwa kekuatan serangan ini sangat besar. Lalu dia tidak lagi menganggap enteng Ma Dai. Tetapi Zhang Fei yang memang tidak mau berduel dengan Ma Dai segera menebaskan bagian batang tombaknya dan memukul Ma Dai hingga terjatuh dari kudanya. Ma Dai yang terjatuh hanya dengan sekali pukul saja segera mengetahui bahwa Zhang Fei memang bukanlah lawannya.

Zhang Fei sebenarnya berniat untuk menangkap Ma Dai dan ketika Ma Dai kabur dia ingin mengejarnya dan menangkap prajurit2xnya. Tetapi tiba-tiba ada berteriak, "Adikku, jangan kau kejar mereka."

Yang berkata adalah Liu Bei dan Zhang Fei pun berhenti serta kembali ke kemahnya.

"Aku tahu kau gampang marah sehingga aku mengikutimu. Karena kau telah berhasil mengalahkannya, kau lebih baik beristirahat dan bersiap untuk bertempur esok dengan Ma Chao."

Bunyi genderang perang esok paginya menandakan kedatangan Ma Chao. Liu Bei melihat formasi pasukan musuh dan dibarisan paling depan Ma Chao duduk diatas kudanya. Dia mengenakan helm berhiaskan lambang singa dan baju zirahnya berwarna perak serta dia mengenakan jubah putih. Penampakannya sungguh luar biasa gagahnya dan Liu Bei menatapnya dengan penuh kekaguman.

"Dia memang seperti apa yang orang-orang sering katakan, Benar-benar Ma Chao yang gagah perkasa."

Zhang Fei akan segera keluar melawan, tetapi Liu Bei mencegahnya dan berkata, "Jangan, belum saatnya kau keluar."

Dibawah tembok benteng, Ma Chao terus menantang Zhang Fei sementara diatasnya Zhang Fei kesal menunggu. Zhang Fei lalu meminta keluar melawan lagi tetapi lagi2x Liu Bei mencegahnya dan memintanya menunggu. Hal ini terjadi sampai beberapa kali hingga tengah hari dimana Liu Bei kemudian melihat bahwa pasukan Ma Chao telah kelelahan. Saat itu dia memutuskan bahwa Zhang Fei boleh keluar untuk melawan. Segera Liu Bei memilih 500 prajurit berkuda yang terbaik untuk menemani adiknya keluar benteng.

Ma Chao melihat bahwa Zhang Fei datang dengan pasukan kecil segera memerintahkan agar pasukannya mundur beberapa langkah dan beristirahat. Zhang Fei lalu berhenti dan dengan tombak ularnya dia maju.

"Apakah kau tahu siapa aku ini ? " Teriak Zhang Fei, "Aku adalah Zhang Fei dari Yan !!!"

Ma Chao menjawab, "Keluargaku telah menjadi bangsawan selama beberapa generasi. Aku tidak mungkin mengenal orang rendahan seperti dirimu itu."

Jawaban ini membuat Zhang Fei sangat marah dan kemudian mereka berdua lalu saling menerjang maju, kedua tombak saling beradu. Kekuatan kedua orang ini sangat besar, sedemikian besarnya sehingga ketika tombaknya mengenai bumi maka tanah akan retak dan ketika ditebaskan diudara, debu2x berterbangan kesatu sisi saja. Zhang Fei lebih suka menggunakan tombaknya untuk menusu sedangkan Ma Chan lebih suka menebaskan tombaknya. Ma Chao yang lebih lincah dapat menghindari tusukan tombak ular Zhang Fei sedangkan Zhang Fei yang lebih kuat dapat dengan mudah menahan tebasan tombak Ma Chao. 100 jurus telah berlalu dan tidak ada yang berhasil menang.

"Benar-benar seorang Pemimpin seperti Singa padang gurun." Kata Liu Bei dalam hati.

Tetapi Liu Bei takut sesuatu terjadi pada Zhang Fei, segera dia membunyikan gong sebagai tanda menghentikan pertempuran. Lalu akhirnya Ma Chao dan Zhang Fei kembali ketempatnya masing2x. Zhang Fei mengistirahatkan kudanya untuk beberapa saat lalu dia melepaskan helmnya dan baju zirahnya serta hanya mengenakan bandana merah diatas kepalanya serta memakai baju saja dia naik keatas kudanya lagi dan keluar. Ma Chao juga keluar dan pertarungan dilanjutkan.

Saat ini Liu Bei takut bahwa adiknya berada dalam bahaya, dan dia segera mengenakan pakaian perangnya dan mempersiapkan senjatanya juga akhirnya keluar benteng. Dia melihat mereka bertarung dengan sangat sengitnya, Tanah disekitar tempat mereka bertarung hancur terkena tenaga yang luar biasa, pepohonan juga tumbang dan beberapa bagian sisi tembok benteng juga rusak akibat pertempuran mereka. Mereka masih beradu 100 jurus lebih sampai akhirnya Liu Bei melihat adiknya dan Ma Chao telah saling menyerang membabi buta. Kuda2x mereka terluka dan pakaian mereka berdua telah terkoyak-koyak. Liu Bei membunyikan gong lagi karena takut adiknya terluka parah dan akhirnya pertempuran hari itu selesai.

Pada saat itu malam hari telah tiba dan Liu Bei berkata pada adiknya, "Kau lebih baik beristirahat hari ini. Ma Chao adalah musuh yang kuat. Lawanlah lagi dia esok hari."

Tetapi Zhang Fei merasa kesal tidak dapat mengalahkan Ma Chao. Dia berkata, "Tidak, aku tidak percaya tidak dapat mengalahkan tikus dari padang pasir itu. Aku akan mati dan tidak akan kembali jika tidak dapat mengalahkannya !"

"Tetapi sekarang telah malam, kau tidak dapat berduel dengannya." Kata Liu Bei.

"Biarkan prajurit membawa obor dan kita dapat bertempur dimalam hari." Kata Zhang Fei.

Ma Chao lalu menaiki kuda baru dan sekarang dia keluar dan berteriak, "Beranikah kau bertarung denganku dimalam hari, Zhang Fei ?"

Zhang Fei lalu langsung menaiki kuda Liu Bei yang masih segar dan segera keluar untuk melawan.

"Jika aku tidak menangkapmu, aku tidak akan kembali kedalam benteng." Kata Zhang Fei.

"Dan jika aku tidak mengalahkanmu, aku tidak akan kembali kekemahku." Kata Ma Chao.

Kedua belah pasukan saling memberikan semangat bagi para pemimpinnya. Mereka berbaris dan menyalakan ribuan obor sampai malam tampak seterang siang hari, dan kedua jenderal hebat itu memulai lagi duel mereka. Zhang Fei sekarang sedang sangat bersemangat, dia menyerang secara menggebu-gebu dan Ma Chao dengan bersusah payah mencoba menghindari serangannya. Suatu kali dia melihat ada kesempatan menyerang dan segera mengeluarkan jurus terhebatnya, "Tombak Halilintar" dan serangan itu berhasil mengenai Zhang Fei, tetapi bukan main terkejutnya dia, Zhang Fei tidak terjatuh, dia berhasil menahan tombak itu dengan badannya dan kemudian dengan marahnya Zhang Fei mengambil tombak itu dan mematahkannya dengan kedua tangannya. Walaupun begitu Zhang Fei mengalami luka pada tulang rusuknya.

Melihat hal ini Ma Chao mulai sadar bahwa dia tidak mungkin bisa mengalahkan musuhnya ini hanya dengan kekuatan saja, jadi dia berpikir untuk menggunakan siasat. Dia berpura-pura kalah dan mundur sehingga membuat Zhang Fei mengejarnya. Dia mengambil sebuah pisau tembaga yang sangat ringan dan bersiap untuk menggunakannya pada Zhang Fei yang mengejarnya. Zhang Fei yang mengejarnya telah tahu bahwa mungkin ini adalah perangkap dan dia sangat berhati-hati. Ketika Akhirnya Ma Chao melemparkan pisau itu, Zhang Fei berhasil mengelak. Lalu Zhang Fei sekarang yang membalikan kudanya dan giliran Ma Chao yang mengejarnya. Zhang Fei lalu segera mengeluarkan busurnya dan memanah Ma Chao. Tetapi Ma Chao yang sigap segera menghindar. Akhirnya kedua jenderal kembali ketempatnya masing2x.

Lalu Liu Bei maju kegaris depan dan berkata, "Dengarkan aku, Ma Chao. Aku selalu memperlakukan orang dengan baik dan adil. Aku bersumpah bahwa aku tidak akan mengambil keuntungan dari masa2x istirahatmu untuk mengejar ataupun menyerang. Karena itu kau dapat beristirahat dengan tenang."

Ma Chao mendengar perkataan ini, segera memundurkan pasukannya. Begitu juga Liu Bei.

Keesokan harinya Zhang Fei sekali lagi keluar benteng untuk bertarung, tetapi disaat dia akan pergi, Zhuge Liang baru saja tiba. Liu Bei dan Zhang Fei segera menyambutnya. Liu Bei langsung membicarakan masalah Ma Chao pada Zhuge Liang.

"Dia adalah salah satu pendekar terhebat dijaman ini. Jika dia sudah bertempur habis2xan dengan Zhang Fei, kehilangan salah satu dari mereka sudah dapat dipastikan. Jadi aku datang secepat mungkin aku dapat. Aku telah memberi instruksi pd Zhao Yun dan Huang Zhong untuk bagaimana mengamankan MianZhu. Aku pikir aku mempunyai sedikit siasat bagaimana membuat Ma Chao menjadi milik kita."

"Aku telah melihat orang itu dan aku kagum padanya. Jika kita dapat membuat dia berkerja pada kita, aku akan sangat senang sekali." Kata Liu Bei.

"Maka dengarlah saranku,Zhang Lu sangat ingin memiliki gelar 'Pangeran HanZhong'(Han Zhong Tai Zi). Diantara para orang terdekatnya, aku tahu bahwa Yang Song dapat disogok. Jadi aku akan mengirimkan orang untuk secara rahasia menemuinya dan memberinya emas serta sutra. Setelah ini selesaim aku akan menuliskan surat bagi Zhang Lu dan berkata padanya bahwa kau akan mengambil Yi Zhou dan membantunya membalaskan dendamnya pada Liu Zhang. Jika dia setuju maka kau akan menuliskan rekomendasi pada istana kaisar agar Penguasa daerah Han Zhong diberi gelar Pangeran. Hal ini akan menyebabkan Ma Chao ditarik mundur dan ketika ini dilakukan. Aku akan mencari cara untuk memintanya mengikuti engkau." Zhuge Liang berkata.

Liu Bei lalu menulis surat dan mengirimkannya melalui Sun Qian berserta dengan emas dan permata. Sun Qian secara rahasia menemui Yang Song dan ketika dia menemui Yang Song dia menjelaskan misinya secara rahasia, dia kemudian segera dipertemukan dengan Zhang Lu.

"Bagaimana mungkin Liu Bei mengirimkan surat untuk memberikan gelar pangeran padaku sementara dia sendiri hanyalah seorang jenderal ?" Tanya Zhang Lu setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sun Qian.

"Dia adalah Paman Kaisar" Kata Yang Song, "Dengan gelar seperti itu dia dapat mengirimkan rekomendasi ke istana kaisar."

Zhang Lu akhirnya setuju. Dia mengirimkan perintah pada Ma Chao untuk menghentikan pertempuran dan Sun Qian tetap berada di Han Zhong sebagai tamu sampai dia melihat apakah Ma Chao akan menuruti perintah atau tidak. Tidak lama kemudian utusan kembali mengatakan bhawa Ma Chao tdk mau menghentikan perang. Utusan yang kedua dan ketiga juga tidak berhasil memaksa Ma Chao kembali.

"Ma Chao ini tidak dapat dipercaya. Dia tidak akan memundurkan pasukannya karena dia bermaksud untuk memberontak." Kata Yang Song.

Yang Song lalu menyebarkan kabar burung, "Ma Chao ingin menguasai daerah barat untuk dirinya sendiri dan dia tidak puas hanya sebagai bawahan saja. Dan dia juga bermaksud untuk membalaskan dendam ayahnya."

Kabar burung ini sampai ketelinga Zhang lu dan dia bertanya pada Yang Song apa yang harus dilakukan.

Yang Song mengusulkan, "Berikan Ma Chao batas waktu 1 bulan untuk menyelesaikan tugasnya, berikan dia 3 kondisi. Dan jika dia tidak setuju kau dapat menghukum mati dirinya. 3 kondisi itu adalah penguasaan seluruh tanah barat, kepala Liu Zhang dan memukul mundur pasukan Jing Zhou. Jika dia gagal dari salah satu hal ini, maka kepalanya akan lepas dari lehernya. Sementara itu Zhang Wei harus dikirim sebagai penjaga pada titik2x strategis untuk menjaga jika Ma Chao memberontak."

Ketika Ma Chao mendengar 3 kondisi ini, dia segera marah dan berkata, "Apa maksudnya penugasan ini ?"

Setelah berdiskusi dengan Ma Dai, lebih baik bagi mereka untuk menghentikan pertempuran dan pasukan segera kembali.

Tetapi Yang Song mengatakan pada Zhang Lu, "Kembali Ma Chao dengan pasukan sangatlah berbahaya dan oleh sebab itu semua posisi penting disepanjang jalan kembali harus dijaga untuk menghentikan dia."

Oleh sebab itu Ma Chao segera terdesak dan dia tidak melihat ada jalan keluar dari kesulitan ini.

Lalu Zhuge Liang berkata pada tuannya, "Sekarang adalah saatnya untuk menggunakan lidah kecilku ini. Ma Chao sedang terdesak. Aku akan pergi kekemahnya dan membujuk dia untuk berpindah kesisi kita."

"Tetapi aku khawatir akan kepergianmu. Kau adalah hal terpenting, dan jika sesuatu terjadi pada dirimu, apa yang harus kulakukan ?"

Zhuge Liang lalu memberikan berbagai alasan pada Liu Bei dan Liu Bei lagi dan lagi menolaknya. Pada saat ini datang utusan dengan surat dari Zhao Yun. Liu Bei memanggilnya dan menanyainya. Dia adalah Li Hui dari Jianning, seseorang yang pernah memprotes tindakan Liu Zhang membiarkan Liu Bei datang.

"Kau suatu kali pernah memohon tuanmu untuk tidak membiarkanku datang. Kenapa kau sekarang berada disini ?" Tanya Liu Bei.

"Karena burung yang baik akan memilih sarangnya dan orang yang bijak akan memilih tuannya. Aku memang mencoba untuk membujuk Liu Zhang agar tidak mengambil jalan menuju kehancuran dan menjalankan tugasku sebagai pelayan. Tetapi dia menolak nasehatku dan aku tahu dia akan gagal. Kau sangatlah baik dan telah menguasai hampir seluruh wilayah barat. Dan kesuksesan pasti menjadi milikmu. Aku berharap untuk berkerja dibawah benderamu."

"Aku sangat beruntung jika kau mau berkerja untukku, tuan." Kata Liu Bei.

Lalu Li Hui mulai berbicara mengenai Ma Chao, "Aku mengenal dia ketika kami masih berada di daerah barat laut. Dia sekarang sedang terdesak dan aku mungkin dapat memintanya untuk menyerah kepadamu. Bagaimana menurut pendapatmu ?"

"Dia adalah orang yang tepat untuk pergi menggantikanku. Tetapi apa yang akan kau gunakan untuk membujuknya ?" tanya Zhuge Liang.

Li Hui mendekat dan berbisik. Apa yang dikatakannya tampaknya membuat Zhuge Liang tersenyum dan dia diperbolehkan untuk pergi.

Tiba dikemah Ma chao, Li Hui meminta penjaga memberitahukan kedatangannya. Ma Chao lalu berkata, "Ya, Aku mengenalnya. Dia seorang pembicara yang ahli. Aku tahu untuk apa dia datang."

Lalu Ma Chao meminta prajuritnya bersembunyi disekitar tendanya dan memerintahkan untuk membunuh tamunya itu apabila dia memberi tanda.

Lalu Li Hui masuk kedalam tenda Ma Chao dimana Ma Chao duduk dengan tegak dan tampak tegas.

Ma Chao lalu berbicara, "Untuk apa kau datang kemari ?"

"Aku datang untuk membujukmu."

"Pedang ini baru saja diasah. Kau boleh mencoba kata-katamu padaku, tetapi jika kata-katamu tidak berhasil maka aku akan memintamu untuk mencoba pedangku."

Li Hui tersenyum dan berkata, "jenderal, Petaka tidak jauh dari sini. Aku berpikir bahwa pedang itu tidak akan dicoba pada kepalamu. Kau pasti akan juga mu mencoba pedang itu pada kepalamu !"

"Petaka apa yang kau bicarakan ?"

"Kata-kata yang terburuk tidak akan dapat menyembunyikan kecantikan Xi Shi dari Yue, juga kalimat terindah tidak akan dapat menutupi kejelekan wajah Wu Yan dari Qi. Matahari terbit dan digantikan bulan jika terbenam. Semua mengikuti suatu hukum. Sekarang, jenderal, kau memiliki dendam dengan Cao-Cao atas kematian ayahmu dan didaerah barat kau, karena keras kepala menyebabkan kematian keluargamu. Kau tidak dapat menyelamatkan Liu Zhang dengan memukul mundur pasukan dari Jing Zhou dan juga kau tidak dapat berurusan dengan Yang Song dan meyakinkan Zhang Lu. Jika kau mengalami kekalahan lagi seperti disungai Wei atau JiCheng, apakah kau tidak malu menjadi bahan tertawaan diseluruh dunia ?"

Ma Chao menundukan kepalanya dan berkata,"Kau berkata benar,tuan. Aku sekarang sedang terdesak."

"Sekarang karena kau mau mendengarkan diriku, aku ingin bertanya mengapa prajurit2x itu bersembunyi disekitar kemahmu ?" Li Hui berkata.

Ma Chao segera merasa malu dan memerintahkan agar prajurit2x yang bersembunyi segera bubar. Li Hui kemudian melanjutkan kata-katanya.

"Liu Bei, Paman kaisar, sangatlah baik terhadap bawahannya dan aku yakin dia akan menjadi seorang penguasa yang besar. Ayahmu yang mulia itu telah bergabung dengannya dan bersumpah untuk menghancurkan pemberontak. Kenapa kau tidak pergi dari kegelapan menuju terang ? sehingga kau dapat membalaskan dendam ayahmu dan menjadi terkenal ? "

Ma Chao yakin dengan perkataan Li Hui lalu segera membunuh Yang Bo dan mengirimkan kepalanya pada Liu Bei sebagai tanda penyerahan dirinya. Liu Bei segera menerimanya dengan senang dan memperlakukannay dengan sangat baik.

Ma Chao menundukan kepalanya dan berkata, "Bertemu denganmu, tuan, seperti melihat langit yang certa ketika awan hitam telah tersapu hilang."

Ketika Sun Qian kembali dari HanZhong, Liu Bei ingin mengirim pasukan untuk merebut Cheng Du, dia meninggalkan Meng Da dan Huo Jun untuk menjaga benteng di Jiameng. Dia kemudian kembali ke MianZhu dan disambut oleh Zhao Yun dan Huang Zhong.

Dua jenderal Liu Zhang , Ma Ha dan Liu Jun datang untuk menantang Liu Bei, tetapi Zhao Yun keluar untuk menghadapi mereka sementara dia dan Ma Chao sedang duduk diatas benteng menyaksikan aksi Zhao Yun mengalahkan pasukan kedua jenderal itu. Zhao Yun berhasil membunuh kedua jenderal itu dan membawa kepalanya. Hal ini membuat Ma Chao merasa kagum atas Liu Bei dan pengikut2xnya.

"Tuanku tidak perlu bertempur. Aku akan membuat Liu Zhang menyerah. Jika dia menolak maka aku dan saudaraku Ma Dai akan mendapatkan kota itu dan menyerahkannya padamu."

Liu Bei sangat senang mendengar hal ini.

Di Cheng Du, Liu Zhang sangat gelisah dan berita mengenai kekalahan pasukannya telah membuatnya menutup seluruh gerbang kota. Tidak lama kemudian datang berita mengenai datangnya pasukan Ma Chao. Liu Zhang segera pergi keatas benteng untuk melihatnya. Segera Ma Chao dan Ma Dai mendekat ke tembok benteng.

Dan Ma Chao berteriak, "Aku ingin berbicara pada Liu Zhang."

Lalu Liu Zhang menujukan dirinya dan Ma Chao melanjutkan.

"Aku memimpin pasukan HanZhong untuk menyelamatkan Yi Zhou tetapi karena Yang Song, Zhang Lu jadi ingin membunuhku. Sekarang aku telah mengikuti Liu Bei, paman kaisar dan aku menyarankan padamu, tuan, untuk melakukan hal yang sama, kau dan seluruh pejabatmu. Dengan begitu kau akan lolos dari bahaya. Jika kau menolaknya maka aku akan menghancurkan kotamu."

Kata-kata seperti itu mengejutkan Liu Zhang, mukanya tampak pucat sekarang. Dia lalu pusing dan akhirnya pingsan.

Ketika dia sadar, dia berkata,"Aku sungguh bodoh dan sekarang aku menyesal. Lebih baik bukalah gerbang dan kita akhiri semuanya. Maka kota akan terselamatkan."

"Jangan. Kita masih memiliki 30.000 prajurit didalam kota dan juga uang serta persediaan untuk 1 tahun. Lebih baik kita bertahan." Kata Dong He.

Tetapi Liu Zhang berkata, "Ayahku dan aku telah memerintah Shu selama 20 tahun dan tidak melakukan apapun yang signfikan bagi rakyat. Kita telah berperang selama 3 tahun. Padang rumput telah dibanjiri darah dari rakyatku. Kesalahan ini adalah karena diriku sendiri. Aku tidak dapat menanggungnya lagi dan karena itu aku tidak melihat ada jalan lain yang lebih baik selain menyerah, dengan itu aku dapat membawa kedamaian bagi rakyat."

Orang-orang disekitarnya langsung menangis dan terharu mendengarnya.

Lalu salah seorang berkata, "Kata-katamu seperti yang diperintahkan langit padamu."

Mereka kemudian melihat yang berkata adalah Qiao Zhou dari Ba Xi yang merupakan seorang ahli perbintangan.

"Aku telah mempelajari pertanda dilangit dan berbagai bintang telah berkumpul dibarat, salah satunya bersinar terang sekali seperti bulan. Sebuah bintang kaisar. Dan aku melihat bintang Tuan telah memudar."

"Tidak ada yang dapat melawan titah dari yang maha kuasa."

Liu Ba dan Huang Quan yang mendengar kata-kata ini, sangat marah dan mereka segera bangkit. Dengan pedang ditangan, mereak bersiap membunuh Qiao Zhou. Tetapi Liu Zhang mencegahnya.

Kemudian datang berita bahwa Xu Jing, gubernur dari distrik Shu telah menuruni tembok dan pergi menyerah pada Liu Bei. Ini adalah pukulan telak bagi Liu Zhang. Liu Zhang segera menangis.

Keesokan harinya dilaporkan bahwa Liu Bei mengirim Jiang Yong sebagai utusan untuk mengunjungi Liu Zhang. Jian Yong segera dipersilahkan masuk dan dengan ditandu semua orang memandanginya.

Tiba-tiba sesorang memanggilnya dengan pedang ditangan, dia berteriak, "Kau telah mendapatkan apa yang kau mau dan kau pikir sudah tidak ada orang lagi yang dapat dibandingkan dengna dirimu. Jangan kau remehkan kami penduduk Shu !"

Jiang Yong segera keluar dari tandunya dan dia bertanya siapakah orang itu. Dia adalah Qin Mi yang berasal dari Mian Zhu.

"Saudaraku, aku tidak mengenalmu. Aku harap kau jangan marah dahulu."

Mereka berdua mengunjungi Liu Zhang dan Jiang Yong berhasil menyakinkan bahwa Liu Bei tidak bermaksud melukai penduduk dan dengan itu Jiang Yong berhasil menyakinkan penduduk Shu dan Liu Zhang.

Keesokan harinya, simbol penugasan dan juga kekuasaan dibawa, dengan ditemani Jian Yong mereka keluar dari kota dan menuju kemah liu bei. Liu Bei lalu menyambutnya diluar dan menerima mereka.

Lalu Liu Bei berkata sambil menangis, "Bukannya aku ingin bersikap kasar atau kejam. Aku adalah korban dari keadaan dan tidak dapat untuk menghindar dari takdir."

Mereka masuk kedalam kemah bersama, dimana disana seluruh simbol penugasan dan kekuasaan serta dokumen2x lainnya berpindah tangan. Setelah itu mereka berdua segera masuk kedalam kota Cheng Du. Penduduk memberikan sambutan meriah pada Liu Bei, mereka membakar dupa dan mempercantik kota, malam harinya mereka mengadakan peryaan kembang api. Liu Bei lalu pergi pusat pemerintahan, istana Cheng Du. Disana dia menerima sujud dari semua pejabat daerah.

Tetapi, Huang Quan dan Liu Ba tidak menghadiri upacara itu. Hal ini mengesalkan beberapa pendukung Liu Bei dan mereka ingin membunuh kedua orang itu. Tetapi Liu Bei mencegahnya dan mengancam akan menghukum siapapun yang melanggar. Ketika resepsi telah berakhir, Liu Bei mengunjungi kedua orang itu dimana keduanya akhirya mau menerima kehadiran Liu Bei dan menunjukan kepatuhannya.

Kata Zhuge Liang pada Liu Bei, "Kita telah menang, dan seluruh perlawanan di Yi Zhou telah berakhir. Tetapi ditempat ini tidak boleh ada 2 pemimpin. Jadi kau harus mengirim Liu Zhang ke Jing Zhou."

"Tetapi aku tidak ingin membuangnya." KAta Liu Bei.

"Dia telah kehilangan segalanya karena lemah. Jika kau lemah dan ragu maka kau jg tidak akan bertahan lama."

Liu Bei melihat bahwa nasehat ini bagus sekali dan dia mengadakan perayaan besar2xan dimana dia meminta Liu Zhang untuk segera membawa keluarganya dan hartanya untuk pergi ke Jing Zhou. Liu Zhang akhirnya pergi ke Gongan di Jing Zhou, bersamanya dia membawa serta seluruh keluarganya dan hartanya.

Liu Bei akhirnya menjadi Penguasa di Yi Zhou. Dia memberikan hadiah pada pejabat sipil dan militer yang bergabung dengannya. Yan Yan diangkat menjadi Jenderal Pasukan Garis Depan (Gen Qian Ping Jun), Fa Zheng sebagai gubernur Shu (Shu Zhou Zhang), Dong He dan Xu Jing menjadi Komandan kekaisaran (Luan Ping Jia), Liu Ba diangkat menjadi Jenderal Pasukan Kiri (Zuo Ping Jun), Huang Quan diangkat menjadi Jendal Pasukan Kanan(You Ping Jun). Wu Yi, Fei Guan, Peng Yang, Zhuo Ying, Li Yan, Wu Lan, Lei Tong, Li Hui, Zhang Yu, Qin Mi, Qiao Zhou, Lu Yin, Huo Jun, Deng Zhi, Yang hong, Zhou Qun, Fei Yi, Fei Shi, Meng Da dan yang lainnya. Semua diberikan imbalan, gelar dan jabatan. Totalnya berjumlah 60 orang lebih.

Para pengikuti Liu Bei juga mendapatkan bagian. Zhuge Liang diangkat menjadi Instruktur Utama (Zhuge Jiang Shi), Guan Yu, Jenderal besar Yang menghancurkan Pemberontak (Jiao Pan Ta Jiang Jun) dan Bangsawan dari Hanshou (Han Shou Gui Zu). Zhang Fei, jenderal yang menghapuskan pemberontakan(Zheng Fu Pan Jiang Jun) dan Bangsawan dari Xin(Xin Gui Zu). Zhao Yun, jenderal yang menjaga barat (Xi Shou Jiang Jun). Huang Zhong, Jenderal yang menguasai Barat (Xi Ke Jiang Jun). Wei Yan, Jenderal Yang memenangkan perang (Ying Zhan Jiang Jun). Ma Chao, jenderal yang menentramkam Barat (Xi Sui Jiang Jun). Sun Qian, Jian Yong, Mi Zhu, Mi Fang, Ma Liang, Ma Su, Jiang Wan, Yi Ji, Liu Feng, Guan Ping, Liao Hua, Zhou Cang dan yang lainnya yang mengikuti dia dari Jing Zhou, semuanya diberikan imbalan dan menerima promosi.

Sebagai tambahan, Hadiah khusus diberikan sebanyak 500 Kati emas dan 1.000 kati perak, dan banyak uang perak serta 1.000 gulung sutra XiChuan dikirimkan pada Guan Yu. Seluruh pejabat militer dan sipil diberikan jabatan dan hadiah. Banyak hewan ternak yang disembelih untuk menjamu para prajurit dan lumbung2x beras dibuka bagi rakyat sehingga semua merasa senang dan bahagia.

Setelah menguasai dan menenangkan Yi Zhou, Liu Bei berkeinginan untuk membagi2xkan tanah rakyat disekitar Cheng Du bagi para bawahannya.

Tetapi Zhao Yun berkata, "Penderitaan rakyat telah sangat banyak dan akan lebih bijak jika kita biarkan mereka berkerja dahulu sesegera mungkin. Akan sangat salah untuk memberikan imbalan pada orang-orang kita saja dengan membuat penduduk menderita."

Liu Bei mendengarkan dan dia memperlakukan rakyat dengan sangat baik.

Kepada Zhuge Liang, Liu Bei memerintahkan agar merevisi hukum. Undang2x baru harus dikeluarkan dan segala kesalahan akan ada hukumannya. Hukum baru ini memiliki hukuman sangat berat.

Lalu Fa Zheng berkata, "Pendiri dinasti, Liu Bang, menulis 3 bab kitab hukum, dan rakyat sangat menyukainya dan tersentuh oleh kebajikannya. Aku pikir lebih baik hukum yang baru itu lebih sedikit dan lebih bebas sehingga rakyat dapat hidup dengan nyaman."

Zhuge Liang menjawab, "Kau hanya melihat dari satu sisi. Hukum dinasti Qin sangatlah kejam dan keras. Oleh sebab itu Liu Bang harus membuat perubahan dengan memberlakukan hukum yang lebih ringan. Dibawah pemerintahan Liu Zhang yang lemah, tidak pernah ada kepastian hukum. Oleh sebab itu maka hukum yang lebih keras diperlukan agar rakyat terbiasa untuk mematuhi hukum dan menciptakan keadilan didaerah ini."

Fa Zheng tidak dapat berkata apa-apa lagi. Segera semua hal di tanah Shu segera menjadi tentram. Seluruh 41 kota dengan benteng2x pasukannya menjadi damai dan aman. Daerah Shu menjadi daerah yang makmur dan kuat.

Sebagai gubenur Shu, Fa Zheng cukup dibenci. Dia setiap hari menyibukan diri dengan membalas jasa dan memberikan hukuman atas kejahatan dimasa lalu betapapun kecilnya kesalahan itu. Beberapa orang memberitahukan hal ini pada Zhuge Liang dan memohon agar Fa Zheng ditarik dari jabatannya.

Tetapi Zhuge Liang menunjuk pada jasa-jasa Fa Zheng berkata, "Ketika tuanku berada di Jing Zhou, takut diserang Cao-Cao dan diancam Sun Quan, Fa Zhenglah yang mendukungnya dan memberikan arahan. Dia telah menambahkan sayap pada dirinya sehingga sekarang tuanku dapat terbang tinggi. Didalam masa yang damai dan makmur ini, aku rasa cukup beralasan untuk membiarkan Fa Zheng melakukan apa yang dianggapnya benar."

Jadi tidak ada penyelidikan yang dilakukan atas Fa Zheng, Tetapi dia mendengar mengenai hal ini dan segera memperbaiki kesalahannya.

Suatu hari ketika Liu Bei dan Zhuge Liang sedang beristirahat, Guan Ping Tiba dan berkata, "Ayahku sangat ingin untuk datang ke Yi Zhou dan mencoba berduel dengan Ma Chao."

Kata Liu Bei, "Jika dia datang kemari dan berduel, aku khawatir mereka berdua tidak akan selamat."

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku akan menulis surat pada Guan Yu." Kata Zhuge Liang.

Liu Bei takut bahwa sifat adiknya yang keras itu akan membuatnya dalam masalah, jadi dia berkata pada Zhuge Liang untuk menulis kata-kata yang baik pada Guan Yu. Setelah selesai, Zhuge Liang menyerahkan surat itu untuk dibawa kembali oleh Guan Ping.

Ketika Guan Ping tiba kembali menemui ayahnya, pertanyaan pertama adalah, "Apakah kau menyebutkan mengenai duel dengan Ma Chao ?"

Kemudian Guan Ping langsung menyerahkan surat yang isinya seperti ini,

"Aku mendengar keinginanmu untuk berduel dengan Ma Chai. Sekarang aku akan katakan padamu bahwa Ma Chao ini memang sangat berani dan kuat. Tetapi dia hanya sekelas dengan Peng Yue dan Ying Bu dimasa lalu. Dia mungkin pantas menjadi lawan adikmu, tetapi dia masih jauh untuk dibandingkan denganmu, jenderal besar yang memiliki janggut terindah. Kau memiliki posisi penting. Jika kau datang kebarat dan sesuatu terjadi pada Jing Zhou, bagaimana kau akan mempertanggung-jawabkannya ? Aku harap kau melihat hal ini."

Guan Yu lalu langsung mengelus2x janggutnya dan tersenyum.

"Zhuge Jiang Shi sangat mengenal baik diriku." Kata dia pd orang-orang disekitarnya.

Dia menunjukan surat ini pada bawahannya dan akhirnya dia tidak pernah berpikir lagi untuk pergi kebarat.

Kesuksesan Liu Bei mendapatkan Yi Zhou terdengar oleh Sun Quan, yang berpikir bahwa sekaranglah saatnya dia mendapatkan Jing Zhou yang sangat diinginkannya. Lalu dia memanggil Zhang Zhao dan Gu Yong untuk meminta saran.

Sun Quan berkata, "Ketika Liu Bei berada di Jing Zhou, dia berjanji akan mengembalikan daerah itu pada kita setelah mendapatkan Yi Zhou. Sekarang dia telah mendapatkan seluruh daerah barat sungai dengan ke 41 kotanya. Jika Jing Zhou tidak dikembalikan juga maka aku akan mengambilnya dgn kekuatan militer."

Zhang Zhao berkata, "Aku telah memiliki rencana sehingga kau tidak perlu berperang. Liu Bei pasti akan mengembalikan daerah itu."

BAB 66

Zhang Zhao berkata, "Orang yang paling diandalkan Liu Bei adalah Zhuge Liang. Sekarang kakak dari Zhuge Liang berkerja padamu. Kau hanya perlu menangkap seluruh keluarganya dan kirim dia kebarat untuk menemui Zhuge Liang serta meminta Zhuge Liang membujuk Liu Bei mengembalikan Jing Zhou. JIka Liu Bei menolak maka keluarga Zhuge Jin akan dihukum mati dan Zhuge Liang tidak akan bisa menolak hal ini karena hubungan kekeluargaan diantara mereka."

"Tetapi Zhuge Jin sangat Loyal. Aku tidak dapat menyakiti keluarganya !" Kata Sun Quan

"Jelaskan siasat ini pada Zhuge Jin. Hal ini akan membuat pikirannya tenang." Kata Zhang Zhao

Sun Quan setuju dan mengeluarkan perintah untuk menangkap keluarga Zhuge Jin. Lalu dia menulis surat pada Zhuge Jin untuk segera pergi ke Cheng Du. Segera Zhuge Jin sampai dan utusannya melaporkan kedatangannya pd Liu Bei.

Liu Bei segera mencari Zhuge Liang untuk dimintai nasehatnya.

"Apa pendapatmu mengeneai kedatangan kakakmu ini ?"

"Dia pasti datang untuk memaksa kita mengembalikan Jing Zhou."

"Bagaimana aku akan menjawabnya ?"

"Kau harus melaukan ini.... dan ini...." Kata Zhuge Liang sambil berbisik ditelinga Liu Bei

Setelah rencana disiapkan, Zhuge Liang segera keluar dari kota untuk menyambut kakaknya. Zhuge Liang segera membawanya kerumah tamu. Setelah mereka berada diruangan hanya berdua saja, lalu tiba-tiba Zhuge Jin menangis dengan keras.

"Jika kau memiliki masalah, kakak, beritahukanlah padaku. Mengapa kau menangis seperti ini ?" Tanya Zhuge Liang.

"Keluargaku telah dipenjarakan oleh Adipati Wu !" Tangisnya

"Aku pikir ini pasti masalah pengembalian JIng Zhou. Jika keluargamu telah ditangkap oleh karena diriku, bagaimana mungkin aku akan diam saja. Tetapi kau Jangan khawatir, kakakku, aku pasti akan mencari jalan membantumu."

Jawaban ini menenangkan Zhuge Jin dan mereka berdua akhirnya pergi menghadap Liu Bei.

Surat dari Sun Quan lalu diserahkan, tetapi ketika Liu Bei telah selesai membaca dia berkata dengan marah, "Dia dan aku adalah saudara karena aku menikahi adiknya. Dia telah mengambil kesempatan dari kepergianku kebarat untuk menculik adiknya dan sekarang ketika aku ingin membalas dendam ini dengan menyerang keselatan, mana mungkin aku akan mengembalikan Jing Zhou ?"

Pada saat ini Zhuge Liang lalu langsung bersujud dan menangis dikaki Liu Bei dan berkata, "Adipati Wu telah menangkap keluarga kakakku dan akan menghukum mati mereka jika Jing Zhou tidak dikembalikan. Dapatkan aku tetap hidup jika petaka menimpa mereka ? Aku harap tuanku mau mengembalikan daerah itu demi diriku."

Tetapi Liu Bei menolkanya dan Zhuge Liang tetap memohon dan akhirnya Liu Bei setuju.

"Karena keadaanya memang begitu dan Zhuge Jiang Shi sudah memohonnya padaku, maka aku akan mengembalikan 1/2nya. Aku akan menyerahkan ChangSha, Ling Ling dan Gui Yang."

"Karena kau telah setuju, aku harap kau mau menuliskan surat untuk memerintahkan Guan Yu agar menyerahkan ketiga daerah itu." Kata Zhuge Jin.

Liu Bei berkata, "Ketika kau menemui adikku itu, kau harus menggunakan kata-kata yang baik. Karena dia seperti Api yang akan membakar mereka yang tidak tahu bagaimana menggunakannya. Bahkan aku sendiri takut padanya. Jadi hati2xlah."

Zhuge Jin setelah mendapatkan surat itu segera pergi menuju Jing Zhou. Dia lalu meminta bertemu Guan Yu dan diterima di aula utama.

Ketika keduanya telah duduk, Zhuge Jin lalu mengeluarkan surat dari Liu Bei dan dia berkata, "Paman kaisar telah berjanji mengembalikan 3 daerah kepada tuanku. Dan aku harap, jenderal, kau akan menyerahkan mereka segera."

Guan Yu langsung menampakan wajah marah dan berkata, "Sumpah yang kuucapkan ditaman bunga persik mengikat aku dan kakakku untuk mendukung dinasti Han. Jing Zhou adalah juga bagian dari dinasti Han dan bagaimana mungkin aku akan memberikan daerah ini kepada orang lain ? Ketika seorang pemimpin berada dimedan pertempuran dia harus bertindak sesuai apa yang dirasanya benar. Walaupun kau membawa surat dari kakakku, aku tetap tidak akan mengembalikan daerah ini."

"Tetapi Adipati Wu telah menangkap keluargaku dan mereka akan dibunuh jika Jing Zhou tidak dikembalikan. Aku mohon belas kasihanmu jenderal !"

"Hal ini hanyalah sebuah tipu muslihat, aku tidak akan terperdaya oleh itu !"

"Kenapa kau tidak memiliki perasaan ?" Hardik Zhuge Jin

Guan Yu lalu mengeluarkan pedangnya dan berkata, "Kita tidak usah berbicara lagi karena pedang ini tidak memiliki belas kasihan dan perasaan !"

"Hal ini akan membuat Zhuge Jiang Shi menjadi kehilangan muka, Aku harap kau tidak marah,ayah." Kata Guan Ping

"Jika bukan karena hormatku pada Zhuge Jiang Shi, kau tidak akan pernah kembali keselatan lagi." Kata Guan Yu kepada Zhuge Jin

Zhuge Jin segera pergi karena takut dan dia lalu kembali ke Cheng Du untuk menemui Adiknya. Tetapi pada saat dia kembali, Zhuge Liang sedang tidak berada ditempat. Walaupun begitu dia menemui Liu Bei dan menceritakan mengenai tindakan Guan Yu.

"Adikku itu sangat tidak sabaran. Sangat sulit untuk berargumen dengannya. Tetapi kau kembalilah keselatan untuk saat ini. Ketika aku telah berhasil menguasai Han Zhong, aku akan memindahkan Guan Yu pada posisi lain dan kemudian aku dapat mengembalikan Jing Zhou."

Zhuge Jin tidak mempunyai pilihan Lain selain menyetujui dan segera kembali kepada Sun Quan.

Sun Quan sangat kesal dan berkata, "Kau telah terperdaya lagi oleh siasat Adikmu."

Zhuge Jin berkata, "Bukan ! Zhuge Liang telah membantuku dan berusaha mendapatkan janji untuk mengembalikan ketiga daerah dari Liu Bei. Ini adalah salah Guan Yu sehingga kita gagal mendapatkan daerah itu."

"Karena Liu Bei berkata dia mau mengembalikan 3 daerah, maka kita kirim saja pejabat kita untuk mengambil alih administrasi daerah itu. Apakah pikirmu rencana ini akan berhasil ?" Tanya Sun Quan

"Tampaknya yang tuanku katakan sangat baik."

Lalu keluarga Zhuge Jin pun dibebaskan dan beberapa pejabat dikirim untuk menangani urusan 3 daerah yang dijanjikan Liu Bei.

Tetapi kemudian mereka semua kembali dan berkata, "Guan Yu tidak menerima kami, dia juga mengejar kami dan mengancam akan membunuh kami apa bila kami tidak kembali ke selatan."

Sun Quan lalu memanggil Lu Su dan menyalahkannya.

"Kau adalah penjamin Liu Bei dalam masalah ini. Bagaimana mungkin kau sekarang hanya duduk diam saja sementara Liu Bei telah gagal memenuhi janjinya ? " Kata Sun Quan.

"Aku telah memikirkan sebuah rencana dan aku baru saja ingin memberitahumu." Kata Lu Su.

"Dan apakah rencanamu ?"

Lu Su berkata, "Aku ingin mengundang Guan Yu ke Lu Kou untuk menghadiri sebuah perjamuan dan aku akan mencoba membujuknya. Jika dia masih saja keras kepala, maka kita telah menyiapkan pasukan untuk membunuhnya ditempat itu. Jika dia menolak datang keperjamuan ini maka kita harus mengirim pasukan untuk merebut Jing Zhou."

"Aku setuju dengan hal ini, laksanakanlah segera." Kata Sun Quan.

"Hal ini tdk boleh dilakukan. Orang itu lebih ganas daripada seekor harimau dan dia tidak seperti manusia umumnya. Rencana ini akan gagal dan menyebabkan kematian yang lebih banyak."

"Lalu kapankah aku akan mendapatkan Jing Zhou ?" Tanya Sun Quan dengan marah.

Sun Quan segera memerintahkan Lu Su menjalankan rencananya dan Lu Su segera pergi ke Lu Kou dengan segera. Dia berdiskusi dengan Lu Meng dan Gan Ning mengenai persiapan perjamuan ini. Tempat yang dipilih adalah dekat sungai. Disana ada sebuah Paviliun yang disekelilingnya banyak semak2x. Lalu Lu SU mengirimkan surat undangan kepada Guan Yu. Ketika utusannya tiba, Guan Ping segera menyambutnya dan segera membawanya menemui ayahnya.

"Karena Lu Su mengundangku, maka aku akan datang. Kau boleh Kembali." Jawab Guan Yu.

Setelah utusan itu pergi Guan Ping berkata pada Ayahnya, "Kenapa kau berjanji akan datang ? Aku pikir Lu Su tidak bermaksud baik."

"Pikirmu aku tidak tahukah ? Hal ini berkaitan dengan penolakanku menyerahkan 3 daerah itu. Mereka akan mencoba memaksaku diperjamuan ini. Jika aku menolak pergi, mereka akan berpikir aku takut pada mereka. Aku akan pergi esok hari dengan perahu kecil bersama 10 orang saja, dan kita akan lihat apakah Lu Su berani menyakiti diriku."

"Tetapi, ayah, kenapa mengambil resiko mempertaruhkan nyawamu yang sangat berharga itu dengan pergi ke sarang harimau ? Aku harap kau mempertimbangkan hal ini lagi." Kata Guan Ping

"Aku pernah menghadapi Badai Jutaan panah dan menerobos hutan ribuan pedang dan tombak. Tetapi aku melalui semua hal itu seperti mengendarai kuda dipadang rumput yang kosong saja. Apakah menurutmu sekarang aku harus menunjukan ketakutan didepan beberapa ekor tikus seperti mereka ?"

Setelah itu tidak ada yang berani membantahnya lagi. Ma Liang lalu mengingatkan agar Guan Yu berhati-hati.

"Walaupun Lu Su memiliki reputasi yang baik, tetapi sekarang ini dia sedang terdesak. Dia pasti akan berusaha melakukan hal yang buruk padamu dan kau harus berhati-hati, jenderal."

Guan Yu menjawab, "Aku telah memberikan kata-kataku dan apakah sekarang aku harus menariknya ? Dimasa negara2x berperabng, Lin Xiang Ru dari Zhao tidak memiliki kekuatan bahkan untuk menangkap seekor ayam, tetapi didalam pertemuan di danau Sheng Chi dia tidak memperdulikan pangeran ataupun menteri dari negara Qin, dia tetap melakukan apa yang harus dilakukanya tanpa rasa takut. Aku tidak dapat melanggar kata-kataku sendiri."

"Jika kau memang harus pergi maka buatlah persiapan yang matang." Kata Ma Liang

"Katakan pada anakku untuk memilih 10 perahu yang cepat dan 500 marinir. Mereka harus siap untuk menolongku apabila aku membutuhkan bantuan. Dan ketika mereka melihat bendera merah berkibar, dia dapat datang untuk membantuku."

Perintah itupun dilaksanakan segera.

Utusan Lu Su kembali dan mengatakan bahwa Guan Yu telah menyetujui undangan itu. Lu Su dan Lu Meng lalu saling berdiskusi.

"Jika Guan Yu datang dengan kekuatan pasukannya, Gan Ning dan Aku akan bersiap untuknya ditepi sungai. Dan kau akan mendengar bunyi ledakan sebagai tanda bahwa kami menyerang. Jika dia tidak membawa pasukan, maka para pembunuh telah siap disekitar tempat perjamuan itu."

Keesokan harinya, sebuah perahu mendekat ke Lu Kou. Dianjungan perahu itu berkibar bendera bertuliskan karakter "GUAN". Mereka dapat melihat seorang jenderal Gagah memakai jubah berwarna Hijau dengan muka kemerahan dan janggut yang panjang. Disebelahnya berdiri seseorang yang memegang tombak besar berhiaskan lambang naga.

Guan Yu menepi dan lansung diterima oleh Lu Su yang gemetaran. Dia kemudian mengantarkannya menuju paviliun kecil dan duduk bersama. Ketika Guan Yu meminum araknya, Lu Su tidak berani untuk menatap matanya, tetapi Guan Yu tetap tenang.

Ketika mereka telah terlena oleh arak, Lu Su berkata, "Aku memiliki sesuatu untuk kukatakan padamu. Kau tentu telah mengetahui bahwa kakaku, paman kaisar, telah berjanji bahwa Jing Zhou akan dikembalikan setelah dia mendapatkan Yi Zhou? Sekarang Yi Zhou telah berhasil direbut, tetapi Jing Zhou masih belum dikembalikan. Apakah hal ini bukannya berarti melanggar perjanjian ?"

"Itu adalah urusan negara. Masalah seperti itu jangan dibicarakan dalam perjamuan." Kata Guan Yu.

"Tuanku hanya memiliki sedikit wilayah ditimur, dan dia memberikan pinjaman sementara daerah Jing Zhou mengingat kalian sangat membutuhkannya waktu itu. Tetapi sekarang karena kalian telah memiliki Yi Zhou maka Jing Zhou harus diserahkan. Paman kaisar bahkan telah menyerah 3 dari daerah itu, tetapi kau, tuan, tampaknya tidak ingin menjalankan perintah ini. Hal ini sangat sulit dijelaskan dengan akal sehat."

Guan Yu menjawab, "Setelah Chi Bi, kakakku dengan berani melawan panah dan batu dipertempuran di Wu Ling dan dengan sekuat tenaga memukul mundur musuh. Apakah dia mendapatkan tempat bagi dirinya setelah semua hal itu ? Sekarang kau datang untuk memakasa mrebut tempat ini dari dirinya !"

"Tidak, aku tidak berani. Tetapi pada saat itu kau dan kakakmu mengalami kekalahan di Dang Yang, ketika kalian sedang terdesak, tuanku karena rasa kasihan memberikan pada kakakmu tempat itu sebagai batu pijakan. Tetapi sekarang setelah kakakmu mendapatkan Yi Zhou, dia tetap memegang Jing Zhou. Hal seperti ini akan membuat seluruh dunia mentertawakannya."

"Semua hal itu bukan urusanku. Aku tidak dapat menyerahkan daerah itu."

"Aku taku bahwa sumpahmu di bawah pohon persik adalah bahwa kalian bertiga akan hidup dan mati bersama. Tetapi kakakmu telah setuju menyerahkan 3 daerah itu, apakah sekarang kau akan melanggarnya ?" Kata Lu Su

Belum sempat Guan Yu menjawab, lalu Zhou Chang berkata dengan suara kerasnya, "Hanya mereka yang penuh kebajikan dapat memiliki daerah itu. Apakah hanya kalian saja orang dari Wu Timur yang boleh memiliki daerah itu ?"

Guan Yu lalu langsung marah dan mengambil tombak goloknya yang terkenal itu serta berkata, "Berani sekali kau berkata seperti itu didalam masalah negara ini ! Pegilah ! Cepat pergi !"

Zhou Chang mengerti. Dan dia segera pergi dari tempat itu menuju sungai. Disana dia mengibarkan bendera merahnya. Kapal2x Guan Ping segera datang dan bersiap untuk bertindak.

Dengan goloknya ditangan kanan dan tangan kirinya mencengkram Lu Su, Guan Yu berpura-pura mabuk dan berkata, "Kau telah sangat baik mengundangku kemari, tuan, tetapi Jangan katakan apa-apa lagi mengenai Jing Zhou karena sekarang aku sangat mabuk dan mungkin melupakan mengenai persahabatan kita. Lain hari mungkin aku akan mengundangmu ke JIng Zhou dan kita akan membicarakan masalah ini."

Lu Su ketakutan 1/2 mati, dia merasa nyawanya telah meninggalkan tubuhnya. Dia kemudian menuntun tamunya itu pergi ketepi sungai. Lu Meng dan Gan Ning yang bersembunyi disemak2x tidak berani bertindak gegabah karean takut nyawa Lu Su terancam. Ketika Guan Yu sampai ditepi sungai, lalu dia segera naik keatas kapalnya dan berpamitan. Lu Su berdiri saja dan tidak dapat berbuat apa-apa memandangi perahu Guan Yu yang semakin menjauh.

Lu Su dengan kedua koleganya akhirnya mendiskusikan masalah yang terjadi.

"Apa yang harus kita lakukan ? " Kata Lu Su

"Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah memberitahu tuan kita dan memintanya mengirimkan pasukan." Balas Lu Meng.

Tetapi pada saat itu datang berita mengenai Cao-Cao sedang mengumpulkan pasukan besar dengan niat menyerang selatan. Lalu perintah secepatnya dikirimkan pada Lu Su untuk segera mempersiapkan pasukan di He Fei dan Ru Xu untuk menghadapi serangan Cao-Cao.

Cao-Cao akhirnya tidak jadi menyerang keselatan. Salah satu penasehatnya, Fu Gan, memberi nasehat agar Cao-Cao tdk mengadakan perang sekarang ini. Fu Gan menyarankan Cao-Cao untuk membangun negara dan menentramkan penduduk serta memperbaiki pemerintahan.

Akhirnya Cao-Cao membatalkan penyerangan keselatan dan dia membangun sekolah dan perpustakaan.

Pada saat yang sama 4 dari pejabat-pejabatnya, Wang Can, Du Xi, Wei Kai dan He He meminta agar Cao-Cao mengangkat dirinya sebagai "Pangeran Wei" (Wei Tai Zi)

Tetapi Xun You menentang usul ini dan berkata, "Perdana menteri sudah memiliki jabatan "Raja Muda" (Gong Jue) dan telah menerima "9 Kehormatan" (Jiu Zun Yan). Jadi posisinya sudah sangat tinggi dan terhormat. Jika dia ingin mendapatkan gelar pangeran maka hal ini akan tidak konsisten dan tidak beralasan."

Tetapi Cao-Cao kesal pada hal ini dan berkata, "Apakah kau ingin menjadi seperti Xun Yu ?"

Ketika Xun You mendengar hal itu, dia segera sedih dan jatuh sakit. Jadi dalam beebrapa hari dia akhirya meninggal. Dia berusia 58 tahun. Cao-Cao menguburkan jasadnya dengan upacara yang dikhusukan bagi pejabat tinggi kerajaan. Tetapi dia tetap menginginkan gelar pangeran.

Suatu hari, Cao-Cao datang menuju istana kaisar dengan membawa pedang dan dia segera menuju kamar pribadi kaisar. Ketika dia masuk, kaisar sedang bersama permaisurinya. Cao-Cao tanpa memberi hormat langsung berkata, "Sun Quan dan Liu Bei masing2x telah merebut sebagian dari kekaisaran dan tidak lagi menghormati istana. Apa yang harus dilakukan ?"

Kaisar menjawab," Masalah ini ada dalam wewenangmu."

Cao-Cao lalu menjawab, "Jika kata-katamu diketahui oleh orang diluar, mereka akan berkata aku tidak memperlakukan kaisarku dengan hormat !"

"Jika kau membantuku, aku akan sangat bersyukur. Jika tidak, maka aku percaya bahwa kau akan cukup berbaik hati untuk membiarkanku sendiri."

Saat ini Cao-Cao menatap kaisar dan pergi dengan penuh kekesalan.

Para pelayan istana berkata, "Aku Dengar bahwa Raja Muda Wei ingin menjadi Pangeran Wei dan segera ingin menjadi pewaris tahta."

Kaisar dan juga permaisurinya menangis.

Kemudia permaisuri berkata, "Ayahku, Fu Wan, telah lama ingin membunuh pengkhianat ini. Sekarang aku akan menuliskan surat rahasia pd ayahku untuk menjalankan rencananya."

"Masih ingatkah kau terhadap apa yang akan dilakukan Dong Cheng. Rencana itu diketahui dan petaka besar mengikuti banyak orang. Aku khawatir hal ini akan terjadi lagi dan kita berdua akan tamat."

Kata Permaisuri, "Kita telah melewati hari-hari kita dengan perasaan yang sangat tidak nyaman, kita seperti duduk dikursi yang penuh paku. Jika hidup memang begini, lebih baik kita mati saja. Tetapi aku tahu satu orang yang setia diantara para pelayan yang aku percaya untuk mengantarkan surat tersebut. Dia adalah Mu Shun, dan dia akan mengantarkannya."

Segera permaisuri Fu memanggil Mu Shun dan dia menceritakan mengenai masalahnya.

Kaisar Xian berkata, "Cao-Cao menginginkan kehormatan sebagai pangeran dan segera dia akan menginginkan tahtaku ini. Aku, kaisar dengan ini memberi mandat pada ayah dari permaisuriku untuk menyingkirkan orang itu. Tetapi kesulitannya adalah semua pejabat istana adalah para pendukungnya dan tidak ada yang dapat kupercaya selain dirimu. Aku menginginkan kau mengantar surat ini pada Fu Wan. Aku tahu bahwa kau setia dan aku yakin kau tidak akan berkhianat."

"Aku telah menerima banyak kebaikan yang mulia, matipun aku tdk akan dapat membalas semua itu. Hambamu ini akan siap melaksanakan tugas apapun."

Surat itu kemudian diberikan pada Mu Shun yang menyembunyikannya didalam rambutnya. Dia segera keluar dari istana dan segera menuju kekediaman Fu Wan. Fu Wan segera mengenali tulisan anaknya itu dan membacanya.

Berbalik kepada utusan itu, Fu Wan berkata, "Kau tahu bahwa Cao-Cao itu memiliki banyak pengikut dan kita harus sangat berhati2x berhadapan dengannya. Kita harus mendapatkan bantuan dari Sun Quan dan Liu Bei, Cao-Cao pasti akan dapat dikalahkan saat itu. Kita juga harus mendapatkan dukungan dari setiap pejabat diistana yang masih setia kepada kaisar. Sehingga dari dalam dan luar, Cao-Cao akan mendapatkan serangan secara serentak."

"Jika memang begitu, maka tulislah surat untuk meminta Titah Rahasia, sehingga kita dapat meminta barat dan selatan menyerang bersama-sama."

Akhirnya Fu Wan menuliskan surat agar Mu Shun membawanya keistana. Kali ini dia jg menyembunyikannya dirambutnya.

Tetapi mata-mata Cao-Cao melaporkan bahwa Mu Shun hari ini telah berulang kali pergi dari istana menuju kediaman Fu Wan. Akhirnya Cao-Cao menunggu di gerbang istana.

"Kemanakah kau pergi ?" Tanya Cao-Cao ketika Mu Shun muncul.

"Permaisuri sedang tidak enak badan dan memintaku memanggil tabib."

"Lalu dimanakah tabib itu ?"

"Aku tidak mendapatkan tabib yang diminta."

Cao-Cao akhirnya memerintahkan pengawalnya untuk mengeledah Mu Shun, tetapi mereka tidak menemukan surat itu.

Lalu akhirnya Mu Shun dibiarkan pergi. Tetapi disaat Mu Shun berlalu, tiba-tiba hembusan angin menerpa topinya dan Cao-Cao tiba-tiba berpikir bahwa topi itu belum diperiksa. Akhirnya Mu Shun diperiksa kembali, tetapi jg tidak ditemukan apapun ditopinya. Tetapi ketika Mu Shun memakai topi itu, Cao-Cao memperhatikan ada sesuatu yang aneh dengan cara Mu Shun memakai topi itu. Cao-Cao lalu meminta Pengawalnya memeriksa Rambut Mu Shun.

Maka ditemukanlah surat Fu Wan itu. Cao-Cao membacanya, didalam surat itu dia membawa bahwa Fu Wan meminta agar Kaisar Menuliskan titah untuk memerintahakan Sun Quan dan Liu Bei bersatu menyerang Cao-Cao.

Mu Shun akhirnya dibawa kesebuah tempat untuk diinterogasi, tetapi dia diam saja.

malam itu 3.000 prajurit mengepung kediaman Fu Wan. Dia ditangkap berserta seluruh isi rumahnya. Ketika mereka memeriksa kekediamana Fu Wan, seorang prajurit menemukan surat yang dikirim oleh permaisuri kepada Fu Wan. Fu Wan dan seluruh keluarganya dimasukan dalam penjara.

Pada pagi harinya, sekelompok pengawal kekaisaran dibawah pimpinan Chi Lu mendatangi "Istana Terlarang" (*Gu Gong. Beda dgn "Kota Terlarang") untuk mengambil permaisuri. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan kaisar yang bertanya apa maksud kedatangan mereka.

"Hamba memiliki perintah dari Tuan Perdana Menteri untuk mencari Permaisuri." Kata Chi Lu.

Kaisar langsung khawatir. Ketika Chi Lu sampai di kediaman permaisuri, permaisuri saat itu masih tertidur. Chi Lu memerintahkan agar Simbol Cap Permaisuri diminta untuk diselidiki. Ketika mendapatkannya dia langsung pergi.

Segera setelah permaisuri mengetahui hal ini, dia langsung mengerti bahwa dirinya berada dalam bahaya. Dia segera bersembunyi disebuah lubang. Dia bersembunyi tidak lama sampai Hua Xin bersama 500 prajurit akhirnya dan bertana dimana permaisuri. Pelayan2x diistana mengatakan mereka tidak mengetahui dimana permaisuri. Hua Xin akhirnya memerintahkan pengawalnya untuk mencari permaisuri. Akhirnya dia berhasil menemukan permaisuri dan menyeretnya keluar dgn tangannya.

"Lepaskan aku !" Pinta Permaisuri Fu

"Kau boleh memintanya pada Tuan Perdana Menteri !" balas Hua Xin.

Hua Xin ini memiliki reputasi sebagai seorang pelajar. Dia dan dua orang lainya, Bing Yuan dan Guan Ning, adalah teman baik. Mereka membuat kelompok yang disebut "Naga". Hua XIn adalah kepalanya, Bing Yuan adalah Perut dan Guan Ning menjadi ekornya. Suatu Hari Guan Ning dan Hua Xin sedang mengurus kebunnya untuk menanam sayuran, ketika mereka menemukan sekeping emas. Guan Ning tetap melanjutkan pekerjaanya tanpa memperdulikan emas itu, Tetapi Hua Xin mengambilnya dan setelah beberapa saat, dia melemparkannya kembali.

Pada hari yang lain, Guan Ning dan Hua Xin sedang belajar bersama ketika tiba-tiba terdengar bunyi keramaian diluar jendela. Seorang menteri dari istana sedang lewat. Guan Ning tidak memperdulikannya dan tetap matanya membaca buku. Namun Hua Xin berdiri dan pergi menuju jendela. Karena hal ini Guan Ning bermusuhan dengan Hua Xin dan keduanya akhirnya berpisah selamanya.

Pada saat terjadi kekacauan dikekaisaran, Guan Ning pergi menuju Liao Dong dimana dia menjalani hidup sebagai pertapa. Dia mengenakan penutup kepala berwarna putih dan tinggal dibagian atas rumah, dia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di tanah lagi. Dia tidak ingin menjadi pejabat cao dan juga tidak ingin memberikan saran untuk Cao-Cao.

Tetapi Hua Xin memilih jalan hidup yang berbeda. Untuk beberapa saat dia bersama Sun Quan, lalu dia pergi kepada Cao-Cao dan melayaninya.

Setelah membawa permaisuri keluar, kaisar kebetulan melihat dan permaisuri langsung menuju kaisar dan memeluknya.

Hua Xin lalu memaksa agar kaisar melepaskannya, "Tuan Perdana Menteri memerintahkan agar jangan ada penundaan !"

"Nasibku telah ditentukan, hidupku akan berakhir!" Tangis permaisuri.

"Dan aku tidak tahu kapan giliranku akan tiba." Kata kaisar sambil menarik napasnya dalam-dalam.

Prjurit lalu menarik permaisuri dan meninggalkan Kaisar yang menangis sendirian.

"Apakah hal seperti ini dapat terjadi didunia ?" Tangis Emperor kepada Chi Lu, yang berdiri dihadapannya.

Dan akhirnya kaisar memutahkan darah lalu pingsan. Chi Lu segera memerintahkan pelayan istana segera mengangkatnya dan mereka membawanya menuju istana kaisar.

Sementara permaisuri Fu dibawa kehadapan Cao-Cao.

"Aku telah memperlakukanmu dengan baik dan kau berusaha membunuhku. Maka hari ini salah satu dari kita harus mati dan itu bukan aku !"

Cao-Cao memerintahkan agar prajurit memukuli permaisuri Fu dengan tongkat sampai mati. Setelah itu dia pergi keistana dan menangkap kedua anak permaisuri dan meracuni mereka. Pada malam harinya, seluruh isi rumah dan keluarga Fu Wan dan Mu Shun dihukum mati. Harta mereka diambil negara dan kerabat mereka diasingkan, para pelayan dijadikan budak diperbatasan. Tindakan kejam seperti ini menyebarkan terror dimana-mana. Hal ini terjadi pada bulan ke 11 pada tahun ke 19 masa Jian An atau tahun ke 24 masa pemerintahan kaisar Xian (Tahun 214 M)

Kaisar sangat bersedih dengan kematian permaisuri dan dia menolak untuk makan. Cao-Cao yang tidak berharap kaisar Xian meninggal karena kesendirian dan kesepian, akhirya mengusulkan seorang putrinya menjadi permaisuri.

"Jangan bersedih, yang mulia" Kata Cao-Cao, "Hambamu ini bukanlah pemberontak. Putriku sangat bijak dan bertanggung jawab, dia cocok untuk menjadi permaisuri."

Kaisar Xian tidak berani menolak dan akhirnya pada tahun baru 215 M, Lady Cao menjadi permaisuri. Nama keluarga Cao-Cao dituliskan dalam kitab sejarah dan menjadi keluarga kekaisaran. Tidak ada satupun pejabat istana berani memprotes hal ini.

Segera Cao-Cao menjadi sangat berkuasa. Tetapi dia tetap tidak puas dan ingin mengalahkan Sun Quan dan Liu Bei.

Jia Xu mengusulkan, "Xiahou DUn dan Cao Ren menjaga perbatasan, panggilan mereka untuk diminta sarannya."

Mereka segera dipanggil dan Cao Ren yang tiba pertama. Sebagai anggota keluarga, dia merasa memiliki hak untuk menemui perdana menteri segera dan dia langsung pergi menuju istana perdana menteri.

Tetapi kebetulan Cao-Cao sedang tertidur pulas sehabis minum-minum arak. Xu Chu yang berdiri menjaga tuannya itu sepanjang hari tidak mengijinkan Cao Ren masuk.

"Aku adalah keluarganya, berani sekali kau menghalangiku ?" kata Cao Ren dengan marah.

"Jenderal, kau mungkin adalah keluarganya. Tetapi disini kau hanyalah seorang jenderal dari perbatasan. Aku bukanlah apa-apa, tetapi tugasku adalah menjaga tuan. Tuan kita telah mabuk berat oleh arak dan tertidur. Aku tidak berani membiarkanmu masuk."

Hal ini kemudian diketahui Cao-Cao dan dia menceritakan mengenai kesetiaan Xu Chu kepada semua orang.

Segera, Xiahou Dun datang dan merekapun akhirnya mendiskusikan masalah penyatuan negara.

Xiahou Dun lalu berkata, "Kedua orang itu harus diurus belakangan sampai Zhang Lu di Han Zhong berhasil dikuasai. Pasukan besar kita dapat mengalahkan Zhang Lu dan setelah itu kita akan dapat menyerang dataran barat."

Nasehat itu sesuai dengan pemikiran Cao-Cao dan dia segera mempersiapkan ekspedisi menuju barat.

BAB 67

Penyerangan Ke Han Zhong akhirnya dilaksanakan. Sebanyak 3 Divisi tentara bergerak. Xiahou Yuan dan Zhang He adalah pemimpin dipasukan depan. Cao-Cao berserta yang lainnya berada dipasukan tengah, Sementara Cao Ren menjaga dibelakang. Xiahou Dun diangkat menjadi kepala pasukan penyerang.

Mata-mata lalu membawa berita ke Han Zhong, dan Zhang Lu lalu memanggil adiknya, Zhang Wei, untuk dimintai nasehat mengenai penyerangan ini.

Kata Zhang Wei, "Titik strategis untuk dipertahankan adalah Celah YangPing dan disana harus ada 10 benteng pertahanan dengan hutan dan bukit yang akan mendukung mereka. Kau, Kakakku, harus membuat depot persediaan di Han Ning."

Segera dua jenderal, Yang Ang dan Yang Ren dikirim dengan Zhang Wei menuju Celah YangPing dan disana mereka membuat 10 benteng pertahanan.

Segera Xiaohou Yuan dan Zhang Ren tiba dan melihat bahwa celah itu telah memiliki persiapan pertahanan yang kuat. Mereka berkemah sejauh 10 Li dari tempat itu. Para prajurit sangat kelelahan setelah perjalanan jauh dan semua langsung berbaring tanpa menyiapkan pengawalan yang baik.

Tiba-tiba kemah itu diserang dari belakang oleh Yang Ang dan Yang Ren.Xiahou Yuan dan Zhang He segera naik keatas kuda mereka dan mencoba melawan penyerang, tetapi musuh akhirnya sudah mengepung mereka dan pasukan mereka mengalami kekalahan besar. Mereka kemudian mundur kembali kepasukan utama dan melaporkan kekalahan mereka.

Cao-Cao marah besar dan berkata, "Prajurit2x berpengalaman seperti kalian seharusnya sudah tahu dan berhati-hati terhadap kemungkinan penyerangan ini !"

Cao-Cao bahkan ingin menghukum mati mereka sebagai peringatan, tetapi para pejabat lainnya mencegahnya dan dia akhrinya mengampuni mereka. Segera Cao-Cao sendiri yang memimpin pasukan. Lalu dia melihat betapa bahayanya dan sulitnya medan pertempuran didaerah itu, dengan banyak pepohonan lebat disisi jalan. Karena dia tidak mengetahui daerah itu dan khawatir akan ada penyergapan, dia memutuskan kembali ke kemahnya.

Dia memanggil kedua jenderalnya, Xu Chu dan Xu Huang, dia berkata, "Jika saja aku tahu betapa berbahayanya alam didaerah ini, aku tidak akan pernah datang ketempat ini."

Xu Chu berkata, "Pasukan sudah berada disini sekarang, dan kau, tuanku, tidak boleh menyerah sebelum berusaha."

Keesokan harinya Cao-Cao hanya dengan Xu Chu dan Xu Huang mengamati perkemahan musuh.

Mereka berkuda keatas sebuah bukit, Cao-Cao menunjuk pada posisi kemah musuh dan berkata, "Akan sangat sulit bagi kita untuk menyerang posisi mereka yang kuat ini."

Lalu tiba-tiba terdengar bunyi dibelakang mereka dan hujan panah menyerang mereka semua. Yang Ang dan Yang Ren sedang menyerang Cao-Cao, dan Cao-Cao yang tidak siap sekarang berada dalam bahaya.

"Xu Huang, jagalah tuan kita ! Aku akan menahan musuh !" Kata Xu Chu.

Xu Chu lalu berkuda dan menuju pasukan musuh, Begitu melihat kedatangannya, Pasukan musuh langsung mencoba mengepungnya. Tetapi Xu Chu yang memiliki kekuatan besar langsung menebas prajurit2x itu dengan pedang besarnya. Mayat2x berjatuhan dan pasukan musuh menjadi ketakutan. Melihat hal ini kedua jenderal musuh, Yang Ang dan Yang Ren maju untuk melawan Xu Chu bersama-sama. Kedua orang itupun akhirnya mundur karena tidak mampu melawan Xu Chu. Xu Huang menjaga tuannya sampai menuruni bukit dimana kemudian mereka bertemu dengan pasukan Xiaohou Yuan dan Zhang Ren yang datang karena mendengar suara pertempuran. Cao-Cao akhirnya kembali kekemahnya dan ke 4 jenderal diberikan imbalan.

Selama 50 hari, kedua belah pasukan hanya berdia diri saja tidak bertempur. Pada hari yang ke 51, perintah mundur diberikan bagi pasukan Cao-Cao.

"Kita belum mencoba kekuatan musuh, kau tidak boleh mundur, tuanku." Kata Jia Xu.

"Aku melihat musuh selalu waspada. Aku mengeluarkan perintah mundur hanya agar mereka menurunkan kewaspadaan mereka. Sedikit demi sedikit aku akan mengirim pasukan berkuda untuk menyerang barisan belakang mereka. Aku akan dapat mengalahkan mereka dengan begitu."

"Ah! Strategimu memang sangat jitu !" Kata Jia Xu.

3.000 prajurit berkuda dipimpin oleh Xiahou Yuan dan Zhang He mengitari daerah itu dan berada dibelakang Celah Yang Ping, sementara Cao-Cao mengepak kemahnya dan memimpin pasukannya mundur.

Ketika Yang Ang mendengar bahwa Cao-Cao telah mundur, dia berpikir ini adalah saat yang tepat untuk menyerang.

Tetapi Yang Ren menentang usul ini dan berkata, "Cao-Cao itu memiliki banyak siasat. Mundurnya pasukan Cao-Cao belum dapat dipastikan. Kita tidak boleh menlancarkan serangan sekarang."

Yang Ang yang sangat ingin bertempur lalu berkata, "Aku akan pergi, kau mau ikut atau tidak semua terserah padamu."

Yang Ang akhirnya memimpin 10.000 prajurit yang terbaik untuk menyerang pasukan Cao-Cao yang mundur. Hari itu cuaca sangatlah berkabut, sehingga jarak pandang menjadi sangat sulit. Segera pasukan Yang Ang kesulitan dalam pengkoordinasian dan tidak dapat maju. Mereka tersesat didalam perjalanan itu.

Xiahou Yuan yang sedang keluar untuk melakukan penyerangan dari belakang juga kehilangan arah karena kabut tebal ini. Dan setelah berputar2x cukup lama mencari jalan, mereka tiba dikemah yang ditinggalkan oleh Yang Ang. Beberapa prajurit yang menjaga kemah itu mengira bahwa pasukan mereka telah kembali dan membukakan gerbang kemah. Pasukan Cao-Cao lalu langsung masuk kedalam kemah itu dan membakarnya.

Segera kabut menghilang, Yang Ren yang diberitahu bahwa kemah Yang Ang diserang langsung datang membantu. Tetapi Ketika Yang Ren dan Xiaohou Yuan bertempur, Zhang Ren yang jg tersesat tiba-tiba muncul dari belakang dan menyerang Yang Ren. Didesak oleh dua pasukan akhirnya Yang Ren melarikan diri menuju Nan Zheng.

Yang Ang yang tersesat didalam kabut akhirnya mundur karena tidak dapat mengejar pasukan Cao-Cao. Dia terkejut menemukan bahwa kemahnya telah direbut musuh. Segera pasukan Cao-Cao muncul dari belakang dan Yang Ang terdesak didepan dan belakang. Yang Ang yang melihat tidak ada jalan lain akhirnya mencoba menerobos kepugan musuh, dia menyerang maju melawan pasukan yang dipimpin oleh Zhang He. Pertempuran sengit terjadi, suara erangan kesakitan menggema diseluruh penjuru bukit, bunyi teriakan dan hujan panah menghiasi langit di hari itu. Akhirnya didalam pertempuran itu Yang Ang tewas dan lebih dari 5.000 prajurit tewas hari itu. Mereka yang berhasil lolos membawa berita kekalahan ini kepada Zhang Wei yang segera meninggalkan YangPing dan kembali ke HanZHong.

Pasukan Cao-Cao akhirnya berhasil menguasai daerah Yang Ping dan ke 10 bentengnya. Zhang Wei dan Yang Ren melaporkan kekalahan mereka pada Zhang Lu.

Zhang Wei menyalahkan jenderalnya, dan berkata, "Celah itu tidak dapat dipertahankan lagi setelah posisi2x strategis direbut oleh pasukan Cao-Cao."

Zhang Lu mengancam Yang Ren dengan hukuman mati atas kekalahan ini.

Tetapi Yang Ren berkata, "Yang Ang tidak mendengarkan nasehatku dan kekalahan ini disebabkan olehnya. Sekarang aku mau mengajukan diri untuk melakukan penyerangan lagi. Jika aku gagal mendapatkan kepala Cao-Cao, aku akan menerima hukumannya tanpa protes."

Zhang Lu lalu memberikan 20.000 prajurit pada Yang Ren dan mengirimnya pergi. Yang Ren bergera ke NanZheng dan membuat pertahanan disana.

Sebelum Cao-Cao melakukan tindakan selanjutnya, dia mengirim Xiahou Yuan dengan 5.000 prajurit untuk mengamati daerah sekitar dan mencari jalan. Pasukan Xiahou Yuan berpapasan dengan pasukan Yang Ren. Kedua pasukan lalu membentuk formasi penyerangan. Yang Ren lalu meminta Chang Qi untuk keluar melawan Xiahou Yuan. Xiahou Yuan hanya memerlukan 4 jurus untuk mengalahkannya. Lalu Yang Ren segera melawan, mereka bertarung sebanyak 40 jurus. Kemudian Xiahou Yuan berpura-pura kabur dan Yang Ren yang merasa diatas angin segera mengejar. Xiahou Yuan lalu menyiapkan tombaknya dan ketika Yang Ren mendekat, Xiahou Yuan membalikan badan dan menebasnya. Yang Ren pun tewas secara mengenaskan dan pasukannya akhirnya terpencar-pencar dan dibantai pasukan Xiaohou Yuan.

Segera setelah Cao-Cao mendengar kematian Yang Ren, dia membawa pasukannya bergera menuju Nan Zheng dan berkemah disana.

Zhang Lu menjadi sangat khawatir dan mengadakan pertemuan mendadak di Han Zhong.

"Aku dapat mengusulkan seseorang yang dapat melawan musuh," Kata Yan Pu.

"Siapakah dia ?" Tanya Zhang Lu.

"Pang De dari NaNan. Jika kau memperlakukan dia dengan baik maka dia akan dapat menyelamatkanmu."

Pang De segera dipanggil. Dia dipanggil dan Zhang Lu memberikannya banyak2x hadiah dan juga 10.000 prajurit untuk melawan Cao-Cao. Pang De berkemah 5 Li dari Han Zhong. Kemudian setelah dia membuat perkemahan, dia keluar untuk menantang duel.

Cao-Cao masih mengingat bagaimana keberanian Pang De didalam pertempuran jembatan Sungai Wei. Dia ingin agar Pang De berkerja untuknya.

Akhirnya Cao-Cao berkata pada jenderalnya, "Pang De adalah jenderal pemberani dari Xiliang. Dia sebelumnya mengikuti Ma Chao. Sekarang dia terpaksa mengikuti Zhang Lu. Aku ingin agar dia berkerja padaku. Jadi kalian harus berusaha membuatnya lelah dengan memperlama pertarungan, aku memiliki rencana untuk menangkapnya."

Segera Zhang He keluar untuk menjawab tantangan itu. Dia bertarung untuk beberapa jurus dan kemudian pergi. Lalu Xiahou Yuan juga melakukan hal yang sama. Juga akhirnya Xu Huang yang terakhir adalah Xu Chu yang bertarung sampai 50 jurus. Pang De walaupun seorang diri melawan mereka bergantian tetap tdk menunjukan tanda2x kelelahan ataupun ketakutan. Semua yang melawannya memuji ketangguhan dan keberaniannya.

"Jika saja aku dapat membuatnya berkerja padaku !" Kata Cao-Cao dalam hati.

"Aku tahu bahwa diantara bawahan Zhang Lu, Yang Song sangatlah tamak dan dapat disogok. Kau dapat mengirimkan padanya surat dan hadiah yang mahal untuk meminta dia menjelek2xan Pang De dan membuat posisi Pang De terdesak."

"Tapi bagaimana kita bisa menemui Yang Song ? Dia berada di Nan Zheng."

"Didalam pertarungan berikutnya, berpura-puralah kalah dan lari. Biarkan Pang De mendapatkan kemah kita ini. Kemudian kembalilah malam hari dan desaklah dia hingga kalah. Dia akan lari kedalam kota. Taruhlah seorang prajurit kita menyamar dalam pasukan mereka dan ketika mereka kembali kedalam kota maka prajurit kita ini dapat menemui Yang Song."

Akhirnya seorang prajurit yang setia dipanggil dan diberikan imbalan untuk menjalankan tugas ini. Dia dipercayakan membawa surat dan juga jubah emas yang disembunyikannya dibalik pakaian perangnya. Dia bersembunyi disebuah jalan dimana prajurit HanZhong akan melewatinya jika mereka kembali kedalam kota.

Keesokan harinya, 2 kelompok pasukan dibawah Xiahou Yuan dan Zhang He dipersiapkan untuk melakukan penyergapan dan Xu Huan diminta untuk menantang duel, tetapi dia harus berpura-pura kalah. Rencana ini berjalan baik dan Pang De akhirnya mengejar Xu Huang yang mundur. Pasukan Cao-Cao akhirnya mundur juga dan Pang De berhasil merebut perkemahan Cao-Cao. Disana dia menemukan banyak sekali persediaan, senjata dan jg harta lainnya.

Setelah mengirim utusan memberitakan kemenangan ini pada Tuannya, Pang De mengadakan perjamuan kemenangan. Dan malam harinya semuanya tertidur karena mabuk dan pejagaan tidak ketat. Lalu tiba-tiba dari 3 arah muncul bunyi genderang perang dan pasukan Cao-Cao dibawah Xu Chu dan Xu Huang menyerang dari arah utara, pasukan Zhang He dari arah timur dan pasukan Xiahou Yuan dari arah barat. Pasukan HanZHong yang sedang mabuk itu tidak mampu bertahan lama dan akhirnya Pang De harus melarikan diri. Dia bersama sisa2x pasukannya melalui jalan kecil lalu kembali ke NanZheng.

Prajurit Cao-Cao yang telah dipersiapkan untuk menemui Yang Song segera pergi masuk kedalam kota dan menemui Yang Song.

Dia berkata pada Yang Song, "Tuan Perdana Menteri, mengetahui tentang dirimu dari reputasimu dan sangat menghormatimu. Dan sebagai tanda persahabatan dia mengirimkan jubah emas ini dan sebuat surat."

Yang Song lalu mengambil jubah dan surat itu, dia kemudian berkata, "Aku akan membalas surat ini dan katakan pada Tuan Perdana Menteri agar tidak perlu khawatir karena aku akan mencari jalan untuk membuktikan rasa terima kasihku. Kau boleh kembali."

Segera, Yang Song pergi menemui Zhang lu dan berkata, "Pang De telah dikalahkan karena dia telah disogok oleh Cao-Cao."

Segera Zhang Lu memanggil Jenderalnya itu , memakinya dan mengancamnya dengan hukuman mati. Yang Pu, memprotes tindakan ini dan mengusulkan agar Pang De diberi kesempatan untuk membuktikan loyalitasnya.

Zhang Lu lalu berkata, "Esok hari, jika kau kalah, aku akan memenggal kepalamu."

Pang De akhirnya pergi dengan perasaan kesal.

Keesokan harinya Cao-Cao menyerang dan Pang De keluar untuk melawannya. Cao-Cao mengirim Xu Chu untuk menantangnya duel, tetapi dia juga meminta agar Xu Chu berpura-pura kalah. Ketika Pang De mengejarnya, Cao-Cao berkuda keatas bukit dan berkata, "Pang De ! Mengapa kau tidak menyerah saja ?"

Tetapi Pang De lalu berpikir bahwa apabila dia bisa menangkap Cao-Cao maka hal itu akan sangat hebat. Akhirnya dia mengejar kearah Cao-Cao. Tetapi tiba-tiba terdengar bunyi teriakan dan genderang perang, gemanya terdengar seperti akan menguncang langit dan menggetarkan bumi. Pang De berusaha mundur tetapi jalan mundurnya telah ditutup oleh Xu Chu. Dia melihat kesempatan untuk lari kearah timur. Akhirnya dia berserta pasukannya yang tersisa menuju arah itu, tak disangka ditengah perjalanan Jia Xu telah menyiapkan perangkap. Dia memerintahkan pasukannya menggali lubang kamuflase sehingga ketika Pang De lewat tempat itu maka dia akan terjatuh dan terperangkap.

Pang De akhirnya tertangkap dan dengan diikat dia dibawa kehadapan Cao-Cao. Begitu melihatnya Cao-Cao langsung turun dari kudanya dan dengan tangannya melepaskan ikatan Pang De dan memperlakukannya dengan baik. Dia kemudian bertanya, "Apakah sekarang kau mau menyerah ?"

Pang De masih memikirkan perlakuan buruk yang diterimanya dari Zhang Lu dan dengan segera Pang De menyetujui untuk menyerah dan mengikuti Cao-Cao.

Segera berita mengenai hal ini sampai pada Zhang Lu dan dia sekarang benar-benar yakin bahwa Yang Song berkata jujur.

Lalu pasukan Cao-Cao mendekati kota dan tangga, menara2x pemanah serta pasukan pendobrak gerbang disiapkan. Pasukan Cao-Cao berjumlah 200.000 prajurit mengepung kota dari segala penjuru. Catapults (Shan Pao) menghujani kota dengan batu2x.

Keadaan sangat kritis dan Zhang Wei memberi nasehat, "Bakarlah seluruh gudang persediaan dan pergilan ke selatan gunung dimana kita akan bertahan di Ba Zhong."

Disisi lain, Yang Song berkata, "Lebih baik kita membuka gerbang dan menyerah."

Zhang Lu tidak dapat memutuskan apa yang harus dilakukan. Sementara adiknya, Zhang Wei, bersikukuh untuk membakar semua yang ada dan lari ke Ba Zhong adalah jalan yang terbaik.

Zhang Li berkata, "Aku selalu percaya pada kata hatiku. Aku mungkin sekarang tidak dapat mendapatkan apa yang kuinginkan, tetapi aku pikir melawan adalah satu-satu jalan sekarang. Walaupun begitu, lumbung beras dan gudang persediaan serta kantor2x pemerintah, dan juga tempat lain tidak boleh dihancurkan dan harus dijaga."

Akhirnya semua gedung2x pelayanan publik dan juga gedung2x pemerintahan disegel dan ditutup rapat untuk mencegah penjarahan. Pada malam itu, Zhang Lu dan keluarganya berhasil keluar dari gerbang selatan. Cao-Cao membiarkan mereka pergi tanpa mengejarnya. Ketika Cao-Cao masuk kedalam kota dan mengetahui apa yang dilakukan Zhang Lu, dia lalu merasa kagum dan iba pada ketidak beruntungan Zhang Lu. Dia lalu mengirim surat ke Ba Zhong dan meminta Zhang Lu untuk menyerah. Zhang lu ingin melakukan hal itu, tetapi adiknya mencegahnya. Yang Song lalu mengirim surat pada Cao-Cao meminta dia untuk segera menyerang dan berjanji akan membantunya dari dalam.

Cao-Cao kemudian menyerang kota Ba Zhong dengan pasukan besarnya. Zhang Wei dengan membawa 10.000 prajurit keluar untuk menghadapi mereka. Dalam pertempuran itu, jumlah kedua belah pasukan tidak seimbang dan akhirnya Pasukan Zhang Wei berhasil dikalahkan dan Zhang Wei sendiri terbunuh didalam medan perang.

Yang Song lalu merasa bahwa sekarang adalah saatnya dia menjalankan rencana busuknya, dia berkata pada Zhang Lu, "Jika kita diam saja maka petaka pasti akan datang. Tuanku harus pergi keluar dan bertempur, aku akan menjaga kota ini."

Zhang Lu mengikuti Saran ini, walaupun ditentang oleh Yang Pu. Tetapi belum sampai dia mendekat pada pasukan musuh, banyak dari prajuritnya ketakutan dan melakukan desersi. Zhang Lu terpaksa melarikan diri kembali kedalam kotanya dan Cao-Cao mengejarnya. Tetapi ketika sampai didepan gerbang kotanya, Yang Song menutup rapat pintu gerbang kotanya itu.

"Menyerahlah Zhang Lu !" Teriak Cao-Cao .

Melihat tampaknya tidak ada jalan lain, Zhang Lu akhirnya turun dari kudanya, bersujud dan kemudian menyerah. Karena hal ini dan juga karena perhatiannya pada rakyat dan juga barang-barang negara. Cao-Cao memperlakukan dia dengan sangat baik dan memberinya gelar Jenderal penjaga Selatan (Nan Shou Jiang Jun). Yang Pu dan yang lainnya juga diberi gelar bangsawan. Kepada setiap daerah disana selain menempatkan seorang gubernur dia juga menempatkan komandan militer. Pasukan diberikan imbalan dan perjamuan besar diadakan.

Kemudian Yang Song, yang menjual tuannya datang dan meminta apa yang dijanjikan Cao-Cao. Dia kemudian dihukum mati dipasar dan mayatnya diperntontonkan.

Ketika Han Zhong telah berhasil dikuasai, Sekertaris Utama Sima Yi (Sima Yi Mi) berkata, "Penduduk di Shu belum setia pada Liu Bei karena dia baru saja menggulingkan penguasa sebelumnya, Liu Zhang. Jika dengan kekuatanmu sekarang ini aku yakin kau akan sukses dalam menyerang mereka. Liu Bei akan terpecah belah dan hancur. Orang bijak akan mengambil segala kesempatan yang lewat dihadapannya dan kesempatan ini tidak boleh tuanku lewatkan."

Cao-Cao menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Tidak akan pernah ada akhirnya karena manusia tidak pernah puas. Sekarang setelah aku mendapat Han Zhong, aku harus mendapatkan Yi Zhou."

Liu Ye mendukung pernyataan koleganya itu dan berkata, "Sima Yi berbicara benar. Jika kau menundanya, Zhuge Liang akan menjadi menteri utama, sementara Guan Yu, Zhang Fei dan pendekar hebat lainnya akan menjadi kepala pasukan. Jika penduduk Shu telah berhasil ditenangkan dan titik2x strategis sudah berhasil dikuasai maka kau tidak akan dapat mengalahkan mereka."

Cao-Cao menjawab, "Pasukanku telah berjalan sangat jauh dan telah banyak menderita. Kita juga harus menunjukan belas kasih."

Segera dia mengeluarkan perintah untuk membiarkan pasukan beristirahat.

Sementara di Yi Zhou, setelah mendengar kemenangan Cao-Cao menguasai Han Zhong, penduduk disana yakin Yi Zhou adalah sasaran berikutnya. Segera Liu Bei memanggil Zhuge Liang untuk meminta nasehat.

Zhuge Liang menjawab, "Aku dapat membuat Cao-Cao mundur dengan sendirinya ?"

"Apa rencanmu ?"

"Sebagian dari pasukan Cao-Cao berkemah di He Fei karena khawatir akan Sun Quan. Jika sekarang kita mengembalikan 3 daerah dari Jing Zhou yaitu Changsha, JiangXia dan Gui Yang maka kita dapat membuat Sun Quan menyerang He Fei, hal ini akan membuat Cao-Cao menarik pasukannya dari barat ke selatan."

"Siapakah yang akan pergi mengantarkan surat ini ?" Tanya Liu Bei.

Yi Ji langsung berkata, "Aku yang akan pergi."

Liu Bei pun setuju dan akhirnya Yi Ji berangkat menuju Jian Ye, ibukota dari Wu. Dalam perjalanan dia singgah di Jing Zhou untuk memberitahukan pada Guan Yu mengenai rencana ini.

Setelah tiba di Jian Ye, Yi Ji langsung bertemu dengan Sun Quan yang bertanya, "Ada urusan apakah kau datang keselatan ?"

Yi Ji menjawab ,"Sebelumnya Zhuge Jin pernah meminta 3 daerah. Tetapi karena ketidak hadiran Zhuge jiang Shi maka hal itu tidak dapat terlaksana. Sekarang aku membawa surat untuk menyerahkan ke 3 daerah itu. Liu Bei dan Zhuge Liang juga ingin untuk menyerahkan seluruh daerah Jing Zhou termasuk Xiang Yang, Nan Jun dan Ling Ling. Tetapi sekarang karena Cao-Cao telah mendapatkan Han Zhong, maka tidak ada tempat lagi untuk jenderal Guan Yu. He Fei sangatlah lemah dan kami harap kau mau menyerang daerah itu agar Cao-Cao pergi keselatan dan tuanku akan mengambil Han Zhong. Nantinya Guan Yu akan dipindahkan kesana dan seluruh Jing Zhou dapat dikembalikan."

"Kau tunggulah dahulu dirumah tamu, dan aku akan mendiskusikan dahulu masalah ini." Kata Sun Quan.

Segera setelah Yi Ji pergi, Sun Quan lalu bertanya pada para jenderal dan penasehatnya apa yang harus dilakukan.

Zhang Zhao berkata, "Semua ini karean Liu Bei takut pada Cao-Cao yang akan menyerangnya. Tetapi, karena Cao-Cao sekarang berada di Han Zhong, maka ini juga merupakan kesempatan yang baik untuk menyerang He Fei."

Sun Quan setuju dengan usul ini. Setelah dia mengirim Yi Ji kembali ke Yi Zhou, dia mulai mempersiapkan ekspedisi menyerang ke utara. Dia meninggalkan Lu Su untuk menjadi komandan dari Chang Sha, Jiang Xia dan Gui Yang. Kemudian Sun Quan berkemah di Lu Kou, dia memanggil Jenderal Lu Meng dan Gan Ning serta mengirim Jenderal Ling Tong ke Yu Hang.

Dalam beberapa Hari Lu Meng dan Gan Ning pun tiba.

Lu Meng mengusulkan sebuah rencana, " Cao-Cao telah mengirim Zhu Guang, Gubernur di Lu Jiang untuk berkemah dia kota Huan Cheng dan menanam padi untuk mensuplai kota He Fei. Kita harus menyerang Huan Cheng terlebih dahulu sebelum He Fei."

"Rencana ini sungguh baik." Kata Sun Quan.

Lalu Sun Quan menunjuk Lu Meng dan Gan Ning sebagai pemimpin pasukan penyerang. Jiang Qin dan Pan Zhang sebagai penjaga garis belakang, dia bersama Zhou Tai, Chen Wu, Dong Xi dan Xu Sheng berada dipasukan tengah. Jenderal Cheng Pu dan Huang Gai serta Han Dang tidak dipanggil mengingat usia mereka, mereka ditempatkan menjaga daerah-daerah penting.

Pasukan Sun Quan menyebrangi sungai dan merebut He Zhou didalam perjalanan. Gubernur Zhu Guan mengirim pesan penting menuju He Fei untuk meminta bantuan dan dia juga memperkuat pertahanan untuk menghadapi Pengepungan. Sun Quan pergi sangat dekat menuju tembok kota untuk mengamati pertahanan musuh.

Setelah kembali kekemah, Dong Xi lalu berkata, "Kita harus membuat bukit disekeliling kota dan menyerang mereka dengan panah dari tempat tinggi itu."

Kata Xu Sheng, "Buatlah tangga yang tinggi dan juga menara, dimana kau dapat mengawasi keadaan didalam kota dan menyerang mereka dengan panah."

Tetapi Lu Meng berkata, "Seluruh rencana itu membutuhkan waktu yang lama untuk dipersiapkan. Dan sementara itu pasukan Cao-Cao mungin telah tiba di He Fei. Kita harus memanfaatkan semangat tinggi dan pasukan kita dan menyerang kota itu habis2xan. Jika kita menyerang kota itu dari pagi maka aku yakin sebelum senja kota telah dapat kita kuasai."

Akhirnya pada subuh harinya sarapan telah dipersiapkan dan begitu matahari terbit, pasukan Sun Quan langsung menyerang benteng. Pasukan yang menjaga benteng terus melepaskan hujan anak panah dan melempari batu2x besar kebawah benteng. Minyak panas dan benda-benda mudah terbakar juga digunakan untuk menghalangi pasukan musuh masuk dalam benteng. Pasukan Pendobrak Gerbang juga berusaha menghancurkan gerbang benteng. Gan Ning yang lalu menggunakan rantai besinya berusaha memanjat tembok benteng, Pasukan bertahan memanahinya. Gan Ning berhasil menghindari panah2x itu, tetapi dia akhirya terjatuh juga karena rantai besinya dipotong oleh Prajurit bertahan. Lalu dia melihat bahwa gubernur Zhu Guang berdiri dekat tembok benteng, dia lalu menggunakan rantai besinya berusaha untuk menarik gubernur Zhu Guan jatuh, sementara itu para prajruit bertahan mencoba untuk menyelamatkan gubernur itu. Melihat hal ini Lu Meng memerintahkan pasukannya untuk membunuh Gubernur Zhu Guan dan mereka akhirnya berhasil. Pasukan bertahan melihat pemimpin mereka telah mati akhrinya menyerah dan Huan Cheng jatuh ketangan Sun Quan sebelum senja tiba.

Sementara itu Zhang Liao sedang bergerak dengan 20.000 prajuritnya untuk membantu Huan Cheng. Ditengah jalan dia mendengar bahwa kota itu telah jatuh, Dia memutuskan untuk kembali ke He Fei.

Segera setelah Sun Quan memasuki Huan Cheng, Ling Tong tiba disana dengan pasukannya. Beberapa hari berikutnya perjamuan untuk merayakan kemenangan diadakan bagi pasukan yang berhasil. Hadiah khusus diberikan kepada kedua jenderal yang telah dengan sekuat tenaga merebut kota Huan Cheng. Didalam perjamuan itu, Gan Ning dan Lu Meng duduk dikursi terhormat.

Tetapi ketika perjamuan itu, Ling Tong kemudian mulai merasa kesal lagi pada Gan Ning karena telah membunuh ayahnya. Dan Pujian yang dilontarkan Lu Meng pada Gan Ning makin membuat hati Ling Tong makin pedih. Untuk beberapa saat dia menatap dengan tatapan untuk membunuh pada Gan Ning dan dia akhirnya bermaksud untuk membalas dendam.

Mengeluarkan pedangnya, Ling Tong lalu berkata, "Disini tidak ada hiburan. Aku akan memberika kalian sebuah hiburan tarian pedang."

Gan Ning lalu lansung mengtahui niat sebenarnya dari Ling Tong dan berkata, "Dan kalian semua juga boleh melihat kehebatanku menggunakan senjata ini."

Lu Meng langsung mengetahui maksud buruk kedua orang ini dan dia segera mengambil perisai dan pedangnya. Dia segera melangkah ketengah kedua pendekar itu dan berkata, "Tidak ada diantara kalian berdua yang lebih ahli dari diriku."

Akhirnya mereka bertiga seperti sedang bertarung dalam tarian yang lemah gemulai. Tetapi sebenarnya setiap serangan yang dilakukan mampu membunuh mereka bertiga. Sementara itu seseorang langsung lari memberitahukan hal ini pada Sun Quan. Dia lalu langsung melompat keatas kudanya dan segera memacu kudanya ketempat perjamuan itu. Dihadapah tuan mereka, mereka semua menurunkan senjata mereka.

"Aku telah meminta kalian berdua untuk melupakan permusuhan masa lalu. Kenapa kalian mengulanginya lagi hari ini ?" Tanya Sun Quan.

Ling Tong lalu bersujud sambil menangis. Sun Quan lalu menenangkannya dan memintanya melupakan dendam masa lalu. Dan sekali lagi semuanya kembali menjadi tenang.

Keesokan harinya pasukan Sun Quan berangkat ke He Fei.

Pada saat ini, seorang utusan Cao-Cao, Xue Ti membawa sebuah kota kecil dan sebuah surat yang mengatakan apabila Pemberontak datang, bukalah kotak itu.

Jadi ketika Zhang Liao mendengar pergerakan pasukan Sun Quan, Dia langsung membuka kota itu dan didalam ada surat.

Isi surat itu memerintahkan pada Zhang Liao agar dia dan Li Dian harus keluar menghadapi Sun Quan sementara Yue Jing menjaga benteng.

Zhang Liao lalu memanggil kedua orang itu.

"Apa yang menrutmu harus kita lakukan ?" Tanya Yue Jing.

Zhang Liao menjawab, "Tuan kota berada jauh dan Wu menyerang dari selatan. Kita harus keluar dan berusaha yang terbaik untuk membendung serangan mereka. Setelah itu kita harus mempertahankan kota ini sebisa mungkin."

Tetapi Li Dian diam saja, karena dia kurang begitu senang dengan Zhang Liao.

Melihat koleganya itu diam saja, Yue Jing berkata, "Aku akan menjaga kota, karena musuh berjumlah cukup besar maka aku khawatir mereka mengambil kesempatan untuk merebut kota ini."

"Tuan2x, tampaknya kalian sangat egois dan tidak memikirkan kepentingan umum. Kalian boleh memiliki alasan masing2x untuk apa yang kalian mau lakukan. Tetapi aku akan keluar dan mencoba melawan musuh. Aku akan bertempur dgn mereka sampai mati."

Segera Zhang Liao meminta agar pelayannya menyiapkan kudanya.

Pada saat ini Li Dian merasa bersalah dan berkata, "Bagaimana mungkin aku menempatkan kepentingan pribadi diatas kepentingan negara ? Aku akan siap ikut denganmu dan melakukan seperti yang kau perintahkan."

Zhang Liao lega dengan hal ini dan berkata, "Karena aku dapat bergantung pada bantuanmu, maka aku ingin memintamu menyiapkan penyergapan diutara XiaoYao untuk menghancurkan jembatan Xiaoshi, hancurkan jembatan itu segera setelah pasukan Wu melintas. Aku dan Yue Jing akan menghancurkan musuh dari belakang."

Li Dian segera pergi untuk mempersiapkan pasukannya dan mengatur penghancuran jembatan.

Segera Lu Meng dan Gan Ning tiba didekat jembatan itu dan menemukan Yue Jing berada disana. Lalu Gan Ning maju bersama pasukannya menghadapi Yue Jing dan pasukannya, Yue Jing berpura-pura kalah dan mudnur. Gan Ning yang bersemangat segera memanggil Lu Meng untuk melakukan pengejaran.

Ketika Sun Quan mendengar bahwa pasukan garis depannya sudah berhasil, dia segera mempercepat pasukannya menuju XiaoYao. Ketika mereka telah melintas, tiba-tiba terdengar suara genderang perang dan Zhang Liao serta Li Dian masing2x dikiri dan kanannya muncul bersama pasukan mereka. Sun Quan yang tidak menyangka hal ini, segera mengirim prajurit memanggil kembali Gan Ning dan Lu Meng. Tetapi sebelum mereka sempat tiba, Zhang Liao bersama 5.000 prajurit "Macan Terbang" (Fei Hu Dui) telah dekat sekali dengan Sun Quan. Ling Tong yang saat itu membawa 300 prajurit kavaleri tentu bukanlah tandingan mereka semua, tapi dia bertempur dengan gagah berani.

Kemudian Ling Tong berteriak pada Sun Quan, "berbaliklah menuju Jembatan Xiaoshi dan larilah terus sampai ketepi sungai, tuanku !"

Sun Quan segera memacu kudanya sampai menuju jembatan XiaoShi, tetapi diujung selatan jembatan itu telah hancur dan jarak menuju ketepian masih jauh. Tidak ada kayu atau apapun disana yang dapat dimanfaatkan untuk menyebrang”Apa yang harus kulakukan ?" pikir Sun Quan dalam hati.

"Tuanku, cobalah kau lompati celah itu !" Teriak salah seorang jenderalnya yang bernama Gu Li.

Sun Quan lalu membalikan kudannya dan mengambil jarak beberapa puluh langkah kuda dan dia lalu memacu kudanya secepatnya dan kuda itu lalu melompati celah itu dan sampai ditepi selatan.

Melihat hal ini, semua prajurit disana terkejut dan merasa bahwa tuan mereka memang dilindungi oleh langit. Mereka pun bertempur dengan gagah berani.

Setelah mencapai tepi sungai, Sun Quan naik keatas kapal perang Xu Sheng dan Dong Xi serta pergi ketempat yang aman. Sementara itu Ling Tong dan Gu Li masih bertempur dengan pasukan Zhang Liao. Gan Ning dan Lu Meng akhirnya datang dan membantu mereka. Dibelakang Gan Ning dan Lu Meng, Yue Jing tiba dengan 10.000 prajuritnya untuk menyerang mereka dari belakang.

Prajurit pasukan selatan bertempur dengan gagah berani. Lebih dari 25.000 prajurit selatan telah tewas hari itu. 300 prajurit berkuda Ling Tong semuanya telah musnah, sementara Ling Tong sendiri terluka parah. Tetapi dia berhasil sampai kejembatan. Melihat jembatan itu telah dihancurkan dan juga dari belakang pasukan Zhang Liao terus mengejarnya, maka dia menceburkan dirinya kesungai dan terbawa arus yang deras. Kemudian dia terlihat oleh Sun Quan yang memerintahkan agar Dong Xi menyelamatkannya. Gan Ning dan Lu Meng yang terdesak dari dua arah juga melakukan hal yang sama berserta prajurit yang tersisa.

Pasukan selatan sangat terlatih berenang dan mereka akhirnya berhasil lolos dari pasukan Zhang Liao yang umumnya berasal dari utara dan tidak tahu bagaimana berenang.

Zhang Liao tidak menyisakan satu tawanan pun, dia membantai mereka semua yang masih hidup. Yang terluka dan tertangkap disiksanya pelan2x hingga mati. Hal ini dilakukan agar pasukan selatan menjadi takut dan tidak berani lagi untuk menyerang.

Pembantaian dan kekejaman yang terjadi membuat ketakutan dipikiran seluruh penduduk daerah selatan sampai apabila mereka menyebutkan nama Zhang Liao dapat membuat setiap anak tidak berisik dimalam hari.

Ketika Sun Quan mencapai kembali kemahnya, dia memberi hadiah pada Ling Tong dan Gu Li. Kemudian dia memimpin pasukannya kembali ke Ru Xu untuk mengatur angkatan lautnya dan merencanakan meneyrang He Fei dari sungai. Dia juga mengirim perintah agar Lu SU mengirmkan bala bantuan.

Zhang Liao lalu melihat bahwa dia tidak memiliki cukup pasukan dan persiapan apabila Wu menyerang kembali. Dia mengirim Xue Ti membawa pesan penting ke Han Zhong. Ketika utusan itu tiba, Cao-Cao melihat bahwa ekspedisinya dibarat harus dihentikan. Walaupun begitu dia memanggil para penasehatnya untuk meminta nasehat mereka.

"Dapatkan kita menguasai daerah barat atau tidak ?"

"Shu terlalu siap sekarang dan kita tidak akan dapat mengalahkannya dengan mudah. Lebih baik kita menyelamatkan He Fei dan mengerahkan pasukan keselatan terlebih dahulu." Kata Liu Ye.

Segera dia menempatkan Xiaohou Yuan di gunung DIng Jun untuk menjaga Han Zhong dan juga Zhang He di Gunung Meng Tou. Cao-Cao lalu mengerahkan pasukan besarnya keelatan.

BAB 68

Sun Quan sekarang sedang mengatur kembali pasukannya di Ru Xu ketika dia mendengar Cao-Cao membawa 400.000 prajuritnya bergerak dari Han Zhong menuju He Fei. Dia memerintahkan agar 50 kapal perang besar untuk berada dipelabuhan, sementara Chen Wu menyusuri sungai untuk melihat keadaan disana.

"Akan sangat baik apabila kita dapat menyerang pasukan Cao-Cao sebelum mereka sempat beristirahat setelah perjalanan jauh. Hal ini akan menurukan semangat mereka." Kata Zhang Zhao.

Melihat kesekelilingnya, Sun Quan berkata, "Siapakah yang cukup berani untuk pergi keluar dan menantang Cao-Cao sehingga dapat menyemangati pasukan kita untuk bertempur ?"

Dan Ling Tong pun menawarkan dirinya, "Aku akan pergi !"

"Berapa banyak prajurit yang kau butuhkan ?" Tanya Sun Quan

"3.000 prajurit akan cukup," Jawab Ling Tong.

Tetapi tiba-tiba Gan Ning maju pula dan berkata, "hanya butuh 100 prajurit berkuda saja. Kenapa kita harus mengirim 3.000 prajurit ?"

Ling Tong sangat marah dan dia mulai menunjukan amarahnya pada Gan Ning.

"Pasukan Cao-Cao terlalu kuat untuk kita serang dengan kekuatan sekecil itu." Kata Sun Quan.

Akhirnya dia memberikan 3.000 prajurit pada Ling Tong, dan memerintahkan dia untuk melakukan pengintaian di luar perbatasan Ru Xu dan menyerang musuh jika dia menemukan mereka disana.

Segera akhirnya Ling Tong membawa pasukannya keluar dan dia menemukan awan debu berterbangan diujung cakrawala, hal ini menandakan ada pasukan yang sedang mendekati posisinya. Segera ketika musuh telah mendekat diketahuilah bahwa Zhang Liao adalah pemimpin pasukan itu. Ling Tong segera memerintahkan pasukannya untuk maju dan menyerang Zhang Liao. Sun Quan mendapatkan laporan apa yang terjadi dan dia mulai khawatir akan keadaan Ling Tong, dia lalu mengirim Lu Meng dan pasukannnya untuk membantu Ling Tong. Didalam pertempuran, posisi Ling Tong terdesak dan dia terpaksa mundur. Zhang Liao yang mengetahui datangnya bala bantuan yang dipimpin Lu Meng tidak mengejar pasukan Ling Tong yang mundur.

Ketika Ling TOng kembali ke Ru Xu, Gan Ning lalu menemui Sun Quan dan berkata, "Sekarang biarkan aku membawa 100 prajurit berkuda saja dan aku akan menyerang kemah musuh malam ini. Jika aku kehilangan seorang prajurit saja atau seekor kuda saja. Aku akan dianggap gagal menjalankan tugas."

Sun Quan mengagumi keberanian Gan Ning dan memilih 100 prajurit berkuda terbaiknya untuk diberikan pada Gan Ning. Sun Quan juga memberikan mereka 50 guci arak dan makanan lainnya sebagai tanda penghormatan atas keberanian mereka.

Kembali kekemahnya, Gan ning mengumpulkan 100 prajuritnya itu dan meminta mereka untuk duduk dalam barisan2x. Lalu menuangkan arak dalam 2 cawan perak besar yang diedarkan diantara mereka untuk diminum bersama.

Kemudian dia berkata, "Kawan2x sekalian, malam ini kita akan menyerang kemah musuh. Oleh sebab itu minumlah arak dari cawan ini dan kumpulkan keberanian dan kekuatan kalian untuk menjalankan tugas ini."

Tetapi para prajuritnya tidak menyambut hal ini dengan baik. Mereka saling bertatapan satu dengan yang lainnya dengan penuh keraguan.

Melihat hal ini, Gan Ning lalu mengeluarkan suara keras, dia mengeluarkan pedangnya dan berkata, "Apalagi yang kalian takutkan ? Jika aku pemimpin kalian berani mempertaruhkan nyawa, apakah kalian tidak ? "

Tergerak oleh kata-kata dan tindakan Gan Ning, orang-orang itu berdiri dan menundukan kepala mereka serta berkata, "Kami akan bertarung sampai titik darah penghabisan !"

Lalu arak dan daging dibagikan diantara mereka, ke 100 orang itu dan Gan Ning berpesta siang itu. Menjelang hari malam, mereka semua bersiap. Masing2x dari mereka mengenakan bulu angsa putih diatas kepalanya sehingga mereka dapat saling mengenali dalam kegelapan.

Mereka lalu keluar dari kemah dengan segera dan ketika mendekati perkemahan Cao-Cao, mereka berusaha tidak mengeluarkan suara apapun. Secara hati2x mereka menyingkirkan rintangan2x yang dipasang oleh pasukan Cao-Cao disepanjang jalan dan kemudian ketika telah bersih mereka segera memacu kuda mereka dan menyerang kedalam perkemahan. Mereka menuju tengah perkemahan berharap dapat menyerang kemah Cao-Cao, tetapi disana banyak pasukan menghadang dan juga balok2x kayu dan juga tombak2x penahan pasukan kavaleri.

Walaupun begitu, Gan Ning dengan pasukan kecilnya tetap bersatu dan tidak terpencar2x. Mereka menyerang kesana dan kemari, menebas dan memotong. Kekacauan terjadi dikemah pasukan Cao-Cao dan para prajurit ketakutan. Banyak dari mereka saling membunuh teman sendiri karena berpikir bahwa itu adalah penyerangan besar-besaran. Ke 100 prajurit berkuda itu membunuh siapapun yang mereka temui, tetapi segera bunyi genderang terdengar dan diperkemahan obor2x mulai dinyalakan. Gan Ning berpikir bahwa ini adalah saatnya untuk mundur dan kembali pulang.

Gan Ning memimpin pasukan kecilnya melewati gerbang selatan dan tidak ada seorang prajurit Cao-Cao yang berani menghentikan mereka. Dia bertemu Zhou Tai ditengah perjalanan yang dikirim untuk membantu jika sesuatu terjadi. Tetapi Gan Ning dan ke 100 penunggang kudanya tidak membutuhkan bantuan itu dan mereka kembali dengan kemenangan. Tidak ada pasukan Cao-Cao yang mengejar karena takut akan adanya jebakan.

Setelah kembali, Gan Ning menceritakan kisahnya itu didepang gerbang kemah, tidak ada seorang dan seekor kudapun yang hilang.

"Hidup Jenderal Gan Ning !" Teriak para prajurit ketika Sun Quan keluar untuk menemui Gan Ning.

Gan Ning segera turun dari kudanya dan bersujud.

Tuannya memintanya berdiri dan berkata, "Perbuatanmu telah membuat musuh menjadi ketakutan dan terguncang. Aku mengikuti keinginanmu hanya karena aku berharap kau dapat menunjukan keberanianmu dan kehebatanmu. Aku tidak ingin kau mengorbankan dirimu."

Gan Ning diberikan hadiah yang besar, ribuan gulung sutra dan juga berbagai macam barang berharga lainya, semuanya dibagikan sama rata kepada 100 prajurit berkuda yang mengikutinya.

Sun Quan sangat bangga dengan kehebatan Gan Ning ini dan berkata, "Cao-Cao boleh memiliki Zhang Liao, tetapi aku dapat melawannya dengan Gan Ning ku."

Segera Zhang Liao datang untuk menantang dan Ling Tong yang tidak sabar karena dikalahkan oleh Gan Ning segwera memohon agar dia diijinkan keluar dan pergi melawan Zhang Liao. Permintaanya dikabulkan, dia segera membawa 5.000 prajurit pergi sekitar 10 Li utara Ru Xu. Sun Quan dan Gan Ning serta pasukan yang lain mengikuti dari belakang untuk melihat keadaan.

Ketika Pasukan Zhang Liao dan Pasukan Ling Tong telah bertemu dipadang rumput yang luas, mereka lalu mengatur formasi pasukan. Ling Tong dengan pedang ditangan lalu maju kedepan. Disisi lain Yue Jing atas perintah Zhang Liao menjawab tantangan itu. Mereka bertarung diatas kuda mereka dengan mengenakan pedang, mereka bertarung 50 jurus dan tampaknya dua2xnya seimbang.

Lalu Cao-Cao akhirnya tiba ditempat itu, dia melihat pertarungan antara Yue Jing dan Ling Tong. Melihat kedua jenderal itu bertarung dengan keras dan tidak waspada, dia berpikir untuk menggunakan akal licik. Dia memerintahkan agar Cao Xiu diam2x memanah Ling Tong. Cao Xiu lalu memanah dan mengenai kuda Ling Tong. Ling Tong akhirnya terjatuh dan Yue Jing segera ingin menebas kepala Ling Tong, tetapi disaat yang kritis itu tiba-tiba terdengar bunyi anak panah lagi dan kali ini mengenai wajah dari Yue Jing. Dia Segera terjatuh dari kuda, dan akhirnya prajurit dari kedua sisi saling maju ketengah untuk melindungi jenderalnya. Bunyi Gong dibunyikan dari kedua belah pasukan sebagai tanda mundur. Ling Tong akhirnya kembali kekemahnya dan melaporkan kegagalannya pada tuannya.

"Panah yang menyelamatkanmu itu dilesatkan oleh Gan Ning." Kata Sun Quan.

Ling Tong lalu menatap Gan Ning dan menundukan kepalanya.

"Aku tidak berpikir kau akan menyelamatkan nyawaku ini, tuan." Kata dia kepada Gan Ning.

Hal ini membuat perseteruan diantara mereka berdua berakhir. Mereka berdua akhirnya menjadi sahabat baik sampai akhir.

Dilain pihak Cao-Cao memastikan bahwa luka Yue Jing diurus dengan baik. Keesokan harinya dia menyerang Ru Xu melalui 5 jalur berbeda. Dia sendiri memimpin 10.000 prajurit dan menyerang dari tengah. Dikiri Zhang Liao dan Li Dian memimpin masing2x 10.000 prajurit. Di kanan Xu Huang dan Pang De memimpin masing2x 10.000 prajurit. Pasukan Selatan yang melihat pasukan Cao-Cao ini menjadi ketakutan.

"Kalian telah menikmati kemakmuran dari tuan kalian dan kalian harus melaksanakan tugas dengan baik. Jadi kenapa sekarang kalian takut ?" Kata Xu Sheng.

Segera dia membawa beberapa ratus orang terbaiknya naik keatas beberapa perahu kecil dan kemudian melintas tepi sungai dan menuju pasukan Li Dian. Sementara itu Dong Xi diatas kapal perangnya membunyikan genderang perang untuk menyemangati mereka. Tetapi tiba-tiba badai datang, dan sungaipun menampakan murkanya. Gelombang datang bergulung2x seperti bebukitan. Kapal2x besar terombang-ambing seperti akan terbalik, pasukan Wu berusaha melompat keperahu persediaan yang lebih stabil untuk menyelamatkan nyawa mereka. Tetapi Dong Xi mengancam mereka dengan hukuman mati, dia membunuh beberapa prajurit sebagai contoh.

"Perintahku adalah untuk bertahan diposisi ini dan menghadapi musuh, kita tidak boleh meninggalkan kapal !" Teriak dia.

Tetapi, angin makin membesar dan akhirnya perahu Dong Xi terbalik juga dan dia tercebur kedalam sungai, banyak diantara prajuritnya juga terlempar kedalam sungai dan tenggelam.

Xu Sheng segera menyerang pasukan Li Dian, dia menyerang kekiri dan kekanan. Chen Wu yang mendengar suara bunyi pertempuran, segera pergi menuju ketepi sungai. Didalam perjalanannya dia bertemu pasukan Pang De dan mereka bertempur. Zhou Tai yang bertugas melindungi Sun Quan, dia berserta Tuannya itu juga membawa pasukan dan ikut dalam pertempuran.

Pasukan kecil yang dipimpin Xu Sheng menyerang Li Dian akhirnya sekarang terkepung. Sun Quan yang mendapatkan laporan mengenai hal ini segera memberikan tanda agar pasukannya membantu. Tetapi karena badai dan juga pasukan Pang De yang kuat akhirnya rencana itu gagal, dan Sun Quan sendiri akhirya terkepung dan terdesak. Cao-Cao melihat hal ini dan dia memerintahkan agar Xu Chu memotong jalan mundur Sun Quan sehingga dia tidak bisa lari lagi.

Ketika Zhou Tai telah berhasil keluar dari hadangan pasukan Pang De dan sampai ditepi sungai, dia mencari tuannya. Tetapi Tuannya tidak tampak oleh dirinya, akhirnya Zhou Tai kembali lagi kedalam medan pertempuran untuk mencari tuannya.

Ketika dia melihat pasukan Wu dia bertanya, "Dimanakan tuan kita ?"

Mereka menunjuk pada arah dimana pertempuran paling sengit terjadi. Zhou Tai lalu mengambil pedangnya, masing2x dikedua tangannya dan dia kemudian menerjang masuk bersama kudanya.

Akhirnya dia tiba disamping Sun Quan dan berteriak, "Tuanku, ikutlah denganku, aku akan membuka jalan bagimu !"

Zhou Tai seorang diri menerobos pasukan Cao-Cao sampai ke tepi sungai. Lalu dia berbalik, dan Sun Quan tidak berada dibelakangnya. Akhirnya dia kembali lagi, dia sekali lagi dia berada disisi tuannya.

"Aku tidak dapat keluar, panah2x terlalu banyak !" kata Sun Quan.

"Pergilah lebih dahulu, tuanku, Aku akan mengikutimu !"

Sun Quan segera memacu kudanya secepat dia bisa dan Zhou Tai melindungi dia dari pengejaran dibelakangnya. Ketika Cao-Cao melihat hal ini dia memerintahkan agar pasukannya melepaskan panah untuk menghambat Sun Quan. Zhou Tai dengan gagah berani berusaha menangkis semua panah2x itu. Beberapa panah tetap saja menancap ditubuh Zhou Tai dan kudanya. Pasukan Tombakpun berusaha mengepung, tetapi Zhou Tai seorang diri dengan gagah berani melawan mereka semua. Banyak dari pasukan Cao-Cao yang tewas ditangan Zhou Tai, tetapi Zhou Tai sendiri terluka sangat parah oleh belasan anak panah dan luka tusukan tombak serta sabetan pedang diseluruh tubuhnya.

Tetapi dengan sekuat tenaga dia akhirnya berhasil mengantarkan Sun Quan ketepi sungai, disaat2x terakhir itu tiba-tiba ada anak panah melesat dan mengenai helm dari Zhou Tai. Zhou Tai kaget, tetapi helmnya cukup tebal dan menyelamatkan nyawanya. Sekarang dia bersama Sun Quan berada ditepi sungai dan dikepung oleh pasukan Cao-Cao. Dia berpikir bahwa sudah tidak ada jalan lain. Tetapi tiba-tiba dari tepi sungai muncul Lu Meng bersama pasukan angkatan laut Wu tiba dan menyelamatkan mereka berdua. Pasukan Xu Chu terus mengejar mereka, tetapi pasukan Wu yang lebih terlatih didalam perang air dapat dengan mudah mengalahkan mereka semua dan akhirnya pasukan Cao-Cao terpaksa mundur.

"Aku berhutang nyawa pada Zhou Tai yang 3 kali datang untuk menyelamatkan nyawaku. Tetapi Xu Sheng masih terkepung, dan bagaimana kita dapat menyelamatkannya ?"

"Aku akan menyelamatkannya " Kata Zhou Tai.

Kali ini dia mengambil sebuah tombak, seluruh luka ditubuhnya mengeluarkan darah tetapi dia tidak memperdulikannya. Dia segera membawa beberapa kapal Lu Meng dan pergi menyelamatkan Xu Sheng yang terkepung ditengah sungai.

Akhirnya dia berhasil membawa kembali Xu Sheng, mereka berdua telah terluka sangat parah.

Lu Meng segera memerintahkan agar pasukannya berlayar secepat mungkin menuju selatan.

Sekarang Chen Wu yang masih berusaha menuju tepi sungai sedang terjepit oleh pasukan Pang De. Karena kalah jumlah dan tidak ada bantuan yang datang, Chen Wu terdesak sampai kesebuah bukit kecil dimana pepohonan dan semak belukar sangat lebat. Dia berusaha lari melalui tempat itu tetapi dia terjerat oleh batang2x pohon dan akhirnya dibunuh oleh Pang De.

Ketika Cao-Cao melihat bahwa Sun Quan telah berhasil lolos, dia memeritahkan agar pasukannya terus mengejar Sun Quan apapun yang terjadi. Pasukan Lu Meng memanahi pasukan Cao-Cao sedemikian rupa sampai akhirnya panah mereka habis dan sekarang mereka kebingungan. Pasukan Cao-Cao berjumlah ratusan perahu semakin mendekat posisi pasukan Lu Meng yang sudah kehabisan panah. Mereka tahu bahwa jika pasukan Cao-Cao sampai naik keatas kapal Wu maka mereka akan kalah. Disaat ini tiba-tiba muncul bunyi genderang perang dari arah tenggara dan disana Lu Xun, menantu dari Sun Ce, datang dengan 100.000 marinir dan ratusan perahu untuk membantu. Melihat hal ini Cao-Cao memerintahkan agar pasukannya mundur. Tetapi Lu Xun terus mengejar sampai akhirnya mereka mendarat ditepi sungai dan membunuh banyak sekali pasukan Cao-Cao juga merebut kuda2xnya. Akhirnya Cao-Cao berhasil dikalahkan dan dipaksa mundur. Kemudian mereka menemukan jasad Chen Wu diantara para korban.

Sun Quan sangat bersedih karena kematian Chen Wu dan Dong Xi. Dia mengirim orang untuk mencari jasad Dong Xi yang tenggelam disungai, akhirnya mereka menemukan jasad Dong Xi. Sun Quan mengadakan upacara besar untuk memakamkan kedua jenderalnya itu.

Dan sebagai imbalan atas jasa Zhou Tai, Sun Quan menyiapkan perjamuan besar dimana Sun Quan memberikan Zhou Tai cawan besar arak dan memuji-muji keberaniannya sementara air mata membasahi wajahnya.

"Dua kali kau menyelamatkan nyawaku tanpa memperdulikan keselamatanmu. Dan kau telah menerima banyak sekali luka. Orang seperti apakah aku ini jika aku tidak menganggapmu sama seperti saudaraku sendiri ? Dapatkah aku hanya menganggpmu sebagai prajurit dalam pasukanku ? Kau adalah menteriku yang paling berjasa. Aku akan membagi kejayaan yang kau dan aku menangkan juga kesedihan dan kebahagian yang akan kita alami."

Lalu Sun Quan meminta Zhou Tai membuka bajunya dan memperlihatkan luka2xnya kepada seluruh orang yang ada disana. Seluruh badannya tampak seperti telah tercabik-cabik oleh pedang. Sun Quan menunjuk pada beberapa luka dan menceritakan bagaimana luka itu bisa didapat oleh Zhou Tai. Dan untuk setiap luka itu, Sun Quan meminta Zhou Tai untuk meminum arak yang telah dipersiapkannya. Sun Quan kemudian menyerahkan payung yang terbuat dari sutra berwarna hijau dan memerintahkan dia untuk memakainya sebagai tanda keberaniannya.

Akhirnya, Sun QUan melihat bahwa kedua pasukan tidak dapat saling mengalahkan. Pada akhir bulan kedua pasukan sama-sama berada di Ru Xu dan tidak ada yang dapat memenangkan pertempuran.

Lalu berkatalah Zhang Zhao dan Gu Yong, "Cao-Cao terlalu kuat dan kita tidak akan dapat menghadapinya hanya dengan kekuatan saja. Jika kita terus melanjutkan perang ini maka kau hanya akan kehilangan lebih banyak tentara. Kau lebih baik membuat perjanjian damai dengan dia."

Sun Quan menyetujui usul ini dan dia mengirim Bu Zhi untuk menjadi utusannya. Sun Quan menjanjikan upeti tahunan. Cao-Cao juga melihat bahwa daerah selatan terlalu kuat dan dia setuju.

Cao-Cao berkata, "Adipati Wu harus memundurkan pasukannya terlebih dahulu dan baru kemudian pasukanku."

Bu Zhi kembali dengan pesan ini dan Sun Quan mengirim kembali pasukan besarnya keselatan dan hanya meninggalkan Zhou Tai dan Jiang Qin untuk menjaga Ru Xu. Sebagian besar pasukan kembali ke ibukota Jian Ye.

Cao-Cao Meninggalkan Cao Ren dan Zhang Liao di He Fei dan dia kembali ke Xu Chang bersama pasukannya.

Pada saat dia tiba di Xu Chang, banyak pejabat militer, sipil dan juga pejabat istana membujuknya untuk menjadi "PANGERAN WEI". Hanya kepala sekretariat, Cui Yan yang tidak setuju.

"Kau pasti satu-satunya orang yang tidak mengetahui nasib Xun Yu." Kata Para koleganya.

"Kalian semua bersalah atas pemberontakan, tetapi kalian boleh melakukan itu sendiri ! aku tidak ingin menjadi bagian dari hal ini !"

Beberapa orang mengatakan hal ini pada Cao-Cao dan Cui Yan akhirnya dimasukan dalam penjara. Pada sidangnya dia tetap teguh pada pendiriannya. Dia memaki Cao-Cao sebagai berkhianat pada kaisar. Hakim yang memeriksa kasus ini melaporkannya pada Cao-Cao dan Cao-Cao memerintahkan agar Cui Yan dipukuli sampai mati dipenjara.

Pada tahun yang ke 21 dari masa Jian An atau tahun 26 dari masa pemerintahkan kaisar Xian (Tahun 216 M) tepatnya pada bulan ke 5, sebuah petisi yang ditanda tangani oleh berbagai pejabat dan bangsawan diserahkan pada kaisar Xian.

Petisi ini meminta agar sebagai balasan atas jasa-jasa Perdana Menteri Cao maka dia diangkat menjadi Raja Muda Cao dengan gelar "Pangeran Wei".

Petisi ini akhirnya disetujui dan sebuah titah kaisar yang ditulis oleh Zhong Yao segera diumumkan. Tiga kali cao2 berpura-pura menolak titah ini, tetapi tiga kali juga titah ini diberikan lagi. Akhirnya dia bersedia menerima titah ini dan dia memakai tanda2x kebesarannya seorang raja dan pangeran. Dia membuat istana khusus untuk dirinya di Ye Jun.

Lalu dia mulai mendiskusikan masalah mengenai pewaris tahtanya. Istrinya yang pertama, Lady Ding, tidak memberikan keturunan padanya. Lady Liu memberikan seorang anak yaitu Cao Ang yang telah gugur di Wan Cheng. Kemudian istrinya yang lain, lady Bian, memberikan 4 orang anak, Cao Pi, Cao Zhang, Cao Zhi dan Cao Xiong. Oleh karena itu dia mengangkat Lady Bian sebagai Ratu Wei

Anak yang ke-3, Cao Zhi sangatlah pintar dan juga sangat menguasai sastra. Cao-Cao mengharapkan agar dia dapat menjadi pewaris tahta.

Lalu anak yang tertua, Cao-Cao meminta saran dari Penasehat tinggi Jia Xu untuk sebuah rencana agar haknya sebagai pewaris tahta dapat dipertahankan. Jia Xu memberikan beberapa saran untuk dijalankan. Segera setiap kali ayahnya pergi berperang, Cao Zhi menulis puisi yang menceritakan kegagahan pasukan Wei sedangkan Cao Pi menangis sedih dan memohon agar ayahnya menjaga diri baik-baik sehingga seluruh pejabat tersentuh hatinya oleh tindakan Cao Pi. Cao Zhi mungkin pandai tetapi dia tidak dapat menujukan rasa baktinya pada ayahnya.

Setelah ragu cukup lama, masalah ini akhirnya ditanyakan Cao-Cao pada Jia Xu.

"Aku ingin menunjuk pewarisku, siapakah yang pantas ?" Tanya Cao-Cao.

Jia Xu tidak mau menjawabnya dan Cao-Cao bertanya kenapa.

"Aku tiba-tiba teringat kejadian masa lalu dan tidak dapat dengan segera menjawab," Kata Jia Xu.

"Apakah yang ada dipikiranmu ?"

"Aku sedang berpikir mengenai dua orang ayah, Yuan Shao dan Liu Biao serta anak2x mereka."

Cao-Cao tertawa dan segera dia menunjuk putra tertuanya sebagai pewaris tahtanya.

Pada musim dingin ditahun itu, tepatnya dibulan ke 10. Istana pangeran Wei yang baru di Ye Jun akhirnya rampung. Dari seluruh penjuru negeri, Cao-Cao membawa barang-barang berharga seperti bunga2x yang eksotis dan juga pepohonan untuk memperindah tamannya. Suatu kali, seorang utusan dikirim keselatan untuk menyerahkan surat dari Cao-Cao yang isinya memohon diijinkan untuk pergi ke Wen Zhou mengambil jeruk disana. Pada saat itu Sun Quan memerintahkan agar pohon2x jeruk dikota itu dikumpulkan buahnya dan dikirimkan ke Ye Jun, Totalnya mencapai 40 kereta kuda berisi jeruk2x terbaik.

Didalam perjalanan kembali, sipembawa jeruk ini kelelahan dan dia berhenti dikaki bukit gunung ErMei. Lalu tiba-tiba datangnya seorang tua, tampak buta pada salah satu matanya dan juga satu kaki yang pincang. Dia mengenakan baju berwarna putuh dan jubah hitam. Dia memberi salam pada utusan itu dan berbicara padanya.

Kemudian dia berkata, "Bebanmu sangat berat. Bolehkah aku membantu kalian ? "

Mereka semua sungguh senang dan akhirnya mereka memberikan satu gerobak pada orang tua itu. Setelah beberapa saat mereka merasakan bahwa beban mereka berkurang dan mulai curiga atas apa yang terjadi.

Ketika orang itu ingin berpamitan pada pejabat yang menjaga jeruk2x itu, dia berkata, "Aku adalah teman lama yang berasal dari desa yang sama dari Pangeran Wei. Namaku adalah Zuo Ci. Diantara pada penganut Tao aku dikenal dengan julukan "Tanduk Hitam". Ketika kalian tiba nanti, aku mohon titipkan salamku untuk tuanmu."

Zuo Ci mengebaskan jubahnya dan pergi. Tiba-tiba para pembawa jeruk tadi telah tiba di Ye Jun. Setelah tiba, mereka semua menyerahkan jeruk2x itu kehadapan Cao-Cao. Lalu Cao-Cao membuka salah satu jeruk itu tetpai didalamnya tidak ada apa-apa. Cao-Cao menjadi terheran-heran dan dia memanggil seluruh kelompok itu. Mereka semua menceritakan kejadian bertemu dengan Zuo Ci. Cao-Cao awalnya berpikir bahwa ini hanya alasan mereka saja.

Tetapi tiba-tiba penjaga pintu melaporkan bahwa ada seorang pendeta tao bernama Zuo Ci ingin bertemu.

"Biarkan dia masuk." Kata Cao-Cao.

"Dia adalah orang yang kita temui dijalan hari ini." Kata para pembawa jeruk ketika Zuo Ci masuk.

Cao-Cao berkata, "Sihir macam apa yang kau gunakan untuk merusak buah2xan indahku ini ?"

"Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi ?" Kata Zuo Ci.

Segera dia membuka sebuah jeruh dan didalamya ada buah jeruk yang sangat manis. Tetapi ketika Cao-Cao membuka yang lain, dia hanya menemukan buah yang kosong.

Cao-Cao menjadi sangat kebingungan dan dia meminta Zuo Ci untuk duduk. Ketika Zuo Ci meminta disediakan jamuan, maka arak serta makananpun dihidangkan. Zuo Ci memakan seluruh makanan itu dengan rakusnya, dia memakan seluruh anak lembu dan meminum lebih dari 10 guci arak. Tetapi dia tidak menunjukan kekenyangan ataupun mabuk setelah itu semua.

"Apakah sihir yang kau gunakan disini ?"

"Aku hanyalah seorang pendeta tao sederhana. Aku pergi ke Jia Ling di Shu dan kemudian kegunung ErMei. Aku mempelajari tao selama 30 tahun. Suatu hari aku mendengar namaku dipanggil dari dalam sebuah gua. Aku lalu masuk dan melihat kedalamnya tetapi tidak menemukan apapun. Keesokan harinya juga terjadi hal yang sama dan begitu seterusnya. Lalu tiba-tiba, seperti langit runtuh, batu2x di gua itu terbelah menjadi dua dan aku menemukan sebuah 3 buah kitab sakti berjudul "Buku Rahasia Semesta" (YIN CANG FANG FA SHU). Buku pertama berjudul 'Rahasia Langit' (Cang Tian), buku kedua berjudul 'Rahasia Bumi'(Cang Di) dan yang ketika berjudul 'Rahasia Manusia' (Cang Ren Xing). Dari buku pertama aku mempelajari bagaimana naik keatas langit dan mengendarai awan. Dari buku kedua aku belajar bagaimana menembus gunung dan batu. Dari buku yang ketiga aku belajar bagaimana menjadi tidak tampak dan berubah sesuai dengan keinginanku, aku dapat memenggal orang dan membunuh mereka dari jarak yang sangat jauh. Kau, Pangeran Wei telah sampai dipuncak kejayaan. Kenapa sekarang kau tidak ikut saja denganku dan menjadi muridku ? Kenapa tidak kita pergi saja menuju gunung ErMei dan disana aku akan mengajarkan isi ke 3 buku itu padamu ?"

"Aku tidak dapat mengingkari takdirku ini, jadi apa yang dapat kulakukan ? aku tidak dapat pergi. Jika aku pergi maka tidak ada orang yang akan mengurus masalah negara." Jawab Cao-Cao.

"Masih ada Liu Bei dari Yi Zhou, dia adalah masih keluarga kekaisaran. Dapatkah kau memberikan jabatanmu padanya ? Jika kau tidak dapat, maka mungkin aku akan mengirimkan "pisau terbang" (Fei Dao) untuk memenggal kepalamu suatu hari nanti."

"Kau adalah salah satu mata2xnya," Kata Cao-Cao dengan marah, "Tangkap dia !"

Mereka melakukannya, sementara Zuo Ci hanya tertawa saja. Dan Zuo Ci terus tertawa sementara mereka menyeretnya kedalam penjara bawah tanah dimana disana dia dipukuli dengan kejam. Dan ketika mereka telah usai, Zuo Ci tertidur pulas sekali seperti dia tidak merasakan sakit apapun.

Hal ini membuat Cao-Cao makin marah dan memerintahkan agar Zuo Ci dipasung dan dirantai. Cao-Cao juga menugaskan penjaga khusus untuk menjaganya. Tetapi malam harinya, Zuo Ci tiba-tiba sudah lepas dari pasungan dan rantai itu serta terbaring tidur dengan pulasnya.

Zuo Ci berada dipenjara itu selama 7 hari 7 malam tanpa makanan dan minuman. Tetapi ketika mereka semua melihatnya, dia tampak sangat sehat dan bertenaga.

Penjaga penjara melaporkan hal ini pada Cao-Cao yang segera memerintahkannya untuk dibawa kehadapannya.

"Aku tidak takut bila tidak diberi makan bahkan untuk tahunan, tetapi aku akan dapat memakan ribuan domba dalam satu hari saja." Kata Zuo Ci kepada Cao-Cao ketika menanyainya.

Cao-Cao merasa bahwa dia sudah melakukan semua yang dia bisa dan sekarang bingung bagaimana menghukum Zuo Ci. Dia hanya bisa memerintahkan agar Zuo Ci dibawa kembali ke sel tahanannya.

Hari itu kebetulan sedang diadakan perjamuan besar di istana Ye Jun. Seluruh pengunjung datang dari berbagai daerah. Ketika perjamuan berlangsung tiba-tiba Zuo Ci muncul. Beberapa tamu ketakutan melihat dia, sementara kebanyakan dari mereka bingung.

Berdiri didepan kerumunan itu, Zuo Ci berkata, "Pangeran Wei yang hebat, disini hari ini aku memiliki semua makanan enak dan ditemani oleh teman-teman yang terhormat. Kau memiliki barang-barang indah dan langka serta pepohonan yang eksotis dari berbagai tempat. Masih adakan yang kurang ? Jika ada yang kau inginkan maka katakanlah dan aku akan memberikannya untukmu."

Cao-Cao menjawab, "Jika begitu aku ingin hati naga untuk dibuat sup. Dapatkah kau memberikannya ?"

"Apa susahnya hal itu ?" Jawab Zuo Ci.

Lalu Zuo Ci mengambar seekor naga diatas tembok diruang perjamuan itu. Setelah itu dia mengibaskan jubahnya dan perut naga itu terbuka, dari sana dia mengambil hati naga yang segar dan masih berdarah-darah itu.

"Kau pasti telah menyembunyikan hati naga itu didalam jubahmu." Kata Cao-Cao dengan maksud menghina.

"Jika memang begitu maka mintalah yang lain. Sekarang ini musim dingin dan setiap tumbuhan diluar mati. Bunga apa yang kau mau, pangeran. Katakan saja apa yang kau inginkan."

"Aku ingin bunga Mu Dan (Peony)" Kata Cao-Cao.

"Hal mudah !" Jawab Zuo Ci.

Zuo Ci meminta pot bunga dibawa kehadapannya dan ditaruh dihadapan para tamu. Kemudian dia memercikan air kedalam pot yang berisi tanah itu dan tiba-tiba munculah batang dan dua bunga peony yang mekar itu.

Tamu-tamu sangat terkagum-kagum dengan hal ini dan mereka meminta Zuo Ci untuk duduk dan memberikan arak serta makanan. Koki membawa beberapa daging ikan untuk diberikan pada Zuo Ci.

"Daging ikan yang terbaik berasal dari ikan sungai Song." Kata Zuo Ci.

"Bagaimana kau dapat mendapatkan ikan berjarak ribuan li dari sini ?" Kata Cao-Cao.

"Tidak terlalu sulit. Perintahkan seseorang untuk mengambil alat pancing. Aku akan pergi memancing ikan dikolammu ini."

Mereka melakukannya dan segera dia pergi memancing, lalu didapatkanlah ikan2x itu.

"Aku selalu menaruh beberapa ekor ikan ini didalam kolamku." Kata Cao-Cao.

"Pangeran, apakah kau ingin membohongiku ? Semua ikan2x mempunyai dua insang kecuali yang berasal dari sungai Song, mereka memiliki 2 pasang insang. Hal inilah yang membuat perbedaan diantara kedua ikan2x itu."

Para tamu lansung berdesak-desakan untuk melihat dan ketika mereka memperhatikan ternyata benar, ikan2x itu memiliki 2 pasang insang.

"Untuk memasak ikan2x ini, seseorang memerlukan "Jahe Ungu" (Zi Jiang)" Kata Zuo Ci.

"Dapatkah kau menghasilkan barang itu ?" Tanya Cao-Cao.

"Sangat mudah."

Zuo Ci lalu meminta dibawakan mangkuk perak, lalu dia mengisinya dengan air. Segera jahe2x itu memenuhi mangkuk perak itu. Cao-Cao mencoba mengambil salah satu jahe itu, tetapi tiba-tiba sebuah buku tampak didalam mangkuk itu dan judulnya adalah "Buku Perang Meng De" (Meng De Bing Fa) yang telah dibakarnya. Buku ini Cao-Cao yang membuat dan ketika Zhang Song dari Shu datang, dia membakarnya karena tidak ingin dipermalukan sebagai plagiator. Dia membaca buku itu dan tidak ada satu katapun didalamnya yang kurang.

Cao-Cao sekarang menjadi sangat terpana. Zuo Ci mengambil cawan giok dari atas meja dan dia mengisinya dengan anggur kemudian menyerahkannya pada Cao-Cao.

"Minumlah ini, pangeranku dan kau akan hidup ribuan tahun."

"Kau minumlah dahulu." Kata Cao-Cao.

Zuo Ci lalu mengambil tusuk konde dari atas kepalanya dan membelah dua cangkir itu tanpa menumpahkan isinya.

Lalu dia meminum yang 1/2nya dan menyerahkan yang 1/2 lagi pada Cao-Cao. Tetapi Cao-Cao dengan marah menolaknya. Kemudian Zuo Ci menumpahkan arak itu dan segera arak itu berubah menjadi burung merpati putih yang terbang mengitari seluruh tempat perjamuan itu sebelum terbang keluar.

Setiap orang melihat keatas mengikuti kemanakah burung itu pergi dan tidak ada yang memperhatikan Zuo Ci. Mereka kemudian tersadar bahwa Zuo Ci telah pergi dan segera penjaga gerbang melaporkan bahwa Zuo Ci telah meninggalkan istana.

"Penyihir seperti ini harus dihukum mati atau dia akan membawa petaka pada diriku." Kata Cao-Cao.

Xu Chu diperintahkan membawa 300 prajurit terbaik untuk mengejar Zuo Ci. Mereka akhirnya melihat Zuo Ci tidak terlalu jauh didepan, Xu Chu segera memacu kudanya untuk mengejar Zuo Ci yang berjalan kaki. Tetapi berapapun cepatnya Xu Chu mencambuk kudanya, dia tidak dapat mengejar Zuo Ci. Xu Chu tetap mengejar sampai kedaerah perbukitan, dimana dia bertemu dengan pengembala domba sedang mengembalakan dombanya. Dan disana dia melihat Zuo Ci sedang melewati kerumunan domba2x itu. Zuo Ci tiba-tiba menghilang. Xu Chu yang marah segera membantai seluruh domba2x itu sementara pengembalanya melihat dengan sangat sedih karena domba2xnya dibunuh.

Tiba-tiba dia mendengar suara dari potongan kepala domba2x itu yang berkata untuk memasangkan kepala-kepala domba itu pada badannya. Pengembala itu lalu langsung ketakutan dan berusaha lari.

Tetapi kemudian dia mendengar teriakan, "Jangan kau lari. Kau akan mendapatkan kembali domba2x ini."

Dia berbalik dan melakukan yang diperintahkan. Setelah beberapa saat ajaibnya seluruh domba2xnya hidup kembali. Zuo Ci berada diantara mereka dan pengembala itu mulai bertanya-tanya padanya, tetapi Zuo Ci tidak menjawabnya. Dengan mengibaskan jubanya, dia tiba-tiba pergi menghilang.

Pengembala itu kembali kerumah dan menceritakan kejadian itu pada tuannya yang juga menceritakan hal-hal itu sampai akhirnya terdengar oleh Cao-Cao. Sketsa wajah Zuo Ci segera dikirim keseluruh penjuru dan perintah untuk menangkapnya segera dikeluarkan. Dalam 3 hari sebanyak 400 orang yang menyerupai Zuo Ci ditangkap, mereka semua sama, mulai dari pakaian dan ciri2x fisik. Ketika ditanya satu persatu secara pribadi mereka semua menjawab hal yang sama.

Akhirnya Cao-Cao mengumpulkan mereka dilapangan lalu memerintahkan pasukannya untuk memotong darah anjing hitam dan memercikannya kepada seluruh orang-orang itu agar menghilangkan sihir mereka. Kemudian setelah itu mereka semua digiring ke gerbang selatan dan disana setiap dari mereka dipenggal. Setelah semuanya telah dipenggal, dari leher mereka tiba-tiba keluar asap berwarna hitam dan menuju ketengah lapangan. Disana asap2x itu berkumpul dan asap itu membentuk Zuo Ci yang berpakaian putih dan sedang naik keatas burung bangau besar dan mengendarai burung bangau itu untuk terbang kelangit.

Dengan bertepuk tangan dia berkata, "Tikus2x didunia ini mengikuti Harimau emas, dan suatu pagi nanti si "Penghancur" akan hilang dari muka bumi ini."

Para prajurit menembakan panah pada Zuo Ci dan burung bangau putih itu. Tetapi tiba-tiba badai besar dan angin kencang terjadi. Bebatuan berterbangan dan pasir serta debu menutupi pandangan. Mayat2x yang tadi dipenggal hidup kembali, masing2x memegang kepalanya ditangannya. Mereka menuju kearah Cao-Cao, para prajurit ketakutan dan para pejabat bersembunyi serta menutup mata mereka tidak berani melihat apa yang terjadi. Xu Chu berusaha sebisa mungkin memotong2x mayat hidup itu dengan pedang besarnya dan melindungi Cao-Cao. Tetapi Cao-Cao akhirnya ketakutan juga dan muntah darah lalu pingsan.

BAB 69

Cao-Cao yang akhirnya jatuh sakit setelah kejadian dengan Zuo Ci tampaknya tidak dapat disembuhkan oleh tabib manapun diistana. Kebetulan pada saat itu menteri Xu Zhi datang dari ibu kota mengunjungi Cao-Cao. Dia menyarangkan agar Cao-Cao mencari orang sakti untuk menyembuhkan penyakitnya.

"Apakah kau pernah mendengar tentang Guan Lu ? Dia seperti dewa karena dapat meramal nasib manusia dengan tepat." Kata Xu Zhi.

"AKu pernah mendengar tentangnya, tetapi aku tidak tahu seberapa hebatkah dia. Ceritakanlah padaku mengenai kehebatannya." Kata Cao-Cao.

"Dia berasal dari Ping Yuan. Wajahnya buruk dan sangat kasar juga Dia sangat senang bermabuk-mabukan. Ayahnya berasal dari Lang Ye, Sejak masih kanak2x Guan Lu telah menyukai mempelajari tentang perbintangan, dia dapat berdiri setiap malam dan memandangi langit. Dia berkata bahwa jika hewan ternak dan burung2x dapat mengetahui perubahan musim dan bencana mengapa manusia tidak. Dia suka bermain dengan anak sebayanya dengan mengambar bulan, bintang dan benda-benda langit lainnya ditanah dan ketika telah dewasa dia mempelajari I CHING serta mengamati alam. Dia sangat hebat dalam memperhitungkan segala sesuatunya dan juga seorang peramal”

"Ketenaranya mencapai telingan Shan ZiChun, gubernur di Lang Ye yang memanggilnya menuju kediamannya untuk diwawancarai. Disana hadir juga ratusan tamu, semuanya adalah mereka2x yang pandai berbicara."

" 'Aku hanyalah seorang muda dan tidak memiliki keberanian besar', kata Guan Lu kepada gubernur. 'Aku harap kau memberikan aku 3 guci arak agar lidahku dapat berbicara dengan lancar'. Permintaan itu mengejutkan, tetapi arakpun dibawakan untuknya. Dan ketika Guan Lu telah meminum arak itu, Dia melihat kesekeliling pada para tamu disana dan berkata, 'Sekarang aku telah siap. Apakah ini semua adalah lawan yang kau siapkan untuk menantangku ? Apakah tuan2x yang duduk disekelilingku ini akan mencoba mencari kesalahanku ?' "

" 'Aku sendiri sangat igin mengadu kepandaian denganmu' Kata Shan ZiChun. Kemudian mereka mulai memperdebatkan mengenai isi kitab I Ching. Perkataan Guan Lu mengalir dengan lancar seperti air sungai yang mengalir menuruni bukit dan pemikirannya benar-benar hebat. Gubernur lalu membalasnya dengan menanyakan hal-hal sulit, Guan Lu menghapus semua kesulitan itu dengan kelancaran kata-katanya. Seharian mereka semua membicarakan hal-hal seperti itu tanpa beristirahat sedikitpun. Shan Zichung dan Tamunya sangat memuji kehebatan Guan Lu dan setuju dengan semua pendapatnya."

"Ketenarannya makin menyebar luas setelah kejadian itu dan orang-orang mulai memanggilnya 'Pelajar Sakti'. Ada lagi cerita megnenai Guo En, Dia adalah seorang biasa yang memiliki dua orang adik. Ketiganya kemudian menjadi lemah dan sakit2xan. Mereka memohon pada Guan Lu untuk melihat mengapa tiba-tiba mereka menjadi seperti ini. Guan Lu lalu berkata, 'Aku melihat ada hantu wanita dirumahmu, seorang bibi, istri dari salah satu kakak ayahmu. Beberapa tahun yang lalu, ketika ada bahaya kelaparan, karena untuk beberapa karung beras saja dia didorong kedalam sumur dan batu besar dilemparkan padanya sehingga menhancurkan kepalanya dan dia sangat menderita. Dia melapor kepada yang maha kuasa dan penyakitkmu sekarang ini adalah hasil dari kejahatan kalian. Tidak ada satu doapun yang akan dapat menghilangkan penyakit ini.' Ketiga bersaudara itu akhirnya menangis dan mengakui kesalahan mereka."

"Gubernur Wang Ji dari An Ping, mendengar kehebatan Guan Lu lalu segera mengundang dia untuk datang berkunjung. Pada saat itu kebetulan seorang tamu gubernur yang merupakan walikota Xin Du memiliki masalah. Istrinya mengalami sakit kepala dan anaknya memiliki sakit dibagian dadanya. Guan Lu diminta untuk melihat penyebabnya karena sudah puluhan tabib tidak dapat menolong mereka. Guan Lu lalu segera menuju kediaman walikota itu dan dia melihat kesekeliling. Dia kemudian berkata bahwa di sisi sebelah tembok sebelah barat terkubur mayat dua orang pendekar, yang satu memegang tombak dan yang lainnya memegang panah. Sipemegang tombak mati karena kepalanya terjepit dan sipemanah mati karena jantungnya tertusuk pedang. Kemudian mereka menggali ditempat yang ditunjukan oleh Guan Lu, disana mereka menemukan ada dua sosok mayat persis seperti yang digambarkan oleh Guan Lu. Keduanya telah lama meninggal, Guan Lu lalu memerintahkan agar kedua tulang belulang tadi dipindahkan dan dikuburkan sejauh 5 Li dari tempat itu. Segera setelah itu Istri dan anak walikota itu tidak merasakan sakit lagi."

"Ada juga cerita mengenai Zhuge Yuan, seorang walikota dari Guan Tao. Dia baru dipromosikan menjadi gubernur dan sedang akan berangkat menuju tempat barunya. Ketika perayaan pelepasan kepergiannya, salah seorang tamunya berkata padanya bahwa Guan Lu dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat manusia. Gubernur ragu akan kemampuannya dan dia berkata akan mengujinya. Dia mempunyai sebutir telur, Sarang Lebah dan juga laba2x. Dia memerintahkan prajurit menyembunyikan ketiga barang itu didalam 3 kota terpisah. Dia bertanya pada Guan Lu untuk menebak isi dari kotak2x itu. Guan Lu menjawab tantangan ini dengan puisi yang terdiri dari 3 kalimat. Arti dari 3 kalimat puisi itu bermakna tepat dengan ketiga barang yang disembunyikan tadi.

"Guan Lu berkata, 'Karena engkau menyembunyikan 3 benda itu maka jawabanku juga tersembunyi dalam 3 kalimat ini.' Para Tamu disana sangat terkejut dengan kepandaian Guan Lu ini."

"Seorang wanita tua kehilangan seekor sapinya, dia datang pada Guan Lu untuk meminta petunjuk. Setelah bersemedi sesaat, dia berkata bahwa ada 7 orang pria yang membawa sapinya dan sekarang sedang memasak dan memakannya ditepi sungai. Wanita itu segera pergi secepatnya ketempat yang ditunjukan dan dia melihat bahwa 7 orang sedang memasak sapinya itu. Dia lalu melapor pada gubernur Liu Bin yang segera menangkap ke 7 orang itu dan menghukumnya. Lalu gubernur bertanya bagaimana wanita tua itu mengetahui siapa yang mencuri sapinya. Wanita itu lalu menceritakan bahwa Guan Lu lah yang memberitahukannya."

"Gubernur Liu Bin tidak percaya, dia segera mengirim orang mencari Guan Lu dan memberikan test padanya. Dia menaruh simbol penugasannya dan juga bulu angsa didalam sebuah kotak dan dia menanyakan apa isi dari kotak itu”

"Guan Lu lalu berpikir sebentar dan kemudian dia mengambarkan sebuah lukisan yang didalamnya ada seekor angsa terbang membawa kotak giok berlambang Qirin. Gubernur Liu Bin memperlakukan Guan Lu dengan sangat hormat karena kehebatannya itu."

"Suatu hari Guan Lu melihat seorang pemuda sedang membajak sawah. Setelah memandanginya cukup lama, Guan Lu tiba-tiba berkata nama dan umurnya. Pemuda itu menjawab, 'Namaku Zhao Yang dan aku berusia 19 tahun. Siapakah anda tuan ? ' "

" 'Aku adalah Guan Lu, kau mungkin telah mendengar tentang diriku. Aku melihat ada hawa kematian disekitar dirimu dan hidupmu akan segera berakhir dalam 3 hari. Sungguh disayangkan kau harus meninggal begitu cepat.' "

"Zhao Yang lalu langsung melempar cangkulnya dan segera dia pulang serta memberitahukan pada ayahnya mengenai kejadian ini. Ayahnya itu segera mencari Guan Lu dan setelah bertemu dengannya, dia lalu bersujud dan memohon agar Guan Lu menyelamatkan anaknya."

" 'Bagaimana mungkin aku dapat mengubah kematian ? Itu sudah takdirnya ' Kata Guan Lu.

" 'Aku hanya mempunyai seorang putra, aku harap kau mau menolongnya, tuan.' "

"Dan anaknya pun ikut mengeluarkan air mata dan berharap pada Guan Lu untuk membantunya. Guan Lu sangat tersentuh oleh hal ini dan dia berkata pada pemuda itu, 'Kau ambilah arak dan juga makanan. Esok hari pergilah kedalam hutan diselatan, kau berjalanlah sampai kau temukan sebuah pohon besar. Disana kau akan menemukan dua orang sedang bermain catur. Satu dari mereka akan berpakaian putih dan berwajah kejam dia sedang menghadap selatan. Yang lainnya memakai pakaian warna merah dan sangat tampan, dia sedang menghadap utara. Keduanya akan sangat terlena dengan permainan mereka dan tidak akan menghiraukan siapapun yang menawarkan makanan dan minuman pada mereka. Kau harus melayani mereka dengan sangat baik. Ketika mereka telah makan dan minum, kau harus bersujud dan memohon pada mereka untuk memperpanjang usiamu. Kau akan mendapatkan perpanjangan umur, tetapi diatas segalanya, kau jangan katakan bahwa akulah yang memberitahukan padamu apa yang harus dilakukan.' "

"Ayahnya memohon pada Guan Lu untuk menginap ditempatnya dan keesokan harinya, Anaknya melakukan seperti yang diperintahkan. Dia memasuki hutan dan segera bertemu dengan dua orang berpakaian merah dan putih yang sedang bermain catur dibawah sebuah pohon yang rindang. Zhao Yang menuangkan arak dan makanan kepada kedua orang itu yang langsung meminumnya dan memakannya tetapi tidak menghiraukan Zhao Yang. Setelah selesai, Zhao Yang langsung menangis dan memohon diberikan umur panjang. kedua orang itu tiba-tiba terkejut."

" 'Ini pasti karena Guan Lu.', Kata Si Jubah Merah. 'Tetapi kita harus memberikan imbalan padanya karena kita telah memakan dan meminum pemberiannya.' "

"Dia yang berbaju putih lalu berdiri dan membuka kitab kehidupan dan melihat isi didalamnya."

" 'Kau berumur 19 tahun' kata si jubah putih kepada Zhao Yang. 'Kau harusnya akan meninggal esok hari. Tetapi kami akan mengganti angka satu menjadi angka 9 dalam kitab kematianmu. Kau akan meninggal pada usia 99 tahun. Jika kau kembali katakan pada Guan Lu agar tidak membuka rahasia langit sembarangan atau langit akan menghukumnya.' "

"Lalu sijubah merah juga mengeluarkan buku dan dia menambahkan jadwal pencabutan nyawa Zhao Yang menjadi 80 tahun lebih lama. Tiba-tiba angin kencang bertiup dan kedua orang itu menjadi burung yang terbang keangkasa. Zhao Yang kembali kerumah dan menceritakan apa yang terjadi. Guan Lu memberitahu bahwa sijubah merah adalah Dewa Bintang Selatan dan sijubah putih adalah Dewa Bintang Utara."

"'Tetapi bintang utara terdiri dari 9 bintang. dan disana hanya ada satu orang saja ?' kata Zhao Yang."

" 'Secara terpisah mereka ada 9 bintang, tetapi mereka membentuk satu kesatuan. Bintang utara mencatat jadwal kematian dan bintang selatan mencatat jadwal kelahiran. Sekarang setelah umurmu ditambahkan maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kau akan berumur panjang.' "

"Ayah dan anak kemudian berterima kasih kepadanya, tetapi setelah itu Guan Lu menjadi lebih berhati-hati dalam meramal orang karena dia dapat saja membocorkan rahasia langit."

"Sekarang dia berada di Ping Yuan dan kau, Tuan Pangeran, Kau dapat mencoba melihat nasibmu melalui dia. Kenapa kau tidak memanggilnya ?"

Cao-Cao sangat senang dan dia memerintahkan agar mengundang Guan Lu keistana. Beberapa hari kemudian Guan Lu tiba dan segera setelah salam perkenalan, Cao-Cao memohon agar Guan Lu meramal nasibnya.

Guan Lu segera menemukan penyebabnya dan berkata, "Penyakitmu ini hanya karena kekhawatiran saja. Kau tidak perlu takut, semuanya akan baik-baik saja."

Cao-Cao lalu langsung merasa lega didalam pikirannya karena sebelumnya dia menyangka terkena ilmu sihir. Kemudian Cao-Cao ingin tahu mengenai masalah kekaisaran.

Guan lu lalu menulis sebuah puisi bagi Cao-Cao. Puisinya berbunyi seperti ini

"TIGA DAN EMPAT KALI

DIMANA PASUKAN BERHENTI

BABI HUTAN KUNING AKAN BERTEMU HARIMAU

MENYEBABKAN SESEORANG KEHILANGAN BAGIAN TUBUHNYA"

Lalu Cao-Cao bertanya mengenai keturunan dan posisinya dikekaisaran.

Guan Lu sekali lagi menjawab,

"DIDALAM ISTANA SINGA

TALENTA LELUHUR DAPAT TERJAGA

JALAN PANGERAN TERBENTANG LUAS

ANAK DAN CUCUNYA AKAN MENDAPATKAN KEHORMATAN BESAR."

Lalu Cao-Cao mulai bertanya mengenai dirinya sendiri.

"Ramalah mengenai nasib alam semesta dan tiap2x orang isinya tidak untuk diketahui umum. Tunggulah dan aku akan menjelaskannya nanti."

Cao-Cao cukup senang dan dia ingin agar Guan Lu berkerja padanya. Cao-Cao lalu menawarkan jabatan sebagai Ahli Sejarah dan perbintangan di istana tetapi Guan Lu menolaknya

"Nasibku biasa-biasa saja, keberuntunganku tidaklah terlalu bagus. Aku tidak cocok untuk mendapatkan jabatan seperti itu dan tidak berani untuk menerimanya." Kata Guan Lu.

"Mengapa tidak ?" Tanya Cao-Cao.

"Dahiku tidak lebar, mataku tidak memiliki ekspresi ketegasan, hidungku tidak mancung, kakiku tidak rata. Pundakku tidak lebar dan aku tidak memiliki aura seorang yang memiliki pengaruh keduniawian. Aku hanya dapat mengatur roh2x jahat agar tidak menganggu, aku tidak dapat mengatur kehidupan manusia."

"Bagaimana menurut pendapatmu perawakanku ini ?"

"Apalagi yang tuan pangeran harapkan, tubuh anda kekar dan mata anda menunjukan wibawa. Aura wajah anda sangat berkarisma dan suara anda menandakan ketegasan. Anda memang bukan manusia biasa." Kata Guan Lu.

Cao-Cao lalu menekan dia untuk mengatakan mengenai rahasia2x langit. Tetapi Guan Lu hanya tertawa, lalu Cao-Cao bertanya padanya untuk melihat para pejabat yang berada disana.

"Mereka semua adalah sangat pantas untuk mengatur negara." Kata Guan Lu.

Tetapi Ketika Cao-Cao bertanya mengenai nasib baik dan buruk atas dirinya, Guan Lu tidak menjawabnya.

Lagi Cao-Cao bertanya mengenai Wu dan Shu.

Guan Lu berkata, "Diselatan baru saja kehilangan seorang pemimpin hebatnya dan dibarat daerahmu sedang diserang."

Cao-Cao ragu akan keakuratan ramalam ini, tetapi tidak lama kemudian datang utusan dari He Fei melaporkan ,"Lu Su, Komandan Pasukan Utama wilayah selatan telah meninggal di Lu Kou."

Lalu setelah itu utusan dari Han Zhong tiba dan berkata, "Zhang Fei dan Ma Chao telah merebut Xia Bian dan sekarang sedang menyerang daerah perbatasan Han Zhong."

Cao-Cao sangat marah dan ingin segera berangkat untuk menghalau penyerang dari Shu. Tetapi Guan Lu menasehatinya untuk tidak bergerak.

"Jangan bertindak gegabah. Dimusim semi berikutnya akan ada sesuatu hal terjadi di Xu Chang." kata Guan Lu.

Setelah membuktikan sendiri kata-kata Guan Lu, Cao-Cao tidak berani untuk menentang saran itu. Dia tetap berada di istananya, tetapi dia mengirim Cao Hong dengan 50.000 prajurit untuk pergi ke Han Zhong, sementara Xiahou Dun dengan 30.000 prajurit dikirim ke Xu Chang untuk berjaga-jaga di Xu Chang. Dia menempatkan Menteri Tinggi Wang Bi sebagai komandan pasukan kekaisaran.

Sima Yi menasehati Cao-Cao mengenai Wang Bi ini, dia berkata, "Orang ini sangat suka dengan arak dan juga pemalas. Dia bukanlah orang yang tepat untuk tugas menjaga istana kaisar."

Cao-Cao menjawab, "Dia sangat cocok. Dia telah mengikutiku melalui banyak kesusahan dan bahaya. Dia juga setia dan cakap, dia kokoh seperti batu atau besi."

Wang Bi ditunjuk menjadi komandan 10.000 prajurit dan dia berkemah di ibu kota, didepan gerbang timur dari istana kaisar.

Di Xu Chang ada seseorang bernama Geng Ji, seorang yang berasal dari Luo Yang. Dia telah lama berkerja di Istana Perdana Menteri. Kemudian dia mendapat promosi sebagai menteri negara. Dia dan Menteri Wei Huang adalah sahabat dekat.

Keduanya sangat tidak setuju atas pengangkatan Cao-Cao menjadi Pangeran Wei dan lebih lagi gelar2x kehormatan kaisar yang diberikan pada Cao-Cao. Pada bulan ke 1 tahun ke 23 masa Jian An atau tahun 28 masa pemerintahan kaisar Xian (218 M), Geng Ji dan Wei Huang saling bertukar pandangan secara rahasia mengenai pandangan mereka atas tindakan2x Cao-Cao.

Geng Ji berkata, "Orang itu adalah pemberontak dan sangat licik, kelakuannya makin parah setiap harinya. Dia pasti bermaksud untuk menjadi kaisar, bagaimana mungkin kita yang adalah pelayan dinasti harus membantu dia menjalankan kelicikannya ?"

Wei Huang berkata," Aku memiliki teman bernama Jin Yi yang juga adalah seorang hamba dinasti Han dan musuh Cao-Cao. Dia adalah keturunan dan menteri besar Jin MiDi. Dia juga bersahabat dengan Wang Bi. Jika kita berusaha pasti kita akan berhasil mengembalikan harga diri kaisar."

"Tetapi jika dia berteman dengan Wang Bi maka dia tidak akan membantu kita !" Kata Geng Ji.

"Mari kita pergi dan tanyakan padanya." Kata Wei Huang.

Akhirnya kedua pergi menemui Jin Yi yang menerima dia di ruang pribadi dan kemudian mereka berbicara banyak.

Kata Wei Huang, "Kami tahu kau memiliki hubungan pertemanan dengan Komandan Wang Bi dan karena itu kami memohon bantuan."

"Apakah yang kalian inginkan ?"

"Pangeran Wei sebentar lagi akan menerima pengunduran diri kaisar dan dia akan menjadi kaisar. Lalu kau dan temanmu Wang Bi akan naik keposisi yang terhormat. Dan ketika saat itu tiba, kami mohon kau tidak melupakan kami dan mau merekomendasikan kami untuk suatu posisi. Kami tidak akan melupakan segala kebaikanmu saat itu."

Jin Yi langsung mengibaskan jubahnya dan dia berdiri dengan tatapan marah. Dan saat itu pelayan tiba membawakan teh untuk para tamunya itu. Dia lalu langsung menumpahkan teh2x itu.

Wei Huang lalu langsung berdiri terkejut.

"Apakah kami telah menyinggungmu tuan ?" Kata Wei Huang.

"Aku menjadi teman kalian karena kalian adalah keturunan dari orang-orang yang telah mengabdi dengan setia kepada dinasti Han. Sekarang bukannya membalas budi pada dinasti tetapi kalian ingin membantu musuh terbesar Han. Pikirmu sekarang aku masih menganggap kalian adalah teman-temanku ? Bagaimana mungkin aku akan dapat hidup didunia ini jika aku adalah teman pengkhianat ?"

"Tetapi jika ini memang takdir maka tidak ada yang akan dapat mengubahnya. Seseorang harus menerima kehendak langit." Kata Geng Ji.

Jin Yi bertambah marah, sehingga kedua tamunya itu sudah merasa yakin bahwa Jin Yi sangat setia pada dinasti. Lalu mereka mulai mengutarakan maksud sebenarnya kedatangan mereka.

Kata Mereka, "Keinginan kami yang sebenarnya adalah untuk menghancurkan pemeberontak dan kami datang untuk meminta bantuanmu atas hal itu. Apa yang kami katakan sebelumnya hanya untuk menguji kesetiaanmu."

"Apakah kalian mengira bahwa setelah leluhurku secara turun temurun memperoleh kepercayaan dan jasa dari dinasti Han maka aku akan mau mengikuti pemberontak ? Jika memang kalian, tuan2x memiliki rencana merestorasi kekaisaran maka aku mohon kalian katakan apa rencana kalian."

"Walaupun kami memiliki keinginan untuk membuktikan rasa terima kasih kami, tetapi kami kekurangan tenaga untuk menghancurkan Cao-Cao." Kata Wei Huang.

Kata Jin Yi, "Kita harus mendapatkan bantuan dari dalam dan dari luar. Jika kita dapat membunuh Wang Bi, Kita dapat menggunakan namanya dan pasukannya untuk membantu Kaisar. Dengan bantuan Liu Bei, paman Kaisar, kita pasti dapat menghancurkan Cao-Cao."

Mendengar Rencana Jin Yi, kedua yang lainnya menyatakan kesetujuannya.

"Dan aku memiliki dua teman yang akan ikut bersama dengan kita. Keduanya memiliki dendam ayah mereka yang harus dibalaskan. Kita pasti akan mendapatkan bantuan mereka." Kata Jin Yi.

"Siapakah mereka ?"

"Mereka adalah anak dari tabib Ji Ping. Mereka bernama Ji Mao dan Ji Mu. Cao-Cao menghukum mati ayah mereka terkait dengan rencana yang dijalankan oleh Dong Cheng, Ketika Dong Cheng menerima titah rahasia kaisar. Kedua anak itu berhasil kabur ketika ayahnya ditangkap, tetapi mereka secara sembunyi2x telah kembali keibu kota. Dengan bantuan mereka semuanya akan baik-baik saja."

Geng Ji dan Wei Huang sangat senang dengan hal ini dan utusan segera dikirim untuk memanggil kedua Ji bersaudara itu. Segera mereka tiba dan rencana ini diceritakan didepan mereka. Kedua Ji bersaudara itu sangat terharu dan menangis. Amarah mereka memuncak sampai kelangit dan mereka bersumpah untuk membantu kehancuran Cao-Cao.

"Pada hari ke 15 bulan pertama akan ada festival lampion dan kota akan menyala terang sekali." Kata Jin Yi, "Ucapan selamat akan terdengar disegala penjuru. Geng Ji dan Wei Huan masing2x akan memimpin pengikut2x mereka dan pergi menuju kemah Wang Bi sampai mereka melihat api dimulai, setelah itu mereka akan masuk dan membunuh Wang Bi kemudian mengikutiku kedalam istana. Kita akan meminta Kaisar untuk naik keatas menara 5 phoenix (Wu Feng), mengumpulkan para pejabatnya dan segera mengeluarkan perintah untuk menghancurkan pemberontak. Kedua saudara Ji itu akan berada ditengah kota dan mereka akan menyalakan api. Mereka akan mencoba untuk membuat penduduk membantu mereka. Mereka harus berusaha menahan bala bantuan apapun didalam kota sampai kaisar telah mengeluarkan titah dan kekacauan dibereskan. Setelah pasukan kita masuk ke Ye Jun dan menangkap Cao-Cao maka utusan harus dikirimkan untuk menemui Liu Bei, paman kaisar untuk segera datang membawa pasukannya. Kita akan memulai hal ini secepatnya dan kita akan dapat terhindar dari petaka yang menimpa Dong Cheng."

Mereka berlima bersumpah pada langit dan mereka saling mengoleskan darah pada bibir mereka sebagai tanda kesetiaan mereka. Setelah ini, masing2x dari mereka kembali kerumahnya dan menyiapkan senjata serta memanggil para pengikutnya.

Geng Jin dan Wei Huan masing2x mendapatkan 400-500 pengikut. Mereka menyebarkan cerita mengenai ekspedisi perburuan untuk menjelaskan pengumpulan massal itu.

Ketika persiapan telah selesai, Jin Yi menemui Wang Bi.

Kata Jin Yi, "Segalanya didunia ini tampak damai dan kekuasaan pangeran Wei telah menyebar keseluruh penjuru negeri. Ini adalah musim dari kesenangan dan ucapan selamat dan kau dapat mengadakan festival lampion dikota, orang-orang akan memasang lampion dan mendekorasi kota agar indah."

Akhirnya Wang Bi mengeluarkan perintah untuk mengadakan pesta lampion dikota. Malam itu bulan purnama bersinar sangat terang, bulan dan bintang sangat jelas terlihat. Orang-orang diibukota mengambil kesempatan seperti itu untuk berjalan2x ditengah kota. Pasar tetap buka sampai malam dan jalanan penuh dengan kerumunan orang-orang. Lampion2x merah digantungkan dijalan2x dan semua orang bersenang-senang.

Malam itu Wang Bi dan para bawahannya mengadakan perjamuan dikemah mereka. Kira2X setelah hampir mendekati tengah malam, mereka mendengar bunyi teriakan disekitar kemah mereka. Seorang prajurit datang melapor bahwa kebakaran terjadi dibagian belakang perkemahan mereka. Wang Bi segera keluar dan dia melihat api berkobar dibelakang perkemahannya, dia juga mendengar teriakan 'BUNUH !!' dipenjuru kemahnya. Dia berpikir bahwa para prajurit dikemahnya memberontak dan dia segera naik keatas kudanya dan segera pergi melalui gerbang selatan. Setelah sampai keluar dia melewati Geng Ji yang segera memanahnya tetapi hanya mengenai bahunya saja. Dia hampir jatuh karena terkejut tetapi berhasil masuk kedalam kota melewati gerbang barat kota. Dia menemukan bahwa dia dikejar oleh pasukan bersenjata. Jadia dia segera berhenti, turun dari kudanya dan berjalan kaki. Dia menuju rumah Jin Yi dan memgedor pintu rumahnya.

Sekarang api yang telah berkobar itu dinyalakan oleh orang-orangnya Jin Yu dan Jin Yi bersama mereka ikut menyerang kemah Wang Bi. Dirumah kediaman Jin Yi tidak ada siapapun terkecuali hanya para wanita. Ketika para wanita mendengar ada yang mengetuk pintu mereka berpikir Jin Yi telah kembali.

Istri Jin Yi mengira suaminya yang kembali, lalu sambil membuka pintu berkata, "Sudahkah kau bunuh Wang Bi itu ?"

Hal ini sangat mengejutkan, tetapi Wang Bi mengetahui bahwa temannya itu sekarang adalah musuhnya.

Segera Wang Bi menuju rumah kediaman Cao Xiu dan mengatakan padanya, "Geng Ji dan Jin Yi telah memberontak !"

Cao Xiu segera mempersenjatai dirinya, dia naik keatas kuda dan membawa 1.000 prajurit. Dia menemukan bahwa api berkobar diseluruh penjuru kota dan menara 5 phoenix sedang terbakar. Kaisar telah dilarikan dari istana, tetapi para teman dan simpatisan Cao-Cao menjaga istana dan kaisar seperti penjaga neraka.

Didalam kota banyak orang berteriak, "Bunuh Cao-Cao dan Tegakkan Dinasti Han !"

Ketika Xiahou Dun yang berkemah 5 Li jauhnya dari kota melihat nyala api, dia segera membawa 30.000 prajuritnya untuk mengepung kota. Dia juga mengirim bala bantuan kedalam kota untuk membantu Cao Xiu.

Didalam kota, pertempuran berlangsung sepanjang malam. Tidak ada anggota masyarakat yang bergabung dengan ke 5 pemberontak itu, pasukan kecil mereka akhirnya harus berusaha sendiri. Segera dilaporkan bahwa Jin Yi, Ji Mao dan Ji Mu telah terbunuh. Geng Ji dan Wei Huang berusaha lari dari kota, tetapi dia bertemu dengan pasukan Xiahou Dun yang menangkapnya. Beberapa orang yang mengikuti mereka dibunuh dengan dicincang beramai-ramai oleh para prajurit.

Ketika pertempuran telah usai, Xiahou Dun masuk kedalam kota bersama prajuritnya dan menjaga kota dan jalan2x. Dia juga menangkap seluruh anggota keluarga konspirator itu dan seisi rumah mereka. Dia lalu mengirimkan laporan kepada Cao-Cao yang memerintahkan agar Xiahou Dun menghukum mati kedua konspirator itu dan keluarga dari ke 5 konspirator yang merencanakan pemberontakan. Dia juga memerintahkan agar menangkap semua pejabat dan mengirim mereka semua ke Ye Jun untuk diinterogasi.

Xiahou Dun lalu membawa kedua konspirator utama itu ketempat eksekusi. Mereka tetap berteriak menghina Cao-Cao.

"Dalam hidup kami gagal membunuh Cao-Cao. Dalam kematian kami akan menjadi hantu gentayangan yang akan membunuh pemberontak dimana saja !"

Algojo menggunakan sisi lebar pedangnya menampar Geng Ji dimulutnya, Sehingga darah bercucuran dari mulutnya, tetapi dia tetap berteriak selama dia bisa.

Wei Huang, juga melakukan hal yang sama, dia terus menunjukan kebencian pada Cao-Cao. Algojo menghancurkan semua giginya dengan batang pedang, mereka berdua meninggal karena kebencian dan kelelahan.

Xiahou Dun lalu membunuh ke 5 anggota keluarga dan seisi rumah mereka. Totalnya mencapai lebih dari 200 orang yang dihukum mati saat itu. Mayat2x mereka digantungkan diseluruh penjuru kota dan ditengah pasar sebagai tanda peringatan bagi mereka yang ingin memberontak.

Xiahou Dun lalu mengumpulkan seluruh pejabat yang berada di Xu Chang dan semuanya dibawa ke Ye Jun. Disana Cao-Cao mendirikan dua kemah dengan bendera berwarna putih dan yang satunya berwarna merah. Dilapangan itu, dia memerintahkan agar para pejabat berbaris.

"Dalam pemberontakan kali ini, beberapa dari kalian keluar untuk memadamkan api dan sebagian dari kalian dia tetap berada didalam rumah. Mereka yang berusaha memadamkan api berdiri dikemah berbendera merah dan kalian yang tetap berada didalam rumah berdirilah dikemah berbendera putih."

Para pejabat berpikir, "Tentu tidak akan apa-apa jika kita berusaha memadamkan api," Jadi hampir sebagian besar pejabat menuju bendera merah. Hanya 1/3nya saja yang menuju bendera berwarna putih.

Lalu perintah diberikan untuk menangkap semua yang berada dibawah bendera merah.

Mereka memprotes, "Kami tidak bersalah !" teriak mereka.

Cao-Cao berkata, "Pada saat itu kau tidak ingin memadamkan api tetapi membantu pemberontak."

Dia mengirim mereka semua ketepi sungai Zhang dan memerintahkan agar mereka semua dihukum mati. Lebih dari 300 orang pejabat menjadi korban. Dia memberikan imbalan dan hadiah kepada mereka yang berada dibawah bendera putih dan mengirim mereka kembali kerumah mereka diibu kota.

Wang Bi meninggal karena luka2xnya dan dia dimakamkan dengan pemakaman untuk menteri tinggi negara.

Cao Xiu diangakat manjadi komandan pengawal kekaisaran. Zhong Yao diangkat menjadi Perdana menteri Wei, Hua Xin menjadi menteri tinggi. Pada saat itu Cao-Cao juga mengubah tatanan administrasi, dia membuat 6 tingkatan bangsawan dengan 3 divisi masing2x, sehingga totalnya ada 18 gelar bangsawan. Juga 17 tingkatan adipati besar, mereka memiliki simbol stempel emas dengan pita ungu sebagai tanda penugasan mereka. Juga ada 16 tingkat adipati menengah dan kecil, mereka memiliki simbol stempel perak dengan lambang kura2x dan juga pita hitam sebagai simbol penugasan mereka. Juga ada 5 tingkatan menteri dan masing2x ada 3 bagian jadi 15 jumlah tingkatan menteri keseluruhan. Mereka memiliki stempel tembaga dengan pita dan rantai sebagai oranamennya. Dan dengan semua ini, seluruh tingkatan kebangsawanan dan jabatan direorganisasi, istana seluruhnya direformasi. Ada jabatan dan orang-orang bari didalam istana dan semuanya kebanyakan pengikut Cao-Cao.

Cao-Cao lalu mengingat mengenai ramalam Guan Lu mengenai kejadian yang akan menimpa Xu Chang dan dia ingin memberikan Hadiah kepada Guan Lu untuk nasehatnya itu, tetapi Guan Lu tidak mau menerima hadiah apapun.

Sementara itu, dia Han Zhong, Cao Hong dgn 15.000 prajuritnya sedang bersiap-siap menghadapi penyerangan dari Shu. Dia menempatkan Xiahou Yuan dan Zhang He pada titik2x strategis, sementara dia pergi untuk menyerang. Pada saat itu Zhang Fei dan Lei Tong sudah menguasai Ba Xi. Ma Chao sedang berada di Xi Bian dan mengirim Wu Lan sebagai pasukan pendahulu untuk melihat keadaan sekitar. Dia bertemu dengan pasukan Cao Hong, dan Wu Lan segera mundur. Tetapi Jenderal Ren Kui menentang rencana ini.

Kata Ren Kui, "Pasukan musuh baru saja tiba, kenapa kita tidak melawannya ? jika kita tidak melawannya, bagaimana kita akan dapat menghadap pemimpin kita ketika kita kembali ?"

Akhirnya disetujui untuk melawan pasukan Cao Hong, Ren Kui keluar dan menantang Cao Hong. Tantangan itu disetujui dan kedua jenderal itu berduel. Cao Hong hanya membutuhkan 3 jurus saja sebelum akhirnya berhasil membunuh Ren Kui. Wu Lan akhirnya dapat dikalahkan dan dia segera kembali untuk melapor pada Ma Chao. Ma Chao menyalahkannya.

"Kenapa kau menyerang tanpa perintah dan akhirnya sekarang kau kalah ?"

"Ini adalah salah Ren Kui, Dia memaksa untuk menyerang."

"Jagalah jalan ini dan janganlah keluar menyerang." Perintah Ma Chao.

Ma Chao mengirim laporan keibu kota Cheng Du dan menunggu perintah selanjutnya. Cao Hong menduga Ma Chao memiliki siasat setelah lama tidak ada pergerakan pasukan. Ditambah lagi dengan pengalaman2x tidak enak sebelumnya bahwa dia selalu terjebak strategi Zhuge Liang maka dia memutuskan untuk mundur ke Nan Zheng.

Di Nan Zheng dia bertemu dengan Zhang He yang bertanya, "Jenderal mengapa kau mundur setelah mendapatkan kemenangan dan membunuh jenderal musuh ?"

"Aku melihat Ma Chao tidak bergerak dan aku menduga ada sebuah siasat yang dijalankan." Jawab Cao Hong, "Lagipula, ketika aku berada di Ye Jun, Guan Lu telah mengatakan bahwa disini akan ada pemimpin yang tewas. Aku mengingat apa yang dikatakannya dan aku berhati-hati."

Zhang He tertawa, "Kau telah menjadi Panglima, 1/2 dari hidupmu kau habiskan dimedan perang dan kau masih mendengarkan omongan seorang peramal ! Aku mungkin kurang bijaksana, tetapi aku akan mencoba merebut Ba Xi dengan pasukanku dan penguasaan Ba Xi akan menjadi kunci penguasaan seluruh Shu."

"Panglima yang mempertahankan Ba Xi adalah Zhang Fei, Dia bukanlah manusia biasa yang umum kau temui. Dia lebih kuat dari 10.000 prajurit. Kau harus berhati-hati bila berhadapan dengannya."

"Yang kau takutkan hanyalah Zhang Fei, Aku tidak takut padanya. Aku menganggap dia bukanlah siapa-apa. Aku akan menangkapnya kali ini."

"Bagaimana jika kau gagal ?"

"Maka aku akan menerima hukuman sesuai dengan hukum militer."

Cao Hong meminta dia untuk menuliskan janjinya itu diatas sebuah kertas dan kemudian Zhang He membawa pasukannya untuk menyerang Ba Xi.

BAB 70

Pasukan Zhang He yang berjumlah 30.000 prajurit segera bergerak. Dia membaginya dalam 3 kelompok yang masing berkemah dia Dang Qu, Meng Dou, Dang Shi. Ketiga Tempat itu sangat strategis karena terlindungi oleh bukit2x disisi2xnya. Sementara itu dia mempersiapkan pasukannya untuk menyerang posisi Zhang Fei. Dia meninggalkan 1/2 dari pasukannya di tiap2x kemah.

Kabar mengenai ini sampai pada pasukan Shu yang berada di Ba Xi. Zhang Fei segera berdiskusi dengan Lei Tong untuk melawan serangan ini.

"Daerah ini sangatlah berbukit dan banyak tempat2x berbahaya terutama disekitar Lang Zhong. Kita dapat menyiapkan jebakan dan penyergapan. Kau, Jenderal akan keluar untuk melawan dan aku akan membantumu dengan menyerang mereka tiba-tiba dari tempat persembunyianku. Dengan begitu kita akan mendapatkan Zhang He."

Segera Zhang Fei memberi 5.000 prajurit pada Lei Tong dan dia sendiri membawa 10.000 prajurit segera keluar menuju daerah dekat Lang Zhong. Setelah mengatur formasi pasukan mereka, dia segera keluar dan menantang Zhang He untuk berduel. Zhang He keluar dari barisannya untuk melawan dia.

Tetapi Ketika Zhang He sedang Maju Kedepan Barisannya, dia kemudian melihat bahwa pasukan dibarisan belakang sendang mengalami kekacauan. Hal ini disebabkan ada pasukan Shu yang menyerang barisan belakang pasukannya, Zhang He tidak jadi berduel dengan Zhang Fei dan dia segera berusaha untuk mengatur kembali pasukannya. Zhang Fei segera maju dan mengejar dia. Lei Tong juga berhasil menerobos ketengah pasukan Zhang He dan sekarang Zhang He terjepi diantara dua pasukan musuh. Zhang Fe bertempur dengan gagah berani dan dia berhasil membunuh banyak sekali prajurit Shu, tetapi posisi pasukannya sudah sangat kritis dan dia tidak dapat mempertahankannya lagi. Dia segera kabur menuju Kemahnya di Dang Qu.

Zhang Fei dan Lei Tong terus mengejar Zhang He menuju kemahnya, tetapi Karena lokasi perkemahan itu ada diatas bukit maka mereka sulit sekali menyerangnya ditambah Zhang He memerintahkan pasukannya untuk melepaskan anak panah dan melemparkan batu serta gelondongan kayu untuk menghalau mereka. Zhang Fei akhirnya mundur dan berkemah sejauh 5 Li dari tempat itu.

Keesokan harinya Zhang Fei manantang bertempur tetapi Zhang He tidak menghiraukannya. Zhang He naik keatas bukit dan disana dia meminum arak sambil diiringi pemain musik. Zhang Fei memerintahkan agar para prajuritnya memaki-maki Zhang He, tetapi Zhang He tidak menghiraukannya. Kemudian Lei TOng diperintahkan untuk mencoba menyerang kemah di Dang Qu tetapi lagi2x berhasil dihalau dan kali ini, pasukan Zhang He dari Kedua kemah yang lain datang untuk menyerang dan Lei Tong pun terpaksa mundur.

Esok harinya kembali Zhang Fei menantang bertempur, tetapi tidak ada jawaban. Lagi para prajurit melontarkan makian, tetapi Zhang He dari atas bukit dibelakang perkemahannya juga memerintahkan pasukannya untuk memaki Zhang Fei. Dan hal ini berlangsung selama 15 hari lebih.

Lalu akhirnya Zhang Fei membangun benteng kecil didepan perkemahan Zhang He, dan disana dia meminum arak setiap hari sampai menjadi mabuk dan setelah itu dia lalu memaki-maki pada Musuhnya itu.

Zhuge Liang lalu berkata, "Karena begitu maka marilah kita kirimkan 50 Guci Arak besar yang terbaik di Cheng Du kepadanya. Dia mungkin hanya mempunyai beberapa arak kurang baik digaris depan sanan."

"Tetapi dia selalu terlena ketika minum arak, dan dia sering gagal karena hal itu. Tetapi sekarang kau malah menyemangatinya untuk meminum arak dengan mengirimkannya lebih banyak lagi arak, bisakah kau jelaskan kenapa ?"

"Tuanku, Apakah kau masih tidak mengerti mengenai saudaramu ini setelah bertahun2x kalian bersama? Dia sangat berani dan gagah, tetapi ketika pertama kali kita menyerang daerah barat ini, dia melepaskan Yan Yan, yang artinya bahwa dia tidak sekedar berani saja. Dia sekarang sedang berhadap-hadapan dengan pasukan Zhang He, dan sudah hampir dua bulan pertempuran tidak mengalami kemajuan, dan setiap hari dia minum arak dan menghina musuh. Dia sebenarnya memiliki suatu rencana, jadi ini bukan masalah secangkir arak saja tetapi ada hal yang lebih dalam lagi untuk dapat menaklukan pasukan Zhang He dan Adikmu itu sudah memikirkannya."

"Hal ini mungkin benar, Tetapi lebih baik kita mengirim Wei Yan untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi."

Lalu Zhuge Liang mengutus Wei Yan bersama arak2x itu untuk membawanya kepada Zhang Fei digaris depan.

Ketika Wei Yan tiba, dia lalu menyerahkan arak2x itu. Dia mengatakan bahwa arak2x itu diberikan oleh Liu Bei dan Zhang Fei menerima pemberian itu dengan penuh hormat.

Pada saat ini Liu Bei sedang mengirim hadiah bagi pasukan Zhang Fei, dan ketika utusan itu kembali dia menceritakan pada Liu Bei bahwa Zhang Fei setiap hari meminum arak. Hal ini membuat Liu Bei sangat khawatir, sehingga dia langsung meminta saran dari Zhuge Liang.

Zhang Fei memerintahkan pada Wei Yan da Lei Tong untuk masing2x membawa 1000 prajurit dan segera menyebar untuk membentuk formasi di sayap2x perbentengan Zhang Fei. Keduanya diperintahkan untuk bersiap menggerakan pasukan apabila melihat bendera merah. Kemudian dia memamerkan arak2x itu didepan bentengnya dan dia memanggil beberapa orang prajuirit untuk ikut minum bersamanya. Dia juga memerintahkan prajurit memukul genderang perang dan mengibarkan panji2x perang dan bendera.

Mata-mata musuh melaporkan apa yang terjadi dan kemudian Zhang He keluar untuk melihatnya sendiri. Disana dia melihat Zhang Fei sedang minum-minum arak dan juga ada dua orang prajurit saling berduel hanya untuk menghibur Zhang Fei.

"Dia terlalu meremehkanku." Kata Zhang He.

Dan Zhang He menurunkan perintah agar pasukannya bersiap untuk menyerang musuh pada malam hari. Seluruh pasukan dari ketiga kemah itu bergabung dalam penyerangan malam hari itu.

Malam itu bulan hanya tampak sebagian dan Zhang He mengambil kesempatan itu untuk menuruni bukit secara diam2x. Dia bergerak sampai cukup dekat dengan perkemahan musuh, dia melihat Zhang Fei duduk ditengah2x perkemahannya disamping api ungun dan meminum arak. Lalu tiba-tiba Zhang He menerjang maju bersama pasukanya dan mengeluarkan teriakan yang mengemparkan keheningan malam itu, dan kemudian dari atas bukit terdengar bunyi genderang perang yang mengetarkan langit malam itu. Zhang Fei tidak bergerak dan masih saja meminum araknya. Lalu Zhang He langsung maju dan menusukan tombaknya pada Zhang Fei. Ternyata itu bukanlah Zhang Fei melainkan hanyalah boneka dari jerami. Zhang He terkejut dan dia menyadari bahwa dia masuk dalam perangkap, pada saat itu tiba-tiba terdengar lagi suara gemuruh pasukan dan dari balik perkemahan Zhang Fei itu muncul pasukan dengan Seorang pemimpin berbadan besar dan memegang tombak dengan ujung tombak berbentuk ular.

Dengan tombaknya itu Zhang Fei maju dan menyerang pasukan Zhang He. Banyak sekali pasukan Zhang He yang tewas malam itu, kepanikan mulai melanda barisan tengah pasukan Zhang He ketika Zhang Fei mencoba mencari jalan mendekati Zhang He. Zhang He yang melihat hal ini mencoba melawan Zhang Fei, Kedua jenderal itu akhirnya bertemu digerbang perkemahan dan mereka bertarung. Baru beberapa jurus mereka bertarung lalu dia mendengar ada prajuritnya yang berteriak bahwa Lei Tong dan Wei Yan telah menguasai perkemahan mereka. Zhang He yang tahu bahwa kondisinya sekarang sudah sangat terdesak dan tdk ada yang membantu segera menyudahi pertarungannya dengan Zhang Fei dan dia berusaha mencari tempat aman, dia menuju benteng di Wakou. Malam itu kemenangan sepenuhnya adalah milik Zhang Fei.

Berinta mengenai kemenangan ini menyenangkan hati Liu Bei dan dia tahu bahwa Aksi minum-minum Zhang Fei hanyalah merupakan bagian dari strategi untuk mengelabui musuh.

Zhang He akhirnya berhasil sampai di Benteng Wakou, tetapi pasukannya yang tersisa kurang dari 7.000 prajurit dengan 3.000 diantara terluka. Dia segera memerintahkan agar gerbang benteng ditutup rapat2x dan memerintahkan untuk bertahan dan tidak menyerang. Dia juga kemudian mengirimkan pesan darurat kepada Cao Hong untuk meminta bantuan.

Cao Hong sangat marah dan berkata, "Dia tidak mentaati perintahku dan dia mengerahkan pasukannya. Dia telah kehilangan tempat penting dan sekarang menginginkanku untuk membantunya !"

Dia menolak untuk membantu dan memaksa Zhang He untuk keluar dan bertarung dengan Zhang Fei, Tetapi Zhang He terlalu takut.

Setelah cukup lama akhirya Zhang He memutuskan sebuah rencana, Dia mengirim dua kelompok pasukan untuk melakukan penyergapan dan berkata pada mereka, "Aku akan berpura-pura kalah dan kabur. Mereka pasti akan mengikuti, dan kalian dapat menyeang mereka dari belakang dan memotong jalan mundur mereka."

Segera dia keluar dari bentengnya dan dia bertemu dengan pasukan Lei Tong. Keduanya terlibat pertempuran dan Zhang He berpura-pura kalah dan mundur. Lei Tong mengejarnya dan masuk dalam perangkap musuh. Kemudian Zhang He kembali dan menyerang Lei Tong dari depan dan belakang. Dalam pertempuran itu Lei Tong berhasil terbunuh dan hampir seluruh pasukannya juga ikut terbnuh dan tertangkap musuh. Beberapa prajurit yang berhasil kembali menceritakan pada Zhang Fei mengenai kejadian ini. Hal ini membuat Zhang Fei membawa pasukannya dan menantangnya bertempur, Zhang He mencoba lagi strategi sebelumnya tetapi kali ini Zhang Fei tidak mengejarnya. Berkali2x hal ini dilakukan tetapi Zhang Fei yang megnetahui jebakan ini tidak pernah mengejarnya.

Dia berkata pada Wei Yan, "Zhang He telah menyebabkan kematian Lei Tong dengan menariknya kedalam jebakan dan dia ingin melakukan hal yang sama padaku. Bagaimana pendapatmu jika kita melakukan hal yang sama padanya ?"

"Tetapi bagaimana kita akan melakukan hal itu ?" Tanya Wei Yan.

"Esok hari aku akan memimpin pasukanku maju, kau akan mengikutiku dengan pasukanmu. Ketika pasukannya keluar dari tempat persembunyian untuk menyergapku, kau muncul dari belakang mereka dan menghancurkannya. Saat itu Zhang He pasti akan kabur melewati jalan setapak dan kita akan memasang bahan2x peledak dijalan itu. Ketika mereka melewati tempat itu kita akan membakar mereka dan kali ini kita akan menangkap Zhang He dan membalaskan dendam Lei Tong."

Akhirnya rencana itu dijalankan dan Zhang Fei segera keluar membawa pasukannya, Zhang He juga keluar dan melakukan taktik seperti biasanya. Kali ini Zhang Fei mengejar Zhang He yang berpura-pura kabur. Ketika sampai ke tepi sebuah bukit tiba-tiba dari belakang Zhang Fei muncul pasukan Zhang He yang bersembunyi dan pasukan Zhang He muncul kembali dari depannya. Tetapi ketika hal ini terjadi, pasukan Wei Yan juga tiba dibelakang pasukan yang bersembunyi tadi dan dengan mudah menghancurkannya. Kemudian Zhang He yang melihat hal ini segera mengetahui bahwa rencananya telah gagal, pasukannya pun telah banyak yang lari melalui jalan kecil untuk menyelamatkan diri, tetapi tiba-tiba api menyala dan seluruh jalan itu terbakar. Zhang He dan sebagian kecil pasukannya beruntung masih bisa selamat dan mereka kembali ke dalam bentengnya. Disana dia menutup pintu rapat2x dan hanya bertahan saja.

Zhang Fei dan Wei Yan berusaha untuk menyerang benteng tersebut tetapi selalu gagal, hal ini telah berlangsung selama berhari-hari. Zhang Fei melihat bahwa tidak mungkin dia dapat merebut benteng ini jika hanya menyerang dengan kekuatan saja. Dia segera memundurkan pasukannya sejauh 15 Li dan berkemah disana. Dia kemudian memerintahkan agar Wei Yan melakukan pengamatan terhadap daeerah sekitar benteng Wukou, kemudian dia melaporkan bahwa dia melihat banyak orang mengangkut kayu bakar dan juga rerumputan kering disekitar daerah itu.

"Inilah dia jalan untuk merebut benteng itu." kata Zhang Fei.

Dia memerintahkan agar prajuritnya untuk tidak menakuti rakyat, dia juga meminta agar beberapa dari mereka dibawa menghadap. Segera beberapa orang dibawa menemuinya.

"Darimanakah kalian berasal ?" Tanya Zhang Fei.

"Kami berasal dari Han Zhong dan akan kembali pulang. Kami mendengar bahwa kau sedang bertempur dan jalan besar menuju Lang Zhong ditutup. Jadi kami harus melewati Tebing Kabut dan Gunung ZiTong serta melintasi Sungai GuiJin. Kami akan pulang menuju rumah kami di Han Zhong."

"Dapatkah kau tunjukan jalan untuk melewati Benteng WaKou dan berapa jauhkan jalan itu ?"

Orang itu menjawab, "Ada sebuah jalan kecil yang akan mengantarkanmu tiba dibelakang benteng itu, kau harus melintasi kaki gunung ZiTong."

Zhang Fei kemudian berterima kasih kepada mereka dan menghadiakan pada mereka makanan lezat dan sedikit emas. Kemudian dia memerintahkan agar Wei Yan melakukan serang frontal terhadap benteng itu, sementara dia bersama 500 pasukan berkuda melewati jalan kecil dan tiba dibelakang benteng tersebut.

Zhang He sangat sedih dan kecewa karena Cao Hong tetap menolak memberinya bantuan, dan berita mengenai penyerangan Wei Yan menambahkan kekhawatirannya. Dia segera mengenakan jubah perangnya dan sedang akan bertempur keluar ketika dilaporkan bahwa ada pasukan musuh menyerang dari belakang benteng. Dia kemudian segera membawa pasukannya untuk melawan musuh yang berada dari belakang, tetapi dia terkejut bahwa ternyata yang dihadapinya adalah Zhang Fei. Prajurit Zhang He berjatuhan seperti daun dimusim gugur. Zhang He sangat ketakutan dan dia segera kabur melalui jalan kecil.

Tetapi kudanya yang kelelahan tidak dapat berlari lebih cepat lagi dan Zhang Fei terus mengejar. Akhirnya dia bersama sekitar 10 orang pengikutnya segera meninggalkan kuda2x mereka dan memanjat tebing untuk kabur. Mereka kabur ke arah Nan Zheng. Disana dia menemui Cao Hong dan Cao Hong sangat marah dengan kekalahan ini.

"Aku telah mengatakan padamu agar kau tidak pergi, tetapi kau memaksa. Dan kau telah menuliskan janjimu diatas kertas ini. Sekarang kau telah kehilangan seluruh prajuritmu, tetapi kau tidak membunuh dirimu sendiri. Masih beranikah kau menghadap Tuan Kita ?"

Cao Hong memerintahkan agar prajuritnya untuk menghukum mati Zhang He, tetapi penasehat Guo Hai memohon pengampunan untuk Zhang He.

"Pasukan lebih mudah untuk dibangun kembali, seorang pemimpin sangatlah sulit untuk ditemukan. walaupun Zhang Bersalah, tetapi dia adalah salah satu jenderal terbaik Wei. Aku pikir sebaiknya kau mengampuninya dan memberikan dia kesempatan kedua untuk merebut Benteng di Jia Meng. Jika dia gagal melaksanakan tugas ini kau dapat menghukumnya untuk dua kesalahan tersebut."

Cao Hong cukup puas dengan saran ini dan dia membatalkan hukuman mati tersebut, sebagai gantinya Zhang He diberikan 5.000 prajurit untuk merebut Benteng di Jia Meng.

Komandan yang menjaga benteng tersebut adalah Meng Da dan Huo jun. Mereka berselisih pendapat bagaimana menghadapi Zhang He ini. Meng Da menginginkan untuk bertempur melawan Zhang He tetapi Huo Jun lebih ingin bertahan didalam benteng. Meng Da akhirnya mencoba membawa pasukannya dan keluar menghadapi Zhang He, tetapi dia berhasil dikalahkan. Huo Jun segera melaporkan hal ini ke ibukota dimana Liu Bei segera memanggil Zhuge Liang untuk dimintai sarannya. Zhuge Liang lalu memanggil semua pejabat dan jenderal ke istana di Cheng Du.

"Daerah Jia Meng berada dalam bahaya. Kita harus meminta Zhang Fei untuk meninggalkan Lang Zhong untuk menghalau Jia Meng." Kata Zhuge Liang.

Fa Zheng berkata, "Zhang Fei berkemah di Wa Kou dan LangZhong juga sangat penting sepenting Jia Meng. Aku pikir kita lebih baik tidak memanggilnya. Pilihlah salah satu jenderal yang ada untuk menghadapi Zhang He."

Zhuge Liang tertawa, "Zhang He sangatlah terkenal di Wei. Tidak ada jenderal biasa yang dapat melawannya. Zhang Fei adalah satu2nya orang yang mampu menghadapinya."

Lalu diantara para jenderal ada yang sedikit gusar mendengarnya dan dia berkata, "Jian Shi, Kenapa kau tidak memilihku ? Aku akan mengunakan kekuatanku ini untuk mengalahkan musuh dan membawa kepalanya yang akan kuletakan dibawah kakimu."

Orang itu adalah Jenderal Veteran Huang Zhong, dan semua mata memandangnya.

"Jenderal Huang Zhong, Kau memang sangatlah pemberani tetapi bagaimana dengan usiamu ? Aku khawatir kau akan kelelahan."

Huang Zhong lalu berkata, "Aku tahu aku telah tua, tetapi kedua tangan ini masih sanggup untuk menarik panah yang paling besar dan pedang yang paling berat. Apakah aku tidak cukup kuat untuk melawan Zhang He ini ?"

"Jenderal, kau berusia hampir 70 tahun. Masih mampukah kau menghadapi peperangan ini ?"

Huang Zhong segera mengambil sebuah pedang besar dan dia mengunakannya seolah2x benda itu hanylah sepotong kain. Dan juga dia mengambil sebuah panah besar dan dia menarik panah itu hingga putus.

"Baiklah jika kau memang ingin pergi, siapakah yang akan kau bawa sebagai wakilmu ?" Tanya Zhuge Liang.

"Aku ingin Jenderal Yan Yan utuk menemaniku. Dan jika masih ada yang tidak puas maka ambilah kepala tua ini sebagai jaminan."

Liu Bei sangat puas dengan hal ini dan dia mengijinkan keduanya untuk pergi, tetapi tiba-tiba Zhao Yun memprotes keputusan ini.

"Zhang He adalah jenderal hebat, jadi pertempuran ini bukanlah mainan anak2x dan hilangnya daerah Jiameng akan mengancam seluruh daerah Shu. Aku rasa ini bukanlah tugas yang tepat untuk diserahkan kepada dua orang kakek2x ini."

Jawab Zhuge Liang, "Kau mungkin berpikir bahwa mereka berdua sudah terlalu tua untuk berhasil dalam peperangan ini tetapi aku pikir keselamatan Han Zhong bergantung pada kedua orang ini."

Zhao Yun dan yang lainnya sedikit meremehkan kedua jenderal tua itu. Mereka tidak setuju dengan Zhuge Liang.

Segera kedua jenderal tua itu tiba di Benteng Jia Meng.

Meng Da dan Huo Jun yang melihat kedatangan mereka segera tertawa didalam hati mereka”Zhuge Liang telah salah perhitungan dalam hal ini, dia mengirimkan dua orang kakek2x dalam tugas sepenting ini."

Huang Zhong berkata pada Yan Yan, "Kau lihat kelakuan orang-orang ini ? Mereka mentertawakan kita karena usia kita yang sudah tua. Sekarang kita akan melakukan sesuatu yang akan membuat seluruh dunia kagum."

"Aku siap untuk mendengar perintahmu," Jawab Yan Yan.

Kedua jenderal itu segera membuat perencanaan. Huang Zhong lalu memipin pasukannya untuk menemui Zhang He dipadang rumput terbuka. Keduanya mengatur formasi pasukannya. Ketika Zhang He mendekat dan dia melihat seorang tua renta sebagai lawannya, dia segera tertawa keras sekali sampai terdengar keseluruh lembah.

"Kau pasti sudah sangat tua, dan kau masih tidak malu untuk menghadapiku di dalam pertempuran ini ?" Kata Zhang He.

"Kau bocah keparat !! Kau menghinaku karena usiaku ? Kau akan melihat bahwa Pedangku masih cukup tajam untuk menebas kepalamu itu."

Huang Zhong lalu segera memacu kudanya dan segera bertempur dengan Zhang He. Kedua orang ini saling beradu ilmu. Kira2x setelah bertarung 10 jurus, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari belakang pasukan Zhang He. Yan Yan membawa pasukannya untuk menyerang Zhang He dari belakang, akhirnya karena terdesak pasukan dari dua arah maka Zhang He terpaksa mundur. Pengejaran tetap dilakukan sampai sejauh 60 Li dan itu berlangsung sampai malam tiba. Puas dengan keberhasilan ini, Huang Zhong dan Yan Yan pergi kekemah mereka. disana dia memerintahkan agar pasukannya beristirahat.

Ketika Cao Hong mendengar kekalahan Zhang He, dia ingin segera memerintahkan hukuman mati. Tetapi Guo Hai memberikan nasehatnya.

"Jika kita menekannya terlalu keras, maka dia akan pergi ke Shu. Lebih baik kau bantu dia. Sehingga kita dapat mengawasinya dan mencegah desersinya."

Segera Xiahou Shang dan Han Hao dikirim dengan bala bantuan. Xiahou Shang adalah keponakan Xiaohou Dun dan Han Hao adalah adik dari Han Xuan, mantan gubernur ChangSha. Mereka membawa 5.000 prajurit.

Kedua jenderal itu kemudian segera sampai diperkemahan Zhang He dan bertanya mengenai situasi terkini.

"Orang tua itu benar-benar seorang pendekar tangguh dan dengan bantuan Yan Yan dia sangatlah kuat." Jawab Zhang He.

"Ketika aku berada di ChangSha, aku mendengar bahwa ada seorang tua yang sangat gagah berani. Dia dan Wei Yan menyerahkan kota itu pada Liu Bei dan membunuh kakakku. Sekarang aku akan bertemu dengannya dan membalaskan dendam ini." kata Han Hao.

Dia dan Xiahou Shang lalu segera memimpin tentara.

Sekarang, Huang Zhong melalui mata2xnya mengetahui mengenai keadaan dan topografi daerah ini.

Yan Yan berkata, "Didaerah pegungungan di timur ada sebuah gunung bernama Gunung Tian Dang dimana Cao Hong menyimpan persediaan mereka. Jika kita dapat merebut tempat itu maka kita akan dapat membuat pasukan musuh kehilangan semangat."

Huang Zhong menjawab, "Saranmu sangat baik, kita akan menyerang tempat itu segera."

Yan Yan setuju dan bersama Huang Zhong dia membawa pasukan.

Dalam perjalanan mereka bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Han Hao dan Xiaohao Shang, Han Hao melihat lawannya adalah Huang Zhong langsung maju kedepan dan berkata, "Kau bajingan tua tak tahu malu !!!"

Lalu kemudian dia memecut kudanya dan mengarahkan tombaknya pada Huang Zhong. Xiaohao Shang juga maju dan mereka bertiga berduel hingga 50 jurus sebelum akhirnya Huang Zhong mundur. Mereka berdua mengejarnya hingga 15 Li, mereka kemudian juga merebut perkemahannya. Keesokan harinya mereka bertempur lagi dan akhirnya Huang Zhong mundur kembali dan kali ini mereka berdua berhasil merebut kembali perkemahan Huang Zhong. Mereka kemudian memanggil Zhang He untuk menjaga perkemahan2x yang telah mreka rebut. Ketika Zhang He tiba dia memberi saran agar mereka tidak melanjutkan mengejar Huang Zhong.

"Huang Zhong telah mundur selama 2 hari berturut2x. Aku yakin pasti ada strategi besar dibalik semua ini."

Xiahao Shang mencibir dan berkata, "Kau sungguh2x pengecut sehingga berhasil dikalahkan berkali-kali. Sekarang kau tidak perlu berkata apa-apa lagi dan biarkan kami melakukan sesuatu yang berguna."

Zhang He akhirnya diam saja dan dia pun pergi. Keesokan harinya Kedua jenderal itu sekali lagi membawa pasukannya untuk bertempur dan sekali lagi Huang Zhong mundur. Huang Zhong mundur sampai kedalam benteng di JiaMeng. Pasukan Wei mengejarnya sampai kedepan gerbang benteng tersebut.

Kemudian Meng Da secara rahasia menulis surat kepada Liu Bei mengenai keadaan Huang Zhong ini yang sekarang sedang bersembunyi didalam benteng dan tidak dapat keluar.

Liu Bei segera khawatir dan dia mendiskusikan hal ini pada Zhuge Liang yang berkata, "Jenderal Tua itu sedang membuat musuh sangat yakin dan hal itu akan membuat mereka hancur."

Tetapi Zhao Yun dan yang lainnya tidak begitu percaya hal ini dan Liu Bei memutuskan untuk memerintahkan Liu Feng membawa 5.000 prajurit membantu jenderal Huang Zhong.

Liu Feng sampai didalam benteng dan menemui Huang Zhong yang bertanya, "Jenderal Liu, Mengapa kau datang kemari ?"

"Ayahku mendengar bahwa kau telah menderita kekalahan dan sekarang sedang bertahan dibenteng ini. Dia memerintahkanku untuk membawa pasukan menolongmu."

"Tetapi kekalahanku ini hanyalah sebuah taktik," Kata Huang Zhong sambil tersenyum, "Kau akan mengerti setelah kau melihat pertempuran malam ini. Dengan satu serangan aku akan mendapatkan seluruh kemah dan persediaan mereka serta kuda2x. Aku hanya meminjamkan perkemahanku agar mereka dapat menyimpan barang-barang mereka disana. Malam ini aku akan meninggalkan Huo Jun untuk menjaga benteng sementara Jenderal Meng Da akan mengumpulkan hasil jarahan. Sedangkan kau tuan muda, kau akan melihat kehancuran total musuh."

Pada malam itu juga, Huang Zhong membawa 5.000 prajurit meninggalkan benteng. Xiahou Shang dan Han Hao yang merasa sudah diatas angin menjadi ceroboh dan tidak mengetahui hal ini. Tiba-tiba Pasukan Huang Zhong menyerang mereka secara tiba-tiba dan mereka tidak mampu bertahan. Banyak pasukan Wei yang saat itu tertidur dan mereka tidak mengenakan jubah perang mereka ataupun senjata mereka. Malam itu pembantaian besar2xan terjadi dikemah pasukan Wei. Xiahou Shang dan Han Hao segera melarikan diri dan para prajurit mereka yang kacau balau tidak lagi mengenal siapa kawan dan lawan, mereka saling membunuh satu sama lain. Pada pagi harinya ketiga perkemahan itu telah berhasil direbut kembali oleh Huang Zhong dan juga banyak sekali perlengkapan perang, senjata dan juga makanan yang berhasil direbut. Kuda2x dan juga para prajurit wei banyak yang tertangkap, seluruh hasil pampasan perang ini dibawa oleh Meng Da dan disimpan di benteng Jia Meng.

Huang Zhong lalu memerintahkan pasukannya untuk terus maju, Tetapi Liu Feng menasehati, "Pasukan kita memerlukan istirahat."

"Dapatkah Kau mendapatkan anak harimau tanpa masuk kesarangnya ?(bu ru hu xue yan de hu zi, Satu lagi frase terkenal dalam bahasa mandarin)" Kata Huang Zhong. Dan dia lalu memerintahkan pasukan berkudanya untuk terus mengejar musuh. Pasukan Huang Zhong saat ini sangat bersemangat dan mereka mengikuti tuannya dengan gagah berani.

Zhang He sedang berusaha mengatur pertahanan untuk menghadapi serangan pasukan Huang Zhong, tetapi karena pasukannya mendengar berita kekalahan besar ini maka para prajuritnya menajdi panik dan Zhang He tidak dapat mempertahankan pasukan itu dan diapun terpaksa melarikan diri. Dia meninggalkan semua persediaan mereka dan lari menuju tepi Sungai Han.

Lalu Zhang He datang menemui Xiahou Shang dan Han Hao dan berkata, "Ini adalah gunung TiangDang dimana kita menyimpan persediaan pasukan kita. Didekat sini adalah Gunung MiCang, kedua gunugn ini adalah titik vital bagi keberadaan pasukan di Han Zhong. Jika kehilangan kedua tempat ini maka Han Zhong sudah akan dipastikan lepas dari tangan kita, oleh sebab itu kita harus memastikan keamanan kedua tempat ini."

Xiahou Shang berkata, "Pamanku, Xiahou Yuan akan menjaga pertahanan digunung MiChang, Dia akan membawa bantuan dari Gunung DingJun untuk mengawasi daerah itu. Kita tidak perlu khawatir mengenai hal itu dan juga kakakku Xiahou De akan menjaga Gunung TianDang. Marilah kita pergi kesana dan membantunya."

Zhang He dan kedua jenderal itu segera berangkat membawa pasukan mereka yang tersisa. Mereka sampai digunung TianDang dan menceritakan Xiahou De apa yang terjadi.

"Aku mempunyai 100.000 prajurit disini, kau boleh membawa beberapa ribu dan merebut kembali perkemahanmu.", Kata Xiahou De.

"Jangan, kita harus bertahan." Kata Zhang He.

Dan ketika itu tiba-tiba terdengar suara genderang perang. Prajurit penjaga menara melaporkan bahwa pasukan Huang Zhong mendekat.

"Bedebah Tua itu tidak banyak mengetahui mengenai strategi perang, dia hanyalah seorang pemberani saja." Kata Xiahou De mentertawakan.

"Kau Jangan gegabah, dia sangatlah licik dan juga sangat berani." Kata Zhang He.

"Pergerakan pasukannya ini menyalahi aturan perang dan bukanlah suatu hal yang pintar untuk dilakukan seorang jenderal berpengalaman. Dia sudah sangat lelah dari perjalanan panjang dan pasukannya jg keletihan. Lebih dari itu mereka sekarang berada didaerah musuh."

"Walaupun begitu, aku sarankan kau berhati2x. Aku merasa bahwa bertahan adalah pilihan yang terbaik." Kata Zhang He.

"Berikan aku 3.000 prajurit dan aku akan mencincangnya sampai habis." Teriak Han Hao.

Han Hao akhirnya diberikan 3.000 prajurit dan dia segera membawanya menghadapi Huang Zhong.

Liu Feng berkata pada Huang Zhong, "Matahari hampir terbenam dan prajurit kita sudah sangat kelelahan. Marilah kita mundur dahulu dan kembali lagi esok."

Tetapi Huang Zhong tidak mengindahkan saran itu dan berkata,"Aku tidak keberatan dengan saranmu tetapi ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan langit dan akan merupakan dosa besar bila kita tidak menggunakannya."

Setelah selesai berkata seperti itu, genderang perang dibunyikan dan Han Hao berserta pasukannya maju. Huang Zhong juga memerintahkan pasukannya maju dan mereka bertempur, Han Hao begitu bertemu dengan Huang Zhong langsung tewas dengan kepala terpenggal. Melihat kejadian ini pasukan Shu langsung mengebrak maju sampai mendekati perkemahan musuh. Zhang He dan Xiahou Shang langsung keluar membawa pasukan mereka untuk menghadapi serangan ini. Tetapi tiba-tiba ada api menyala dari balik perkemahan mereka dan suara genderang perang serta teriakan muncul. Seger Xiahou De membawa pasukannya untuk menghadapi pernyerang dari belakang mereka, pasukan Wei dalam keadaan kacau karena tidak menduga akan diserang dari dua arah. Yan Yan yang memimpin penyerangan dari belakang perkemahan musuh segera mencari Xiahou De yang dalam kekacauan itu tidak waspada dan akhirnya mati tertusuk tombak Yan Yan.

Strategi ini telah direncanakan oleh Huang Zhong yang mengirim Yan Yan untuk pergi terlebih dahulu mengitari posisi musuh. Dia diperintahkan untuk mengumpulkan kayu kering dan jerami serta rumput kering dan ditaruh melingkari posisi perkemahan musuh. Setelah penyerangan terjadi dia diperintahkan untuk membakar kayu2x kering itu sehingga pasukan musuh terkepung api dan jalan keluar yang ada telah dijaga oleh pasukan Huang Zhong dan Yan Yan. Api berwarna merah itu terus menyala hingga malam hari dan memenuhi seluruh sisi bukit dan asapnya membumbung tinggi sampai kelangit.

Yan Yan setelah membunuh Xiahou De, Datang untuk membantu penyeragan sehingga pasukan musuh makin terdesak. Mereka tidak dapat melakukan apapun dan dalam kepanikan banyak yang mati terinjak teman sendiri. Kebanyakan dari mereka melarikan diri menuju Gunung Ding Jun dan mencari perlindungan kepada Xiahou Yuan.

Sementara Huang Zhong mengkonsolidasikan posisinya, dia juga mengirim berita mengenai kemenangan mereka ke Cheng Du. Dan ketika berita itu tiba, Liu Bei mengumpulkan seluruh bawahannya untuk membagi berita kemenangan itu.

Lalu berkatalah Fa Zheng, "Beberapa waktu yang lalu, Zhang Lu menyerah pada Cao-Cao dan karena itu Cao-Cao mendapatkan Han Zhong dengan mudah. Tetapi karena suatu hal dia tidak dapat meneruskan penyerangan kebarat dan dia hanya meninggalkan dua orang jenderal untuk menjaga tempat ini. Itu adalah sebuah kesalahannya, sekarang tuanku kau harus bijak dan Jangan berbuat kesalahan yang sama. Kita harus menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Han Zhong secara penuh. Segera setelah Han Zhong menjadi milikmu, kau dapat melatih tentara dan menyiapkan perbekalan untuk menyerang Cao-Cao. Ini adalah kesempatan emas yang diberikan langitu kepadamu dan kau tidak boleh melepaskannya."

Liu Bei dan Zhuge Liang melihat pendapat ini sangat baik dan persiapan segera dilakukan. Zhao Yun dan Zhang Fei diperintahkan untuk menyiapkan 50.000 pasukan dan memimpin pasukan garis depan. Sementara Liu Bei dan Zhuge Liang memimpin 100.000 prajurit ditengah. Sebelum pergi semua orang diberi perintah oleh Zhuge Liang untuk dapat menjaga YiZhou dengan baik. Ma Chao dan Ma Dai dipercaya untuk menjaga Cheng Du dan wilayah sekitarnya sementara Fa Zheng menangani semua urusan administrasi dan pemerintahan sipil.

Saat itu adalah bulan ke 7 dari tahun ke 23 masa Jian An(tahun 218 M) ketika pasukan Shu sampai di JiaMeng, Huang Zhong dan Yan Yan dipanggil dan kepada mereka serta pasukannya diberikan hadiah besar.

Liu Bei berkata pada Huang Zhong, "Orang-orang berkata bahwa kau hanyalah seorang kakek tua, tetapi Zhuge Jiang Shi meyakinkanku bahwa kalian dapat mengerjakan tugas besar ini dan sekarang kalian telah membuktikannya dengan baik. Walaupun begitu, Gunung Ding Jun masih belum berhasil direbut dan tempat itu adalah depot utama pasukan dan juga titik pertahanan Strategis wilayah Nan Zheng. Jika kita dapat merebut gunung Ding Jun maka kita akan dengan mudah mendapatkan seluruh wilayah HanZhong. Apakah kalian berdua merasa mampu untuk merebut gunung Ding Jun ?"

Kedua jenderal Veteran itu dengan gagah berani mengatakan mereka akan mencoba melakukannya dan segera mereka menyiapkan rencana penyerangan gunung DingJun.

Kata Zhuge Liang, "Jenderal, kau jangan tergesa-gesa. Kau memang sangat berani, tetapi Xiahou Yuan berbeda dari Zhang He. Xiahou Yuan adalah seorang ahli strategi. Cao-Cao sangat bergantung padanya untuk mempertahankan daerah Xiliang. Dialah yang mempersiapkan pertahanan di Chang An menghadapi Ma Chao. Sekarang dia berada di Han Zhong dan Cao-Cao menyerahkan seluruh kepercayaannya kepada dia untuk mengawasi daerah ini. Kau telah berhasil mengalahkan Zhang He tetapi belum tentu kau dapat mengalahkan Xiahou Yuan. Aku pikir aku harus meminta Guan Yu berangkat dari Jing Zhou untuk tugas ini."

Huang Zhong lalu menjadi geram dan berkata, "Jenderal Tua Lian Po berumur 80 tahun tetapi dia memakan 10 kati daging setiap harinya dan juga seperiuk besar nasi. Dalam umurnya yang tua itu dia masih ditakuti oleh para jenderal lainnya dan tidak ada yang berani macam2x dengan perbatasan negara Zhao selama dia masih hidup. Aku belum sampai 70 tahun dan kau sudah memanggilku Jenderal Tua. Tuan penasehat, aku tdk akan membawa bantuan apapun dan akan pergi dengan 3.000 prajurit pilihanku saja dan aku akan membawakan kepala Xiahou Yuan yang akan kuserahkan dibawah kakimu."

Zhuge Liang awalnya menolak tetapi Huang Zhong terus mendesak dan akhirnya Zhuge Liang setuju, tetapi dia tetap akan mengirimkan seorang untuk mengawasi Huang Zhong.

0 Response to "BAB 61 - BAB 70"

Poskan Komentar

Powered by Blogger