BAB 71 - BAB 80

BAB 71

Huang Zhong yang telah mendapatkan kemenangan berniat untuk meminta tugas merebut Benteng musuh di gunung Ding Jung yang dijaga oleh Xiahou Yuan.

"Jika kau memang ingin untuk memimpin ekspedisi kali ini, aku akan menempatkan Fa Zheng sebagai penasehat militer dan kau harus mendiskusikan segala sesuatunya dengan dirinya. Aku juga akan mengirim pasukan pendukung dan juga menyiapkan bala bantuan."

Huang Zhong akhirnya setuju dan Persiapanpun dilakukan.

Lalu Zhuge Liang menjelaskan pada Liu Bei, "Aku sengaja membuat Jenderal Huang marah agar dia berusaha yang terbaik karena jika tidak maka keragu-raguan akan melanda dirinya. Tetapi dia akan memerlukan bala bantuan."

Setelah ini Zhuge Liang memerintahkan Zhao Yun untuk berangkat membawa 5.000 prajurit dibelakang pasukan utama. Zhao Yun diperintahkan untuk tidak melakukan apapun selama Huang Zhong dapat memenangkan setiap pertempuran. Jika Huang Zhong menghadapi kesulitan maka Zhao Yun diperintahkan untuk membantunya.

Zhuge Liang juga memerintahkan 3.000 prajurit dibawah Liu Feng dan Meng Da segera berangkat menuju bukit2x dan mengambil posisi strategis, disana mereka mengibarkan bendera2x dan panji2x perang. Hal itu dilakukan sebagai salah satu strategi agar pasukan Shu terlihat seolah2x sangat besar, hal ini akan membuat musuh takut dan bingung. Sebagai tambahan Zhuge Liang mengirim utusan ke Xi Bian untuk memberitahukan Ma Chao apa yang harus dilakukannya. Yan Yan juga diperintahkan untuk menjaga Ba Xi dan Lang Zhong mengantikan Zhang Fei dan Wei Yan yang juga diperintahkan untuk membawa pasukannya menuju Han Zhong.

Dimarkas pasukan Wei, Zhang He dan Xiahou Shang akhirnya sampai menuju kemah Xiahou Yuan dan mereka menceritakan mengenai kekalahan mereka, "Gunung Tian Dang telah dikuasai musuh, Xiahou De dan Han Hao telah gugur didalam pertempuran. Liu Bei sedang mengarahkan pasukannya menuju Han Zhong, Aku pikir lebih baik kita mengirimkan utusan menuju ibukota untuk meminta pangeran Wei mengirim Bala bantuan."

Cao Hong segera menuju ibukota dan menemui Cao-Cao di Istana Xu Chang.

Cao-Cao yang mendengar berita ini segera memanggil seluruh bawahannya dan juga para jenderal2xnya.

Lalu Menteri Liu Ye berkata, "Jika Han Zhong sampai jatuh maka seluruh dataran tengah akan berada dalam bahaya. Kita harus segera membawa tentara untuk mempertahankan daerah itu."

"Hal ini terjadi karena aku tidak mendengarkan nasehatmu sebelumnya, tuan menteri." Kata Cao-Cao dengan penuh penyesalan.

Segera Cao-Cao memerintahkan agar pasukannya bersiap untuk berangkat. Dia mengeluarkan titah untuk mempersiapkan 400.000 prajurit yang akan langsung dia pimpin sendiri.

Pasukan ini akhirnya telah siap pada bulan ke 7 diawal musim gugur pada tahun ke 23 masa Jian An atau tahun ke 28 masa pemeritahan kaisar Xian(Tahun 218 M). 400.000 prajurit itu bergerak dalam 3 kelompok. Kelompok yang didepan berjumlah 100.000 prajurit dipimpin oleh Xiahou Dun, 200.000 prajurit ditengah dipimpin langsung oleh Cao-Cao dan 100.000 prajurit untuk pasukan pendukung dibelakang dipimpin oleh Cao Xiu.

Cao-Cao mengendarai Kuda putih yang diberikan baju Zirah dari perak. Para prajurit2xnya mengenakan baju Zirah berwarna emas dan mengenakan jubah dari sutra berwarna merah. Disisinya para pengawal pribadinya membawa berbagai simbol dan panji2x tanda2x kebesaran. Pasukan penjaga kekaisaran yang khusus menjaga dirinya berjumlah tidak kurang dari 25.000 prajurit, mereka semua dibagi dalam 5 barisan yang masing2x berjumlah 5.000 prajurit dan dipimpin oleh pemimpin2x yang terhebat dari kelompoknya. Setiap barisan memiliki warna masing2x dan baju Zirah mereka memantulkan cahaya yang membuat setiap mata yang memandangnya sangat terkesan. Semua kuda2x berhiaskan baju Zirah, setiap pedang dan tombak terasah dengan baik dan setiap prajurit tampak gagah perkasa. Pasukan ini dapat menguncang bumi dan mengetarkan langit.

Lalu pasukan itu melintas disebuah daerah yang bernama Celah Tong, Cao-Cao melihat dikejauhan ada kayu2x besar, dan sangat indah, dia lalu bertanya pada orang yang berada didekatnya mengenai nama daerah itu.

"Tempat itu dinamakan padang pujangga," Mereka menjawab”Dan didalamnya ada kediaman dari almarhum menteri Cai Yong. Putrinya Cai Yan dan suaminya Dong Si, tinggal disana saat ini."

Cao-Cao dan Cai Yong telah berteman sejak lama. Putri Cai Yong, Cai Yan pertama menikah dengan Wei Zhong Da, kemudian dia diculik oleh suku utara dan disana dia melahirkan dua orang putra. Dia lalu menulis puisi menceritakan kehidupannya didaerah monggol yang sangat terkenal diseluruh penjuru kekaisaran. Cao-Cao yang tergerak karena rasa kasihan segera memerintahkan agar dikirimkan 1.000 ons emas untuk menebus Cai Yan. Pangeran dari suku Xiongnu, Ce Xian Khan sangat kagum pada kekuatan angkatan perang Cao-Cao dan dia akhirnya mengembalikan Cai Yan kepada ayahnya. Lalu Cao-Cao menikahkan dia kepada Dong Si.

Cao-Cao memerintahkan pasukannya terus bergerak sementara dia dan beberapa pengawal saja segera menuju kediaman Cai Yan. Pada saat ini Dong Si sedang tidak berada dirumahnya dan Cai Yan sedang sendirian. Segera setelah wanita itu mendengar siapakah yang datang mengunjunginya, dia segera menyambutnya dan menyiapkan tempat untuk menjamunya diruang utama. Ketika Cao-Cao duduk disana, cai yan dengan hormat berdiri disampingnya. Menatap kesekeliling ruangan, Cao-Cao melihat ada batu yang terukir digantungkan didekat tembok ruangan itu. Dia lalu berdiri dan membaca ukiran batu itu, kemudian dia bertanya pada Cai Yan mengenai ukiran batu itu.

"Itu adalah ukiran batu dari Cao E. Ketika jaman pemerintahan kaisar He (100 M), di suku Xiongnu ada seorang penyihir bernama Cao Xu. Pada bulan ke 5 dan hari ke 5, Cao Xu sedang berada di atas perahu dan dia sedang mabuk. Tiba-tiba ombak datang dan perahu berguncang, Cao Xu yang sedang mabuk akhirnya terjatuh kedalam air dan meninggal tenggelam. Dia memiliki seorang putri bernama Cao E yang berumur 14 tahun. Putrinya sangat sedih dan dia pergi mencari jenazah ayahnya selama 7 hari 7 malam sambil menangis. Lalu akhirnya dia menceburkan dirinya kedalam ombak dan 5 hari kemudian tubuhnya mengambang bersama jenazah ayahnya dengan tangan saling berpegangan. Para penduduk setempat akhirnya menguburkan kedua jenazah itu ditepi sungai dan kepala desa melaporkan hal itu ke istana. Kaisar lalu memberikan penghargaan atas cinta kasih seorang anak kepada ayahnya yang luar biasa itu."

"Kemudian ada seorang pejabat yang meminta cerita ini di lukiskan oleh Handan Chun agar setiap orang dapat mengetahui cerita ini. Pada saat itu Handan Chun barulah berusia 13 tahun, tetapi Cerita dan puisi yang dibuatnya sangatlah sempurna. Cerita itu di ukirkan diatas sebuah batu yang di taruh disamping makam Cao Xu dan Cao E. Ayahku pergi untuk melihatnya pada malam hari, dia lalu memegang ukiran2x batu itu dengna jarinya dan kemudian dia mengeluarkan kertas dan pena untuk menuliskan 8 huruf yang ditempatkan dibalik batu tersebut dan kemudian ada orang yang mengukir ke 8 huruf itu juga."

Cao-Cao lalu membaca ke 8 huruf itu dan ini adalah sebuah teka-teki. Secara satu-satu per satu mereka berarti , "Sutra,Kuning, Istri,Muda, anak,Putri, Tumbukan, Mortar"

"Dapatkan kau jelaskan ?" Tanya Cao-Cao pada Cai Yan.

"Tidak, walaupun tulisan itu adalah tulisan ayahku tetapi hambamu ini tidak dapat mengartikan tulisan itu.", Jawabnya.

Lalu Cao-Cao berbalik kepada para ahli strateginya, "Dapatkah diantara kamu sekalian menjelaskan arti dari tulisan ini ?"

Tetapi tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba ada suara berkata, "Aku telah mengerti maksud tulisan itu."

Orang yang berkata bahwa dia telah mengerti arti tulisan itu adalah Sekertaris Utama Yang Xiu.

"Jangan katakan dahulu apa artinya. Biarkan aku pikirkan dahulu." Kata Cao-Cao.

Segera mereka berpamitan kepada Cai Yan dan ketika mereka telah berjarak 3 li dari tempat itu tiba-tiba Cao-Cao tertawa.

Dia kemudian berbalik pada Yang Xiu dan berkata, "Sekarang kau boleh mencoba menjelaskannya padaku."

"Ini adalah jawaban dari teka-teki itu. Sutra Kuning adalah benang sutra dengan warna yang natural dan huruf sutera diletakan disamping Kuning akhirnya membentuk kata-kata "Diputuskan", Istri Muda dapat membentuk "Kecil" dan "Betina" dan apabila kedua kata ini ditempat bersisian dapat diartikan "Sangat baik", kemudian Anak dengan putri apabila ditempatkan bersisian dapat berarti "Tepat", kemudian Tumbukan dan Mortar dapat diartikan "Untuk memberitahu". Jadi ke 4 kata tersebut adalah "Diputuskan dengan baik dan sangat tepat diceritakan", begitulah penjelasanku." Pejabat Yang Xiu berkata.

Cao-Cao sangat kagum dengan kepandaian Yang Xiu dan dia berkata, "Tepat seperti yang kupikirkan."

Orang-orang disekitarnya sangat terheran-heran atas kepintaran Yang Xiu dan pengetahuannya.

tidak sampai satu hari akhirnya mereka sampai di Nan Zheng, disana Cao Hong menyambut pasukan besar itu. Dia menceritakan mengenai kekalahan2x Zhang He.

"Untuk mengalami kekalahan bukanlah sebuah kejahatan, Kekalahan dan kemenangan adalah hal umum yang terjadi didalam peperangan." Kata Cao-Cao.

"Liu Bei telah mengirim Huang Zhong untuk merebut Gunung Ding Jun. Xiahou Yuan, mendengar bahwa kau telah tiba sekarang sedang menyiakan pertahanan dan tidak keluar untuk bertempur."

"Tetapi selalu memperlihatkan sikap bertahan menunjukan kelemahan." Kata Cao-Cao.

Segera dia memerintahkan orang untuk membawa titah kepada Xiahou Yuan untuk keluar menyerang.

"Xiahou Yuan sangatlah tidak flexible dan keras. Dan apabila dia terbawa terlalu jauh oleh perasaannya maka dia mungkin akan masuk dalam jebakan musuh." Kata Liu Ye.

Segera Cao-Cao menuliskan surat padanya dan ketika utusan itu tiba, Xiahou Yuan langsung membaca isi surat tersebut.

Surat itu berisi perintah agar Xiahou Yuan tidak gegabah dan disana dia memberikan penugasan untuk menghalau musuh.

Setelah itu Xiahou Yuan memanggil Zhang He untuk dimintai nasehatnya.

"Pangeran Sekarang sedang membawa pasukan besar dan telah tiba dia Nan Zheng. Mereka telah bersiap untuk menghancurkan Liu Bei. Kita telah bertahan cukup lama disini dan sekaranglah saatnya bagi kita untuk menunjukan keberanian kita. Esok aku akan keluar untuk bertempur dan aku berharap dapat menangkap Huang Zhong."

"Musuhmu bukanlah jenderal biasa, dia memiliki keberanian yang besar dan juga taktik yang brilian. Dan juga sekarang dia memiliki Fa Zheng untuk membantunya. Kau harus berhati-hati karena daerah ini sangatlah sulit dilalui dan berbahaya. Lebih baik kau tetap bertahan didalam benteng ini."

"Sementara jenderal2x lain melakukan jasa besar apakah kau tidak mau untuk berbuat sesuatu agar kita juga mendapatkan jasa besar itu ? Tetapi jika maumu memang begitu maka kau jagalah bukit ini dan aku akan keluar untuk bertempur."

Lalu sebuah titah dikeluarkan dan Xiahou Shang bersedia menjalankan tugas untuk melakukan pengintaian dan juga memprovokasi musuh agar menyerang.

Xiahou Yuan berkata padanya, "Kau tidak perlu untuk melawan mereka mati2xan, yang perlu kau lakukan adalah untuk menyerang dan lari. Aku memiliki rencana besar bagi musuhku."

Lalu dia menceritakan rencannya dan Xiahou Shang segera pergi dengan sedikit pasukan.

Sekarang Huang Zhong dan Fa Zheng berkemah didekat gunung Ding Jun. Mereka telah berusaha menjebak Xiahou Yuan untuk menyerang keluar tetapi sejauh ini gagal. Benteng Xiahou Yuan terletak di daerah yang sulit untuk diserang dan hal ini membuat Huang Zhong tidak memaksa untuk menyerangnya habis2xan. Tetapi segera pasukan Xiahou Shang tiba dan sepertinya ingin menantang bertempur, Huang Zhong lalu langsung bersiap untuk menghadapi mereka tetapi jenderal Chen Shi memohon agar tugas ini diberikan padanya.

"Kau tidak perlu turun tangan sendiri jenderal, aku akan pergi keluar dan melawan mereka." Kata Chen Shi.

Huang Zhong setuju dan dia memberikan 3.000 prajurit dibawah Chen Shi. Chen Shi segera keluar dan menyiapkan formasi pasukannya. Dan ketika Xiahou Shang tiba mereka bertempur, tetapi seperti telah direncanakan sebelumnya Xiahou Shang akhirnya mundur dan Chen Shi yang merasa berada diatas angin akhirnya terus mengejar dan mendesak pasukan Xiahou Shang. Xiahou Shang mengarahkan Chen Shi sampai tepi sebuah bukit dan tiba-tiba kayu2x dan batu2x berjatuhan. Ketika Chen Shi ingin berbalik dan kabur, Xiahou Shang lalu membawa pasukannya dan mengejar. Chen Shi akhirnya berhasil ditangkap dan dibawa kebenteng mereka. Beberapa prajurit Chen Shi yang berhasil kabur memberitahukan pada Huang Zhong mengenai kekalahan ini.

Huang Zhong segera meminta saran pada Fa Zheng yang berkata, "Xiahou Yuan ini sangat mudah dibuat marah dan ketika marah dia dapat melakukan tindakan2x nekat dan melupakan akal sehatnya. Sekarang kau harus meningkatkan moral pasukanmu dan kemudian membubarkan perkemahan lalu pergi ketempat lain untuk berkemah. Lakukan ini beberapa kali dan kau akan membuat Xiahou Yuan keluar menyerang. Disaat itulah kau harus menangkapnya."

Akhirnya Huang Zhong mengumpulkam benda-benda berharga dan dia membagikannya pada pasukannya. Suara kegembiraan sampai terdengar keseluruh lembah dan pasukan Huang Zhong menjadi sangat bersemangat. Kemudian kemah dibongkar dan mereka bergerak menuju tempat lain setelah itu mereka membangun kemah kembali. Hal ini dilakukan berulang-ulang.

Ketika berita mengenai hal ini sampai ketelinga Xiahou Yuan, dia mengusulkan untuk pergi keluar dan bertempur.

"Jgn...jgn..." Kata Zhang He”Ini adalah sebuah siasat dan kau harus tetap bertahan. Kau akan kalah jika kau bertempur."

Xiahou Yuan tidak mendengarkan saran ini, dia memerintahkan Xiahou Shang untuk keluar dan menantang musuh bertempur. Segera pasukan Xiahou Shang mendekati kemah Huang Zhong. Jenderal Tua itu akhirnya meladeni provokasi ini dan dia segera keluar membawa pasukannya. Segera pertempuran berlangsung, tetapi karena lengah akhirnya Xiahou Shang tertangkap oleh Huang Zhong. Xiahou Yuan yang mengetahui hal ini segera mengirim utusan untuk meminta pertukaran tawanan. Hal ini disetujui dan keesokan harinya kedua belah pasukan saling menyusun formasi dan berhadap-hadapan.

Setelah formasi pasukan tersusun dengan rapih, kedua pemimpin yang masing2x duduk diatas kuda mereka segera maju kedepan dengan membawa para tawanan. Para tawanan hanya mengenakan pakaian kain saja tanpa helm ataupun baju zirah mereka. Kemudian bunyi genderang terdengar dan para tawanan harus berlari secepat-cepatnya menuju tempatnya masing2x. Ketika Xiahou Shang hampir tiba di sisi pasukannya, Huang Zhong menembakan sebuah anak panah dan melukai Xiahou Shang dipunggungnya. Xiahou Shang tidak terjatuh dan tetap berlari terus.

Tetapi Xiahou Yuan langsung marah dan dia segera memacu kudanya kearah Huang Zhong. Hal ini telah diperkirakan oleh Huang Zhong dan dia pun dengan segenap pasukannya maju menyerang. Pertempuran terjadi dengan sengitnya dan tiba-tiba Zhang He membunyikan gong untuk memerintahkan pasukan mundur. Akhirnya kedua pasukanpun mundur ketempatnya masing2x.

Ketika Xiahou Yuan sampai ketempatnya, dia bertanya mengapa gong tanda mundur dibunyikan.

"Karena aku melihat panji2x perang Shu berada dibeberapa tempat disekitar pegunungan ini. Aku khawatir ada siasat yang sedang dijalankan." Kata Zhang He.

Xiahou Yuan mempercayainya dan dia tidak kembali kemedan pertempuran. Dia lalu bertahan dibentengnya.

Tidak lama kemudian, Huang Zhong mendekati perkemahan Xiahou Yuan dan Dia meminta saran dari Fa Zheng apa yang sebaiknya dilakukan.

Fa Zheng menunjuk pada sebuah bukit dan berkata, "Ada bukit yang cukup tinggi di sebelah barat Gunung Ding Jun, daerahnya sangat sulit dilalui tetapi dari puncak bukit itu kita dapat melihat pertahanan musuh. Jika kau dapat merebut bukit ini maka seluruh gunung dapat kau awasi."

Huang Zhong melihat keatas dan dia melihat bahwa diatas bukit tersebut ada dataran kecil dan disana hanya ada sedikit sekali pasukan bertahan musuh. Akhirnya malam itu dia meninggalkan kemahnya dan membawa pasukan naik keatas bukit tersebut, dia memukul mundur pasukan yang hanya berjumlah 100 orang saja dibawah salah satu jenderal Xiahou Yuan yang bernama Du Xi.

Lalu Fa Zheng Berkata, "Sekarang kau ambil posisi kira2x 1/2 jalan menuju bukit itu, sementara aku akan pergi menuju atas bukit. Ketika musuh muncul, aku akan mengibarkan bendera putih. Tetapi kau harus diam sampai sampai musuh kelelahan. Ketika aku mengibarkan bendera merah, maka itu adalah tanda bahwa kau harus menyerang mereka."

Huang Zhong segera mempersiapkan pasukannya. Sementara itu Du Xi yang telah dipukul mundur telah tiba di perkemahan pasukan Wei dan melaporkan kekalahannya pada Xiahou Yuan.

"Dengan Huang Zhong menguasai Bukit itu, aku harus dapat merebutnya kembali." Kata Xiahou Yuan.

Zhang He tidak setuju dengan usul ini dan berkata, "Ini adalah siasat dari Fa Zheng. Jenderal, kau lebih baik bertahan didalam benteng ini."

Tetapi Xiahou Yuan sekali lagi tidak mengindahkan usulan ini.

"Dari atas bukit itu seluruh posisi kita terlihat oleh musuh, seluruh kekuatan dan kelemahan kita dapat diketahui musuh. Aku harus dapat merebut tempat itu kembali."

Zhang He dengan berbagai alasan memohon agar Xiahou Yuan tidak pergi keluar, tetapi Xiahou Yuan tetap bersikeras dan dia memerintahkan agar pasukannya mengepung bukit itu. Dengan amarah yang besar dia menghina Huang Zhong dan memakinya agar Huang Zhong mau bertempur dengannya.

Fa Zheng yang melihat kemunculan pasukan ini segera mengibarkan bendera putih, Sementara itu Xiahou Yuan terus menghina dan memaki-maki tetapi tidak ada seorangpun yang muncul. Ketika hari menjelang sore, pasukan Xiahou Yuan sudah sangat kelelahan dan Fa Zheng yang melihat hal ini segera mengibarkan bendera Merah.

Kemudian tiba-tiba bunyi genderang perang bertabuhan dan pasukan Shu berteriak laksana bumi bergoncang. Huang Zhong memimpin pasukannya menuruni bukit. Xiahou Yuan yang terkejut tidak dapat lagi mengatur pasukannya yang jg sudah kelelahan. Pertempuran berlangsung sangat sengit dan pasukan Wei satu demi satu berjatuhan. Darah mengalir menuruni bukit seperti aliran air sungai, Huang Zhong kemudian mengejar Xiahou Yuan yang mencoba melarikan diri. Dengan sebuah anak panahnya Huang Zhong melukai kuda Xiahou Yuan. Kuda Xiahou Yuan lalu terjerembab dan menjatuhkan Xiahou Yuan. Xiahou Yuan yang lalu mencoba berdiri terpana ketika dia mendengar teriakan yang seperti halilintar memanggil namanya. Huang Zhong dengan pedang besarnya telah tiba dibelakang Xiahou Yuan dan tanpa Xiahou Yuan dapat bertahan, pedang besar Huang Zhong itu telah membelah dua kepala Xiahou Yuan.

Dengan kematian jenderalnya, pasukan Wei akhirnya berhamburan menyelamatkan diri dan Huang Zhong dengan kekuatan penuh menyerang Gunung Ding Jun. Zhang He segera keluar membawa pasukan yang tersisa untuk menghadang pasukan Shu, tetapi Pasukan Shu menyerang dari dua arah yang masing2x dipimpin oleh Huang Zhing dan Chen Shi. Zhang He akhirnya terdesak dan dia melarikan diri. Walaupun begitu belum sempat dia menghindar jauh, tiba-tiba jalannya di hadang oleh sekelompok pasukan.

Dan pemimpin pasukan itu berteriak, "Zhao Yun dari ChangShan ada disini !!!"

Kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa, Zhang He memimpin pasukannya menghindar tetapi kemudian ada sekelompok pasukan lagi menghadangnya.

Pemimpin pasukan itu adalah Du Xi, dia berkata, "Kaki Gunung telah dikuasai oleh Liu Feng dan Meng Da."

Zhang He dan Du Xi lalu mengabungkan kekuatan dan menuju sungai Han, ketika mereka berkemah disana mereka mengirim utusan kepada Cao-Cao untuk melaporkan kekalahan ini.

Ketika mendengar kematian Xiahou Yuan, Cao-Cao langsung menangis dan diapun mengerti ramalam dari Guan Lu.

Cao-Cao mengirim utusan mencari tahu dimanakah Guan Lu sekarang berada, tetapi tidak ada seorangpun yang tahu.

Cao-Cao menjadi sangat kesal dan marah dengan pembunuh temannya itu, dai segera memimpin pasukannya menuju Gunung Ding Jun untuk membalaskan dendam Xiahou Yuan. Xu Huang memimpin pasukan didepan. Ketika pasukan itu melintas sungai Han, Du Xi dan Zhang He bergabung dengan mereka.

Mereka berkata ada Cao-Cao, "Gunung Ding Jun telah direbut musuh. Sebelum kita bergerak lebih jauh, depot persediaan dia gunung Mi Cang harus dipindahkan dahulu kegunung utara."

Cao-Cao pun setuju.

Huang Zhong membawa kepala Xiahou Yuan dan menyerahkannya pada Liu Bei ketika dia melaporkan keberhasilannya ini. Atas2x jasa-jasa ini Liu Bei menganugerahkan kepadanya Jenderal Besar Penakluk Barat (Xi Zheng Fu Ta Jiang Jun) dan perjamuan besar diadakan untuk menghargainya.

Ketika perjamuan ini berlangsung, Jenderal Zhang Zhu datang membawa berita, "Cao-Cao membawa 200.000 prajurit melintasi sungai Han untuk membalaskan dendam Xiahou Yuan. Persediaan di Gunung Mi Cang telah mereka pindahkan kegunung Utara."

Lalu Zhuge liang berkata," Cao-Cao pasti sedang kesulitan persediaan. Jika kita dapat membakar apa yang dia punya dan juga merampas kereta persediaanya maka hal itu akan menurunkan semangat para prajuritnya."

"Aku bersedia untuk menajalankan tugas ini." Kata Huang Zhong.

"Ingatlah bahwa Cao-Cao itu berbeda dari Xiahou Yuan."

Liu Bei berkata, "Zhang He adalah pemimpin dari pasukan pengawal kereta barang. Walaupun Xiahou Yuan adalah komandan di Ding Jun tetapi dia hanyalah seorang gagah berani. Akan lebih baik 10 kali lipat jika kita dapat membunuh Zhang He."

"Aku akan pergi dan membunuhnya." Kata Huang Zhong dengan penuh semangat.

"Maka pergilah dengan Zhao Yun. Kalian berdua harus berkerja sama dan kita lihat siapa yang dapat melakukan dengan lebih baik."

"Huang Zhong setuju dengan kondisi ini dan Zhang Zhu diangkat menjadi pemimpin pasukan pengintai.

Segera setelah pasukan itu bergerak, Zhao Yun bertanya pada Huang Zhong, "Rencana apakah yang kau telah siapkan untuk menghadapi Cao-Cao. Mereka memiliki 200.000 prajurit dan 10 perkemahan. Bagaimana cara kita menghancurkan persediaan dan kereta barang mereka ?"

"Aku akan pergi memimpin penyerangan." Kata Huang Zhong.

"Tunggu, aku yang akan pergi lebih dahulu." Kata Zhao Yun.

"Tetapi aku lebih senior dan kau hanyalah wakilku." Kata Huang Zhong.

"Bukan. Kau dan aku sama dalam mengemban tanggung jawab ini dan kita berdua sangat ingin membuat jasa besar. Kita tidaklah bermusuhan. Mari kita mengundi siapakah yang akan menyerang terlebih dahulu."

Mereka lalu mengundi dan ternyata Huang Zhong yang memenangkan pengundian itu.

"Karena kau telah menang maka kau boleh mencoba menyerang terlebih dahulu tetapi kau harus membiarkanku membantumu." Kata Zhao Yun”Sekarang mari kita tentukan waktu yang tepat dan jika kau telah kembali sebelum waktu itu maka aku tidak perlu untuk mengerakan pasukanku. Tetapi jika sampai batas waktu itu kau belum kembali maka aku akan pergi untuk membantu."

"Aku setuju dengan hal itu." Kata Huang Zhong.

Akhirnya mereka menentukan bahwa tengah hari esok adalah batas waktunya.

Zhao Yun kembali kekemahnya dan dia memerintahkan wakilnya, Jenderal Zhang Yi dan berkata, "Temanku, Huang Zhong akan mencoba untuk membakar lumbung beras musuh esok hari. Jika dia belum kembali sampai tengah hari maka aku akan pergi untuk membantunya. Kau akan menjaga kemah kita ini, kau tidak boleh menggerakan pasukan keluar dan harus tetap bertahan didalam kemah kita ini kecuali jika keadaan memaksa."

Huang Zhong kembali kekemahnya dan dia berkata pada Zhang Zhu, "Aku telah membunuh Xiahou Yuan dan Mengalahkan Zhang He. Aku akan menghancurkan lumbung beras musuh esok hari dengan membawa sebagian besar pasukanku. Kau akan ikut denganku. Aku minta makanan untuk seluruh pasukan harus sudah siap tengah malam nanti dan kita akan segera berangkat setelah lewat tengah malam. Kita akan berjalan kaki menuju kaki bukit dan menangkap Zhang He lalu menyalakan api."

Setelah semuanya siap, Huang Zhong memimpin pasukannya menyebrang Sungai Han menuju kaki bukit. Ketika matahari terbit di ufuk timur, mereka melihat lumbung2x beras musuh dan hanya beberapa prajurit yang menjaganya. Para prajurit Wei yang menjaga lumbung2x ini segera lari begitu melihat pasukan Shu tiba. Pasukan Shu segera mengumpulkan jerami dan kayu2x kerin untuk ditaruh disekitar lumbung2x. Pada waktu ketika mereka akan menyalakan api, Zhang He datang membawa pasukannya dan dia langsung segera menyerang pasukan Shu yang dipimpin Huang Zhong. Lalu Cao-Cao yang mendengar kabar ini langsung memerintahkan Xu Huang untuk membantu. Xu Huang datang dari belakang dan Huang Zhong terkepung. Zhang Zhu dengan 3.000 prajurit berusaha membuka jalan untuk lari tetapi berhasil dihadang oleh Wen Pin dan lebih banyak lagi pasukan Wei datang dari arah belakang. Zhang Zhu juga akhirnya terkepung dan keadaan mereka semakin terdesak.

Sementara itu waktu terus berlalu dan tidak ada kabar dari Huang Zhong. Zhao Yun langsung memakai jubah perangnya dan mempersiapkan 3.000 prajurit berkuda untuk pergi bersamanya. Ketika dia akan pergi, dia memperingatkan dan menasehai Zhang Yi lagi untuk menjaga kemahnya baik-baik.

"Jagalah kemah ini dengan hati2x. Pastikan kau menempatkan para pemanah ditiap sisi kemah."

"Aku mengerti." Jawan Zhang Yi.

Zhao Yun segera berangkat, dengan pedang dipundaknya dan tombak perak di tangannya dia pergi menuju bukit tempat lumbung musuh berada. Segera dia bertemu dengan pasukan musuh dan dia membunuh mereka satu persatu. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan salah satu bawahan Wen Pin, Jenderal Murong Lie. Zhao Yun lalu bertempur dengannya dan tanpa perlu waktu lama Murong Lie langsung tewas. Kemudian dia bertemu lagi dengan pasukan yang dipimpin jenderal Jiao Bing.

"Dimanakah pasukan Shu ?" Teriak Zhao Yun.

"Semuanya sudah tewas terbunuh, ha..ha..ha !!" Jiao Bing mentertawakannya.

Zhao Yun yang marah langsung merangsek maju membunuh semua prajurit Jiao Bing yang berada didepannya dan tanpa diduga tombak Zhao Yun dilemparkan kearahnya dan dia pun terpental dari kudanya dan badannya tertembus tombak Zhao Yun. Pasukan Jiao Bing segera lari menyelamatkan diri. Zhao Yun lalu melanjutkan perjalanan menuju gunung utara dimana dia menemukan Huang Zhong sedang terkepung. Dengan berteriak memanggil Nama Huang Zhong, Zhao Yun seorang diri segera menuruni bukit dan menerjang masuk kedalam kepungan musuh. Dia menusuk dan menebaskan tombaknya kesana dan kemari sehingga prajurit2x Cao-Cao berguguran disisi-sisinya. Tombaknya menghancurkan musuh2xnya laksana angin ribut menghancurkan kayu2x dan bangunan2x. Prajurit Cao-Cao berjatuhan seperti salju yang turun di musim dingin. Ketakutan melanda pasukan Zhang He dan Xu Huang. Mereka tidak berani menghalangi jalannya. Akhirnya Zhao Yun berhasil sampai di tempat Huang Zhong. Mereka berdua akhirnya berjuang melewati ribuan pasukan Cao-Cao dan tidak ada satu orangpun yang dapat menghentikan mereka. Ratusan prajurit Cao-Cao tewas dan ribuan lainnya terluka menghadapi mereka berdua.

Cao-Cao yang memperhatikan jalannya pertempuran ini dari tempat tinggi melihat aksi dua orang jenderal ini. Dan dia bertanya siapakah jenderal yang menyelamatkan Huang Zhong itu.

"Itu adalah Zhao Yun dari Chang Shan." Jawab salah seorang penasehat didekatnya.

"Ternyata Pendekar dari Dan Yang masih hidup." Kata Cao-Cao dengan terkagum-kagum.

Lalu Cao-Cao mengeluarkan perintah agar prajuritnya tidak mencoba menyerang ataupun menghadang Zhao Yun jika mereka tidak yakin berhasil mengalahkannya.

Setelah menyelamatkan temannya dan keluar dari pertempuran itu, Zhao Yun diberitahu bahwa Zhuang Zhu terdesak dikaki bukit dekat dengan tempatnya sekarang. Segera Zhao Yun berangkat untuk menolong Zhuang Zhu sebelum kembali kekemahnya. Dia tidak perlu bertempur dengan susah payah, karena begitu prajurit Cao-Cao melihat Panji2x perangnya yang bertuliskan "ZHAO YUN" mereka semua langsung lari.

Tetapi kemudian hal itu membuat Cao-Cao menjadi geram melihat pasukannya berjatuhan dan melarikan diri begitu bertemu Zhao Yun yang berkuda seperti tidak ada siapapun dijalan yang dilaluinya. Cao-Cao lalu segera mengejar Zhao Yun bersama para jenderal2xnya.

Zhao Yun akhirnya sampai dikemahnya dan disana dia disambut oleh Zhang Yi. Tetapi awan debu terlihat dikejauhan dan mereka tahu bahwa pasukan Cao-Cao datang mengejar.

"Mari kita tutup gerbang kemah dan segera membuat persiapan pertahanan." Kata Zhang Yi.

"Jangan kau tutup gerbangnya. Tidakkah kau pernah mendengar kisah perang di Dang Yang, ketika aku melewati puluhan ribu pasukan Cao-Cao seorang diri ? Sekarang aku memiliki banyak prajurit dan jenderal2x untuk membantuku, apa yang harus ditakutkan ?"

Lalu Zhao Yun menempatkan para pemanah ditempat tersembunyi diluar kemah, sementara itu dia mencopot semua bendera dan juga tidak menampakan senjata dikemahnya. Bunyi genderang perang juga tidak dibunyikan. Dia hanya berdiri seorang diri diluar gerbang kemahnya dalam kesunyian dan angin menerpa dirinya serta mengibas jubahnya untuk menunjukan betapa gagahnya dia.

Pada saat itu hari suda menjelang malam ketika Zhang He dan Xu Huang tiba didekat perkemahan Shu. Mereka melihat bahwa panji2x perang dan Senjata sudah tidak ada lagi dikemah pasukan Shu. Mereka hanya melihat figur seorang duduk diatas kudanya dengan gagah, mereka tahu siapa itu dan mereka tidak berani mendekat. Sementara mereka ragu, Cao-Cao bersama pasukannya itba dan memerintahkan agar pasukannya terus maju. Mereka semua kemudian maju diiringi dengan teriakan tetapi ketika para prajurit melihat siapa yang berdiri didepan gerbang itu mereka segera berhenti dan tidak lama kemudian satu demi satu dari mereka mundur.

Lalu Zhao Yun memberi tanda pada pasukannya yang bersembunyi untuk keluar dari tempat persembunyian dan memanahi pasukan Cao-Cao. Pasukan Cao-Cao yang dalam keadaan gelap itu menjadi panik karena tidak tahu darimana musuh menyerang dan berapa jumlahnya. Masing2x dari mereka mencoba lari menyelamatkan diri dan banyak dari mereka malah melukai teman sendiri. Dan ketika mereka lari, pasukan Shu membunyikan genderang perangnya dan mengejar pasukan Wei yang melarikan diri. Ketika pasukan Cao-Cao tiba di tepi sungai Han, banyak dari mereka membuang perlengkapannya dan mencoba berenang menyelamatkan diri. Tekanan dari pasukan Shu semakin kuat dan banyak dari pasukan Wei yang mati tenggelam disungai itu.

Zhao Yun, Huang Zhong dan Zhang Zhu segera mengikuti pasukan musuh yang sudah dalam keadaan kacau balau itu. Sementara itu Cao-Cao sedang menghindar dari kejaran musuh dengan sekuat tenaga, dua orang jenderal Shu, Liu Feng dan Meng Da tanpa disangka telah berhasil menyelinap kegaris belakang pertahanan musuh dan mereka membakar lumbung persediaan di gunung Mi Chang dan Gunung Utara. Cao-Cao akhirnya terpaksa mundur sampai ke Nan Zheng. Zhang He dan Xu Huang tidak dapat mempertahankan posisinya dan mereka terpaksa meninggalkan perkemahan mereka yang segera direbut oleh Zhao Yun. Selain merebut lumbung persediaan, pasukan Shu juga berhasil mendapatkan persenjataan perang musuh disepanjang tepi sungai.

Mereka segera mengirim utusan kepada Liu Bei untuk mengabarkan kemenangan ini. Liu Bei berserta Zhuge Liang datang untuk melihat keadaan disana mereka mendengar cerita mengenai kehebatan Zhao Yun, Liu Bei sangat senang dan ketika dia melihat betapa sulit dan berbahanya medan perang disana itu, dia mengerti dan mengakui kehebatan yang telah dilakukan Zhao Yun.

Liu Bei berkata pada Zhuge Liang, "Sungguh, Zhao Yun adalah yang terhebat dari yang terhebat !"

Atas jasanya Liu Bei memberikan gelar Jenderal Yang Memiliki Keberanian Harimau (Hu Yong Qi Jiang Jun) kepada Zhao Yun. Seluruh pasukan diberikan imbalan dan mereka mengadakan pesta sampai larut malam.

Huang Zhong yang terluka segera ditarik dari komandonya untuk diperiksa dan dirawat oleh tabib. Sementara tanggung jawab daerah ini diserahkan pada Zhao Yun.

Segera dilaporkan, "Cao-Cao datang kembali melalui Bukit Xie untuk merebut sungai Han."

Tetapi Liu Bei tertawa dan berkata, "Dia tidak akan berhasil."

Kemudian Liu Bei memimpin pasukannya menuju barat sungai untuk melawan Cao-Cao. Ketika Cao-Cao mendekat, dia memerintahkan Xu Huang untuk membawa pasukan dan membuka jalan.

Seorang jenderal bernama Wang Ping berkata, "Aku mengetahui daerah ini dengan baik dan aku harap dapat membantu jenderal Xu Huang untuk mengalahkan pasukan Shu."

Wang Ping diangkat menjadi wakil komandan.

Cao-Cao berkemah diutara gunung Ding Jun dan pasukan garis depannya bergerak menuju sungai Han. Dan ketika sampai ditepi sungai, Xu Huang memerintahkan pasukannya untuk segera menybrang sungai.

"Untuk menyebrang sungai sungguh mudah, tetapi bagaimana jika kita harus mundur ?" tanya Wang Ping.

"Dahulu kala, Han Xin membuat formasi pasukannya dengan sungai dibelakangnya, dia berkata bahwa ditempat dimana kematian menunggu maka orang dapat hidup kembali.

"Kau salah, Masalah ini tidaklah sama. Waktu itu Han Xin mengetahui bahwa musuhnya tidaklah pandai dan kuat. Sekarang ini kita menghadapai Zhao Yun dan Huang Zhong yang kehebatannya dan taktiknya tidak perlu lagi dipertanyakan."

"Kau boleh memimpin pasukan infantri untuk menahan musuh sementara aku menghancurkan mereka dengan pasukan berkudaku." Kata Xu Huang.

Lalu jembatanpun dibuat dan pasukan Wei melintas.

BAB 72

Xu Huang akhirnya melintasi sungai dan dia berkemah disekitar tepian sungai itu. Huang Zhong yang walaupun belum sembuh benar segera menawarkan diri untuk menghadapi pasukan ini bersama Zhao Yun. Liu Bei akhirnya setuju untuk memberikan tugas ini pada mereka berdua.

Lalu Huang Zhong berkata, "Xu Huang ini cukup berani untuk datang menyerang kemari. Kita tidak akan menyerang mereka sampai malam tiba, pada saat itu pasti pasukannya sudah sangat kelelahan. Kita akan menyerang mereka dari kiri dan kanan."

Zhao Yun setuju dan masing2x dari mereka segera menyiapkan pasukannya. Xu Huang lalu muncul dan menantang pasukan Shu untuk bertempur, tetapi pasukan Shu tidak menanggapi. Xu Huang memerintahkan pasukannya untuk memanah kedalam perkemahan pasukan Shu dan hujan anak panah pun menhujam perkemahan Shu.

Huang Zhong lalu berkata, "Dia pasti berpikir untuk mundur jika tidak maka tidak mungkin dia memanah kita. Sekarang ini adalah saat kita untuk menyerang mereka."

Lalu prajurit penjaga menara tinggi segera melaporkan pada Huang Zhong bahwa barisan belakang musuh sudah mulai mundur. LaLu Bunyi genderang perang Shu segera didengungkan dan Huang Zhong memimpin 10.000 prajurit bergerak menyerang dari arah kiri dan Zhao Yun dengan 10.000 prajurit bergerak dari arah kanan. Pertempuranpun terjadi dengan sengitnya dan banyak pasukan Wei tewas akibat serangan ini. Xu Huang akhirnya kalah dengan sangat telak dan pasukan Wei banyak yang mencoba berenang melewati sungai Han, Bnayak diantara mereka yang mati tenggelam. Xu Huang berhasil melintas setelah bertempur mati2xan. Ketika dia kembali kekemahnya dia menyalahkan Wang Ping karena tidak datang membantunya.

"Jika aku datang membantumu maka kemah ini tidak ada yang menjaga dan dapat direbut musuh. Aku telah menasehatimu untuk tidak pergi melintas tetapi kau tidak mau mendengarkan dan kau sekarang ingin menyalahkanku." Kata Wang Ping

Xu Huang yang murka mencoba untuk membunuh Wang Ping, tetapi Wang Ping berhasil kabur dan kembali kekemahnya. Pada malam harinya, WAng Ping membakar kedua perkemahan pasukan Wei dan kekacauan besar terjadi didalam tubuh pasukan Wei. Xu Huang melarikan diri tetapi Wang Ping melintas sungai dan menyerahkan diri pada Zhao Yun yang membawanya pada Liu Bei. Wang Ping memberitahukan kepada Liu Bei mengenai sungai Han dan daerah sekitarnya.

"Aku pasti akan berhasil merebut seluruh HanZhong karena bantuanmu, temanku Wang Ping." Kata Liu Bei.

Liu Bei akhirnya mengangkat Wang Ping menjadi Jenderal Penunjuk Jalan.

Xu Huang melaporkan Pembelotan WAng Ping dan hal itu membuat Cao-Cao sangat marah. Cao-Cao lalu langsung memimpin tentaranya dan bergerak ketepian sungai.

Zhao Yun yang berpikir bahwa pasukannya terlalu sedikit untuk menghadapi pasukan Cao-Cao segera memundurkan pasukannya kearah barat. Liu Bei dan Zhuge Liang mendengar kabar ini segera datang untuk melihat keadaan dan posisi pasukan2x musuh. Zhuge Liang melihat bahwa diujung arus sungai ada sebuah bukit tinggi dimana dari sana dia dapat menjalankan siasat untuk menghancurkan ribuan tentara Wei yang berada ditepi sungai.

Lalu Zhuge Liang memanggil Zhao Yun dan berkata, "Jenderal, Kau pimpinlah 500 prajurit dengan genderang perang dan terompet besar. Kau harus bersembunyi di belakang bukit itu dan menunggu perintah selanjutnya yang akan diberikan pada pagi dan malam hari. Ketika kau mendengar ada bunyi ledakan kau harus membunyikan genderang perang tetapi tidak muncul untuk menyerang."

Zhao Yun segera berangkat untuk menjalankan perintah itu sementara Zhuge Liang pergi ketempat yang tinggi untuk melihat dan mengawasi gerak-gerik pasukan Wei.

Ketika Keesokan harinya pasukan Cao-Cao mendekati kemah pasukan Shu untuk menantang bertempur, tidak ada seorangpun yang keluar ataupun sebatang anak panahpun yang ditembakkan. Karena khawatir ada siasat, Cao-Cao memerintahkan pasukannya untuk mundur. Ketika tengah malam tiba dan pasukan Wei sedang tertidur tiba-tiba Zhuge Liang memerintahkan pasukannya untuk membunyikan suara ledakan dan segera Zhao Yun membunyikan genderang perangnya dan meniup terompet besarnya. Cao-Cao dan pasukannya segera terbangun serta mengira bahwa ada serangan terjadi, mereka segera keluar dan saling baku hantam antar teman sendiri. Tak lama kemudian Setelah obor2x dinyalakan mereka tersadar bahwa tidak ada musuh yang menyerang dan mereka hanya bertempur sendiri. Akhirnya mereka kembali ketempatnya masing2x dan melanjutkan tidur. Segera suara ledakan terdengar kembali dan bunyi genderang perang terompet serasa menguncang bumi. Pasukan Cao-Cao segera keluar kembali tetapi mereka menemukan bahwa tidak ada pasukan yang menyerang mereka. Malam itu hal ini terulang beberapa kali, strategi ini digunakan Zhuge Liang selama 3 hari 3 malam. Pada hari yang ke 4, Cao-Cao membubarkan perkemahannya dan mundur sejauh 20 Li kesuatu padang yang luas.

Zhuge Liang sangat senang dengan hasil dari strateginya itu, dia tersenyum dan berkata, "Cao-Cao ini sangat hebat didalam peperangan tetapi dia tidak kebal terhadap beberapa taktik tipuan."

Lalu akhirnya pasukan Shu lah yang melintas sungai kearah pasukan Cao-Cao. Liu Bei lalu menanyakan pada Zhuge Liang apa langkah berikutnya, dia diberitahukan suatu rencana tetapi rencana ini tidak boleh diberitahukan pada siapapun.

Melihat Liu Bei melintas sungai dan berkemah, Cao-Cao kemudian menjadi ragu2x dan ingin tahu. Dia kemudian menulis suatu pernyataan perang yang dijawab Zhuge Liang bahwa besok dia setuju untuk bertempur.

Keesokan harinya 50.000 prajurit Shu berhadapan dengan 100.000 prajurit Wei. Kedua belah pasukan saling berbaris dalam formasi perang yang gagah. Cao-Cao kemudian mengendarai kudanya dan berhenti disamping panji2x perang yang bertuliskan namanya. Para jenderal dan penasheatnya semua berbaris disisi kiri dan kanannya. Bendera Naga dan burung Phoenix berkibar tertiup angin. Genderang perang berbunyi 3 kali dan dia memangil Liu Bei. Liu Bei muncul kedepan dan disisinya ada Liu Feng dan Meng Da serta beberapa orang jenderal lainnya. Lalu Cao-Cao mulai menhina Liu Bei dan mengacung2xkan Cambuk kudanya pada Liu Bei.

"Liu Bei, kau telah melupakan kebaikan dan juga rasa kebenaranmu. Kau adalah pemberontak melawan pemerintah."

Liu Bei menjawab, "Aku masihlah keluarga Kekaisaran dan aku memegang titah yang memberikanku kuasa untuk menangkap dan menghancurkan pemberontak. Kau berani sekali untuk menyentuh permaisuri Fu dan mengangkat dirimu menjadi Raja Muda. Kau juga dengan sombongnya mengendarai kereta kuda kekaisaran. Jika kau bukanlah pemberontak, lalu apakah kau ini ?"

Lalu Cao-Cao yang marah segera memerintahkan Xu Huang untuk menangkap Liu Bei. Liu Feng segera maju untuk menghalangi niatan Xu Huang itu. Ketika duel itu terjadi, Liu Bei segera dikawal dan kembali kedalam barisan pasukannya. Liu Feng yang melihat bahwa lawannya itu lebih tangguh juga ikut kembali kedalam pasukannya setelah melihat Ayah angkatnya telah aman.

Cao-Cao lalu mengeluarkan titah untuk menangkap Liu Bei, "Dia yang berhasil menangkap Liu Bei akan dijadikan Pangeran HanZhong !"

Pada saat ini pasukan Wei segera mengeluarkan suara teriakan dan merekapun langsung merangsek maju. Pasukan Shu segera melintas sungai untuk mundur dan meninggalkan persenjataan dan juga kuda2x. Pasukan Cao-Cao terus menekan pasukan Shu, tetapi tiba-tiba bunyi gong tanda mundur terdengar.

"Mengapa kau memerintahkan mundur ketika kita akan mendapatkan kemenangan ?" Kata para komandan penyerang.

"Karena aku melihat musuh berkemah dgn sungai dibelakang mereka dan ini sangat mencurigakan. Mereka juga meninggalkan persenjataan dan kuda2x mereka, hal ini membuatku sangat ragu. Oleh sebab itu aku memerintahkan kalian mundur. Tetapi tetaplah waspada dan Jangan tanggalkan baju perangmu. Jangan biarkan seorangpun melepaskan baju Zirah dan senjata mereka, jika melanggar akan dihukum mati !!! Sekarang mundurlah secepat mungkin."

Ketika Cao-Cao mulai memundurkan pasukannya, Zhuge Liang lalu memberi signal untuk menyerang. Pasukan yang mundur itu segera di serang oleh pasukan Shu sepanjang hari sampai mereka semua menjadi kacau balau. Cao-Cao memerintahkan agar pasukannya mundur ke Nan Zheng.

Kemudian dia melihat asap hitam bermunculan dari segara arah dan segera diketahui bahwa Nan Zheng telah direbut oleh Zhang Fei dan Wei Yan. Zhuge Liang telah merencanakan hal ini, Dia menempatkan Yan Yan di Lang Zhong dan mengadakan serangan secara serentak ke Nan Zheng ketika Cao-Cao membawa pasukannya berkemah di tepi sungai. Kecewa dan sedih, Cao-Cao pergi menuju Benteng di Yang Ping. Liu Bei berserta pasukan utamanya segera mengikuti mereka menuju BaoZhou dan Nan Zheng disana dia menenangkan penduduk dan mengembalikan ketenangan.

"Cao-Cao mundur dengan cepat sekali kali ini, kenapa bisa begitu ?" Tanya Liu Bei pada Zhuge Liang.

"Dia selalu memiliki sifat curiga yang besar dan hal ini telah membawanya banyak kekalahan dan kegagalan. Dia adalah pemimpin besar dari pasukan hebat tetapi aku mengalahkannya hanya dengan mempermainkan keragu-raguannya saja."

"Kekuatannya sudah melemah sekarang, dapatkah kau membuat sebuah rencana untuk menghancurkannya untuk selamanya ?" Tanya Liu bei.

"Hal itu sudah kupikirkan." jwb Zhuge Liang sambil tersenyum.

Kemudian Zhang Fei dan Wei Yan dikirim melalui dua jalur berbeda untuk memotong jalur logistik Cao-Cao. Dua pasukan lain dipimpin oleh Huang Zhong dan Zhao Yun diperintahkan untuk membakar hutan dan bukit. ke empat pasukan ini memiliki penduduk setempat yang menjadi penunjuk jalan didaerah itu.

prajurit pengintai Cao-Cao segera kembali membawa berita, "Jalan2x telah diblokade pasukan Shu dan setiap tempat tampaknya telah dibakar. Walaupun begitu tidak ada pasukan yang terlihat."

Cao-Cao tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kemudian prajurit pengintai yang lain berkata, "Kereta barang dan depot persediaan kita telah di jarah oleh Zhang Fei dan Wei Yan."

Cao-Cao lalu mencari sukarelawan untuk menghalau para penjarah ini. Xu Chu maju kedepan untuk menerima tugas besar ini. Dia diberikan 1.000 prajurit terbaik Cao-Cao dan segera turun kekaki bukit untuk mengawal kereta beras.

Ketika bertemu dengan komandan kereta beras itu, Xu Chu dijamu dengan arak dan makanan.

"Jika bukan karenamu jenderal, aku yakin kereta beras ini tidak akan pernah sampai ke Yang Ping."

"Matahari hampir terbenam dan jalan menuju BaoZhou sangat berbahaya, kita tidak dapat melanjutkan perjalanan sampai esok hari.", Kata komandan kereta beras itu.

"Aku dapat menghadapai segala macam bahaya. Aku sangat berani dan kuat, aku dapat melawan ribuan pendekar seorang diri. Pikirmu ada yang kutakutkan ? Lagipula malam ini bulan sangat terang, kereta beras ini harus terus bergerak." Xu Chu memberi perintah.

Xu Chu memimpin didepan, sepanjang perjalanan dia selalu menggengam pedangnya. Ketika malam tiba dan mereka melintasi BaZhou, tiba-tiba terdengar bunyi genderang perang dan rombongan Xu Chu dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh Zhang Fei. Dengan tombak ularnya Zhang Fei langsung menerjang kearah Xu Chu yang mengibas-ngibaskan pedangnya.

Tetapi Xu Chu yang telah banyak menegak minuman keras menjadi sedikit mabuk dan tidak waspada terhadap serang2x Zhang Fei. Setelah beberapa jurus akhirnya tombak Zhang Fei menusuk bahunya, dia memegang tombak Zhang Fei dengan tanganya agar tidak menancap lebih dalam, Zhang Fei yang merasakan kekuatan Xu Chu begitu besar tidak dapat mengerakan tombaknya, dia menekan kudanya sehingga Xu Chu terdorong dan jatuh ketanah. Prajurit Xu Chu segera berusaha melindungi tuannya yang terjatuh itu, banyak dari mereka yang tewas menahan serangan tombak Zhang Fei. Xu Chu berhasil kabur dan mundur sementara Zhang Fei dan pasukannya tidak mengejar mereka dan lebih memilih menjarah kereta beras tadi.

Xu Chu berhasil kembali kekemah Cao-Cao dimana disana dia dirawat oleh tabib. Lalu Cao-Cao sendiri memimpin pasukannya keluar untuk bertarung habis2xan dengan pasukan Shu. Liu Bei keluar untuk menemui dia dan ketika kedua belah pasukan telah saling menyusun formasi, Liu Feng keluar dari barisan untuk menantang berduel.

"Hai, kau pedagang sandal kasut, kau selalu mengirimkan anakmu untuk bertarung untukmu ! Jika aku dapat memanggil anaku yang berjangut emas, Cao Zhang maka yang kau sebut anakmu ini akan segera menjadi daging cincang !!" Cao-Cao melontarkan hinaan.

Kata-kata ini segera membuat Liu Feng marah dan dia segera menerjang kearah Cao-Cao. Cao-Cao memerintahkan Xu Huang untuk menghadapi Liu Feng. Liu Feng yang mengetahui Xu Huang yang datang untuk menghadapinya segera mundur. Cao-Cao memimpin seluruh pasukannya untuk maju menyerang, tetapi baru setengah jalan, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan dan juga suara genderang perang dan bunyi2xan lainnya dari segala penjuru. Cao-Cao menyimpulkan bahwa mereka sedang masuk dalam jebakan penyergapan musuh. Dia segera memerintahkan agar pasukannya mundur dan oleh sebab itu banyak dari pasukannya mati terinjak oleh teman sendiri. Mereka semua segera berusaha kembali kebenteng di Yang Ping secepat mereka bisa.

Pasukan Shu terus mengejar mereka hingga ketembok benteng, disana mereka menyerang dari segala penjuru dan menyebabkan kekacauan. Sebagian membakar banyak ranting kering tepat didepan gerbang timur, sebagian berteriak2x di gerbang barat, sebagian membunyikan genderang perang di gerbang selatan dan beberapa mencoba menaiki tembok digerbang utara. Hal ini membuat pasukan Wei ketakutan dan para komandan mereka mengira-ngira apa yang terjadi digerbang lainnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang keluar dan melarikan diri. Banyak dari mereka dikejar dan dibantai.

Pasukan yang lari itu segera dihadang oleh Zhang Fei sementara Zhao Yun memimpin pasukan mengejar dibelakang mereka. Lalu Huang Zhong tiba dari BaoZhao untuk menambah tekanan dari sisi pasukan Cao-Cao. Cao-Cao kehilangan banyak pasukan dan dia terdesak oleh serangan dari tiga arah ini. Para komandannya dan jenderal2xnya segera berusaha melindungi dirinya dan membawanya menuju lembah Xie. Disana dia melihat awan debu berterbangan dari kejauhan.

"Jika itu adalah pasukan musuh maka ini adalah akhir dari hidupku," Cao-Cao berkata.

Ketika pasukan itu mendekat, Cao-Cao mengenali mereka. Pasukan itu adalah pasukan anaknya yang kedua, Cao Zhang. Sebagai seorang pemuda Cao Zhang pandai sekali menunggang kuda dan juga pemanah handal. Dia jauh lebih kuat dari pada orang umumnya dan dapat melawan binatang buas dengan tangan kosong. Cao-Cao sebenarnya tidak terlalu suka dengan kebiasan anaknya ini yang suka berkelahi, dia sering sekali mengingatkan anaknya ini untuk lebih banyak belajar dan membaca buku.

"Kau tidak pernah belajar dan hanya suka memanah dan menunggang kuda. Ini artinya hanyalah menumpuk keberanian bukan mengasah akal. Pikirmu hal ini dapat membuatmu menjadi bangasawan terhormat ?"

Tetapi Cao Zhang menjawab, "Aku dapat mencontoh bangsawan terhormat seperti Wei Qing dan Huo Qu Bing. Mereka mendapatkan reputasi mereka ketika bertempur di gurun gobi, mereka memimpin ratusan ribu pasukan dan berhasil mengalahkan siapa saja dibawah dunia ini. Jadi apa gunanya aku menjadi sarjana ?"

Cao-Cao terkadang suka bertanya pada anak2xnya apa yang mereka ingin lakukan untuk masa depan mereka dan Cao Zhang selalu menjawab ingin menjadi Panglima Besar pasukan.

"Apa yang seorang pemimpin pasukan harus punyai dan lakukan ?" Cao-Cao bertanya.

"Dia haruslah memiliki ketegasan, tidak pernah berpaling dari kesusahan dan masalah. Dia harus selalu memimpin bawahan dan prajuritnya. Hadiah harus dipastikan bagi mereka yang berhak dan hukuman harus di berikan bagi mereka yang bersalah."

Cao-Cao tersenyum puas dengan jawaban ini.

Pada tahun ke 23 dari masa Jian An, atau tahun ke 28 masa pemerintahan kaisar Xian (Tahun 218 M). Suku Wuhuan memberontak di DaiChun dan Cao-Cao mengirimkan anaknya ini dengan 50.000 prajurit untuk menumpas pemberontakan ini.

Sebelum anaknya pergi, Cao-Cao berkata kepadanya, "Didalam rumah kita adalah anak dan ayah, tetapi ketika mengemban tugas kau harus menganggap dirimu adalah bawahan dan aku atasan. Hukum militer tidak mengenal belas kasih, kesalahan akan dihukum seberat-beratnya. Kau harus berhati2x."

Ketika pasukan Ekspedisi itu mencapai utara DaiChun, Cao Zhang memimpin pasukan dan menghancurkan pemberontak sampai ke Sanggan di gurun Gobi, Akhirnya pemberontakan berhasil ditumpas. Dia kemudian mendengar bahwa ayahnya di Yang Ping dan dia datang untuk membantu.

Kedatangannya membuat Hati Cao-Cao sangat senang dan lega, dia pun berkata, "Sekarang anakku yang berjanggut emas telah datang, kita pasti dapat menghancurkan Liu Bei."

Kemudian pasukan Cao-Cao berbalik dan membangun kemah di Lembah Xie.

Seseorang memberitahukan pada Liu Bei mengenai kedatangan Cao Zhang dan dia mencari sukarelawan untuk bertempur melawan si pendatang baru itu. Liu Feng dan Meng Da mengajukan diri dan Liu Bei memutuskan keduanya untuk memimpin tentara dan pergi menghadapi Cao Zhang.

Masing2x jenderal membawa 5.000 prajurit dan Liu Feng memimpin didepan. Cao Zhang menantang berduel dan Liu Feng menerimanya. Hanya butuh 3 jurus saja bagi Liu Feng untuk mengetahui kekuatan Cao Zhang dan Liu Feng pun akhirnya mundur dan melarikan diri. Kemudian Meng Da maju untuk membantu Liu Feng dan saat itu terlihat bahwa pasukan belakang Cao-Cao sedang terjadi keributan. Penyebab keributan itu adalah akibat kedatangan Ma Chao dan Wu Lan secara tiba-tiba. Ketika musuh kebingungan, Liu Feng dan Meng Da memerintahkan pasukannya untuk maju menyerang. Ma Chao memimpin pasukan Xi Liangnya melakukan pembantaian besar-besaran terhadap pasukan Cao-Cao. Wu Lan yang bernafsu mengejar Cao Zhang akhirnya tewas terbunuh oleh tombak Cao Zhang di akhir pertempuran. Walaupun begitu, pasukan Shu mendapatkan kemenangan besar hari itu.

Setelah pertempuran besar itu, Cao-Cao memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Lembah Xie. Disini dia menetap untuk beberapa lama. Dia tidak dapat maju karena dihadang Ma Chao dan tidak mau mundur karena akan dihina oleh pasukan Shu.

Suatu Hari dia sedang berpikir mengenai tindakan yang akan dia ambil selanjutnya, juru masaknya mengirimkan dia masakan ayam. Dia memperhatikan bahwa ada urat ayam dalam masakan itu dan hal ini terbawa dalam pikirannya. Ketika dia sedang berpikir panjang tiba-tiba Xiahou Dun datang dan bertanya apakah kode rahasia untuk malam ini.

Cao-Cao segera menjawab, "Urat Ayam !"

Lalu kode rahasia itu disebarkan dan ketika terdengar oleh Sekertaris Utama Yang Xiu, dia memerintahkan agar orang-orangnya untuk segera membenahi barang-barang mereka dan bersiap untuk melakukan perjalanan. Seseorang yang melihat hal ini segera melaporkannya pada Xiahou Dun yang segera menemui Yang Xiu untuk bertanya mengapa dia melakukan hal itu.

Yang Xiu Menjelaskan, "Dengan mempertimbangkan kode rahasia untuk malam ini maka aku melihat bahwa Pangeran akan segera mundur. Urat Ayam itu tidak memiliki rasa untuk dimakan tetapi sangat sayang untuk dibuang. Sekarang jika kita bergerak maju, kita tidak dapat menang dan jika kita mundur maka kita akan terlihat sangat konyol. Oleh karena tidak ada untungnya untuk tetap berada disini maka hal yang terbaik adalah kita akan mundur. Kau pasti akan melihat bahwa Pangeran akan memerintahkan pasukan mundur tidak lama lagi. Aku telah membuat persiapan sehingga jika tiba saatnya maka aku tidak akan terburu-buru dan bingung."

"Kau sepertinya sangat mengetahui pikiran Pangeran Wei yang paling dalam." Kata Xiahou Dun dan dia memerintahkan pelayannya juga untuk mengepak barang2xnya. Jenderal lain yang melihat jg melakukan hal yang sama.

Cao-Cao terlalu pusing memikirkan masalahnya sehingga tidak dapat tidur. Pada malam hari dia tiba-tiba terbangun dan memegang Kapak perang ditangannya. Dia berjalan-jalan kesekeliling perkemahannya. Ketika dia tiba di perkemahan Xiahou Dun, Dia melihat semuanya telah di pak seperti mereka bersiap untuk pergi. Dengan terkejut dia kembali kekemahnya dan memanggilnya jenderalnya itu.

"Mengapa Semua hal dikemahmu dirapikan seperti itu seperti kau akan bersiap untuk pergi ?" Tanya Cao-Cao.

Sekertaris Utama Yang Xiu berkata bahwa Pangeran akan merencanakan mundur." Kata Xiahou Dun.

Cao-Cao lalu memangil Yang Xiu dan menanyainya dan Yang Xiu menceritakan mengenai pengartiannya atas "Urat Ayam" yang dijadikan Cao-Cao sebagai kode rahasia.

"Berani sekali kau mengarang cerita seperti itu dan mengacaukan moral pasukanku !!!"

Cao-Cao memanggil prajuritnya dan memerintahkan agar Yang Xiu dipenggal dan kepalanya dipajang di depan kemah.

Yang Xiu adalah seorang yang pintar dan genius tetapi dia terlalu sering menonjolkan dirinya. Sekali waktu Cao-Cao pernah mengadakan inspeksi atas gerbang benteng, ketika dia melihat2x gerbang itu lalu dia menuliskan sebuah kata "HIDUP" digerbang itu dan dia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tidak ada yang dapat mengerti artinya sampai Yang Xiu mendengar hal ini.

"Gerbang dengan Hidup membentuk artian LEBAR, Perdana menteri berpikir bahwa gerbang itu terlalu lebar." Kata Yang Xiu menyimpulkan.

Segera mereka membangun ulang gerbang dan dinding benteng itu. Ketika selesai Cao-Cao segera datang dan melihat hal itu, dia pun sangat senang dengan hasilnya.

"Siapa yang dapat menerka apa artinya ?" Tanya dia.

"Yang Xiu.", Jawab para pengikutnya.

Cao-Cao segera mengakui kepandaian Yang Xiu tetapi dihatinya dia mulai timbul rasa khawatir atas kemampuan Yang Xiu ini.

Pernah Juga suatu ketika Cao-Cao mendapatkan sekotak Krim keju dari Mongolia. Cao-Cao lalu menuliskan 3 kata diatas kotak itu "SATU KOTAK KRIM". Kata-kata itu sepertinya tidak memiliki arti tapi ketika Yang Xiu membacanya dia langsung mengambil sendok dan membagi-bagikan krim itu sesendok penuh kepada setiap masing2x orang yang ada disana. Ketika Cao-Cao bertanya mengapa dia lakukan itu, dia menjelaskan bahwa kata-kata diatas Kotak itu dapat berarti "SETIAP ORANG SESENDOK PENUH"

"Dapatkah aku tidak mentaati perintahmu itu ?" Tanya Dia.

Cao-Cao tertawa dengan yang lainnya tetapi didalam hatinya dia mulai membenci Yang Xiu.

Cao selalu hidup didalam ketakutan akan ada orang yang membunuh dia, Dia pernah berkata pada salah satu bawahannya, "Jangan biarkan siapapun datang ketika aku sedang tidur, karena aku terkadang membunuh orang dalam mimpiku."

Suatu hari Cao-Cao tertidur dan salah satu bawahannya melihat hal itu. Dia segera mengambil selimut dan menyelimuti Cao-Cao. Cao-Cao tiba-tiba terbangun dan langsung membunuh bawahannya itu kemudian dia berbaring lagi dan tidur. Setelah beberapa saat dia terbangun dan dia terkejut serta bertanya siapakah yang membunuh bawahannya itu. Ketika mereka mengatakan padanya, Cao-Cao langsung menangis menyesal dan dia memerintahkan agar bawahannya itu dikuburkan dengan baik. Banyak orang berpikir bahwa Cao-Cao telah membunuh orang itu didalam mimpi tetapi Yang Xiu mengetahui hal lainnya.

Pada saat upacara pemakaman orang itu, Yang Xiu berkata, "Perdana menteri tidak sedang bermimpi tetapi Orang inilah yang sedang tertidur."

Hal ini menyebabkan kebencian Cao-Cao meningkat.

Anak ke Tiga Cao-Cao, Cao Zhi sangatlah menyukai Yang Xiu dan mereka sering berdua berbicara dan membuat puisi sepanjang malam.

Suatu kali Cao-Cao menguji kemampuan dua anaknya yaitu Cao Pi dan Cao Zhi, mereka berdua disuruh keluar kota, Pada saat yang sama Cao-Cao memerintahkan agar penjaga gerbang melarang siapapun keluar. Cao Pi pertama kali tiba dan dia diberhentikan oleh penjaga gerbang, dia kemudian kembali keistana.

Tetapi Cao Zhi berkonsultasi dengan Yang Xiu yang berkata, "kau telah menerima perintah dari Perdana Menteri untuk keluar jadi penggalah semua yang menghalangimu."

Ketika Cao Zhi sampai di gerbang dan diberhentikan, dia berteriak kepada penjaga gerbang, "Aku telah menerima perintah Perdana Menteri. Siapa kau berani memberhentikanku ?"

Dia segera memerintahkan penjaga gerbang itu dipenggal. Segera Cao-Cao berpikir untuk menjadikan Cao Zhi sebagai penerus tahtanya. Tetapi kemudian seorang lain datang dan memberitahukan pada Cao-Cao bahwa itu semua adalah rencana Yang Xiu. Maka Cao-Cao menjadi marah dan dia makin membenci Yang Xiu.

Yang Xiu juga terkadang sering mengajari Cao Zhi bagaimana menjawab pertanyaan2x. Cao-Cao terkadang bertanya pada anaknya mengenai masalah militer dan negara dan Cao Zhi selalu dapat menjawab dengan baik. Ayahnya tidak pernah curiga sampai ketika Cao Pi memberitahukan bahwa sebenarnya Jawaban Cao Zhi adalah hasil pemikiran Yang Xiu. Cao-Caopun marah atas hal ini.

"Berani sekali dia menaruh debu dimataku ini ?" Kata Cao-Cao.

Yang Xiu nyaris kehilangan nyawanya atas hal ini. Alasan memenggal Yang Xiu karena menjatuhkan moral pasukan hanyalah sebuah alasan yang masuk akal untuk menyingkirkannya karena sebenarnya Cao-Cao sudah ingin melakukannya dari dahulu. Yang Xiu meninggal diusianya yang ke 34 tahun.

Cao-Cao setelah memenggal Yang Xiu lalu mulai memarahi Xiahou Dun. Dia mengancam akan menghukum mati Xiahou Dun tetapi kemudian para jenderal yang lain memohon ampunan untuk Xiahou Dun dan akhirnya Cao-Cao membatalkan niatannya itu.

Kemudian dia mengeluarkan titah untuk keluar bertempur esok harinya. Pasukan Wei keluar dari perkemahannya dan kemudian langsung berhadapan dengan pasukan Shu yang dipimpin oleh Wei Yan. Cao-Cao meminta Wei Yan untuk menyerah tetapi dijawab dengan hinaan dan cercaan.

Pang De keluar untuk bertarung dengan Wei Yan. Sementara Duel sedang berlangsung, tiba-tiba Api berkobar di perkemahan Cao-Cao dan seorang prajurit datang untuk melaporkan bahwa Pasukan Ma Chao telah menyerang perkemahan dari dua arah.

Karena takut hal ini akan menimbulkan kekacauan, dia segera mengeluarkan pedang dan berdiri didepan pasukannya serta berteriak, "Hukuman mati bagi mereka yang berani mundur !"

Segera Pasukan Wei maju menyerang dengan gagah berani dan Wei Yan terdesak dan harus mundur. Setelah berhasil memukul mundur musuh, Cao-Cao memberi tanda untuk kembali menuju perkemahan mereka dan melawan Ma Chao.

Segera ketika pasukan Cao-Cao berbalik untuk menghadapi Ma Chao, Wei Yan yang telah mengkonsolidasikan pasukannya segera berbalik dan mengejar Cao-Cao dari belakang. Wei Yan lalu berteriak pada Cao, "Wei Yan Disini !!!"

Wei Yan segera menyiapkan anak panahnya dan melepaskannya. Panah itu melukai Cao-Cao di daerah mukanya dekat bibirnya. Cao-Cao terjatuh dari kudanya akibat hal ini. Wei Yan segera membuang panahnya dan mengambil pedangnya lalu dengan kudanya menerjang kearah Cao-Cao. Tetapi ketika dia hampi sampai ditempat Cao-Cao tiba-tiba Pang De muncul menyerangnya dari samping.

"Jangan kau sentuh tuanku !!!" Teriak Pang De.

Wei Yan tertahan dan terpakasa harus menghadapi Pang De ini. Para jenderal Lainnya segera menolong Cao-Cao dan membawanya pergi. Ma Chao karena pertimbangan jumlah pasukan akhirnya mundur setelah beberapa saat. Cao-Caopun akhirnya berhasil dibawa kembali kedalam kemahnya.

Cao-Cao terluka diwajahnya, anak panah tadi mengenai bibirnya dan menanggalkan kedua gigi depannya. Ketika sedang ditangani oleh tabib, Cao-Cao terus memikirkan kata-kata Yang Xiu. Didalam penyesalan dia memerintahkan agar jasad Yang Xiu dikuburkan dengan hormat.

Lalu dia memberikan perintah pada Pang De untuk menajaga barisan belakang pasukannya sementara Cao-Cao memerintahkan pasukannya untuk mundur. Cao-Cao sendiri berada di kereta kuda terbaring untuk menyembuhkan lukanya. Dia dijaga oleh 5.000 prajurit "Armored Tiger"-nya.

Belum dia pergi jauh tiba-tiba api menyala dan serangan terjadi di lembah Xie. Pasukan Wei langsung ketakutan atas hal ini.

BAB 73

Ketika Cao-Cao mundur menuju lembah Xie, Zhuge Liang menganggap hal itu adalah tanda bahwa Cao-Cao akan segera kembali ke ibu kota. Zhuge Liang memerintahkan Ma Chao dan pasukannya untuk menyerang pasukan Cao-Cao dan membuat kerusakan sebesar-besarnya. Karena alasan inilah pasukan Cao-Cao harus bergerak terus menerus. Sementara itu Cao-Cao yang terluka dan secepatnya dia dibawa menuju daerah aman. Pasukan Cao-Cao sudah kehilangan semangat bertempur, asal mereka melihat api dan asap didalam perjalanan maka pasukan ini sudah langsung ketakutan. Mereka ditekan terus menerus oleh pasukan Ma Chao tanpa diberikan kesempatan beristirahat. Hanya setelah mereka sampai di perbatasan Jing Zhou mereka dapat beristirahat.

Setelah berhasil menguasai seluruh Han Zhong, Liu Bei mengirim Liu Feng, Meng Da dan Wang Ping untuk mengambil Shang Yong. Komandan penjaga kota itu, Shen Dan para bawahannya yang mengetahui bahwa Cao-Cao telah mundur segera menyerah. Setelah Rakyat ditenangkan dan Liu Bei memberikan paskannya hadiah maka Liu Bei pun mengadakan perjamuan besar atas kemenangan ini bersama para bawahannya.

Pada perjamuan inilah banyak bawahan Liu Bei yang ingin meminta Liu Bei untuk mengenakan Gelar KAISAR SHU-HAN, tetapi mereka tidak berani mengatakannya. Tetapi mereka mengirimkan sebuah petisi kepada Zhuge Liang untuk memintanya agar dia mau membujuk Liu Bei.

Zhuge Liang berkata pada mereka, "Aku telah memikirkan sesuatu mengenai hal ini, kalian bersabarlah."

Lalu Zhuge Liang dan Fa Zheng menuju kekediaman Liu Bei.

Mereka berkata, "Sekarang Cao-Cao memegang seluruh kekuasaan pemerintahan, rakyat sekarang tidak memiliki seorang pemimpin yang berdaulat. Tuanku, Kebaikanmu dan juga rasa kebenaranmu telah diketahui diseluruh penjuru negeri. Kau juga telah menyatukan wilayah sungai Han dan Sungai Besar. Kau sekarang harus menjadi seorang kaisar karena sesuai dengan petunjuk langit dan keinginan orang banyak. Dan dengan gelar serta titel tersebut kau dapat menghancurkan pemberontakan, menyatukan negara dan membawa perdamaian bagi rakyat. Hal ini tidak boleh ditunda lagi dan kami harap kau segera memilih hari baik."

Liu Bei sangat terkejut mendengar kata-kata ini dan berkata, "Kata-katamu tuan penasehat sangat membuatku terkejut. Walaupun aku berasal dari keluarga kekaisaran tetapi aku hanyalah seorang Hamba negara dan melakukan hal yang kau minta adalah pemberontakan melawan Han."

Zhuge Liang menjawab, "Tidak tuanku, Sekarang ini kekaisaran sedang dilanda banyak bencana dan sudah banyak orang-orang yang mmencoba untuk merebut tahta. Telah banyak orang berkorban dan membuang hidupnya hanya untuk melayani seorang kaisar yang dapat menjadi junjungan seluruh negeri. Sekarang, jika kau tetap saja memegang kerendahan hatimu dan kebajikan yang tidak pada tempatnya ini maka aku takutkan kau akan kehilangan dukungan rakyat banyak. Tuanku, Aku harap kau mau mempertimbangkan hal ini."

"Tetapi keinginanmu itu membuatku harus merebut tempat terhormat di negeri ini dan aku tidak berani melakukan hal itu. Lebih baik kita tidak usah membicarakan hal ini lagi.", Kata Liu Bei.

Lalu Zhuge Liang dan Fa Zheng berkata, "Tuanku, jika kau menolak hal ini maka hati rakyat akan menjauh dari dirimu !"

"Tuanku," Kata Zhuge Liang, "Kau telah sangat memegang teguh prinsip idealmu sepanjang hidupmu. Jika kau memang berkeberatan untuk menyandang kedudukan terhormat ini maka karena kau telah memiliki JingZhou, YiZhou dan HanZhong, aku harap kau mau untuk menyandang gelar sementara sebagai Pangeran HanZhong."

"Tuan2x, Walaupun kalian menginginkan aku menyandang gelar pangeran. Tetapi tanpa titah dari kaisar maka hal seperti ini dapat dianggap memberontak."

Kata Zhuge Liang, "Saat ini kita membutuhkan kepemimpinan yang sesungguhnya dan bukan masalah protokol dan tata krama."

Lalu Zhang Fei dengan lantang bersuara keras, "Berbagai macam orang dengan berbagai nama berusaha untuk membuat diri mereka sebagai kaisar. Mengapa kau tidak pantas padahal kau adalah salah satu keluarga kekasiaran ? Aku pikir seharusnya kau tidak bergelar pangeran HanZhong tetapi Kaisar. Apa lagi yang mencegahmu ?"

"Adik, tidak perlu kau berkata apa-apa lagi. Tindakan ini dapat dianggap pemberontakan." Kata Liu Bei dengan kasar.

"Tuanku, Sekarang saatnya kita harus mengikuti perubahan politik dan tindakan kitapun harus mengikuti perubahan itu. Oleh sebab itu kenakanlah dahulu gelar Kepangeranan itu dan setelah itu kita akan mengirim surat pada Kaisar."

Liu Bei menolak sebanyak tiga kali tetapi setelah akhirnya kalah berdebat dengan Zhuge Liang dan Fa Zheng dan tidak mempunyai alasan lagi maka dia setuju. Pada tahun ke 24 pada masa Jian An atau tahun ke 29 masa pemerintahan kasisar Xian (tahun 219 M), pada Bulan ke 7 sebuah altar disiapkan di Mianyang. Didepan seluruh pejabat militer dan sipil dan juga atas permintaan kedua menteri Xu Jing dan Fa Zheng maka Liu Bei diangkat menjadi Pangeran HanZhong dan didudukan diatas tahta mengahdap Selatan seperti yang setiap pemimpin harus lakukan. Setiap orang disitu lalu bersujud dan memberi hormat padanya, Liu Chan anaknya diajdikan sang Pewaris Takhta.

Xu Jing lalu diberikan gelar Pejabat Kekaisaran Wilayah Shu, Fa Zheng diangkat menjadi Kepala Sekertariat. Zhuge Liang diangkat menajdi Menteri Utama dan membawahi seluruh pasukan serta memperoleh wewenang untuk menentukan kebijakan setiap daerah. Guan Yu, Zhang Fei, Zhao Yun, Huang Zhong dan Ma Chao semua diangkat menjadi 5 Jenderal Harimau. Wei Yan diangkat menajadi gubernur Han Zhong dan seluruh orang yang membantunya diberikan jabatan dan hadiah.

Segera Setelah itu Liu Bei mengirim Surat ke Ibu kota untuk diserahkan pada Kaisar.

Ketika Cao-Cao mendengar kabar ini dia sangat kesal sekali.

"Berani sekali sipenjual kasut ini melakukan hal ini ? Sekarang aku bersumpah akan menghancurkannya." Kata Cao-Cao.

Lalu dia mengeluarkan perintah agar seluruh pasukan di semua wilayahnya berangkat menuju Shu untuk melakukan perang besar dengan Pangeran HanZhong.

Tetapi tiba-tiba ada suara orang yang memprotes keputusan ini.

"Aku harap pangeran Wei tidak perlu untuk membuat sulit masalah ini dengan mengirim pasukan dalam perjalanan yang sangat jauh. Aku dapat mengusulkan sebuah rencana tanpa perlu kita bersusah payah tetapi ini akan membuat Liu Bei masuk dalam masalah besar. Ketika pasukannya sudah habis maka kita hanya perlu mengirim seorang jenderal dan kemenangan akan menjadi milik kita."

Cao-Cao melihat siapakah orang itu dan ternyata dia adalah sekertaris utama Sima Yi.

"Apa saranmu, teman ?" Kata Cao-Cao.

"Adik Sun Quan adalah istri Liu Bei tetapi Sun Quan telah menculiknya dan juga Liu Bei memiliki JingZhou. oleh sebab kedua hal ini maka Liu Bei dan Sun Quan sebenarnya memiliki rasa permusuhan. Oleh sebab itu kirimlah seorang yang pandai berbicara dan sebuah surat untuk pergi ke Wu dan membujuk Adipati Wu agar mengirim pasukan untuk merebut JingZhou. Hal ini akan membuat seluruh pasukan Shu pergi kesana untuk menyelamatkan daerah itu, saat itu kau dapat mengirim pasukanmu ke HanZhong dan Liu Bei pun akan kalah."

Rencana ini membuat hati Cao-Cao senang dan dia segera menulis sebuah surat dan mengirimkannya melalui Man Chong yang segera tiba di Wu. Segera setelah Sun Quan mengetahui kedatangannya dia segera memanggil seluruh penasehat dan staffnya.

Zhang Zhao berkata, "Wei dan Wu adalah musuh utama karena kekacauan berpikir yang dibuat Zhuge Liang. Kita telah berperang selama beberapa tahun dan telah banyak jiwa melayang. Sekarang utusan ini datang untuk membicarakan perdamaian dan seharusnya kita menerima dia."

Kemudian Man Chong diterima dan dibawa kehadapan Sun Quan. Dia menyerahkan surat Cao-Cao dan menyatakan maksud kedatangannya.

"Wu dan Wei tidak punya suatu masalah yang fundamental dan kekacauan ini telah dibawa oleh Liu Bei. Tuanku mengirimku untuk bertemu denganku dan meminta agar kau menyerang JingZhou, sementara dia menyerang HanZhong. Serangan dua arah ini akan berhasil dan daerah kekausaan yang berhasil direbut akan dibagi dua diantara kita."

Setelah membaca surat itu, Sun Quan menyiapkan jamuan makan bagi Man Chong dan kemudian mengirim dia menuju rumah tamu sementara dia mendiskusikan masalah ini dengan para staffnya dan penasehatnya.

Kata Gu Yong, "Walaupun kata-kata utusan itu hanyalah sebuah retorika saja tetapi yang dikatakannya memang benar. Aku pikir lebih baik kita kirim pulang utusan itu dan setuju untuk berdamai dengan Cao-Cao. Sebagai tambahan kita dapat mengirim mata-mata untuk melihat apa yang Guan Yu sedang lakukan di Jing Zhou, setelah itu kita baru bertindak."

Zhuge Jin berkata," Sejak Guan Yu berada di JingZhou, dia telah menikah dan memiliki dua orang putra dan seorang putri. Aku pikir kita dapat memintanya untuk menikahkan putrinya dengan pewaris takhtamu, jika dia setuju maka kita dapat berkerja sama dengannya menyerang Cao-Cao. Jika dia menolak maka kita akan membantu Cao-Cao menyerang JingZhou."

Sun Quan setuju dengan usul ini dan dia mengirim Man Chong kembali. Dia juga mengirim Zhuge Jin pergi ke JingZhou untuk melaksanakan rencananya.

Ketika Bertemu Guan Yu bertanya padanya, "Untuk Apa kau datang, Zhuge Jin ?"

"Aku datang untuk menjalin persekutuan diantara Shu dan Wu. Tuanku, Sun Quan memiliki seorang putra yang pandai. Mendengar kau mempunyai seorang putri, jenderal, Tuanku ingin meminang putrimu untuk putranya, dengan itu kita dapat berkerja sama menyerang Wei. Hal ini akah sangat baik untuk kita bedua dan aku harap kau mau mempertimbangkan usulan ini."

Tetapi tiba-tiba Guan Yu marah.

"Bagaimana mungkin putri harimau menikahi anak anjing ??? Jika saja aku tidak memandang Kakakmu, aku sudah akan mengambil kepalamu sekarang ini. Jangan katakan apa-apa lagi !", Kata Guan Yu.

Guan Yu lalu memanggil pelayannya untuk mengusir keluar Zhuge jin yang segera lari dengan tangan diatas kepalanya, dia terlalu ketakutan untuk dapat melihat siapapun dimukanya. Dan ketika dia sampai ketempatnya dia menceritakan seluruh kejadian itu.

"Sungguh kurang aja !!" Kata Sun Quan.

Segera Sun Quan lalu memerintahkan agar para bawahannya berkumpul dan segera membuat rencana menyerang JingZhou.

Bu Zhi segera berdiri dan berkata, "Telah lama Cao-Cao ingin menduduki takhta kaisar tetapi dia takut pada Liu Bei. Sekarang kita akan menyerang Shu dan Cao-Cao ingin mebuang sialnya pada kita."

"Tetapi aku juga ingin takhta itu." kata Sun Quan.

Kata Bu Zhi, "Cao Ren telah berkemah di FanCheng dan XiangYang dan tidak mengalami bahaya apapun dari arah sungai. Jika Cao-Cao dapat merebut JingZhou mengapa dia tidak merebutnya ? Tetapi dia menginginkanmu tuanku untuk mengirim tentaramu, dari hal ini kau harusnya dapat menilai niat sebenarnya. Kirimkan pada Cao-Cao dan katakan padanya agar Cao Ren menyerang dari darat. Lalu Guan Yu harus membawa pasukan dari JingZhou ke Fan Cheng. Ketika Guan Yu meninggalkan JingZhou, kau dapat mengirim pasukan untuk merebut tempat itu.'

Sun Quan berpikir bahwa rencana itu sangat baik dan dia mengirim surat itu pada Cao-Cao. Cao-Cao setuju untuk menjalankan usulan itu dan kemudian mengirim Man Chong menemui Cao Ren di Fan Cheng sebagai penasehat untuk masalah penyerangan ini. Dia juga mengirim utusan ke Dataran selatan untuk meminta Bantuan Sun Quan dari sungai.

Setelah menempatkan Wei Yan menjaga Han Zhong, Liu Bei berserta dengan para staffnya kembali ke Cheng Du dan mulai menempatkan administrasi pemerintahannya yang baru dengan benar. Sebuah istana baru dibangun dan Rumah2x Tamu dibangun. Diantara Cheng Du dan BaiShui, pada tempat2x tertentu mereka membangun 400 rumah peristirahatan dan juga Kemah penjagaan. Liu Bei juga mengumpulkan banyak persediaan pangan dan juga mengembangkan dan menyimpan persenjataan dalam jumlah besar. Dia juga mengolah tanah didaerahnya dan bersikap adil pada rakyatnya.

Kemudian Mata-mata datang dan memberitahukan padanya mengenai perjanjian antara Cao-Cao dan Sun Quan, dengan tujuan untuk merebut JingZhou. Liu Bei segera memanggil Zhuge Liang dan bertanya apa yang harus dilakukan.

"Akur rasa Cao-Cao pasti akan mencoba melakukan hal ini dan kebanyakan penasehat diselatan akan membujuk Cao-Cao untuk memerintahkan Cao Ren melakukan serangan terlebih dahulu."

"Tetapi apakah yang harus kulakukan sekarang ?" Tanya Liu Bei.

"Pertama kirimkanlah utusan kepada Guan Yu dengan gelar barunya. Katakan padanya untuk merebut Fan Cheng. Hal ini akan membuat mental pasukan musuh jatuh dan mereka akan mundur."

Segera Liu Bei mengirim Fei Shi, Seorang menteri dari departemen peperangan untuk mengirimkan surat berserta hadiah bagi Guan Yu. Utusan itu diterima dengan baik oleh Guan Yu dan disana Fei Shi menjelaskan Apa maksud kedatangannya. Fei Shi kemudian menjelaskan bahwa dia membawa surat pemberian gelar. Guan Yu lalu bertanya gelar apakah yang diberikan.

"Yang Pertama dari 5 jenderal Harimau," Jawab Fei Shi.

"Dan siapakah ke 4 orang lagi ?"

"Mereka adalah Zhang Fei, Zhao Yun, Ma Chao dan Huang Zhong."

"yang kedua adalah adikku, Ma Chao berasal dari keluarga terhormat sedangkan Zhao Yun telah lama sekali ikut dengan kakakku dan kami juga telah menganggapnya saudara. Adalah tepat bagi mereka berdua untuk menerima gelar kehormatan itu. Tetapi siapakah Huang Zhong ini sehingga dia dapat disejajarkan dengan kami semua ? Orang Hebat tidak berdiri sama tinggi dengan seorang prajurit biasa."

Dan Guan Yu menolak gelar dan juga stempel penugasannya.

"Kau salah jika menolak hal ini. Pada masa lampau, Xiao He dan Cao Shen membantu Liu Bang, pendiri dinasti Han. Mereka adalah sahabat baik, sementara Han Xin hanyalah seorang pelarian dari Chu. Tetapi Liu Bang mengangkat Han Xin sebagai pangeran sehingga jabatannya lebih tinggi dari mereka berdua yang adalah teman dekatnya. Aku tidak pernah mendengar mereka berdua menyesali hal ini. Pangeran HanZhong memiliki 5 jenderal harimau tetapi dia tetap adalah kakakmu. Sebagai adiknya kau adalah dia dan dia adalah kau, mana bisa kau bandingkan dengan yang lainya ? Pangeran selalu memperlakukanmu dengan kebaikan yang sangat. Kalian berdua telah mengalami suka dan duka bersama. Hal seperti ini tidak perlu dibandigkan hanya dengan gelar kecil ini. Aku harap tuan mau mempertimbangkan hal ini."

Guan Yu mengerti dan dia berterima kasih pada Fei Shi dan berkata, "Kau telah mencegahku melakukan kesalahan karena ketidak-tahuanku."

Guan Yu lalu menerima Stempel dan Surat itu dengan penuh kerendahan hati.

Kemudian Fei Shi mengeluarkan Titah untuk memerintahkan Guan Yu merebut FanCheng. Guan Yu langsung segera mematuhi perintah ini dan dia segera menunjuk Fu Shiren dan Mi Fang sebagai pemimpin pasukannya dan mempersiapkan pasukan untuk keluar dari kemah.

Setelah selesai dia lalu mempersiapkan jamuan bagi Fei Shi, jamuan diadakan sampai larut malam. Disaat dia masih duduk dimejanya, tiba-tiba datang prajurit melapor bahwa api terlihat diperkemahannya. Guan Yu segera keluar dari kota untuk melihat. Dia melihat kedua jenderal itu juga mengadakan pesta dan api menyala dibelakang tenda mereka. Ternyata sebatang lilin terjatuh ketempat bahan peledak dan api segera menyebar dan menghancurkan seluruh perkemahan itu. Guan Yu dan pasukannya berusaha semampunya untuk melakukan apapun yang bisa dilakukan untuk memadamkan api. Setelah selesai mereka kembali memasuki kota. Disana Guan Yu memanggil kedua jenderal itu dan memaki mereka karena kurang hati2xnya mereka, dia juga menghukum mati mereka.

Tetapi Fei Shi mencegahnya dan berkata, "Tidaklah baik untuk menghukum mati kedua jenderalmu ini bahkan sebelum perjalanan ini dimulai. Lebih baik kau tunda dahulu hukuman bagi mereka sampai setelah tugasmu selesai."

Kemarahan Guan Yu akhirnya sirna dan dia berkata pada dua jenderal itu, "Jika bukan karena Menteri Fei Shi ini disini, aku telah memenggal kalian berdua. Tapi sekarang aku hanya akan menghukum cambuk kalian."

Jadi masing2x jenderal itu menerima 40 pukulan dan pangkatnya diturunkan. Mi Fang dikirim ke NanJun dan Fu Shiren ke Gongan.

"Sekarang aku peringatkan, jika aku kembali dan aku melihat ada tanda2x kekacauan didaerah kalian maka kalian akan kuhukum untuk kedua kesalahan itu."

Kedua orang itu segera berangkat menuju tempat tugasnya yang baru.

Kemudian kedua jenderal baru ditunjuk, Liao Huan dan Guan Ping. Kemudian Guan Yu membawa pasukan utama dan dia membawa dua penasehat yaitu Ma Liang dan Yi ji. Lalu kemudian anak dari Hu Hua yang bernama Hu Ban datang ke Jing Zhou dan bergabung dengan Guan Yu. Guan Yu menerimanya dan menyayanginya karena jasa ayahnya yang pernah menolong Guan Yu. Guan Yu mengirimnya pada Liu Bei bersama dengan Fei Shi.

Hari itu Guan Yu sedang beristirahat dikemahnya sebelum upacara pengorbanan dilakukan. Tiba-tiba seekor babi hutan masuk kedalam kemahnya, Babi Hutan itu sangat besar hampir sebesar seekor sapi muda dan berwarna hitam. Dia melompat untuk membunuh hewan itu, tetapi ketika dia mendengar bunyi ringkikan dia terbangun. Itu hanyalah sebuah mimpi tetapi rasa sakit dikakinya nyata. Mimpi itu membingungkannya dan dia tidak dapat menjelaskannya.

Dia menceritakan hal itu pada anaknya yang mengartikan itu dengan penuh keceriaan, "Babi Hutan adalah perlambang kesuksesan, seperti naga dan datang kekakimu artinya meningkatkan statusmu."

Ketika mimpi itu tersebar keluar, beberapa mengartikan itu dengan pertanda baik dan beberapa sebaliknya.

"Ketika seorang mendekati 60 tahun, dia tidak perlu terlalu khawatir mengenai kematian, lagi pula aku ini seorang pendekar." Kata Guan Yu.

Tepat saat itu datang titah dari Pangeran Han Zhong yang mengangkat Guan Yu menjadi Jenderal Utama, yang menguasai ke 9 daerah JingZhou dan juga ke 41 kotanya. Ketika para bawahannya memberi selamat pada dirinya, mereka tidak lupa mengenai mimpi itu.

"Ini mengartikan arti dari mimpi itu.", Kata Mereka.

Hal ini membuat Guan Yu senang dan dia tidak memiliki keragu-raguan lagi. Segera dia bergerak membawa pasukannya keluar.

Cao Ren sedang berada di Xiang Yang ketika dia mendengar Guan Yu datang membawa pasukan. Dia tidak berpikir banyak dan langsung mempersiapkan pertahanan. Tetapi Zhai Yuan wakilnya, tidak mendukung langkah ini.

"Pangeran Wei telah memeritnahkan agar kita berkerja sama dengan Wu dan merebut JingZou. Aku rasa dengan bertahan kita tidak akan dapat menghasilkan apa-apa."

Man Chong yang diutus sebagai penasehat segera memberi sarannya.

Kata Dia, "Guan Yu adalah pemberani dan juga licik. Dia bukanlah lawan mudah. Aku pikir bertahan adalah langkah terbaik."

Lalu jenderal Xiahou Cun berkata, "Ini adalah perkataan para kutu buku. Ketika banjir mendekat, buatlah bendungan untuk menahannya. Biarkan musuh datang dengan pasukan mereka yang letih dan setelah itu kita akan menyerang keluar dan mengalahkan mereka. Kita pasti akan mendaptkan kemenangan."

Cao Ren akhirnya mau mencoba untuk menyerang keluar. Dia menempatkan Man Chong sebagai pemimpin pertahanan di FanCheng sementara dia keluar membawa pasukan untuk mengalahkan Guan Yu. Ketika kedua pasukan bertemu, Guan Yu memanggil Liao Hua dan Guan Ping, kepada mereka dia memberikan beberapa perintah. Kedua jenderal ini lalu langsung mengatur pasukannya dan setelah itu Liao Hua maju untuk menantang berduel. Zhai Yan dari pasukan Wei maju kedepan untuk menghadapinya, tetapi tidak lama pertarungan itu berlangsung. Liao Hua berpura-pura dia kalah dan kabur. Zhai Yan mengejarnya dan pasukan JingZhou mundur sejauh 15 Li.

Segera pasukan JingZhou datang kembali dan menantang perang. Lalu Xiahou Cun dan Zhai Yuan keluar menghadapi. Hal ini berlangsung beberapa hari secara berulang-ulang tetapi dihari ke 4 tiba-tiba ketika pasukan JingZhou mundur dan dikejar oleh pasukan Cao-Cao, dari belakang pasukan Wei terdengar bunyi ledakan dan genderang perang. Cao Ren segera memanggil mundur pasukannya. Mereka melakukan hal itu tetapi Guan Ping dan Liao Hua menyerang dari sisi kiri dan kanan pasukan sehingga memecah formasi pasukan musuh. Hal ini membuat kekacauan dibarisan pasukan musuh.

Cao Ren pada saat ini telah melihat bahawa ada jebakan yang dijalankan musuh dan mereak telah masuk didalam jebakan itu, sehingga dia segera membawa pasukannya kembali ke Xiang Yang. Didalam perjalan ke Xiang Yang ketika dia melihat dihadapannya ada seorang gagah dibawah panji2x perangnya yang berkibaran tertiup angin datang kearahnya. Setelah cukup dekat barulah dia sadari bahwa itu adala Guan Yu dengan Golok Naganya bersiap untuk menebas. Cao Ren langsung ketakutan dan dia merasa tidak mampu melawan Guan Yu segera berputar melalui jalan setapak untuk mencapai Xiang Yang.

Kemudian Xiahou Cun datang. Dia sangat marah ketika melihat Guan Yu dan pergi melawannya. Xiahou Cun belum sempat menebaskan tombaknya ketika Golok Naga Hijau Guan Yu telah menebas lehernya. Zhai Yuan yang melihat hal ini segera melarikan diri, tetapi Guan Ping mengejar dan membunuhnya. Kemudian pengejaran atas pasukan Cao Ren dilakukan, kekalahan dipihak Cao-Cao sangat besar. Lebih dari 1/2 pasukannya tenggelam disungai Xiang. Melihat situasinya sangat kritis, Cao Ren lari ke Fan Cheng. Dengan ini Guan Yu menguasai XiangYang.

"Kau telah mendaptkan kota ini dengan cukup mudah, pasukan Cao-Cao telah dikalahkan dan moral mereka sedang jatuh. Tetapi masih ada bahaya dari pasukan Wu. Lu Meng di Lu Kou dan dia telah lama ingin merebut JingZhou. Jika sekarang dia menyerang apakah yang akan kita lakukan ?" Tanya Wang Fu salah seorang jenderal Guan Yu.

"Aku telah memikirkan hal itu, kau pergilah menuju tepi sungai. Disana kau pasti akan dapat menemukan tempat tinggi yang terpisah sejauh 15 Li, tempat itu sangat cocok sebagai menara jaga. 50 prajurit menjaga setiap pos. Nyalakan api pada malam hari dan asap pada siang hari. Jika mereka melintas sungai, aku akan datang dan menghancurkan mereka."

Wang Fu menjawab," Fu Shiren dan Mi Fang menjaga tempat2x penting, tetapi mereka tidak dapat untuk menjaga benteng air. Aku pikir seharusnya ada seorang komandan yang menjaga kota JingZhou."

"Kau tidak perlu khawatir. Inspektur pasukan Pan Jun menjaga kota."

"Aku ragu dengan karakter Pan Jun, dia sangatlah irian dan juga egois. Aku rasa dia bukanlah orang yang tepat untuk tugas ini. Aku pikir kau harus mengantikan dia dengan Zhao Lei, Dia sekarang sedang bertugas menjadi kepala perbekalan. Zhao Lei sangat loyal dan juga dapat dipercaya. Dia adalah orang yang tepat untuk posisi ini." Wang Fu menjelaskan.

"Aku mengetahui Pan Jun dengan cukup baik, tetapi aku telah menugaskan padanya suatu hal dan aku tidak dapat menggantinya sekarang. Perkerjaan Zhao Lei dibagian logistik juga sangat penting. Aku pikir kau tidak perlu khawatir mengenai hal itu. Jalankan saja perintahku untuk membuat menara jaga."

Wang Fu yang kecewa akhirnya berpamitan.

Lalu Guan Pin diperintahkan untuk menyiapkan perahu untuk dapat menyebrangi Sungai dan menyerang Fan Cheng.

Sekarang Cao Ren berbicara pada Man Chong, "Aku telah menghiraukan nasehatmu dan sekarang aku mengalami kekalahan. 2 jenderalku jg tewas serta kehilangan kota XiangYang. Apa yang harus aku lakukan sekarang ?"

"Guan Yu sangatlah berbahaya, terlalu gagah dan berani serta cerdik bagi kita untuk dikalahkan hanya dengan cara2x yang biasa. Kita lebih baik tetap dalam posisi bertahan." Jawab Man Chong.

Kira2x pada saat ini datanglah berita bahwa Guan Yu datang melintas sungai dan sedang akan menyerang. Man Chong tetap menajalankan tugas memperkuat pertahanan. Tetapi salah satu jenderal Cao Ren, Lu Chang pergi keluar untuk melawan musuh.

"Aku meminta beberapa ribu pasukan dan aku akan melawan musuh."

"Kau tidak akan dapat melakukan apapun." Kata Man Chong.

"Menurut dirimu dan kawan2x kutu bukumu hanya ada satu hal yang dapat dilakukan. Tetapi apakah hal itu dapat mengalahkan musuh ? Jalan yang terbaik adalah menyerang musuh ketika mereka melintas sungai dan karena sekarang Guan Yu sedang melakukan itu mengapa kita tidak menyerang ? Akan jadi masalah lebih besar jika kau membiarkan dia mendekati tembok ktoa dan menguasai parit2x kita."

Hasil dari protest ini akhir Lu Chang mendapatkan 2.000 prajurit yang dipimpinnya menuju sungai. Disana dia melihat Guan Yu telah menyusun formasi untuk bertempur. Guan Yu segera berkuda dan Lu Chang si Pemberani akan menyerang dia. Tetapi pasukannya langsung ketakutan begitu melihat Guan Yu dan melarikan diri. Lu Chang memanggil mereka kembali tetapi mereka tidak mau. Guan Yu kemudian memerintahkan pasukannya menyerang dan pasukan Wei kalah lagi hari itu. Cao Ren segera mengirim utusan ke Xu Chang untuk mengatakan bahwa Guan Yu datang menyerang dan Fan Cheng sekarang dalam bahaya.

Surat itu sampai ketangan Cao-Cao yang langsung memilih seorang jenderal untuk tugas ini,"Kau pergilah dan pertahankan FanCheng !"

Orang itu segera menerima tugas itu, dia adalah Yu Jin.

"Ijinkan aku membawa seorang jenderal untuk memimpin pasukan didepan." Kata Yu Jin.

"Siapaka yang mau menjadi sukarelawan ?" Tanya Cao-Cao sambil memandang sekeliling.

"Aku mau ! Aku akan berusaha untuk menangkap Guan Yu dan membawanya kepadamu."

BAB 74

Jenderal Cao-Cao yang berkata itu adalah Pang De dan Cao-Cao sangat senang ada seorang yang berani untuk menghadapai Guan Yu.

"Guan Yu itu memiliki reputasi besar, dan diseluruh kekaisaran ini dia tidak terkalahkan. Tetapi sekarang kau akan menghadapinya dan dia akan menemukan bahwa reputasinya akan segera berakhir." Cao-Cao Berkata.

Lalu Cao-Cao langsung menurunkan titah dan mengangkat Yu Jin dan Pang De sebagai pemimpin pasukan dan mereka membawa 7 divisi pasukan berkekuatan 150.000 prajurit menuju Fan Cheng.

Dong Heng berkata, "Tuan Jenderal, Ekspedisi kali ini adalah untuk membantu FanCheng dan aku yakin kita akan mendapatkan kemenangan. Tetapi apakah bijak untuk menempatkan Pang De sebagai komandan pemimpin pasukan ?"

"Kenapa memangnya ?" Kata Yu Jin terkeut.

"Karena Pang De dahulu adalah bawahan dari Ma Chao. Waktu itu dia tidak punya pilihan dan akhirnya menyerah pada Wei. Tetapi sekarang Ma Chao merupakan salah seorang panglima perang besar di Shu dan juga salah satu dari 5 jenderal Harimau. Adiknya Pang Rou juga ada disana dan berkerja sebagai pejabat. Untuk mengirim Pang De sebagai pemimpin sama seperti untuk memadamkan api dengan minyak. Apakah tidak lebih baik untuk memberitahukan kepada pangeran Wei dan memintanya mengganti dia dengan yang lain ?"

Yu Jin lalu langsung menemui Cao-Cao dan menyatakan keberatannya dengan penunjukan Pang De. Segera Cao-Caopun mengerti dan dia memanggil Pang De dan memintanya untuk menyerahkan Stempel Panglimanya.

"Tuan Pangeran, Kenapa kau menarik kembali titahmu ini? Aku baru saja ingin melakukan yang terbaik untukmu ?"

"Aku tidak punya keraguan atas dirimu, tetapi Ma Chao sekarang berada di Shu dan juga adikmu. Keduanya berkerja dibawah Liu Bei. Aku sendiri yakin dengan dirimu dan kemampuanmu tetapi banyak diantara para bawahanku yang berkata lain. Jadi aku tidak dapat melakukan hal lain selain menarik titahku."

Mendengar ini Pang De lalu menyerahkan stempel penugasannya dan air mata jatuh dari pipinya.

"Sejak aku menyerah padamu, Tuan Pangeran. Aku telah merasakan banyak kebaikan yang kau berikan. Aku ingin menjalankan tugas besar ini untuk menunjukan rasa terima kasihku. Aku harap kau mempercayaiku. Ketika Aku dan adikku masih bersama, dia mempunyai Istri seorang wanita yang licik dan jahat. Aku membunuhnya ketika aku sedang mabuk. Adikku tidak pernah memaafkanku sejak saat itu dan dia memiliki dendam sampai saat ini. Dia bersumpah tidak akan pernah akan menemuiku lagi. Sedangkan untuk Ma Chao, Aku memiliki banyak ketidak cocokan dengannya. Dia sunnguh gagah dan pemberani, dan hanya itu yang dia punya. Sekarang seperti denganku diapun melayani tuannya, persahabatan kami sudah berakhir. Bagaimana mungkin aku dapat memikirkan yang lainnya setelah semua perbuatan baikmu padaku ?"

Cao-Cao lalu segera meminta Pang De untuk berdiri dan dia berkata, "Aku tahu bahwa kau adalah seorang yang mulia, dan apa yang baru kukatakan hanya untuk memusakan perasaan orang-orang yang tidak mempercayaimu. Sekarang kau dapat pergi dan meraih kejayaan. Jika kau tidak mengkhianatiku maka akupun tidak akan mengkhianatimu."

Lalu Pang De segera pergi dan kembali kerumahnya, disana dia memerintahkan agar pelayannya membawakan sebuah peti mati. Kemudian dia mengundang semua temannya kedalam suatu perjamuan dan dia menempatkan peti mati itu didalam ruangan perjamuan agar semuanya dapat melihat.

Dan para tamunya saling bertanya satu dengan yang lainnya, "Apa artinya peti mati itu ditaruh ditempat ini dimalam sebelum ekspedisi dimulai ?"

Pang De kemudian berkata, "Pangeran Wei telah sangat baik padaku dan aku akan menunjukan rasa terima kasihku walaupun aku harus mati. Aku akan pergi untuk menghadapi Guan Yu ini dan aku akan membunuhnya atau dia akan membunuhku. Jika dia tidak membunuhku maka aku akan membunuh diriku sendiri dan aku mempersiapkan peti mati ini sebagai tempat mayatku. Aku tidak akan kembali tanpa menunaikan tugasku."

Kata-kata itu mengejutkan para tamunya dan mereka semua kemudian menarik napas panjang. Kemudian Pang De memanggil istrinya Lady Li, dan juga anaknya Pang Hui.

"Aku telah ditunjuk sebagai panglima pasukan melawan Guan Yu dan sudah nasibku untuk memperoleh kejayaan atau kematian didalam pertempuran. Jika aku meninggal, aku harap kau mau merawat anak kita baik-baik. Sungguh sayang, anak kita lahir dengan nasib buruk dan ketika dia dewasa dia haurs membalaskan dendam ayahnya."

Anak dan ibu keduanya menangis dan mengucapkan selamat jalan. Ketika pasukan itu berangkat keesokan paginya, peti mati itu dibawa didalam sebuah kereta kuda.

Pang De lalu memanggil semua bawahannya dan dia berkata, "Aku akan melawan Guan Yu ini hingga Akhir, Taruhlah tubuhku didalam peti mati itu jika aku tewas dalam pertempuran. Dan jika aku berhasil membunuhnya maka aku akan membawa kepalanya didalam peti mati ini sebagai persembahan kepada Pangeran Wei."

Lalu berkatalah 500 orang bawahannya, "Jika kau seperti ini jenderal, maka kamipun akan mengikutimu hingga ke neraka sekalipun."

Seseorang kemudian menceritakan kisah ini pada Cao-Cao yang sangat senang mendengarnya, "Aku tidak memiliki kekhawatiran lagi jika jenderal seperti dia memimpin pasukanku."

Tetapi Jia Xu berkata, "Aku sangat khawatir akan keselamatan Pang De. Dia terlalu tidak sabar dan nekat jika ingin melawan Guan Yu hingga mati."

Cao-Cao lalu berpikir bahaw rencana Pang De tidaklah bijak dan dia segera mengirim surat kepada Pang De untuk memperingatinya.

"Guan Yu ini sangatlah gagah dan juga penuh tipu daya. Kau harus sangat berhati-hati jika berhadapan dengannya. Jika kau dapat mengalahkannya maka seranglah, jika kau ragu maka tetaplah dalam posisi bertahan."

"Pangeran kita terlalu melebih-lebihkan kemampuan Guan Yu ini !" kata Pang De kepada para bawahanna ketika dia membaca surat itu, "Tetapi aku pikir aku akan mampu menghapus 30 tahun reputasinya sekarang."

"Perintah Pangeran haruslah kita patuhi." Kata Yu Jin.

Pang De lalu secepatnya menuju FanCheng.

Guan Yu sedang duduk didalam kemahnya ketika mata-mata melapor kepadanya, "7 divisi pasukan besar dari utara dibawah Yu Jin sedang mendekat. Mereka sekarang berada 20 Li jauhnya dari FanCheng. Pemimpin pasukan terdepan adalah Pang De dan dia membawa peti mati. sepanjang jalan dia menghinamu jenderal dan dia bersumpah akan berperang habis2xan dengan dirimu."

Kemarahan langsung memuncan didalam diri Guan Yu dan dia berkata, "Tidak ada seorang pendekarpun didunia ini yang tidak bergetar ketika mendengar namaku. Berani sekali orang ini menghinaku ?"

Lalu dia memerintahkan Guan Ping untuk menyerang FanCheng sementara dia keluar untuk menghadapi Pang De.

"Ayah, Gunung TaiShan sungguh mulia dan dia tidak bersaing dengan sekedar batu dijalan. Biarlah aku yang pergi dan melawan Pang De ini."

"Jika begitu maka anakku pergilah dan hadapi dia, aku akan berada dibelakangmu membawa pasukan."

Lalu Guan Ping segera mengambil pedangnya dan naik keatas kudanya dan segera berangkat dengna pasukannya. Kedua sisi segera mengatur formasi pasukan. Di sisi Wei terlihat bendera perang berkibar berwarna hitam dengan tulisan besar berbunyi, 'PANG DE, Jenderal Barat.'. Dia mengenakan Jubah berwarna biru dan juga helm perak serta menaiki kuda berwarna putih. Dia berada didepan pasukannya dan dibelakangnya ada pasukan yang membawa peti mati.

Guan Ping sangat marah dan lalu dia berteriak, "Menyerahlah pengkhianat !"

"Siapakah dia ?" Tanya Pang De pada para pengikutnya.

Seseorng menjawab, "Dia adalah Guan Ping, anak angkat Guan Yu."

Pang De lalu berteriak, "Aku memiliki titah dari pangeran Wei untuk membawa kepala ayahmu. Kau tidak pantas melawanku dan aku akan membebaskanmu. Pulanglah dan panggilah ayahmu untuk menghadapiku !"

Guan Ping segera menerjang maju dengan pedangnya. Pang De lalu segera menghampirinya dan mereka bertarung hingga 30 jurus tanpa ada yang menang.

Kedua sisi segera kembali ketempatnya masing2x. Segera Guan Yu mendengar mengenai hal ini dan dia tidak senang akan hal itu. Dia segera memerintahkan Liao Hua untuk menyerang kota sementara dia melawan Pang De. Guan Ping menemui ayahnya dan menceritakan mengenai pertarungannya dengan Pang De.

Akhirnya Guan Yu mengendarai Kuda merahnya dan dengan golok naganya dia pergi kemedan pertempuran, Dia lalu berteriak, "Dimana Pang De ? Keluarlah dan siaplah untuk mati !"

Pang De kemudian keluar dan berkata, "Aku memiliki titah Pangeran Wei untuk mengambil kepalamu. Jika kau tidak percaya, disini ada peti mati yang telah siap untuk menerima kepalamu. Jika kau takut mati, turunlah dari kudamu dan menyerahlah !"

"Apa yang dapat kau lakukan ? Sungguh sayang untuk mengotori golok nagaku dengan darah tikus sepertimu." Teriak Guan Yu.

Dia lalu memacu kudanya menerjang kearah Pang De, dengan mengangkat Golok Naganya dia lalu menebas kearah Pang De. Pang De menangkisnya dengan pedangnya dan mereka berdua bertarung. Guan Yu yang walaupun sudah berumur cukup lanjut tidak kehilangan kegagahannya, Pang De yang berasal dari daerah padang gurun disebelah barat sangat terampil berkuda dan dia dapat mengimbangi kekuatan Guan Yu. Kedua senjata mereka saling beradu, sesekali percikan bunga api terlihat dari kedua senjata mereka yang saling beradu, hal ini menandakan bahwa keduanya bertempur dengan tenaga penuh. Tak terasa 200 jurus telah mereka lalui tanpa ada yang menang. Pertempuran terus berlanjut dan kedua pasukan terpesona dengan apa yang mereka saksikan hari itu.

Tetapi setelah beberapa saat, pasukan Wei mulai ketakutan akan keselamatan Panglima mereka dan gong tanda mundur mulai dibunyikan. Pada saat yang sama Guan Ping juga mulai memikirkan stamina ayahnya yang mulai menurun dan bunyi gong tanda mundur jg dibunyikan dari pihak Shu. Akhirnya kedua belah pasukan mundur pada saat bersamaan.

"Orang-orang berkata bahwa Guan Yu adalah Dewa Perang. Hari ini aku benar-benar percaya akan hal itu," Kata Pang De dengan tangan gemetaran karena letih sehabis bertarung dengan Guan Yu.

Lalu Yu Jin datang menemuinya dan berkata, "Jenderal, kau baru saja bertempur ratusan jurus dan tidak ada yang menang diantara kalian berdua. Aku pikir akan lebih baik untuk bertahan sehingga membuat emosi Guan Yu menjadi labil dan dia akan keletihan menunggu."

Tetapi Pang De menjawab dengan sombong, "Mengapa sekarang kau begitu lembek ? Esok hari aku akan bertempur lagi dan saat itu aku akan bertempur hingga mati. Aku bersumpah tidak akan mengalah."

Yu Jin tidak dapat mengubah pendirian Pang De dan setelah itu dia kembali kekemahnya.

Ketika Guan Yu kembali kekemahnya, dia juga memuji Pang De dan berkata, "Ilmu berkudanya sangat sempurna. Sudah lama aku tidak pernah melawan orang hebat. Dia adalah lawan yang sebanding dengan diriku."

"Lembu yang baru lahir tentu tidak takut pada harimau." Kata Guan Ping, "Tetapi jika kau membunuh orang ini, maka kau hanya membunuh seorang prajurit rendahan dari suku Qiang di perbatasan. Tetapi jika sesuatu terjadi pada dirimu maka kau akan dipersalahkan karena tidak menjalankan tugas yang diberikan paman Liu kepada dirimu."

"Aku telah memutuskan untuk bertempur, kau tidak perlu berkata apapun lagi mengenai hal ini." Kata Guan Yu.

Keesokan harinya Guan Yu datang ke medan pertempuran terlebih dahulu dan Pang De datang dengan segera. Keduanya mengatur formasi pasukan dan kemudian maju ketengah pada saat yang bersamaan. Kali ini tidak ada satupun yang berkata-kata, Duel diantara keduanya langsung terjadi. Kira2x setelah 50 jurus, Pang De memutar kudanya dan segera kabur. Guan Yu mengejarnya dan Guang Ping mengikutinya untuk berjaga-jaga.

Guan Yu berteriak pada Pang De yang kabur, "Pemberontak ! Kau mau menggunakan taktik "Tusukan kuda berputar", tetapi disinilah aku. Aku tidak pernah takut akan hal itu."

Tetapi Pang De hanyalah berpura-pura untuk melakukan siasat itu, dia segera mengambil busurnya dan anak panahnya. Lalu dia berputar dan melepaskan anak panah itu, dan ketika Pang De melakukan itu. Guan Ping yang melihatnya segera berteriak pada Guan Yu untuk memperingatkannya.

"Dia mau melepaskan anak panahnya !"

Guan Yu melihat hal itu, tetapi busur panah telah terlepas dan anak panah itu telah melesat. Guan Yu yang telah termakan usia tidak cukup gesit untuk menghindar sepenuhnya, panah itu masih mengenai lengan kirinya dan menancap disana. Guan Ping segera membantu Ayahnya dan membawanya kembali kekemahnya. Pang De ingin mengikutinya dan mengambil keuntungan dari hal ini, tetapi tiba-tiba bunyi gong tanda mundur terdengar. Dia berpikir sesuatu pasti sedang terjadi dan diapun menghentikan pengejaran.

Signal mundur itu dibunyikan Yu Jin karena dia iri. Dia telah melihat Guan Yu terluka dan dia kesal dengan kejayaan dan jasa yang dibuat Pang De yang akah menutup semua jasa2xnya. Pang De pun mendengar bunyi gong itu segera kembali dan dia ingin mengetahui apa yang terjadi sehingga gong itu dibunyikan.

"Kenapa Gong dibunyikan ?" Tanya Pang De.

"Karena peringatan dari pangeran. Walaupun Guan Yu terluka tetapi aku khawatir ada siasat dari sisnya. Dia sangatlah licik." Jawab Yu Jin.

"Aku pasti telah membunuhnya jika kau tidak melakukan hal itu." Jawab Pang De.

"Terburu-buru malah akan berbahaya. Kau dapat bertarung dengannya lain kali." Yu Jin memberikan alasan.

Pang De walaupun tidak mengetahui maksud sebenarnya dari Yu Jin yang iri padanya, tetap saja kesal dengan hal ini.

Guan Yu kembali kekemahnya dan anak panah itu segera dikeluarkan dari lengan kirinya. Beruntungnya panah itu tidak menembus terlalu dalam dan obat2xan biasa cukup untuk menyembuhkan luka itu.

Guan Yu sangat kesal dengan Pang De dan dia berkata, "Aku bersumpah akan membalas dendam padanya untuk luka anak panah ini."

"Jangan pikirkan apapun sekarang," Kata para bawahanya, "Istirahatlah dan setelah sembuh baru kau bertempur lagi."

Tidak lama, Pang De kembali menantang duel. Guan Yu lalu segera akan keluar untuk menghadapunya tetapi bawahannya semua memohon dirinya untuk tidak pergi keluar dan beristirahat. Akhirnya diapun tidak meneruskan niatnya. Kemudian Pang De memerintahkan agar pasuaknnya meneriakan makian pada Guan Yu, Guan Ping lalu mengatur agar musik dimainkan sepanjang hari agar Guan Yu tidak mendengar caci maki itu. Setelah 10 hari menantang bertempur dan tidak ada jawaban, Pang De lalu berdiskusi dengan Yu Jin.

"Tampaknya Guan Yu sedang terluka parah karena luka panah itu. Kita harus menyerang mereka dengan seluruh pasukan kita. Dengan begitu kita akan dapat menyelamatkan FanCheng."

Yu Jin yang iri kepada Pang De tidak mau mengerakan pasukannya walaupun Pang De terus memaksa. Yu Jin berdalih bahwa Pangeran Wei telah memerintahkan untuk berhati-hati. Yu Jin menempatkan pasukannya dibelakang sebuah bukit 5 li dari FanCheng. Pasukannya berusaha menutup jalan utama, sementara itu Pang De dikirim kesebuah bukit dibelakangnya sehingga dia tidak dapat melakukan apapun.

Guan Ping senang ketika dia mendengar luka Guan Yu sudah sembuh. Segera setelah dia mendengar mengenai posisi pasukan Yu Jin yang baru, dia menduga-duga ada rencana apa dibalik hal itu. Tetapi dia tidak dapat menemukannya dan karena menduga ada siasat dibalik hal ini, dia kemudian pergi menemui ayahnya yang segera pergi ke sebuah tempat tinggi untuk meninjau.

Melihat kesekeliling, Guan Yu memperhatikan bahwa banyak hal-hal kecil yang tidak diperhatikan mulai dari penempatan bendera sampai kepada posisi prajurit. Pasukan Itu berkemah di bukit sebelah utara dan disamping sungai Xiang yang mengalir dengan baik. Setelah mengamati topografi setempat, dia memanggil pemandu jalan dan bertanya mengenai air terjun sekitar 5 Li dari kota itu.

"Air Terjun Zeng Kou." Jawab pemandu jalan itu.

Guan Yu berpikir sesaat dan kemudian berkata, "Aku akan menangkap Yu Jin."

Orang yang berada bersamanya bertanya bagaimana dia dapat mengatakan hal itu.

Guan Yu menjawab, "Bagaimana ikan dapat bertahan lama didalam sebuah jaring ?"

Para pengikutnya masih tidak mengerti maksudnya dan kemudian Guan Yu balik ketendanya. Pada saat itu tepat diawal musin gugur dimana hujan banyak terjadi dan saat itu hujan besarpun mengguyur bumi. Perintah diberikan untuk membuat rakit,perahu kecil dan hal-hal lain seperti itu,. Guan Ping tidak dapat mengerti mengapa ayahnya mengeluarkan perintah seperti itu karena mereka bertempur didarat. Lalu dia bertanya pada ayahnya.

"Apakah kau masih tidak mengerti ?" jawab Guan Yu, "Musuh kita berkemah disebuah daerah yang dikelilingi bukit. Tempat itu cocok untuk bertahan dan akan sangat sulit diserang, tetapi setelah beberapa hari hujan, sungai Xiang akan meluap dan aku akan mengirim orang untuk membendung aliran airnya. Ketika telah cukup tinggi air yang terbendung itu maka aku akan membuka dam itu dan air itu akan membanjiri FanCheng. lembah itu semua akan tertutup air dan pasukan Yu Jin akan terperangkap ditengah lembah.

Pasukan Wei yang berkemah seperti berada ditengah rawa setelah beberapa hari hujan lebat turun. Komandan kemah, Cheng He lalu menemui Yu Jin.

Dia berkata, " Pasukan berkemah didekat mulut sungai. Posisi kita dikelilingi lembah dan bukit. Prajurit kita sudah cukup menderita akibat hujan lebat ini dan lebih lagi, mereka berkata bahwa pasukan JingZhou sedang bergerak ketempat yang lebih tinggi. Mereka juga mendapatkan informasi bahwa mereka sedang menyiapkan rakit dan perahu disungai Han sehingga mereka akan dapat memanfaatkan banjir jika itu terjadi. Pasukan kita akan berada dalam situasi berbahaya jika kita tetap ditempat ini."

Tetapi Yu Jin berkata, "Kau bodoh ! Apakah kau ingin merusak semangat pasukan kita ? Jangan katakan apapun lagi jika tidak ingin kepalamu berada ditanah."

Cheng He segera pergi dengan sangat malu dan marah.

Lalu Cheng He pergi kepada Pang De yang melihat kebenaran didalam kata-kata Cheng He dan berkata, "Apa yang kau katakan sangat benar. Jika Yu JIn tidak mau memindahkan kemahnya esok hari, aku akan melakukannya sendiri."

Malam itu datang badai besar. Ketika Pang De duduk ditendanya, dia mendengar bunyi seperti 10.000 pasukan berkuda datang menyerang dan juga bunyi genderang perang seperti menggetarkan bumi. Dia sangat terkejut, dia segera meninggalkan kemahnya dan melihat apa yang terjadi. Kemudian dia melihat air bah datang bergulung-gulung dari setiap sisi. Yu Jin, Pang De dan beberapa jenderal lainnya segera bergegas membawa pasukannya keatas sebuah bukit.

Ketika hari menjelang pagi, Guan Yu dan pasukannya datang dengan perahu2x mereka. Yu Jin melihat tidak ada jalan lain untuk lari, dia melihat bahwa pasukanya yang tersisa tidak lebih dari 100 orang prajurit saja. Mereka semua berkata untuk menyeranh pada Guan Yu dan Guan Yu menerima penyerahan diri mereka dan membawa mereka semua kedalam perahunya setelah terlebih dahulu seluruh senjata dan baju perang mereka ditanggalkan.

Setelah itu dia pergi untuk menangkap Pang De yang berdiri diatas sebuah bukit dengan Dong Heng, Dong Chao dan Cheng He berserta 500 prajurit veterannya. Pang De melihat musuhnya mendekat tetapi dia tidak gentar. Guan Yu mengepungnya dan pemanahnya lalu menembakan panah kearah pasukan Pang De. Ketika 1/2 jumlah pasukannya telah jatuh, mereka yang bertahan mulai ketakutan.

Dong Heng dan Dong Chao lalu menekan Pang De dan berkata, "Kita telah kehilangan 1/2 pasukan kita. Menyerah adalah satu-satunya jalan untuk selamat !"

Tetapi hal ini membuat marah Pang De dan berkata, "Aku telah menerima banyak kebaikan dari Pangeran. Pikirmu aku akan menundukan kepalaku pada orang lain ?"

Pang De lalu langsung membunuh Dong Heng dan Dong Chao dan dia berteriak, "Siapapun yang menyerah akan diperlaukan sama seperti mereka berdua !!!"

Akhirnya pasukan itu bertempur mati2xan dan mereka mampu bertahan hingga tengah hari. Kemudian Guan Yu memerintahkan pasukannya untuk segera dapat merebut bukit itu, pasukan Pang De yang bertahan itu terbukti mampu menyulitkan pasukan Guan Yu yang berjumlan 10 kali lipat lebih dari mereka.

"Pemimpin gagah berani tidak takut mati, dia lebih takut untuk mundur. Pemimpin yang hebat tidak akan membuang keyakinanya hanya untuk menyelamatkan nyawanya ! Hari ini adalah hari kematianku, tetapi aku akan bertarung sampai akhir dan kalian prajuritku, kalian semua harus bertempur sampai akhir juga !!!", Pang De berkata kepada seluruh prajuritnya.

Akhirnya Cheng He bertempur dengan gagah berani sampai akhirnya dia terjatuh kedalam air akibat terkena panah Guan Yu.

Pang De terus melawan dan dengan gerakannya yang lincah dia segera menebas prajuti2x Guan Yu yang berusaha menangkapnya, dia membunuh kira2x 50 orang sebelum akhirnya dia melompat keatas salah satu rakit. Dengan sebelah tangan menggengam pedang dan sebelah lagi dia berusaha untuk mendayung perahunya kearah FanCheng. Tetapi kemudian rakit2x yang lain segera mendekat dan membalikan rakit Pang De. Dia pun terjatuh kedalam air, walaupun begitu dia tidak menyerah, dia berusaha berenang. Kemudian seorang dari rakit2x itu segera terjun juga kedalam air dan berhasil menangkapnya.

Yang berhasil menangkap Pang De adalah Zhou Cang, seorang yang ahli berenang, dia pernah tinggal di JingZhou bertahun-tahun sehingga sangat ahli didalam berenang dan navigasi. Pang De yang berasal dari gurun pasir tidak dapat berbuat banyak didalam air. Lagipula Zhou Cang sangatlah kuat, diperlukan 5 orang prajurit biasa untuk dapat mengangkat golok Guan Yu tetapi Zhou Cang dapat melakukannya seorang diri.

Dalam banjir ini seluruh 7 divisi pasukan Cao-Cao berkekuatan 150.000 prajurit musnah, beberapa ribu berhasil selamat dengan berenang. Tetapi mereka akhirnya tertangkap dan menyerah kepada pasukan Guan Yu.

Guan Yu lalu kembali kedataran tinggi, dimana perkemahannya didirikan. Dia lalu menerima satu persatu tawanan perangnya. Yu Jin yang pertama dibawa kehadapannya. Yu Jin lalu berlutut dan memohon ampunan.

"Berani sekali kau menentangku ? Untuk menghukum matimu sama dengan membunuh tikus. Hal itu hanya akan mengotori pedang saja." Kata Guan Yu.

Yu Jin segera diikat dan dikirim sebagai tahanan menuju JingZhou.

"Aku akan memutuskan nasibmu ketika aku kembali." Kata Guan Yu.

Berikutnya adalah Pang De yang dibawa masuk. Dia masuk dengan amarah terlihat dimatanya. Dia tidak berlutut tetapi dengan berani dia tetap berdiri.

"Kau memiliki seorang adik di HanZhong dan juga tuan lamamu yang juga sahabatmu, Ma Chao. Dia sekarang sangat dihargai di Shu. Mengapa kau tidak bergabung saja bersama mereka ?"

"Daripada aku menyerah padamu lebih baik aku mati." Teriak Pang De.

Dai menghina Guan Yu tanpa henti sampai akhirnya Guan Yu kehilangan kesabaran. Pang De pun diperintahkan untuk dihukum mati. Pang De tidak gentar dan dia terus menghina Guan Yu sampai akhirnya Golok algojo memisahkan kepala dari lehernya. Karena keberanian dan kesetiannya Pang De dimakamkan dengan layak laksana seorang jenderal besar. Pang De berumur 38 tahun ketika dia meinggal.

Banjir masih terjadi dan dengan memanfaatkan hal ini, pasukan Jing Zhou menggunakan rakit dan perahu bergerak menuju FanCheng yang sekarang tampak seperti sebuah pulau dengan ombak yang terus menerjang tembok kota.

Karena kekuatan air yang begitu besar, tembok kota mulai hancur perlahan-lahan. Seluruh populasi baik pria, wanita maupun anak2x diperintahkan untuk membawa lumpur dan tanah liat untuk memperkuat tembok kota. Usaha mereka tampa sangat sia2x dan pemimpin pasukan Cao-Cao disana sangat ketakutan.

Beberapa diantara mereka datang menemui Cao Ren yang berkata, "Tidak ada kekuatan manusia manapun yang dapat mengenyahkan bahaya yang menghadang hari ini. Jika kita dapat bertahan sampai malam hari maka mungkin kita dapat lari dengan perahu. Kita mungkin kehilangan kota tetapi kita dapat menyelamatkan diri kita."

Tetapi Man Chong berkata bahwa perahu2x tidak mungkin siap nanti malam.

Dia berkata, "Tidak, Jangan lari ! Walaupun kekuatan banjir ini sungguh luar biasa, kita hanya harus menunggu 10 hari saja dan banjir akan mereda. Walaupun Guan Yu belum menyerang kota, tetapi dia telah mengirim pasukan menuju JiaXia yang berarti dia tidak berani bergerak maju karena khawatir kita akan memutar untuk menyerang pasukan bagian belakangnya. Dan ingat juga, jika kita mundur dari kota ini artinya kita menyerahkan semua daerah diselatan sungai kuning kepadanya. Oleh karena itu aku harap kau mau mempertahankan kota ini."

Cao Ren lalu memuji Man Chong untuk usulannya itu, dia berkata, "Sungguh suatu petaka besar atas apa yang akan kulakukan jika saja kau tidak memperingatkannya, tuan."

Kemudian dia pergi ketembok kota dan mengumpulkan seluruh prajuritnya. Disana dia meminta agar semuanya bersumpah tidak akan menyerah pada musuh walau apapun yang terjadi.

"Pangeran memerintahkan agar kita mempertahan kota ini, aku akan mempertahankan kota ini hingga tetes darahku yang terakhir dan aku akan menghukum mati siapapun yang berani untuk menyerah." Kata Cao Ren.

"Dan kamipun ingin untuk mempertahankan kota ini hingga akhir !" Seluruh prajuritnya membalas.

Kemudian mereka melihat bahwa menyerang bukan merupakan pilihan yang baik. Ratusan pemanah disiapkan disisi tembok kota dan tembok kota dijaga ketat pagi dam malam. Seluruh penduduk tua dan muda diperintahkan untuk terus memperkuat tembok kota dengan tanah liat dan lumpur.

Setelah 10 hari, banjirpun reda dan berita mengenai keberhasilan Guan Yu mengalahkan pasuakan bantuan segera tersebar kemana-mana. Namanya menjadi sangat ditakuti diseluruh penjuru negeri itu dan berita itu makin menyebar kemanapun ada manusia hidup. Pada saat yang sama anak Guan Yu yang kedua, Guan Xing datang mengujungi ayahnya. Guan Yu pikir ini adalah kesempatan yang baik untuk mengirimkan laporan kemenangan ini menuju ibu kota Cheng Du. Dia menitipkan pada Guan Xing sebuah surat yang isinya menjelaskan mengenai jasa tiap2x orang dan memohon promosi untuk mereka. Guan Xing lalu menurut dan dia segera pergi menuju Cheng Du.

Setelah kepergian Guan Xing, Pasuakan dipecah menjadi Dua bagian. Satu dibawah Guan Yu menyerang FanCheng dan lainnya menuju JiaXia.

Suatu hari Guan Yu berkuda menuju gerbang utara kota. Dia menghentikan kudanya dan menujuk pada mereka yang bertahan ditembok kota dan berkata, "Kalian semua tikus2x Wei tidak akan mampu bertahan ! Apa lagi yang kalian tunggu ? menyerahlah sekarang dan mungkin aku akan mengampuni kalian semua !"

Cao Ren yang berada diantara mereka yang ada diatas tembok kota melihat bahwa Guan Yu tidak mengenakan baju zirah sehingga dia memerintahkan agar pasukannya melepaskan anak panah kearahnya. Segera ratusan anak panah menghujani Guan Yu dan pasukannya. Guan Yu segera memerintahkan mundur sambil berusaha menangkis dan menghindari anak panah itu. Tetapi sebatang anak panah menancap dilengannya. Karena terkejut atas hal ini dia langsung terjatuh dari kudanya.

BAB 75

Melihat Guan Yu terjatuh dari kudanya, Cao Ren langsung memimpin pasukannya keluar dari dalam kota untuk menyerang, tetapi Guan Ping membawa pasukannya dan menolong ayahnya itu serta membawanya kembali keperkemahan mereka. Disana Anak panah itu dikeluarkan, tetapi ujung anak panah itu terlah dilumuri racun dan lukanya cukup dalam sehingga racun telah mengenai tulang. Lengan kanan Guan Yu menjadi berubah warna, bengkak dan tidak dapat digunakan.

Guan Ping berkonsultasi dengan pemimpin yang lainya dan berkata, "Karena ayahku terluka saat ini dan perang tidak mungkin dilanjutkan maka kuusulkan kita kembali ke JingZhou. Disana luka ayahku dapat dirawat dengan baik dan nanti setelah sembuh baru kita lanjutkan pertempuran ini."

Setelah setuju dengah hal ini mereka segera datang menemui Guan Yu.

"Untuk apa kalian datang ?" Tanya Guan Yu ketika mereka tiba.

"Mengingat bahwa engkau terluka, tuan, kami takut bahwa kondisimu akan memburuk jika tidak segera dirawat. Lebih lagi kau tidak dapat bertempur dalam kondisi seperti ini dan oleh sebab itu kami mengusulkan agar pasukan kembali ke JingZhou sampai kau sembuh."

Guan Yu lalu marah dan berkata, "Aku sedang akan merebut kota itu dan jika aku berhasil maka aku dapat menekan hingga menuju ibu kota XuChang. Setelah itu akan kuhancurkan si Pemberontak Cao-Cao itu sehingga Han dapat berdiri kembali. Pikirmu aku akan kembali dan membuang kesempatan ini hanya karena luka kecil ? Apakah kau ingin menurunkan semangat pasukanku ?"

Guan Ping dan para pejabat yang lain tidak berkata apapun lagi dan mereka segera berpamitan.

Melihat bahwa pemimpin mereka tidak akan mundur dan juga lukanya tidak menunjukan tanda2x kesembuhan, maka mereka semua pergi mencari seorang tabib yang hebat untuk menyembuhkan luka Guan Yu.

Suatu hari tiba-tiba seseorang datang kedepan pintu gerbang perkemahan, dia diantar menuju tempat Guan Ping. Pengunjung itu menggunakan tutup kepala berbentuk kotak dan juga jubah yang longgar. Ditangannya dia membawa kota hitam.

Dia berkata, "Namaku adalah Hua Tuo, dan aku berasal dari Qiao. Aku telah mendengar bahwa jenderal besar sedang terluka dan aku datang untuk mencoba menyembuhkannya."

"Tentu kau adalah tabib yang merawat luka Zhou Tai di Dataran selatan, aku pernah mendengar namamu tuan." Kata Guan Ping.

"Ya memang benar itu aku."

Guan Ping mengantarkan Huo Tuo ketempat ayahnya beristirahat. Disana Guan Yu sedang bermain Catur dengan Ma Liang, walaupun lengannya sangat sakit tetapi Guan Yu tetap menunjukan ketegarannya agar semangat pasukannya tidak jatuh. Ketika mereka memberitahu padanya mengenai seorang tabib hebat baru saja tiba, dia langsung menemuinya.

Hua Tuo lalu diperkenalkan pada mereka semua dan dia diminta untuk duduk sambil menikmati jamuan teh. Kemudian Guan Yu menunjukan tangannya yang terluka itu.

"Luka ini disebabkan oleh anak panah, didalamnya terdapat racun kuat dan telah mengenai tulangmu. Kecuali luka ini segera dirawat, maka tanganmu akan menjadi tidak berguna." Hua Tuo berkata.

"Lalu apa yang kau usulkan ?" Tanya Guan Yu.

"Aku tahu bagaimana menyembuhkan luka itu tetapi aku pikir kau akan sangat takut dengan caranya."

"Apakah mungkin aku akan takut sedangkan pada kematian saja aku tidak gentar ? Kematian artinya hanya kembali kerumah bagiku."

Lalu Hua Tuo berkata, "Jika memang begitu maka akan kulakukan. Aku minta sebuah ruangan pribadi dan didalamnya ditancapkan sebuah tiang dengan Ring baja. Aku minta kau memasukan tanganmu didalam ring baja itu dan aku akan mengikatnya kedalam tiang itu. Kemudian aku akan menutup kepalamu sehingga kau tidak melihat apa yang kulakukan dan setelah itu dengna pisau bedah aku akan mengiris dagingmu sampai ketulang kemudian aku akan memotong daging dan mengerik tulang yang terkena racun itu. Setelah selesai aku akan menutup luka itu dan menjahitnya dengan benang. Setelah itu akan kupakaikan obat2xan buatanku. Jika semuanya berjalan sesuai rencana maka tidak ada yang perlu kau khawatirkan setelah semua ini selesai. Tetapi aku pikir kau mungkin tidak akan tahan dengan sakitnya pengobatan ini."

Guan Yu tersenyum.

"Tampaknya cukup mudah, Tetapi kenapa butuh tiang dan juga ring baja ? aku rasa itu tdk perlu, lakukan saja sekarang." Guan Yu berkata.

Peralatan pun disediakan dan beberapa guci arak diperintahkan untuk dibawa keruangan itu, Guan Yu lalu menjulurkan tangannya untuk dioperasi. Sementara tangan yang lain sedang asik bermain catur. Sementara itu Hua Tuo mengasah pisau bedahnya dan kemudian memanggil pelayannya untuk membawa ember dan ditaruh dibawah lengan Guan Yu.

"Aku akan memulai mengiris tanganmu. Apakah kita dapat memulainya sekarang ?" tanya Hua Tuo.

"Ketika aku telah berkata setuju untuk menjalani pengobatan ini pikirmu aku masih takut dengan rasa sakit ?"

Hua Tuo kemudian melakukan operasi itu seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dia menemukan bahwa tulang Guan Yu telah berubah warna, dia mengerik tulang Guan Yu yang telah berubah warna itu hingga bersih. Ketika pisau mengenai tulang dan mengeluarkan suara yang sangat mengilukan, semua yang berada didekat sana menutup mata mereka dan menjadi pucat. Tetapi Guan Yu tetap tenang saja dengan permainannya sambil sesekali meneguk secangkir arak. Di wajahnya tidak tampak ada rasa sakit. Sementara itu beberapa orang disana jatuh pingsan karena tidak tahan melihat apa yang Hua Tuo lakukan.

Ketika luka itu telah dibersihkan dan dijahit serta diperban, Guan Yu berdiri dan tersenyum serta berkata, "Lengan ini terasa seperti baru. Tidak ada rasa sakit lagi sekarang, Tuan Tabib kau sungguh2x hebat !!!"

"Aku telah menghabiskan hidupku untuk mempelajari seni pengobatan ini tetapi aku tidak pernah menemui pasien sepertimu, jenderal. Kau seperti bukan berasal dari bumi tetapi seperti dari langit sana." kata Hua Tuo membalas pujian Guan Yu.

Hua Tuo tinggal beberapa saat untuk merawat luka Guan Yu, setelah lukanya benar-benar sembuh, Guan Yu mengadakan perjamuan besar sebagai penghargaanya untuk Hua Tuo dan menawakan 100 keping emas untuk perkerjaanya.

Tetapi Hua Tuo menolaknya dan berkata, "Aku datang untuk merawatmu, jenderal. Aku mengagumimu untuk kegagahan dan kehebatanmu dan bukan untuk uang. Walaupun lukamu telah sembuh tetapi kau harus menjaga kesehatanmu dan terlebih lagi kau harus menghindari segala macam emosi berlebihan untuk 100 hari lamanya, ketika sudah usai maka kau akan baik-baik saja."

Kemudian Hua Tuo setelah memberikan obat bagi luka Guan Yu untuk terakhir kalinya segera berpamitan dan dia menolak hadiah dari Guan Ping.

Setelah menangkap Yu Jin dan perlakuannya pada Pang De, Guan Yu makin terkenal dan makin ditakuti oleh musuh2xnya diseluruh kekaisaran. Cao-Cao lalu memanggil seluruh penasehatnya untuk memutuskan apa yang akan dilakukan berikutnya.

Kata Cao-Cao, "Aku harus mengakui bahwa Guan Yu ini adalah seseorang yang keberanian dan kegagahannya tidak ada tandingannya didunia ini. Dia sekarang menguasai JingZhou dan daerah sekitarnya dan oleh sebab itu dia sekarang menjadi sangat menakutkan. Dia adalah harimau yang memiliki sayap. Pang De sekarang telah tewas, Yu Jin ditangkap dan dipenjarakan di JingZhou. Pasukan Wei telah jatuh moralnya dan jika dia memimpin pasukannya menuju XuChang maka kita tidak berdaya melawannya. Aku hanya dapat berpikir bahwa jalan keluarnya adalah dengan memindahkan ibu kota, apa menurut kalian usulku ini ?"

"Jgn, Jangan lakukan itu tuanku." Sima Yi berkata, "Yu Jin dan yang lainnya telah menjadi korban dari banjir besar dan terbunuh dalam pertempuran. Kekalahan ini tidak mengancam rencana besarmu, Sun dan Liu tdk lagi berteman maka kirimlah seseorang ke Wu dan buatlah agar Wu menyerang Guan Yu dari belakang, janjikan kepada Wu apabila mereka mau melakukannya maka JingZhou dapat mereka kuasai. Dengan Cara ini XuChang dapat terhindar dari bencana dan FanCheng terbebas dari tekanan Guan Yu."

Menteri Jiang Ji jg maju dan berkata, "Sima Yi berkata benar, utusan harus dikirim ke Wu secepatnya. Jangan sampai kita harus memindahkan ibu kota dan membuat panik penduduk."

Cao-Cao akhirnya mengurungkan niatnya untuk memindahkan ibukota.

Tetapi dia masih sedih dengan kekalahan Yu Jin dan dia berkata, "Yu Jin telah mengikutiku dengan setia selama 30 tahun, tetapi dalam hal kemampuan dia masih kalah dari Pang De."

Cao-Cao lalu memikirkan siapa lagi pemimpin pasukannya yang berani menghadapi Guan Yu. Cao-Cao tidak perlu menunggu lama karena tiba-tiba ada seorang jenderalnya yang bersedia. Dia adalah Xu Huang.

Cao-Cao memberikan Xu Huang 50.000 prajurit Veteran, dia juga menunjuk Lu Qian sebagai wakilnya dan mereka diperintahkan untuk menuju Lembah YangLing.

Utusan Cao-Cao datang dan memjelaskan rencana Cao-Cao. Sun Quan segera memanggil semua bawahannya untuk dimintai pendapat, Zhang Zhao adalah yang pertama mengutarakan pendapatnya.

"Kita tahu bahwa Guan Yu telah menangkap seorang pemimpin dan membunuh yang lainnya. Hal ini telah membuat kemahsyurannya makin terkenal. Cao-Cao sedang ingin memindahkan ibukotanya dibanding melawan Guan Yu ini. Kita juga tahu bahwa FanCheng dalam situasi kritis. Cao-Cao telah meminta bantuan pada kita teapi ketika dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya aku ragu jika dia masih mau memegang janjinya."

Sebelum Sun Quan menjawab pertanyaan ini, pengawal tiba-tiba mengumumkan kedatangan Lu Meng. Dia datang dari LuKou membawa pesan khusu. Dia segera dipanggil masuk dan ditanyakan apa pesan yang ingin disampaikan.

Lu Meng berkata, "Pasukan Guan Yu sedang berada di Fan Cheng, kita harus mengambil kesempatan ini untuk menyerang JingZhou."

"Tetapi aku berharap untuk menyerang XuZhou. Bagaimana menurutmu rencana ini ?" Tanya Sun Quan.

"Akan lebih baik jika kau menyerang JingZhou dan mendapatkan kontrol daerah Sungai Besar. Cao-Cao jauh diutara dan dia terlalu sibuk untuk memikirkan kita. Xu Zhou memiliki pertahanan lemah dan dengan mudah dapat dikuasai tetapi daerah itu memerlukan pasukan darat untuk menguasainya. Jika kau berhasil merebut tempat itu maka daerah itu sulit untuk dipertahankan. Tetapi jika kau menyerang JingZhou maka kita tidak akan perlu lagi takut ancaman dari barat dan utara."

"Memang sudah keinginanku untuk menyerang JingZhou tetapi aku ingin mendengar apa saranmu mengenai XuZhou. Sekarang aku perintahkan kau jenderal untuk membuat sebuah rencana dan aku akan menyetujuinya."

Lalu Lu Meng segera berpamitan dan dia kembali ke Lu Kou. Disana dia mendengar bahwa Guan Yu telah membangun menara pengawas yang tinggi dan dalam jarak yang dekat disepanjang sungai disekiar JingZhou.

"Jika memang begitu, akan sangat sulit untuk membuat rencana yang pasti berhasil." Kata Lu Meng, "Aku telah menyarankan tuanku untuk menyerang JingZhou tetapi aku belum berhasil memikirkan sebuah rencana."

Oleh sebab itu dia membuat alasan sedang sakit dan beristirahat dirumah dan dia mengirim berita itu pada Sun Quan yang langsung khawatir mendengarya.

Kemudian berkatalah Lu Xun, "Sakitnya itu hanyalah alasan saja, dia cukup sehat untuk bertugas."

"Jika begitu kau pergi dan temuilah dia." Kata Sun Quan.

Lu Xun segera berangkat dan tiba di Lu Kou dimana disana dia menemui Lu Meng yang tampaknya sedang dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Wajahnyapun tidak menampakan seperti orang yang baru sembuh dari sakit.

"Adipati Wu mengirimku untuk menanyakan bagaimana keadaanmu." Kata Lu Xun.

"Betapa menyesalnya diriku bahwa karena tubuhku yang lemah ini telah menyebabkan Adipati menjadiKhawatir." Jawab Lu Meng.

"Adipati telah menyerahkan tanggung jawab besar dipundakmu tetapi kau tidak menggunakannya dengan baik. Walaupun begitu, apa yang menyebabkan kekhawatiranmu itu ?"

Lu Meng lalu menarik napas panjang dan cukup lama dia terdiam sebelum menjawab.

"Aku memiliki obat yang dapat menyembuhkanmu, apakah kau mau menggunakannya ?" Tanya Lu Xun.

Lu Meng memerintahkan agar pelayannya pergi dan ketika mereka tinggal berdua dia berkata, "Obat ini, temanku, tolong kau katakan apakah obatnya ?"

"Penyakitmu ini disebabkan karena pasukan JingZou telah membangun menara penjagaan. Aku tahu bagaimana caranya agar api signal bahaya tidak dinyalakan dan prajurit mereka akan datang kepadamu dengan tangan diikat. Apakah obat ini dapat menyembuhkanmu ?"

"Temanku, kau berbicara seperti kau mengetahui isi hatiku yang paling dalam. Aku harap kau mau menjelaskan rencana baik ini."

"Guan Yu selalu berpikir bahwa dirinya tak terkalahkan dan tidak ada siapapun yang berani melawannya. Satu-satunya kecemasan dia adalah dirimu. Sekarang kita harus mengambil keuntungan dari alasan sakitmu sehingga kau akan dapat menyerahkan jabatanmu pd penggantimu itu. Orang penggantimu akan dengan rendah hati memuji Guan Yu sehingga dia merasa bahwa orang itu tidak akan berani macam2x dan setelah itu dia akan membawa seluruh pasukannya menyerang FanCheng. Ketika JingZhou sudah kosong maka itu adalah kesempatan kita untuk merebut kota itu." Lu Xun menjelaskan.

"Rencana ini sungguh hebat." Kata Lu Meng.

Segera Lu Meng berpura-pura sakitnya bertambah parah, sehingga dia harus dipapah menuju tempat tidurnya. Dia memberi Lu Xun surat pengunduran dirinya agar dibawakan kepada Sun Quan. Utusan itu segera kembali dan menjelaskan rencananya pada tuannya yang segera mengeluarkan perintah agar Lu Meng ditarik dari segala tugas dan jabatannya untuk beristirahat.

Tetapi Lu Meng datang kepada Sun Quan untuk mendiskusikan masalah penggantinya.

Sun Quan berkata padanya, "Ketika penunjukan di Lu Kou, kau tahu bahwa Zhou Yu merekomendasikan Lu Su yang pada saat2x terakhirnya merekomendasikan dirimu. Sekarang kau harus juga mampu menunjuk seseorang untuk menggantikan dirimu."

"Jika kau menunjuk seseorang yang terkenal dan hebat maka Guan Yu akan waspada terhadapnya. Sekarang kita memiliki Lu Xun, dia memiliki ide cemerlang dan mampu menganalisa keadaan dgn sangat baik tetapi dia tidak memiliki reputasi besar. Oleh Sebab itu jika kita menunjuk dia maka Guan Yu akan meremehkannya. Aku rasa dia adalah orang yang tepat untuk mengantikan posisiku ini."

Sun Quan setuju dan segera dia mempromosikan Lu Xun sebagai jenderal pasukan kanan dan Admiral angkatan laut.

"Aku masih terlalu muda dan merasa tidak pantas menerima tugas ini." Jawab Lu Xun.

"Lu Meng telah mengusulkanmu dan kau tidak boleh menolaknya." Jawab Sun Quan.

Akhirnya pengangkatannya dibuat resmi dan Lu Xun segera memulai rencananya. Dia lalu menulis sebuah surat pada Guan Yu dan dia memilih kuda terbaik dan sutra terbaik serta arak terbaik untuk dijadikan hadiah bagi Guan Yu. Dia mengirim semuanya ini menuju daerah FanCheng menemui Guan Yu.

Utusan itu berkata, "Jenderal Lu Xun mengirim surat dan hadiah ini untukmu, semoga kau berkenan menerimanya. Dia juga mengucapakan selamat dan akan sangat senang jika kedua kerajaan kita dapat bersatu."

Guan Yu membaca suratnya dan kemudia dia tertawa keras sekali. Dia memerintahkan agar pelayannya menerima hadiah-hadiah itu. Dan memberikan bekal serta uang untuk ongkos perjalan pulang utusan itu.

Utusan itu segera kembali ke Lu Kou dan melaporkan hal ini pada Lu Xun, "Guan Yu tampaknya sangat senang dan dia tidak merasa khawatir ataupun waspada adanya bahaya dari daerah Selatan."

Mata-mata kembali dan melaporkan bahwa 1/2 pasukan JingZhou telah dikirim untuk membantu di FanCheng. Kota itu akan segera diserang begitu masa 100 hari istirahatnya berakhir.

Berita ini segera dikirimkan pada Sun Quan yang memanggil Lu Meng untuk menanyakan apa rencana berikutnya.

"Sekarang adalah saatnya untuk mendapatkan JingZhou, aku mengusulkan untuk mengirimmu dan adikku, Sun Jiao, bersama memimimpin tentara." Kata Sun Quan.

Sun Jiao ini sebenarnya hanyalah sepupu karena dia adalah anak ke dua dari paman Sun Quan, Sun Jing.

Tetapi Lu Meng berkeberatan, "Tuanku, jika kau berpikir untuk menugaskanku maka tugaskan aku seorang diri. Jika Sun Jiao maka Sun Jiao sendiri. Kau tidak boleh melupakan apa yang terjadi antara Zhou Yu dan Cheng Pu ketika mereka berdua sama-sama menjadi Komandan yang walaupun keputusan akhir berada ditangan Zhou Yu tetapi yang lainnya merasa bahwa senioritasnyalah yang utama. Semua berakhir dengan baik karena Cheng Pu mengakui kemampuan dari Zhou Yu dan mendukungnya. Aku tahu bahwa aku tidak sepandai Zhou Yu tetapi Status Sun Jiao akan menjadi halangan terbesar dalam hal penugasan ini dan aku khawatir dia tidak dapat sejalan dengan diriku."

Sun Quan lalu menunjuk Lu Meng menjadi Pemimpin Utama dengan Sun Jiao membantunya sebagai kepala Komisaris pasukan. Lu Meng berterima kasih untuk penugasan ini dan dia segera mengumpulkan 30.000 marinir dan 80 perahu besar untuk ekspedisi ini.

Lu Meng lalu mengenakan pakaian pedagang berwarna putih dan dia juga menunjuk 7 jenderal utuk ikut denganya, mereka adalah Han Dang, Jiang Qin, Zhu Ran, Pan Zhang, Zhou Tai, Xu Sheng dan Ding Feng. Sun Quan juga menjanjikan akan membawa pasukan untuk mendukung rencana ini dan surat juga dikirimkan pada Cao-Cao bahwa dia bersedia untuk berkerja sama menyerang Guan Yu dari belakang dan juga kepada Lu Xun untuk dapat menjalankan rencana ini dengan mulus.

Kemudian mereka semua berlayar menuju sungai Xun Yang secepatnya mungkin dan mendekati tepi utara.

Disana penjaga menara menanyai mereka dan orang-orang Wu itu menjawab, "Kami adalah pedagang yang tidak sengaja melewati tempat ini karena tertiup angin yang kuat sekali."

Dan mereka kemudian memberikan hadiah kepada para penjaga menara itu, yang menerimanya dan membiarkan perahu2x itu membuang sauh ditepian.

Kira2x pada tengah malam, prajurit yang bersembunyi dilambung perahu2x besar itu keluar dan menyergap penjaga menara. Kemudian signal agar semua prajurit Wu keluar dari perahu diberikan. Mereka semua menyerang setiap menara ditengah malam dan mereka melakukannya dengan cepat sehingga tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Setelah selesai pasukan Wu langsung menuju kota JingZhou.

Didekat JingZhou, Lu Meng berbicara kepada para tawanannya, dia memberikan mereka hadiah dan meyakinkan mereka jika mereka mau membantunya maka dia akan memberikan hadiah lebih besar lagi. Tawanan itu setuju untuk membantu membuka gerbang kota. Mereka mengatakan akan mengeluarkan tanda api jika gerbang telah terbuka. Lu Meng setuju dan melepaskan mereka semua untuk kembali ke JingZhou. Tawanan2x itu kemudian tiba didepan gerbang kota dan memanggil temannya, penjaga gerbang yang mengenali mereka lalu membuka gerbang itu. Segera setelah gerbang dibuka, mereka menyalakan tanda api dan pasukan Wu berhamburan keluar dari tempat persembunyiannya dan masuk kedalam kota.

Perintah pertama Lu Meng adalah untuk menenangkan rakyat. Hukuman mati akan langsung diberikan kepada mereka yang berani membunuh atau merampok rakyat. Para pejabat setempat diharapkan terus melanjutkan tugas-tugasnyamereka dan penjagaan khusus diberikan untuk melindungi kediaman Guan Yu dan keluarganya. Tidak ada seorang prajuritpun yang berani merusak barang-barang milik penduduk JingZhou. Utusan dikirmkan pada Sun Quan untuk mengabarkan keberhasilan ini.

Pada suatu hari yang lembab, Lu Meng dengan beberapa penunggang kuda pergi mengitari tembok kota dan mengunjungi gerbang kota. Salah satu prajurit mengambil jubah dan penutup kepala dari seorang pejalan kaki untuk menjaga pakaian perangnya agar tetap kering. Lu Meng melihat hal itu dan dia memerintahkan agar prajurit itu ditangkap. Orang itu ternyata berasal dari daerah yang sama seperti Lu Meng tetapi hal itu tidak menyelamatkannya dari hukuman.

"Kau adalah orang sekampung denganku. Kau tahu apa yang kuperintahkan, mengapa kau masih berani untuk melanggarnya ?"

"Aku pikir hujan akan merusak seragamku dan aku mengambil jubah dan topi itu untuk melindunginya. Aku melakukannya bkn untuk kepentingan pribadiku tetapi untuk melindungi pakaian perang ini agar tidak rusak. Maafkanlah aku, jenderal, tolong pertimbangkan bahwa kita berasal dari desa yang sama."

"Aku tahu bahwa kau melindungi baju zirahmu itu, tetapi tetap saja kau melanggar perintahku untuk tidak mengambil keuntungan dari penduduk."

Prajurit itu segera dipenggal dan kepalanya diperlihatkan sebagai peringatan. Ketika semua sudah berakhir, Lu Meng menguburkan jasad itu dengan baik dan dia menangis karena harus kehilangan seorang teman masa lalunya. Tetapi setelah kejadian ini tidak ada satupun prajurit yang berani melanggar perintahnya."

Ketika Sun Quan mengunjungi kota itu, Lu Meng telah menyambutnya diperbatasan kota dan mengantarkannya menuju Kediaman resmi. Disana Sun Quan mengumumkan kenaikan pangkat dan promosi atas jasa-jasa setiap orang yang telah dengan baik dapat merebut JingZhou. Setelah ini selesai Sun Quan memerintahkan Pan Jun untuk memimpin daerah JingZhou. Yu Jin yang dipenjara disana segera dibebaskan dan dikembalikan pada Cao-Cao. Ketika rakyat telah ditengankan dan prajurit diberikan hadiah, Sun Quan mengadakan perjamuan besar sebagai ungkapan kegembiraanya mendapatkan JingZhou.

Kemudian Sun Quan berkata pada Lu Meng, "Kita telah mendapatkan JingZhou, tetapi Fu Shiren masih berada di GonGan dan MiFang di NanJun. Bagaimana kita bisa merebut kedua tempat itu ?"

Tiba-tiba Yu Fan berdiri dan menawarkan jasanya.

"Kau tidak memerlukan panah maupun pedang, cukup lidah kecilku ini. Aku dapat membujuk Fu Shiren untuk menyerah." Kata Yu Fan.

"Temanku, Bagaimana kau dapat melakukan itu ?" Tanya Sun Quan.

"Fu Shiren dan aku adalah teman lama sejak kami masih anak2x. Aku yakin dapat menyakinkan dia untuk menyerah."

Lalu Yu Fan dgn sedikit pengawalan segera pergi menuju GonGan dimana temannya menjaga tempat itu.

Sekarang Fu Shiren telah mendengar berita mengenai jatuhnya JingZhou dan dia menutup rapat2x pintu benteng kota itu. Yu Fan telah tiba tetapi tidak diperkenankan masuk. Akhirnya Yu Fan menulis sebuah surat dan menaruhnya dalam sebuah anak panah, dia kemudian memanahkan anak panah itu melewati gerbang kota. Seorang prajurit mengambilnya dan menyerahkannya pada komandannya yang membaca bahwa isinya adalah bujukan utuk menyerah.

Setelah membaca surat ini, Fu Shiren berpikir, "Aku pikir lebih baik aku menyerah, Sebelum pergi Guan Yu telah mengatakan akan menghukumku."

Tanpa berpikir panjang, Dia memerintahakn penjaga gerbang untuk membuka gerbang. Setelah itu dia menyambut teman lamanya itu dan Yu Fan memuji kebaikan Sun Quan kepada bawahannya. Akhirnya Fu Shiren Setuju untuk mengabdi pada Sun Quan dan dia menyerahkan stempel jabatannya pada Sun Quan sebagai tanda penyerahan dirinya. Dia kemudian ditunjuk kembali sebagai komandan benteng di GonGan.

Lu Meng berpikir bahwa penunjukan itu tidak tepat dan berkata pada Sun Quan, "Guan Yu belum berhasil dikalahkan. Kita seharusnya tidak mempercayakan GonGan pada Fu Shiren. Lebih baik mengirimnya ke NanJun untuk membujuk temannya, Mi Fang, untuk juga menyerah."

Sun Quan mengikuti saran Lu Meng dan Fu Shiren lalu diberikan tugas baru.

"Pergilah ke NanJun dan bujuklah Mi Fang. Jika berhasil aku akan memberikan hadiah besar untukmu." Kata Sun Quan.

Fu Shiren Setuju dan dia segera berangkat menuju Nan Jun.

BAB 76

Jatuhnya JingZhou membuat Mi Fang menjadi Gundah. Sebelum dia dapat memutuskan apapun, Fu Shiren datang menemuinya.

Dia berkata, "Aku adalah seorang yang setia tetapi aku terdesak sehingga tidak dapat bertahan. Akhirnya aku mnyerah pada Wu dan aku menyarankan kau melakukan hal yang sama."

"Kau adan akau sama-sama mengabdi kepada Pangeran HanZhong dan aku tidak dapat mengerti mengapa kau mau mengkhianatinya." Jawab Mi Fang.

"Guan Yu pergi dengan menyimpan rasa marah terhadap kita. Bahkan jika dia balik dengan kemenangan, aku tidak berpikir dia akan memaafkan kita. Cobalah kau pikirkan hal ini."

"Kakakku dan diriku telah lama mengikuti Pangeran HanZhong dan aku tidak ingin meninggalkannya seperti ini." Jawab Mi Fang.

Mi Fang terlihat sangat ragu2x.

Sebelum dia dapat memutuskan apa yang akan dilakukannya, Tiba-tiba ada utusan datang dan berkata, "Pasukan Di FanCheng sedang kekurangan makanan dan aku dikirim untuk meminta beras putih untuk pasukan. NanJun dan GonGan harus mengirim 10.000 kereta persediaan segera. Penundaan atas hal ini akan mendapatkan hukuman berat."

Permintaan mendadak ini mengejutkan Mi Fang.

"Darimana aku akan mendaptkan beras ? JingZhou sekarang berada ditangan Wu."

"Jangan kau pikir2x lagi." Kata Fu Shiren. Dia segera mengeluarkan pedangnya dan langsung membunuh prajurit utusan itu.

"Apa yang telah kau lakukan ?" Teriak Mi Fang.

"Guan Yu menginginkan kita berdua mati dan dia memaksaku melakukan hal ini. Apakah kita harus berpangku tangan saja menunggu kematian ? Lebih baik kau menyerah kepada Wu atau kau akan dihukum mati Guan Yu.", Kata Fu Shiren.

Ketika saat itu mereka mendengar bahwa pasukan Lu Meng telah sampai ketembok kota. Mi Fang melihat tidak ada suatu apapun lagi yang dapat menyelamatkan nyawanya kecuali desersi, jadi dia keluar dengan Fu Shiren dan menyerahkan dirinya pada Lu Meng yang segera membawanya kehadapan Sun Quan. Sun Quan menghadiahi mereka berdua dengan hadiah dan setelah itu dia menenangkan masyarakat dan menghadiahkan tentaranya untuk jasa-jasa mereka.

Pada saat sedang terjadi diskusi mengenai JingZhou di XuChang, seorang utusan tiba dengan surat dari Sun Quan yang mengatakan bahwa rencana penyerangan JingZhou telah berhasil dan meminta Cao-Cao menyerang Guan Yu.

Cao-Cao langsung memanggil seluruh penasehatnya dan meminta pendapat mereka.

Sekertatis Satu Dong zhao berkata, "Sekarang Fan Cheng telah terkepung, akan sangat baik untuk mengirimkan berita jatuhnya JingZhou pada pasukan kita yang bertahan disana agar mereka tidak menyerah. Lalu kita akan menginformasikan pada Guan Yu mengenai bahaya di selatan. Jika Guan Yu mendengar bahwa JingZhou terancam oleh Wu maka dia akan kembali untuk mempertahankan daerah itu. Lalu kita akan perintahkan Xu Huang untuk menyerang dan kemenangan pasti ditangan kita."

Cao-Cao setuju bahwa rencana itu baik dan dia mengirim pesan kepada Xu Huang untuk bersiap-siap menyerang. Cao-Cao Sendiri memimpin pasukan besar ke Lembah Yang Ling, diselatan Luo Yang untuk menyelamatkan Cao Ren.

Xu Huang sedang duduk dikemahnay ketika dia mendengar utusan Pangeran Wei tiba.

Utusan itu segera dipanggil dan berkata, "Pangeran telah memimpin paskan ke Luo Yang dan dia berharap kau segera menyerang Guan Yu agar FanCheng terlepas dari bahaya."

Tidak berapa lama kemudian seorang prajurit datang dan melaporkan, "Guan Ping telah berkemah di YenCheng dan Liao Hua di SiZhong. Musuh telah membangun lebih dari 12 pos penjagaan."

Xu Huang memerintahkan kedua jenderalnya, Lu Qian dan Xu Shang untuk bergerak ke YenCheng, sementara dia pergi melalui Sungai Mian untuk menyerang YenCheng dari belakang.

Ketika Guan Ping mendengar bahwa ada pasukan musuh yang mendekat, dia mempersiapkan pasukannya untuk menemui meeka. Ketika kedua belah pasukan telah menyusun formasinya, Guan Ping keluar dan berduel dengan Xu Shang. Setelah 3 jurus Xu Shang mundur. Kemudian Lu Qian keluar dan dia bertarung sekitar 12 jurus sebelum kemudian mundur. Segera Guan Ping mengejar mereka dan membantai pasuakn yang kabur itu sampai sejauh 15 Li. Tetapi tiba-tiba dia melihat ada api berkobar dari arah YenCheng an Guan Ping sadar bahwa dia telah terpancing musuh untuk mengejar dan menjadi korban dari sebuah strategi. Dia segera berbalik kearah kota itu, didalam perjalanan dia bertemu dengan pasukan dan kali ini pemimpin pasukan itu adalah Xu Huang.

Xu Huang berteriak, "Guan Ping, Keponakanku yang baik. Cukup aneh kau tidak mengenali kematian ketika dia berada didepan wajahmu. JingZhou telah jatuh ketangan Wu dan sekarang mengapa kau masih berada disini ?"

Guan Ping segera menerjang kearah Xu Huang dengan pedangnya dan mereka bertempur. Tetapi baru 3 jurus tiba-tiba teriakan suara prajurit terdengar dan api terlihat membubung tinggi dari arah kota. Guan Ping tidak dapat meneruskan pertempuran, dia segera mencari celah untuk keluar dan segera menuju SiZhong, dimana Liao Hua telah mengetahui mengenai Kejatuhan JingZhou.

"Orang-orang mengatakan bahwa JingZhou telah jatuh ketangan Lu Meng dan berita itu membuat seluruh pasukan panik. Apa yang harus kita lakukan ?" Tanya Liao Hua.

"Itu hanyalah kabar burung saja. Jangan biarkan kabar itu menyebar. Jika ada orang yang menceritakan hal itu, hukum mati dia." Kata Guan Ping.

Tiba ada prajurit yang datang dan memberitahu bahwa Xu Huang menyerang pos penjagaan pertama di utara.

"Jika memang begitu maka yang lainnya juga akan diserang. Tetapi karena kita memiliki Sungai Mian dibelakang kita, maka mereka tidak akan berani menyerang kita. Mari kita segera pergi menyelamatkan pos penjagaan itu."

Lalu Liao Hua segera memanggil wakil2xna dan memberi mereka perintah untuk mengamankan perkemahan dan membuat signal jika musuh datang.

"Tidak ada bahaya disini, perkemahan dilindungi oleh halangan berduri sebanyak 10 lapis. Bahkan seekor anjingpun tidak akan dapat masuk."

Guan Ping dan Liao Hua mengumpulkan seluruh prajurit yang bisa berangkat dan mereak menuju pos penjagaan pertama diutara.

Melihat bahwa pasukan Wei berkemah dikaki bukit, Guan Ping berkata pada bawahannya, "Pasukan mereka berkemah ditempat yang salah. Mari kita serang mereka nanti malam."

"Kau bawalah 1/2 pasukan, jenderal dan aku akan tetap berada disini untuk menjaga kemah kita." Jawab Liao Hua.

Ketika malam tiba, pasukan Guan Ping menyerang kemah Wei. Tetapi ketika tiba ditempat itu dia tidak melihat ada satu pasukan Wei yang melawan mereka. Lalu Guan Ping tersadar bahwa dia telah masuk dalam jebakan dan dia memerintahkan agar pasukannya mundur. Tiba-tiba dari depan dan belakang muncul pasukan yang dipimpin Xu Shang dan Lu Qian. Karena tidak mampu bertahan menghadapi serangan dua arah, dia segera memerintahkan pasukannya untuk kembali kekemah mereka. Pasukan Wei mengejar dan mengepung kemah pasukan Guan Ping dan Liao Hua. Karena terdesak mereka terpaksa meninggalkan kemah itu dan kembali ke SiZhong. Ketika mereka mendekat ke SiZhong tiba-tiba obor2x bernyalaan dan Panji2x perang Wei telah berada dibenteng itu. Mereka sadar bahwa SiZhong telah jatuh ketangan musuh. Mereka mundur melalu jalan kecil menuju FanCheng, Tetapi jalan itu telah diblokade dan dijaga Xu Huang. Melalui pertempuran sengit dan korban yang cukup besar mereka berhasil kembali ke kemah utama mereka dan Guan Ping segera menemui ayahnya.

Kata dia kepada ayahnya, "Xu Huang telah merebut YenCheng dan pasukan Cao-Cao berada disana dengan 3 divisi. Mereka juga mengatakan bahwa JingZhou telah jatuh ketangan Wu."

Guan Yu memita Guan Ping untuk diam.

"Ini adalah tipu daya musuh, tetapi hal ini dapat membuat pasukan kita kehilangan semangatnya. Kita tahu bahwa Lu Meng sedang sakit dan mereka telah mengangkat Lu Xun untuk menggantikannya. Tdk ada yang perlu kita khawatirkan."

Lalu datang berita bahwa Xu Huang telah tiba. Segera Guan Yu memerintahkan pengawalnya untuk membawa kudanya.

"Ayah, kau belum cukup kuat untuk pergi bertempur." Kata Guan Ping.

"Xu Huang dan aku adalah kawan lama dan aku tahu apa yang dia bisa dan tidak bisa lakukan. Aku akan memberinya kesempatan untuk mundur. Jika dia tidak mengambil kesempatan itu, maka aku akan membunuhnya sebagai peringatan kepada yang lainnya."

Segera naik keatas kudanya, Guan Yu secepatnya pergi menuju kemah pasukan Wei. Disana pasukan Wei yang melihat kedatangannya langsung panik dan mereka semua ketakutan.

Ketika dia cukup dekat dengan kemah musuhnya, Guan Yu berhenti dan berkata, "Dimanakah temanku Xu Huang ?"

Sebagai jawabannya gerbang kemah dibuka dan Xu Huang muncul.

Dengan membungkuk rendah Xu Huang berkata, "Sudah beberapa tahun berlalu sejak terakhir aku bertemu denganmu, tuan jenderal. Aku masih belum lupa mengenai keberanianmu dimasa yang lalu dimana kita masih bersama dan kau mengajariku banyak hal, Aku sangat bersyukur untuk hal itu. Ketenaranmu telah menyebar keseluruh penjuru kekaisaran dan sekarang teman lamamu ini sangat mengagumimu. Aku sungguh sangat senang dapat bertemu denganmu lagi."

Guan Yu menjawab, "Kita pernah menjadi sahabat baik, Xu Huang, sangat baik lebih dari pada kebanyakan orang. Tetapi mengapa akhir2x ini kau menekanku sangat keras ?"

Xu Huang tiba-tiba berbalik pada para bawahannya dan berteriak, "Aku akan memberi kalian 1000 keping emas untuk kepala Guan Yu ?"

Guan Yu terkejut dan berkata, "Apa katamu !!!"

"Kerana hari ini aku datang untuk urusan negara dan aku tidak dapat membiarkan perasaan pribadiku membuat aku melalaikan tugas negara."

Ketika dia mengatakan hal itu, dia langsung mengeluarkan kampak perang besarnya dan menerjang Guan Yu. Guan Yu yang marah langsung menebaskan Golok naganya kearah Xu Huang, mereka bertempur kira2x 10 jurus. Walaupun Kemampuan Guan Yu dan kekuatannya adalah yang terbaik didunia tetapi tangan kanannya masih terlalu lemah akibat luka tempo hari. Guan Ping melihat ayahnya masih terlalu lemah segera membunyikan gong tanda mundur. Guan Yu pun kembali.

Tiba-tiba ada suara teriakan terdengar. Suara itu berasal dari FanCheng, Cao Ren setelah mendengar kedatangan pasuakn bantuan segera keluar dan membantu Xu Huang. Pasukannya bersama pasukan Xu Huang menyerang pasukan JingZhou yang akhirnya berantakan karena diserang dari depan dan samping. Guan Yu berserta para bawahannya segera kabur menuju sisi sungai Xiang, pasukan Wei terus mengejar mereka. Guan Yu akhirnya melintas Sungai dan menuju Xiang Yang.

Tiba-tiba ditengah perjalanan Pasukan pengintai melaporkan, "JingZhou telah direbut Lu Ment dan Keluargamu sekarang berada ditangan musuh."

Guan Yu segera terkejut dan dia segera menuju GonGan.

Tetapi ditengah perjalan menuju kesana, pengintai melaporkan, "Fu Shiren telah menyerahkan GonGan ketangan Wu."

Lalu beberapa orang yang diutus untuk meminta perbekalan datang dan melaporkan, "Fu Shiren telah membunuh utusanmu dan membujuk Mi Fang menyerah pada Wu."

Berita itu terlalu membuat Guan Yu marah sehingga akhirnya Lukanya terbuka lagi dan dia memuntahkan darah serta pingsan.

Ketika siuman Guan Yu berkata, "Wang Fu, kau benar, Sekarang aku menyesal tidak mendengarkan apa yang kau katakan !"

"Tetapi mengapa menara penjaga tidak menyalakan tanda api ?" Tanya dia kepada bawahannya.

Kata seorang prajurit pengintai, "Pasukan Lu Meng menyamar sebagai pedagang yang melintas sungai. Disana pasukan besar mereka bersembunyi didalam kapal2x besar dan pada malam hari mereka kemudian menangkap seluruh penjaga menara sehingga mencegah mereka menyalakan api."

Guan Yu menarik napas panjang dan berkata, "Sungguh aku telah masuk kedalam perangkap. Sekarang bagaimana aku harus menghadap kakakku ?"

Lalu Zhao Lei berkata, "Kita sekarang terdesak, Kirim utusan ke Cheng Du untuk meminta bantuan dan mari kita pergi menuju JingZhou untuk mencoba merebut kembali tempat itu."

Lalu Guan Yu memerintahkan Ma Liang dan Yi Ji ke Shu untuk meminta bantuan. Utusan itu segera berangkat melalui dua jalur berbeda sementara pasukan dipersiapkan untuk berangkat menuju JingZhou. Guan Yu memimpin didepan, Guan Ping dan Liao Hua menjaga barisan belakang.

Pengepungan Fan Cheng akhirnya selesai dan Cao Ren menemui tuannya. Dengan air mata dia mengakui kesalahannya dan memohon ampunan.

"Ini adalah kehendak langit, bukan salahmu." Kata Cao-Cao.

Dan Cao-Caopun memberikan hadiah pada pasukan Xu Huang yang telah berjasa.

Ketika dia mengunjungi SiZhong dia melihat2x pos penjagaan yang dibangun Guan Ping, dia berkata, "Xu Huang benar-benar pintar untuk dapat mengatasi hal ini. Dengan pengalaman 30 tahun ku dalam medan peperangan, aku mungkin tidak berani untuk mendobrak pertahanan seperti ini. Dia sungguh pemberani dan bijak."

Pasukan Cao-Cao kemudian kembali ke MoPo dimana disana mereka berkemah. Ketika Xu Huang kembali, Cao-Cao keluar untuk menemuinya dan dia mengungkapkan kegembiraan dan kekagumannya ketika dia melihat pasukannya itu.

"Jenderal Xu Huang memiliki jiwa Zhou Yafu," Kata Cao-Cao dan dia menganugerahkan gelar 'Jenderal Yang Mententramkan Selatan'. Xu Huang lalu segera ditugaskan untuk mengejar Guan Yu bersama Xiahou Shang sebagai wakilnya.

JingZhou masih kacau dan sementara itu Cao-Cao berada di MoPo menunggu berita.

Guan Yu berada ditengah dengan pasukan Wu dihadapannya dan Wei dibelakangnya.

"Apa yang harus kita lakukan, Kita tidak dapat maju dan juga tidak dapat mundur. Bantuan juga belum datang ?" Tanya Guan Yu pada Zhao Lei.

Zhao Lei mengusulkan untuk mencoba mempermalukan Lu Meng karena telah membantu Cao-Cao.

Kata dia, "Ketika Lu Meng berada di Lu Koum dia sering menulis surat padamu dan kau setuju bersamanya untuk membasmi Cao-Cao. Sekarang dia berkhianat dan bertempur untuk Cao-Cao. Kirimlah surat dan coba kau permalukan dia. Mungkin kita akan mendapat jawaban yang menguntungkan buat kita."

Akhirnya surat ditulis dan dikirimkan ke JingZhou.

Sementara itu, Lu Meng mengeluarkan perintah untuk menjaga keluarga dari seluruh pejabat yang mengabdi pada Guan Yu dan mereka harus dirawat dan diberikan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Bahkan jika ada diantara mereka yang sakit maka biaya pengobatan akan ditanggung dirinya. Hal ini menyebabkan banyak diantara pejabat sipil yang akhirya mengabdi pada Wu dan tidak ada keributan yang berarti. Ketika surat Guan Yu tiba, utusan itu segera dibawa masuka kedalam kota dan diperlakukan dengan baik.

Ketika Lu Meng membaca surat itu, dia berkata pada utusan itu, "Kau harus mengerti bahwa sekarang situasinya berbeda. Ketika jenderalmu dan aku bersama, itu adalah masalah pribadi diantara kami berdua. Sekarang keadaan berubah, aku dikirim kemari untuk sebuah tugas oleh tuanku. Aku tidak akan menyusahkan, kuharap kau kembali padanya dan jelaskan hal ini dgn baik-baik pada tuanmu."

Utusan itu dijamu dengan sebuah perjamuan dan diundang untuk beristirahat dirumah peristirahatan negara, disana keluarga dari pejabat-pejabat yang mengikuti Guan Yu menanyakan bagaimana kabar keadaan ayah, suami dan anak2x mereka. Lebih lagi mereka juga menitipkan surat kepada utusan itu. Inti seluruh surat ini adalah untuk mengabarkan bahwa mereka baik-baik saja dan tidak kekuarang suatu apapun. Ketika meninggalkan kota utusan itu ditemani oleh Lu Meng sampai ke batas kota sebelum meninggalkannya.

Ketika kembali kepasuaknnya, dia menyampaikan pada Guan Yu apa kata-kata Lu meng dan dia menceritakan bahwa kelurga dari para bawahannya dan keluarganya juga baik-baik saja dan dirawat dengan baik. Walaupun begitu, hal ini tidak cukup memuaskan Guan Yu.

Guan Yu berkata, "Hal ini hanyalah taktik agar mendapatkan popularitas dan juga dukungan. Pemberontak itu !! jika aku tidak dapt membunuh ketika aku hidup maka aku pasti akan membunuhnya setelah aku mati. Amarahku tdk akan reda sebelum ini terjadi."

Utusan itu kemudian segera membagi-bagikan surat dari sanak keluarga pasukan Guan Yu. Mereka semua membaca bagaimana baiknya Lu Meng memperlakukan mereka semua dan hal ini membuat semangat bertempur pasukan Guan Yu melemah.

Guan Yu memimpin pasukan untuk menyerang JingZhou tetapi hari demi hari banyak orang desersi dari pasukannya dan lari ke JingZhou. Karena hal ini Guan Yu menjadi sangat kesal dan dia merasa sedih. Suatu hari tiba-tiba terdengar bunyi genderang perang dan ada pasukan memblokade jalannya.

"Mengapa kau tidak menyerah, Temanku ?" Tanya pemimpin pasukan itu, Jiang Qin.

"Dapatkah aku menyerah pada pemberontak. Aku adalah pelayan dari Han dan pemimpin pasukan ?" Teriak Guan Yu penuh emosi.

Guan Yu langsung menerjang maju dengan goloknya, tetapi Jiang Qin memang tidak ingin bertarung. Dia hanya melayani dua sampai tiga jurus saja sebelum lari. Guan Yu mengikuti, dan setelah cukup jauh dia sampai disuatu jalan dan bertemu dengan Han Dang. Zhou Tai juga muncul dari sisi yang lain. Segera Jiang Qin memutar kembali dan kali ini dia menuju Arah Guan Yu. 3 pasukan ini segera menyerang Pasukan Guan Yu secara berasama-sama, namun karena kewalahan akhirnya Guan Yu mundur.

Belum dia pergi jauh, dia melihat beberapa orang membawa bendera putih bertuliskan, 'Penduduk JingZhou', mereka meneriakan kata-kata,"Seluruh penduduk JingZhou telah menyerah."

Guan Yu ingin memotong dan membelah orang-orang itu satu persatu, tetapi tiba-tiba terlihat dua pasukan yang dipimpin oleh Ding Feng dan Xu Sheng tiba. Jiang Qin juga muncul dari arah belakang pasukan Guan Yu. Mereka semua membunyikan genderang perang yang membuat bumi serasa bergetar. Guan Yu menyadari bahwa dirinya terkepung.

Hal ini jg makin diperparah, dia melihat pasukannya makin berkurang setiap saat. Dia bertempur hingga malam hari dan dia melihat bahwa diatas bukit disana, banyak penduduk memanggil kakak, ayah, putra dan saudara2x mereka. Hal ini membuat hati pasukannya menjadi lemah dan satu demi satu berlarian menuju kepada keluarganya yang memanggil. Akhirnya dia hanya mempunyai sekitar 300 orang prajurit saja yang tersisa dan dengan mereka dia bertempur sampai hari menjelang pagi. Kemudian tiba-tiba terdengar lagi teriakan, kali ini Guan Ping dan Liao Hualah yang datang membawa pasukan untuk membantu dirinya.

"Hati para pasukan telah melemah. Kita harus mencari tempat bertahan sambil menunggu bantuan datang. Didekat sini ada benteng MaiCheng, Kecil tetapi cukup mudah dipertahankan. Mari kita berkemah disana." Guan Ping berkata pada ayahnya.

Guan Yu setuju dan dengan pasukannya yang telah kelelahan dia secepat mungkin pergi ketempat itu. Pasukan yang berjumlah tidak sampai 1000 prajurit itu dibagi menjadi 4 bagian yang masing2x menjaga satu sisi benteng.

Zhao Lei berkata, "Tempat ini dekat dengan ShangYong dimana Meng Da dan Liu Feng berjaga. Kita harus mengirim utusan untuk meminta bantuan pada mereka. Jika pasukan mereka dapat tiba disini kita pasti dapat bertahan sampai pasukan besar dari Shu tiba."

Tetapi tiba-tiba pasukan Wu tiba ditempat itu dan segera mengepung kota.

"Siapa yang berani untuk mencoba melalui kepungan ini untuk pergi ke ShangYong meminta bantuan ?" Tanya Guan Yu.

"Aku akan pergi." Jawab Liao Hua.

"Dan aku akan menyertaimu melalui pengepungan ini." Kata Guan Ping.

Guan Yu menulis sebuah surat dimana Liao Hua menyembunyikannya dibadannya. Setelah dia mempersiapkan segala sesuatunya, dia berkuda keluar benteng bersama Guan Ping dan pasukannya. Pemimpin pasukan Wu, Ding Feng berusaha untuk mencegahnya melarikan diri, tetapi Guan Ping berserta pasukannya melawan mati2xan dan berhasil membuka jalan untuk Liao Hua. Akhirya Liao Hua berhasil pergi dan dalam 1 malam dia tiba di Shang Yong. Sementara itu setelah berhasil membuka Jalan bagi Liao Hua, Guan Ping segera kembali dan mereka kemudian menutup rapat2x pintu gerbang benteng.

Setelah berhasil merebu ShangYong, Liu Feng dan Meng Da menjaga tempat itu. Liu Feng diangakt menjadi Gubernur Jenderal dan bersama Meng Da, mereka mengatur urusan pemerintahan daerah itu. Ketika mereka mendengar berita kekalahan Guan Yu, mereka berdiskusi apa yang harus dilakukan. Ketika Liao Hua tiba dia langsung diijinkan memasuki kota dan bertemu dengan mereka. Liao Hua menceritakan mengenai kisahnya dan memberikan surat permohonan bantuan Guan Yu.

Kata Liao Hua, "Pasukan Guan Yu sedang terdesak di MaiCheng. Bantuan dari ibu kota masih cukup lama untuk dapat tiba disana. Jadi aku diutus untuk meminta bantuan kalian. Aku harap kalian segera berangkat dari ShangYong secepat mungkin, karena penundaan akan dapat berakibat fatal."

Liu Feng berkata, "Tuan, Beristirahatlah ditempatku untuk sementara. Kami akan memikirkan beberapa hal terlebih dahulu."

Akhirnya Liao Hua pamit dan kedua pemimpin itu membicarakan masalah ini.

Liu Feng berkata, "Ini adalah kabar buruk, apa yang harus kita lakukan ?"

"Wu Sangat kuat, Sekarang mereka mengontrol seluruh wilayah JingZhou kecuali MaiCheng ini. Cao-Cao sedang berada di perbatasan Luo Yang dengan 500.000 prajuritnya dan kita tidak mungkin mampu menahan dua kekuatan besari ni. Aku pikir kita tdk boleh menggerakan pasukan."

"Aku tahu mengenai hal ini. Tetapi Guan Yu adalah pamanku dan aku tidak dapat duduk diam saja tanpa mencoba menyelamatkannya."

"Jadi kau menganggapnya paman tetapi aku pikir dia tidak menganggapmu sebagai keponakan. Ketika Pangeran HanZhong mengangkatmu sebagai anak, Guan Yu menentangnya. Dan setelah pangeran menerima gelarnya itu dan akan mengangkat putera mahkota, aku mendengar dia berkonsultasi dengan Zhuge Liang yang berkata bahwa masalah itu adalah masalah keluarga dan harus mereka yang memutuskan. Kemudian Pangeran meminta saran Guan Yu. Apakah Guan Yu menominasikan dirimu ? Tidak sama sekali. Kau hanyalah anak angkat dan oleh sebab itu tidak berhak untuk diperhitungkan dalam suksesi kekuasaan. Lebih lagi, Guan Yu selalu menyarankan agar kau ditugaskan ditempat yang jauh sehingga tidak menyebabkan masalah. Hal ini sudah diketahui oleh umum dan aku cukup terkejut kau tidak menyadarinya. Tetapi hari ini kau mau untuk mengambil resiko besar hanya untuk orang yang tidak mengakui siapa dirimu."

"Walaupun yang kau katakan benar, tetapi apa jawaban yang dapat kuberikan padanya ?" Tanya Guan Ping.

"Cukup katakan bahwa masalah dikota ini belum diselesaikan dan kau tidak berani bertindak karena takut kehilangan daerah ini."

Liu Feng menerima saran koleganya itu dan dia memberitahukan pada Liao Hua yang sangat kecewa. Dia segera bersujud dan menyembah kelantai hingga kepalanya beradarh memohon agar mereka mau membantu Guan Yu.

"Jika kau bertindak seperti ini maka ini pasti akhir dari Guan Yu !!!" Teriak Liao Hua.

"Apakah kau pikir secangkir air dapat memadamkan seluruh kereta yang terbakar api ?" Kata Meng Da, "Cepatlah kembali dan bersabarlah menunggu bantuan dari ibu kota."

Liao Hua memohon lagi tetapi kedua komandan itu tidak memperdulikannya. Liao Hua melihat bahwa tidak ada gunanya untuk terus memohon dan dia berpikir bahwa cara terbaik adalah secepatnya pergi menuju Cheng Du. Dia keluar dari kota sambil memaki-maki kedua komandan itu dan segera berangkat keibu kota. Dia berkuda tak henti2xnya selama 5 hari 5 malam tanpa beristirahat atau berhenti sampai akhirya kudanya mati kelelahan.

Guan Yu dari bentengnya masih mengharapkan datangnya bantuan. Dia sekarang sungguh khawatir dan sedih. Pasukannya sekarang berjumlah hanya beberapa ratus orang saja, sebagian besar lainnya terluka dan bahan makanan menipis dengan cepat.

Kemudian seseorang datang kepinggir tembok kota dan memohon diijinkan bertemu dengan Guan Yu. Dia diijinkan memasuki kota seorang diri. Dia adalah Zhuge Jin.

"Aku datang atas perintah tuanku, adipati Wu, untuk membantumu memilih jalan yang bijak. Dari jaman dahulu kala selalu diketahui bahwa seorang pendekar harus tunduk kepada keadaan. Daerah JingZhou dengan 9 daerah dan 42 kotanya telah dikuasai oleh tuanku dengan pengecualian kota kcil ini. Sekarang aku tahu bahwa kau tidak memiliki lagi bahan makanan, juga tidak ada bala bantuan dan tempat ini akan jatuh cepat atau lambat. Oleh sebab itu jenderal, kenapa kau tidak mendengar saranku dan bergabunglah dengan Wu ? Kau akan dijadikan gubernur di JingZhou dan kau akan dikembalikan ditengah2x keluargamu. Aku harap kau mamu mempertimbangkan hal ini."

Guan Yu menjawab dengan cukup tenang, "Aku hanyalah seorang prajurit biasa dari desa di JieLiang, tetapi tuanku dan aku telah menjadi saudara. Bagaimana mungkin aku mengkhianatinya ? Jika kota ini jatuh, maka hanya kematianlah jalan keluarku. Batu Giok mungkin pecah, tetapi kecemerlangannya tidak akan punah. Tubuhku mungkin Hancur tetapi namaku akan tetap hidup didalam sejarah. Kau tidak perlu berkata apa-apa lagi, tinggalkanlah kota ini. Aku akan melawan Sun Quan sampai akhir."

"Tuanku ingin berteman denganmu seperti Qin dan Jin dimasa lalu, Sehingga kita dapat berkerja sama menghancurkan Cao-Cao dan mengembalikan Han. Ini adalah idenya dan kenapa kau tetap memilih jalan yang salah ?"

Ketika Zhuge jin menghentikan perkataannya, Guan Ping yang berada disisi ayahnya segera mengeluarkan pedang untuk membunuhnya tetapi ayahnya mencegahnya.

"Ingatlah bahwa dia memiliki seorang kakak di Shu yang membantu pamanmu, kau akan menyebabkan masalah keluarga jika kau membunuhnya."

Guan Yu lalu memerintahkan pelayannya untuk membawa Zhuge Jin keluar. Zhuge Jin pergi dengan wajah ketakutan. Ketika dia sampai kepada tuannya, dia menceritakan apa yang dikatakan Guan Yu.

"Dia memang sungguh2x orang yang setia. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang ?" Tanya Sun Quan.

Seorang peramal mengatakan bahwa Guan Yu akan pergi ketempat yang jauh.

Lalu Sun Quan bertanya pada Lu Meng, "Jika dia pergi ketempat yang jauh, bagaimana kita dapat menangkapnya ?"

"Ramalam ini sesuai dengan rencanaku. Bahkan Jika Guan Yu memiliki sayap dan terbang kelangit, dia tidak akan lolos dari jaringku kali ini." Jawab Lu Meng.

BAB 77

Lu Meng berkata pada Sun Quan mengenai rencananya menangkap Guan Yu, "Guan Yu hanya tinggal memiliki pasukan yang kecil dan dia tidak akan berani untuk melalui jalan besar. Di Utara MaiCheng ada jalan kecil dan dia pasti akan berusaha melewati tempat itu. Oleh sebab itu kau harus menempatkan jebakan disana kira2x 10 Li jauhnya dari kota, tetapi Jangan hentikan dia disana. Biarkan dia lewat dan terus serang dia dari belakang. Dengan begitu dia akan terpaksa menuju LinJu. Disini kita harus menempatkan pasukan penyergap dan kau akan menangkpnya. Untuk sekarang ini seranglah kota dari segala sisi tetapi biarkan sisi utara terbuka."

Sebelum menjalankan rencana ini, Sun Quan memerintahkan Lu Fan untuk meramal.

Lu Fan melakukannya dan berkata, "Musuh akan pergi melewati jalur barat laut dan dia akan tertangkap pada malam hari itu sebelum tengah malam."

Zhu Ran diperintahkan untuk melakukan penyergapan pertama dan Pan Zhang yang kedua. Semua pasukan yang dikirim adalah veteran perang.

Ketika Guan Yu mengumpulkan seluruh prajuritnya di MaiCheng dia hanya mempunyai 300 orang saja. Makanan telah habis dan pada malam harinya Pasukan Wu datang mendekat kekota dan memanggil nama teman-teman mereka yang ada didalam. Banyak dari mereka yang bertahan segera menuruni tembok dan melakukan desersi sehingga makin mengurangi pasukan Guan Yu. Tidak ada pasukan bantuan yang terlihat dan Guan Yu sudah putus asa menghadapi hal ini.

Lagi dia berkata pada Wang Fu, "AKu menyesal tidak mendengarkan nasehatmu yang bijak itu. Sekarang apa yang harus kulakukan ?"

"Aku pikir bahkan jika Lu Wang hidup kembali, diapun tidak dapat berbuat banyak dalam situasi seperti ini." Jawab Wang Fu sambil menangis.

Kata Zhao Lei, "Liu Feng dan Meng Da pasti memutuskan untuk tidak mengirimkan bantuan dari ShangYong. Aku rasa kita harus meninggalkan tempat ini dan mencoba pergi ke YiZhou. Disana kita akan mengumpulkan tentara dan setelah itu kita dapat mencoba peruntungan kita sekali lagi dalam merebut tempat ini."

"Aku setuju denganmu bahwa itu adalah langkah terbaik saat ini." Kata Guan Yu.

Lalu dia pergi menaiki tembok kota dan mengamati keadaan daerah sekitar. Dia melihat bahwa pengepungan musuh terlemah adalah disebelah utara, dia memanggil beberapa penduduk asli daerah sana dan menanyakan mengenai keadaan alam sekitar daerah itu.

Mereka menjawab, "Hanya ada jalan2x kecil saja disekitar sini tetapi jalan2x itu menuju kedaerah Sungai Barat."

"Kita akan pergi melewati tempat itu malam nanti." Jawab Guan Yu.

Wang Fu menetang usul itu dan berkata, "Jenderal, kau pasti akan masuk dalam jebakan musuh. Jalan utama tampaknya lebih aman."

"Mungkin memaang akan ada jebakan, tetapi apakau kau pikir aku takut dengan hal itu ?" Jawab Guan Yu.

Perintah segera diberikan untuk berangkat.

"Setidaknya kau harus berhati2x, Jenderal. Aku akan menjaga tempat ini sampai akhir. Aku hanya memerlukan 100 tentara saja. Dan kami semua tidak akan pernah menyerah. Hanya saja aku harap,jenderal, kau akan segera mengirim pasukan bantuan secepat mungkin." Wang Fu berkata.

Mereka berdua berpisah dengan berlinang air mata. Wang Fu dan Zhou Cang tetap berada di MaiCheng untuk menjaganya. Guan Yu, Guan Ping dan Zhao Lei bersama pasukan kecil mereak bergerak menuju gerbang utara. Guan Yu dengan Golok naganya berada didepan. Kira2x setelah 15 Li jauhnya antara dia dan kota mereka sampai disebuah tempat dengan tebing tinggi. Ketika melewati tempat itu tiba-tiba bunyi genderang perang bertabuhan dan kemudian banyak suara teriakan prajurit. Segera kemudian pasukan besar dengan Zhu Ran sebagai pemimpinnya muncul.

Dia segera menerjang maju dan memanggil Guan Yu , "Guan Yu, Jangan Lari ! Menyerahlah dan kau akan kubiarkan hidup !"

Tetapi Guan Yu memacu kudanya untuk membunuh Zhu Ran. Zhu Ran segera melarikan diri karena ketakutan. Guan Yu Mengikuti dia sampai tiba-tiba terdengar bunyi ledakan dan genderang perang lagi. Dia terkejut dan tiba-tiba pasukan Wu bermunculan dari segala penjuru. Guan Yu lalu bertempur sekuat tenaga bersama sisa pasukannya dan berhasil membuka jalan menuju LinJu. Zhu Ran datang dari belakang dan mengejar pasukan Guan Yu yang kabur sehingga hanya tersisa kurang dar 50 orang prajurit Guan Yu.

Tidak jauh beberapa Li kemudian, Bunyi genderang perang terdengar lagi dan kali ini adalah Pan Zhang pemimpinnya. Guan Yu langsung menerjang kearahnya dan melawannya, Pan Zhang lari hanya setelah beberapa jurus. Walaupun begitu Guan Yu melihat bahwa pasukan musuh terlalu banyak dan dia bersama pasukannya yang tersisa pergi kearah pegunungan.

Guan Ping mengikuti dari belakang dan dia mengabarkan sebuah berita duka, "Zhao Lei telah tewas didalam pertempuran !"

Guan Yu sangat sedih dan memerintahkan anaknya untuk segera membawa sisa pasukannya pergi.

Kira2x pasukan Guan Yu hanya tersisa 10 orang saja ketika mencapai ZhuXi, sebuah tempat dengan pegunungan disisi-sisinya. Kemudian disana mereka bertemu lagi dengan pasukan penyergap. Tetapi Kali ini pasukan penyergap itu tidak membawa pedang maupun panah, mereka membawa tali dan jaring. Terperangkap dalam keadaan ini, Pasukan Guan Yu tidak dapat berbuat banyak. Guan Yu mencoba melawan sekuat tenaga, tetapi tiba-tiba kudanya terjatuh dan melemparkannya dari sadelnya Pada saat yang sama, Ma Zhong segera menahan kuda Guan Yu dan menariknya. Guan Ping menerjang kearah Guan Yu untuk menolongnya, tetapi sebelum dia dapet berbuat sesuatu, para prajurit Wu telah menjatuhkan dirinya dan mengikatnya. Guan Yu yang terjatuh jg langsung diikat dengan tali dan dibungkus dengan Jaring, Golok naganya di bawa oleh Pan Zhang. Akhirnya kedua Guan, Ayah dan Anak tertangkap oleh Pasukan Wu. Walaupun begitu, selama proses penangkapan ini, lebih dari 500 prajurit Wu tewas dan 2000 lainnya terluka.

Sun Quan sangat senang dengan keberhasilan rencananya. Pada pagi harinya, dia mengumpulkan semua bawahannya didalam tendanya untuk menanti kedatangan tawanannya itu. Tidak lama kemudian, Ma Zhong datang dengan membawa Guan Yu dan Guan Ping.

"Aku telah lama ingin berteman denganmu. Aku kagum dengan kegagahan dan kebajikanmu. Sekarang aku ingin menawarkan persekutuan denganmu, jika kau mau maka kau dan anakmu akan kubebaskan. Aku harap kau mau bergabung denganku." Pinta Sun Quan.

Tetapi Guan Yu menjawab dengan kasar, "Kau bocah bermata biru !!! Kau tikus berjanggut Ungu !! Aku telah melakukan sumpah dibawah pohon persik dengan saudara2xku untuk menjunjung tinggi Han. Pikirmu aku mau untuk bergabung dengan pemberontak seperti dirimu ? Aku sekarang menjadi korban dari rencana busukmu. Lebih baik kau hentikanlah omonganmu dan cepatlah bunuh aku."

"Dia benar-benar seorang pendekar dan aku sangat menyukainya. Aku akan memperlakukan dia dengan baik dan kuharap dia akan bergabung denganku. Apakah menurut kalian itu ide yang baik ?"

Kata menteri Zuo Xian, "Ketika Cao-Cao menahan orang ini, Cao-Cao memperlakukan dia sangat baik. Cao-Cao menjadikan dia adipati dan setiap 3 x sehari Cao-Cao mengadakan perjamuan. Cao-Cao memberikan dia emas dan perak, semua ini dilakukan untuk berharap agar dapat mempertahankannya disisi dia. Tetapi Cao-Cao gagal. Orang ini melalui gerbang2x perbatasan dan membunuh 6 jenderalnya di 5 benteng perbatasan. Sekarang Cao-Cao sangat takut akan dirinya dan hampir saja memindahkan ibukota karena keganasan Guan Yu. Sekarang dia berada didalam kekuasaanmu, bunuhlah dia sekarang juga atau kau akan menyesal. Petaka akan menimpamu jika kau membiarkan dia hidup."

Sun Quan memikirkannya untuk beberapa waktu.

"Kau benar !" Kata Sun Quan tiba-tiba. Dan dia langsung memerintahkan hukuman penggal.

Guan Yu dan Guan Ping dibawa ketengah perkemahan. Guan Yu hanya tertawa saja ketika dibawa untuk dihukum mati. Algojo yang akan memanggalnya menjadi ketakutan ketika menatap Guan Yu dan dia tidak berani untuk melaksanakan eksekusi itu, tidak ada prajurit biasa yang berani. Akhirnya Pan Zhang dengan menggunakan Golok Naga memenggal kepala Guan Yu.

Akhirnya Kedua Guan, Ayah dan Anak berakhir nasibnya disaat yang sama pada musim dingin bulan ke 10 ditahun ke 24 masa Jian An atau tahun ke 29 masa pemerintahan kaisar Xian (Tahun 219 M). Guan Yu berumur 54 tahun dan Guan Ping berusia 32 Tahun.

Akhirnya Guan Yu telah tewas dan kudanya dikirim kepada Sun Quan yang memberikannya pada Ma Zhong. Tetapi Kuda Merah itu hanyak hidup untuk beberapa hari saja sebelum akhirnya menyertai Tuannya yang telah bersamanya selama lebih dari 15 tahun. Dia menolak makan dan minum dan akhirnya mati.

Di MaiCheng, Wang Fu tiba-tiba bermimpi buruk. Dia terbangun, Tulangnya terasa digin dan badannya bergetar.

Dia berkata pada Zhou Cang keesokan harinya, "Aku mendapat mimpi buruk dimana aku melihat tuan kita berlumuran darah. Aku ingin menanyainya tetapi aku terlalu takut. Semoga saja hal ini bukan pertanda buruk."

Pada saat itu Pasukan Wu datang ke Tembok kota dan mengarak kepala Guan Yu dan Guan Ping, ayah dan anak. Wang Fu dan Zhou Cang naik keatas tembok untuk melihat apabila hal itu adalah benar-benar kepala kedua Guan. Setelah melihat mereka benar-benar Yakin bahwa kepala itu adalah milik Guan Yu dan Guan Ping. Wang Fu langsung menangis sedih sekali dan dia lalu meloncat dari tembok kota dan tewas. Zhou Cang berdiri diatas tembok istana lalu mengeluarkan pedang dan membunuh dirinya sendiri. Hari itu jg MaiCheng jatuh ketangan Wu. Wang Fu berusia 45 tahun dan Zhou Cang berusia 42 tahun ketika mereka meninggal.

Eksekusi Guan Yu telah membuat Sun Quan mendapatkan seluruh wilayah JingZhou. Dia kemudian memberikan prajuritnya hadiah dan mengadakan perjamuan besar dimana Lu Meng duduk sebagai tamu kehormatan.

Sun Quan lalu memberikan pidatonya, "Setelah lama menunggu, keinginan hatiku akhirnya terpenuhi melalui temanku Lu Meng."

Lu Meng lalu membungkuk tanda memberi hormat dan kemudian Sun Quan melanjutkan, "Zhou Yu lebih hebat dari kebanyakan manusia dan dia mengalahkan Cao-Cao di Chi Bi. Sayang, dia meninggal terlalu cepat. Lu Su kemudian mengantikan dirinya dan dia menciptakan landasan untuk menciptakan suatu kekaisaran besar bagi Wu. Ketika Cao-Cao datang untuk menguasai Wu dan semua orang menyuruhku untuk menyerah dia menasehatiku untuk melawan. Dia hanya berbuat satu kesalahan yaitu membiarkan Liu Bei menempati JingZhou. Sekarang, hari ini Lu Meng telah mengantikan mereka semua dan dia berhasil melebihi semua pendahulunya."

Kemudian Sun Quan mengisi cawannya dan dia yang menyerahkan cawan itu kepada Lu Meng. Lu Meng mengambil Cawan itu dan dia mengangkat gelas, tetapi tiba-tiba dia berubah.

Dia melemparkan cawan itu kelantai dan lalu mencengkram Sun Quan serta berteriak, "Kau bocah bermata biru ! Kau tikus berjanggut ungu ! Apakah kau masih mengenali diriku ?"

Ketakutan melanda seluruh orang-orang itu, banyak dari mereka berusaha menyelamatkan tuan mereka yang telah dilempar kelantai oleh Lu Meng yang kerasukan Lu Meng sendiri duduk dikursi tuannya dan matanya menatap penuh amarah.

"Setelah aku menghancurkan pemberontakan Jubah kuning, aku pergi kesana dan kemari selama 30 tahun. Sekarang aku telah menjadi korban rencana busukmu dan kau berhasil membunuhku. Hidup aku tidak berhasil mengoyak daging musuhku, dalam kematian aku akan menghabisi Pemberontak. Aku Bangsawan HanShou, Guan Yu !!!"

Ketakutan dan kepanikan langsung melanda semua orang, Sun Quan yang pertama sujud dihadapan Lu Meng dan diikuti oleh orang-orang lainnya diruangan itu.

Segera Lu Meng tiba-tiba meninggal dan darah keluar dari 7 lubang ditubuhnya.

Segera tubuh Lu Meng dikuburkan dengan layak. Lu Meng kemudian dianugerahi gelar Gubernur NanJun dan Bangsawan ChanLing. Anaknya Liu Ba diangkat menjadi pejabat.

Setelah kejadian ini Sun Quan lalu hidup penuh ketakutan. Segera Zhang Zhao datang dari JianYe menyalahkannya karena kematiannya itu.

"Tuanku, Pembunuhan Guan Yu ini telah membawa petaka kepada kita. Kau tentu tahu mengenai sumpah dibawah pohon persik. Sekarang Liu Bei memiliki pasukan besar di barat, Zhuge Liang sebagai penasehatnya dan juga Zhang Fei, Zhao Yun, Ma Chao dan Huang Zhong yang siap menjalankan setiap perintah. Ketika Liu Bei mendengar hal kematian ayah dan anak marga Guan ini maka dia akan mengerakan seluruh kekuatannya untuk membalaskan dendam mereka. Aku takut bahwa kita tidak cukup kuat untuk menahan semua serangan ini."

Sun Quan mulai menjadi sangat ketakutan.

"Ya aku telah membuat kesalahan kecil. Tetapi hal itu telah terjadi, jadi apa yang dapat kita lakukan ?"

"Kau tidak perlu takut, Aku memiliki rencana untuk membuat mereka tidak menyerang kita dan menjaga JingZhou tetap aman."

"Apa rencanamu ?" Tanya Sun Quan.

"Cao-Cao dan pasukannya ingin mengusai seluruh kekaisarannya. Jika Liu Bei ingin membalas dendam maka dia akan bersekutu dengan Cao-Cao dan mereka akan menyerang selatan. Oleh sebab itu aku sarankan kita mengirim kepala Guan Yu kepada Cao-Cao sehingga seolah-olah terlihat bahwa Cao-Caolah yang merencanakan semua hal ini. Hal ini akan membuat Liu Bei menyerang Cao-Cao dan bukan kita. Setelah mempertimbangkan semua hal aku rasa ini adalah jalan terbaik."

Sun Quan setelah memikirkannya lalu setuju dan dia mengirim kepala Guan Yu didalam Kotak kepada Cao-Cao sesegera mungkin. Tubuh Guan Yu dimakamkan disekitar Daerah YangZhou di sebelah tenggara JingZhou.

Pada saat ini pasukan Cao-Cao telah kembali ke LuoYang dari MoPo. Ketika dia mendapatkan kepala Guan Yu, hatinya sangat lega.

Kata dia, "Akhirnya Guan Yu telah mati. Sekarang aku dapat tidur dengan tenang dimalam hari."

Tetapi Sima Yi melihat ada siasat dibalik hal ini dan dia berkata, "Ini adalah siasat untuk mengalihkan petaka dari Wu."

"Apa maksudmu ? bagaimana caranya ?" Tanya Cao-Cao.

"Sumpah dibawah pohon persi telah mengikat 3 saudara menjadi satu dalam hidup dan mati. Sekarang Wu takut pembalasan dendam dari Shu sehingga mereka mengirim kepala Guan Yu kepadamu untuk berharap agar Shu menyerang kita. Setelah itu dia akan mencari cara untuk menguasai keadaan ketika kita dan Shu sedang berselisih."

"Kau sangat benar, temanku. Dan bagaimana caranya agar kita dapat lolos dari petaka ini ?" Tanya Cao-Cao.

"Aku pikir caranya cukup mudah. Kau memiliki kepala Guan Yu, buatlah dari kayu badan dari Guan Yu kemudian kau kuburkan kepala dan badan kayu itu dengan cara seperti jika seorang menteri besar kekaisaran dikuburkan. Ketika Liu Bei mendengar hal ini maka dia akan mengarahkan kebencianya pada Sun Quan. Jika kau lihat, maka tidak perduli siapapun yang menang maka kitalah yang akan mendapatkan keuntungan."

Cao-Cao senang mendengar solusi itu. Kemudian dia memerintahkan utusan itu untuk datang dengan kotak kayu itu, ketika dia buka, dia melihat Wajah Guan Yu tepat seperti sebagaimana dia mengingat rupa Guan Yu.

Kemudian Cao-Cao tersenyum dan berkata, "Aku harap kau baik-baik saja sejak terakhir kita bertemu, Guan Yu."

Tiba-tiba mulut Guan Yu terbuka dan matanya menatap tajam. Cao-Cao langsung jatuh dan dia memuntahkan darah karena terkejut.

Mereka semua yang ada disana segera membantu dia bangun dan tidak lama kemudian setelah lebih tenang dia berkata," Jenderal Guan benar-benar seorang dewa."

Utusan yang membawa kepala Guan Yu menceritakan mengenai Kejadian yang menimpa Lu Meng dan Sun Quan.

Cao-Cao yang dipenuhi ketakutan segera mengadakan upacara untuk menghormati Guan Yu. Tubuh Kayu dan kepala Guan Yu dikuburkan gerbang selatan dengan cara2x seperti menguburkan seorang pangeran. Setiap pejabat dari berbagai tingkatan hadir didalam upacara itu. Didalam upacara itu Cao-Cao sendiri sujud didepan peti mati Guan Yu dan dia menuangkan 3 cangkir arak untuknya. Dia juga memberikan gelar Pangeran JingZhou kepada Guan Yu dan menunjuk agar kuburannya dijaga. Kemudian utusan itu dikirim balik ke Wu.

Sekarang Arwah Guan Yu tidak pergi kealam lain, tetapi dia tetap berada dibumi ini sampai suatu kali tiba di DangYang disebuah bukit yang terkenal bernama Puncak Mata Air Giok. Disana hidup seorang pertapa yang namanya adalah 'Kedamaian Kekal'. Dia sebelumnya adalah seorang pendeta di Kuil Penjaga negara di perbatasan Sungai Si. Didalam perjalanannya dia akhirnya sampai ketempat ini. Disana dia membangun gubuk kecil dan melakukan meditasi untuk menemukan 'TAO', Dia meiliki seorang murid yang meminta sedekah untuk mencukupi kehidupannya yang sangat sederhana.

Pada suatu malam tepat di tengah malam, bulan purnama bersinar dengan sangat terangnya. Pendeta ini sedang bermeditasi ditengah keheningan malam.

Tiba-tiba dia mendengar suara besar berteriak, "Berikan kembali kepalaku ! Berikan kembali kepalaku !"

Pendeta ini kemudian melihat sesosok Pria duduk diatas kuda merah. Ditangannya ada Golok yang bersinar seperit Golok Naga Hijau. Lalu ada dua orang jenderal lainnya yang berada dibelakagnya, masing2x disisinya. Yang di kiri memiliki wajah putih dan yang dikanan memiliki wajah kasar dengan janggut ikal. Dan mereka mengikuti kemanapun orang yang memegang golok itu pergi. Mereka mengambang diudara yang kemudian sampai dipuncak gunung itu.

Pendeta itu kemudian mengenali dia sebagai Guan Yu, lalu dia berkata," Dimanakah Guan Yu ?"

Arwah itupun mengerti dan dia turun dari kudanya.

Dengan membungkuk memberi hormat, arawah itu berkata, "Siapakah guruku ini, dan siapakah nama pendetanya ?"

"Ketika berada di Kuil Penjaga negara ditepi sungai Si. Aku pernah melihatmu, tuan jenderal. Dan aku tidak mungkin melupakan wajahmu." Jawab Pendeta itu.

"Aku sangat bersyukur atas bantuan yang pernah kau berikan itu. Nasib buruk telah menimpaku dan sekarang aku sudah tidak hidup lagi. Aku ingin memohon kau memberikan petunjuk pada diriku menunjukan jalan kemuliaan."

"Kita tidak usah membicarakan hal-hal buruk yang terjadi dimasa lalu maupun hal-hal benar yang terjadi sekarang. Kejadian yang terjadi kemudian adalah akibat perbuat yang dilakukan sebelumnya. Aku tahu Lu Meng telah melukai dirimu dan kau berteriak meminta kepalamu. Tetapi siapa yang juga akan mengembalikan kepala-kepala korbanmu seperti Yan Liang, Wen Chou dan juga komandan 5 benteng ?"

Segera Guan Yu mengerti maksudnya, dia bersujud sebagai tanda terima kasih dan setelah itu kemdian bersama kedua penampakan lainnya menghilang. Setelah kejadian ini, Guan Yu dan kedua arwah lainnya terus berada didaerah puncak gunung itu dan menjaga rakyat disana.

Karena terkesan dengan kebajikannya Rakyat membangun sebuah kuil dipuncak gunung itu dimana mereka mengadakan persembahan dan sesajen setiap musimnya. Setiap orang yang melakukan tugas besar dan berbahaya selalu memohon berkat dan perlidungan dari dirinya, dari pemburu sampai jenderal besar semuanya bersujud kepadanya. Dan Suatu Hari penampakan Guan Yu terlihat kembali tetapi kali ini dia memiliki Aura Emas dan kepalanya telah berada kembali dibadannya. Setiap orang disana akhirnya menyembahnya menjadi Dewa Pelindung.

Beberapa tahun kemudian seseorang menulis diatas dua pilar penyangga kuil itu. Tulisan yang pertama berbunyi "Wajah Kasar tetapi memiliki hati yang jujur, mengendarai angin diatas kuda merah, Laksana seorang kaisar ."

Tulisan yang kedua berbunyi, "Didalam sinar lampu yang terang, Membaca buku sejarah, Percaya kepada Golok Naga Hijau yang seperti Bulan Sabit, hati yang murni seperti Langit Biru yang cerah."

Sementara itu di Shu, setelah menguasai BaZhou, YiZhou dan HanZhong. Liu Bei kembali ke ChengDu.

Fa Zheng lalu berkata," Pangeran, Istrimu telah meninggal dan Lady Sun Shang Xiang telah kembali kerumahnya. Mungkin kalian juga tidak akan pernah berjumpa lagi. Oleh sebab itu aku harap kau mau memilih seorang istri untuk mendampingimu sehingga semua hal menjadi seperti seharusnya diistana ini."

Liu Bei lalu menyetujui usulan itu, Fa Zheng lalu melanjutkan, "Wu Yi memiliki seorang adik, dia sangat cantik dan juga baik. Seorang ahli ramal mengatakan bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi seorang yang memperoleh kehormatan besar. Dia sudah dijodohkan dengan Liu Mao anak dari Liu Yan, tetapi Liu Mao mati ketika masih muda. Dia kemudian tetap tidak menikahi siapapun. Aku pikir akan sangat baik bagimu untuk mengambilnya sebagai istri."

"Aku rasa ini tidak sesuai dengan kebiasaan. Liu Mao dan aku berasal dari marga yagn sama."

"Jika menyangkut urusan ini apakah berbeda dengan pernikahan antara Raja Muda Wen dengan putri Huai Ying dimasa dinasti Zhou ?"

Karena Hal ini Liu Bei memberikan persetujuannya dan mereka akhrinya menikah. Lady Wu melahirkan dua orang putra bagi Liu Bei, Yang tertua bernama Liu Yung dan yang muda bernama Liu Li."

Sementara itu seluruh daerah Shu menjadi makmur, daerahnya aman, tentram dan sejahtera. Kekayaan merupakan hal yang umum didaerah itu. Tanah2x pertanian didaerah itu sangat menghasilkan.

Tiba-tiba datang utusan yang mengatakan bahwa Sun Quan berusaha bersekutu dengan Guan Yu melalu pernikahan anak2x mereka. Dan Guan Yu dgn kasar menolak usulan itu.

"JingZhour berada dalam bahaya, Panggilah kembali dan gantikan Guan Yu." Kata Zhuge Liang.

Kemudian utusan datang silih berganti mengabarkan laporan dari JingZhou. Pada awalnya mereka mengabarkan berita baik, kemudian berita buruk. Kemudian Guan Xing datang mengabarkan bahwa Ayahnya berhasil menenggelamkan 7 divis pasukan Wei berkekuatan 150.000 prajurit dan juga penangkapan Yu Jin serta pemenggalan Pang De. Kemudian datang lagi utusan membawa laporan bahwa Guan Yu membuat menara pengawas disepanjang Sungai Besar. Dan karena semua hal ini Liu Beipun akhirnya menjadi tenang.

Pada malam harinya, Liu Bei merasa bahwa badannya sangat panah dan dia tidak bisa tidur. Hatinya gelisah dan dia menjadi gusar akan hal ini. Malam itu dia terbangun dan kemudian membaca buku, Ketika dia mengantuk dan jatuh tertidur dimeja belajarnya dia memimpikan ada angin dingin berhembus diruangan itu dan hampir mematikan lilin. Ketika dia menutup jendela dan lilin kembali menjadi terang, dia melihat penampakan ada seseorang berdiri diekat lampu itu.

"Siapakah kau, mengapa kau datang malam-malam begini keruanganku ?" Tanya Dia.

Penampakan itu tidak menjawab dan Liu Bei mendekat untuk melihat siapa dia. Kemudian dia mengenali bahwa penampakan itu adalah adiknya, Tetapi adiknya bertindak menghindar dan menjauh.

Liu Bei berkata, "Adik, aku harap tida ada masalah. Tetapi aku yakin pasti ada hal penting hingga kau datang malam-malam begini keruanganku. Dan mengapa kau menghindari diriku, kakakmu ini yang sangat menyayangi dirimu ?"

Lalu Penampakan itu menangis dan berkata, "Kakak, Kirimlah tentara untuk membalaskan dendamku !"

Ketika Guan Yu mengatakan itu, tiba-tiba angin dingin berhembus lagi keruangan itu dan penampakan itupun menghilang. Kemudian Liu Bei terbangun dan menyadari itu hanyalah mimpi.

Matahari pagi baru saja menjelang ketika dia bangun, dia merasa sangat khawatir dan terganggu. Lalu dia pergi ke istana utama dan disana dia mengirim orang untuk mencari Zhuge Liang. Segera Zhuge Liang datang dan Liu Bei menceritakan mimpinya.

"Kau terlalu memikirkan Guan Yu akhir2x ini, tuanku. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan." Jawab Zhuge Liang.

Tetapi Liu Bei tetap tidak dapat tenang dan Zhuge Liang cukup sabar untuk menenangkan tuannya itu.

Ketika Zhuge Liang meninggalkan istana itu, dia bertemu Xu Jing yang berkata, "Zhuge Jian Shi, Aku pergi ketempatmu tadi untuk menyampaikan kabar yang sangat rahasia dan mereka mengatakan padaku bahwa kau berada disini."

"Apa rahasiamu ini ?"

"Aku menerima laporan dari pengawal perbatasan bahwa Wu telah merebut JingZhou, Lu Meng telah merebutnya. Dan lebih lagi, Guan Yu telah dipenggal. Aku datang untuk meberitahukan padamu mengenai hal ini."

"Aku telah melihat beberapa malam lalu dilangit. Sebuah bintang besar telah jatuh diatas JingZhou. Dan aku tahu bahwa ada hal buruk terjadi Pada Guan Yu. Tetapi aku khawatir Tuan Kita akan terpengaruh, jadi kuminta kau rahasiakan hal ini."

Mereka tidak tahu bahwa Liu Bei menguping pembicaraan mereka.

Tiba-tiba Liu Bei segera menghampiri mereka dan dia lalu mencengkram Zhuge Liang dan berkata, "Kenapa kau menyembunyikan hal ini dari diriku ? Kenapa ?"

Zhuge Liang lalu berkata, "Tuanku, Mohon sabarlah. Semua ini hanyalah kabar burung saja. Hal ini terlalu sulit untuk dipercaya. Kami harap kau tidak khawatir dan tenang."

"Dengan sumpah kami hidup bersama. Bagaimana aku dapat tetap hidup jika dia telah tiada ?" Jawab Liu Bei.

Kemudian kedua orang itu berusaha menenangkan tuan mereka semampu mereka. Tetapi ketika mereka sedang berbicara, tiba-tiba pengawal melaporkan kedatangan Ma Liang dan Yi Ji. Liu Bei segera mengumpulkan seluruh pejabat dan memanggil kedua orang itu masuk.

Ma Liang dan Yi Ji berkata, "JingZhou telah hilang dan Guan Yu memohon agar bala bantuan dikirim secepatnya."

Surat yang ada ditangan mereka belum sempat dibacakan ketika tiba-tiba Liao Hua dengan wajah terbakar oleh panas teriknya matahari dan pakaian compang-camping serta sepatu yang koyak dan kaki terluka karena dia berjalan kaki sepanjang hari sejauh ratusan Li akhirnya langsung masuk dan terjatuh dibawah anak tangga istana.

Liu Bei segera memerintahkan pengawal untuk membantunya, Liao Hua menuturkan kisahnya dengan bersujud dan menangis, dia menceritakan keadaan Guan Yu yang kritis dan kisah penolakan Liu Feng dan Meng Da untuk mengirim bala bantuan kepada Guan Yu yang terdesak di MaiCheng.

"Berarti Adikku telah tiada !!!" Tangis Liu Bei mendengar cerita Liao Hua.

"Jika benar kedua orang itu telah bertindak seperti itu maka kesalahan mereka masih terlalu besar jika hanya diberikan hukuman mati. Tetapi tuan lebih baik tenangkan dirimu terlebih dahulu. Aku akan pastikan bahwa pasukaan akan siap dan kita akan mengirimnya untuk membantu Guan Yu.", Kata Zhuge Liang.

"Jika Guan Yu telah tiada, maka aku tidak dapat hidup lagi. Esok hari aku sendiri akan memimpin tentara untuk pergi menyelamatkannya."

Liu Bei segera mengirim utusan menemui Zhang Fei di LangZhong dan memberinya perintah untuk menyiapkan 50.000 prajurit berkuda dan 200.000 prajurit infantri untuk segera berangkat.

Sebelum hari menjelang malam prajurit pengintai dan utusan2x datang silih berganti melaporkan keadaan di JingZhou dan akhirnya utusan terakhir tiba dan berkata, "Guan Yu berhasil sampai Di LinJu pada malam hari tetapi disana dia ditangkap oleh Jenderal dari Wu. Dia menolak untuk tunduk pada Sun Quan dan akhirnya bersama Guan Ping dia dihukum mati. MaiChang telah jatuh ketangan Lu Meng, Jenderal Wang Fu dan Jenderal Zhou Cang bunuh diri didepan tembok kota."

Ketika mendengar bencana terakhir ini, Liu Bei langsung menangis keras sekali dan dia lalu memuntahkan darah sebelum akhirnya dia terjatuh dari singasananya dan pingsan.

BAB 78

Liu Bei yang memuntakan darah dan pingsan setelah mendengar kematian kedua Guan akhirnya Siuman setelah ditolong oleh pejabat-pejabatnya.

Setelah dia sadar, Zhuge Liang berkata, "Tuanku, aku mohon jagalah kesehatanmu. Hidup dan mati telah diatur oleh langit. Guan Yu telah membawa petaka pada dirinya sendiri akibat keyakinan dan kesombonganya. Kau sekarang harus menjaga kesehatanmu untuk dapat membalaskan dendam."

"Ketika kami bersumpah ditaman persik, kami berjanji untuk sehidup semati. Apa lagi kenikmatan dari kekayaab dab kekuasaan setelah sekarang adikku telah tiada ?" Kata Liu Bei.

Pada saat itu putra Guan Yu, Guan Xing datang dengan menangis. Ketika melihat pemuda ini, Liu Bei juga menangis dan akhirnya pingsan lagi. Setelah beberapa saat dia sadar kembali, tetapi dia menghabiskan hari-hari dengan menangis dan memuntahkan darah. Selama 3 hari dia menolak semua makanan dan obat2xan. Dia menangis terus sampai seluruh pakaiannya basah dan juga ada noda darah. Zhuge Liang dan yang lainnya berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya tetapi dia tidak dapat ditenangkan.

"Aku bersumpah, aku tidak akan hidup dibawah langit yang sama dengan Sun Quan." Liu Bei berkata.

"Dikabarkan bahwa kepala dari adikmu dikirimkan pada Cao-Cao, tetapi Cao-Cao telah menguburkannya dengan cara2x seperti seorang pangeran yang dikuburkan." Kata Zhuge Liang.

"Kenapa dia melakukan hal itu ?" Tanya Liu Bei.

"Karena Sun Quan berpikir hal ini dapat menyebabkan kita menyerang Cao-Cao. Tetapi Cao-Cao dapat melihat rencana ini dan dia telah memakamkan adikmu dengan penuh hormat sehingga kemaranhanmu akan kau arahkan ke Wu."

"Aku ingin mengirim tentaraku untuk menghukum Wu dan melampiaskan amarahku." Kata Liu Bei.

"Janganm Kau tidak boleh melakukan hal itu. Wu berharap kau menyerang Wei dan Wei berharap kau menyerang Wu, setiap orang memiliki rencana masing2x dan berupaya mengambil keuntungan dari hal ini. Akan sangat bijak jika kau tdk menggerakan tentara. Buatlah masa berkabung bagi Guan Yu dan tunggu sampai Wei dan Wu berperang. Saat itu baru kau membalaskan dendam ini."

Pejabat yang lain mendukung Zhuge Liang dan Liu Bei mendengarkan. Kemudian dia menjadi bersemangat lagi dan dia mulai mau makan lagi. Sebuah titah dikeluarkan agar setiap pejabat dan prajurit memakai pakaian berkabung. Liu Bei juga melakukan upacara di gerbang Selatan untuk memanggil arwah Guan Yu pulang dan dia melakukan upacara penghormatan sehari penuh untuk Guan Yu, adiknya itu."

Di LuoYang, walaupun Cao-Cao telah mengadakan upacara besar bagi Guan Yu tetapi dia masih saja dihantui oleh perasaan takut. Setiap malam ketika dia menutup matanya, dia melihat Guan Yu seperti ketika dia masih hidup. Hal ini telah membuatnya sangat tegang setiap harinya dan dia mencari nasehat dari para bawahannya. Beeberapa orang mengusulkan agar membangun tempat baru baginya.

"Disini terlalu banyak hawa negatif dan juga pengaruh buruk. Kami menyarankan agar tuan membangun istana baru dan pindah dari istana LuoYang ini."

"Aku akan membangunnya dan tempat itu akan diberi nama 'Fondasi Baru'. Tetapi siapakah arsitek hebat yang dapat membangunnya ?"

Jia Xu berkata, "Ada seseorang bernama Su Yue, dia adalah seorang arsitek yang sangat jenius di LuoYang."

Su Yue segera dipanggil dan disuruh mengerjakan proyek ini. Dia diperintahkan membangun sebuah Pavilliun dengan 9 ruangan untuk Cao-Cao. Tempat itu harus membunyai beranda dan juga lantai atas. Rancangannya membuat Cao-Cao sangat senang.

"Kau mempunyai rancangan persis seperti apa yang kuharapkan, tetapi dari mana kau akan menemukan kayu sebagai tiang utama untuk bangunan yang kau rancang itu ?"

"Aku tahu ada beberapa pohon yang dapat digunakan. Sekitar 20 Li dari kota disana ada kolam Naga Melompat. Didekat itu ada sebuah kuil dan disampingnya tumbuh sebuah pohon buah pear. Tinggnya mencapai beberapa ratus kaki dan dia akan dapat menjadi tiang utama."

Cao-Cao segera mengirim orang untuk menebang pohon itu. Tetapi setelah seharian, mereka datang kembali dan mengatakan bahwa pohon itu tidak dapt ditebang baik dengan gergaji maupun kampak besar. Cao-Cao yang tidak percaya kata-kata mereka segera datang untuk melihat. Ketika dia turun dari kudanya dan berdiri didepan pohon itu, dia mengagumi ukuran dan besarnya pohon itu. Pohon itu dilihatnya sangat kokoh dan sangat tinggi sampai ujungnya mencapai awan. Dia kemudian memerintahkan agar orang-orangnya mencoba memotong pohon itu lagi.

Tetapi ada tetua desa yang datang dan berkata, "Pohon itu telah berada disana untuk beberapa abad dan dijaga oleh mahluk halus. Kami pikir seharusnya pohon itu jangan ditebang."

Cao-Cao menjadi kesal dan berkata,"Aku telah pergi mengelilingi negeri ini selama 30 tahun lebih dan tidak ada satupun dari kaisar sampai rakyat jelata yang tidak takut padaku. Mahluk halus macam apa yang berani menentang keinginanku ?"

Dia lalu mengeluarkan Pedang Saktinya dan lalu menebas batang pohon itu. Tiba-tiba pohon itu mengerang kesakitan saat ditebas dan darah bermuncratan dari batang pohon itu mengenai pakaian Cao-Cao. Cao-Cao lalu panik dan ketakutan, dia segera melepaskan pedangnya dan naik keatas kudanya lalu kembali keistananya."

Malam itu ketika dia ingin tidur, dia tidak dapat tidur. Dia bangun dan berjalan menuju ruangan luar dan duduk disana. Tiba-tiba seorang muncul dengan rambut panjang terurai, dia berpakaian hitam dan membawa pedang.

Orang itu langsung menuju Cao-Cao, kemudian berhenti didepan dia dan berkata, "Aku adalah penjaga pohon persik besar. Kau ingin membangun istanam dan kau boleh menghancurkan pemberontakkan. Tetapi ketika kau mulai menyerang pohon2x suciku maka umurmu segera akan berakhir. Aku sekarang datang untuk membunuhmu."

"Dimana Pengawal !!! pengawal !!! pengawal..." Cao-Cao berteriak ketakutan.

Orang itu kemudian menusuknya dnegna pedang,Cao-Cao kemudian berteriak keras sekali dan terbangun. Kepalanya sangat sakit sekali tak terhankan.

Mereka kemudian mencari tabib tetapi sakit kepalanya tidak dapat disembuhkan. Bawahannya sangat khawtir dengan keadaan tuannya itu.

Hua Xin satu hari berkata pada tuannya, "Tuanku, Apakah kau pernah mendengar mengenai Hua Tuo ?"

"Maksudmu orang dari Qiao yang menyebuhkan Zhou Tai ?"

"Ya, benar dia." Jawab Hua Xin.

"Aku telah mendengar keternarannya, tetapi aku tidak pernah melihat kemampuannya."

"Dia sangat pandai dan sangat ahli. Jika seorang sakit dan berobat padanya, dia langsung tahu obat apa yang harus digunakan. Dia dapat menuggnakan jarum atau pisau untuk menyembuhkan penyakit dan pasiennya langsung sembuh setelah menjalani pengobatannya. Pernah suatu kali dia memberikan obat dan ramuan kepada seorang pasien sebelum dia membuka perut pasien itu dan membasuh organnya dengan obat2xan. Pasien itu tidak merasakan sakit. Ketika sudah dibersihkan, dia menjahit luka itu dengan benan dan memperbannya. Dalam satu bulan atau kurang, pasien itu sudah sembuh. Hal ini menunjukan betapa ahlinya dia."

"Suatu hari Hua Tuo sedang berpergian, kemudian dia mendengar seorang dipinggir jalan mengeluh kesakitan. 'Kamu terkena cacingan' jawab Hua Tuo. Dan dia memberikan beberapa obat2x yang terbuat dari Bawang Putih. Kemudian orang itu memuntahkan cacing. Setelah hal ini, orang itu baik-baik saja.

"Chen Deng, gubernur GuangLing, menderita sakit dijantungnya. Wajahnya merah-merah dan dia sesak napas. Dia juga dtidak memiliki selera makan. Hua Tuo memberikan dia ramuan dan kemudian Chen Deng memuntahkan parasit yang memiliki kepala merah. Gubernur kemudian bertanya apa yang menyebabkan paraasit ini, dan Hua Tuo mengatakan bahwa dia terlalu banyak memakan ikan yang memiliki bau amis yang kuat. Dia dapat menyembuhkan Chen Deng sekali ini tetapi dalam tiga tahun penyakitnya akan kambuh dan tidak ada apapun yang dapat menyelamatkannya. 3 Tahun kemudian Chen Deng meninggal.

"Dia benar-benar setara dengan Guru Bian Que dan Zang Kong dimasa lalu. Dia tinggal di JinCheng tidak jauh dari sini dan dia dapat segera datang."

Cao-Cao segera memerintahkan untuk memanggilnya. Segera dia tiba, Hua Tuo memeriksa nadi Cao-Cao dan melakukan eksaminasi secara hati2x.

"Pangeran, sakit kepalamu karena adanya tumor ganas di otakmu. Tumor ini terlalu besar untuk dapat disembuhkan dengan obat biasa. Tetapi aku usulkan untuk melakukan operasi membuka kepalamu lalu mengeluarkan tumor itu. Ini merupakan pengobatan radikal dan penuh resiko."

"Tangan yang sakit mungkin dapat dikerik, tetapi bagaimana mungkin kau akan membuka kepala seseorang ? Hal ini hanya menunjukan bahwa kau berkomplot dengan teman Guan Yu untuk mendaptkan kesempatan ini dan membalaskan dendamnya."

Cao-Cao memerintahkan penjaga untuk membawa Hua Tuo kepenjara dan disana dia disiksa untuk mengetahui siapakh yang memerintahkannya.

Jia Xu memohon kepada Cao-Cao dan berkata, "Orang ini memiliki ilmu dan kemampuan yang jarang dimiliki orang lain. Untuk membunuhnya artinya membuang bakatnya sia2x."

Tetapi Cao-Cao yang sedang sakit kepala itu tidak mau menghiraukannya.

"Orang ini ingin mendapatkan kesempatan untuk membunuhku. Dia sama seperti Ji Ping."

Hua Tuo kemudian di Interogasi habis2xan dan dia sangat menderita.

Salah satu penjaga penjara ada yang bernama Wu. Dia sangat baik pada Hua Tuo dan dia memastikan bahwa Hua Tuo diberikan makanan yang layak.

Hua Tuo akhirnya berteman dengan penjaga penjara ini dan suatu hari dia berkata, "Aku telah berakhir, aku tahu hal ini. Tetapi sayang ilmu pengobatanku akan hilang. Kau telah sangat baik padaku dan aku tidak memiliki apapun lagi untuk membayarnya. Sekarang aku akan memberikan surat pada istriku untuk memberikanmu buku2x pengobatanku sehingga setelah itu kau dapat meneruskan ilmuku ini."

Wu sangat senang sekali dan dia berkata, "Jika aku memiliki buku itu aku akan berhenti menjadi penjaga penjara dan aku akan berpergian keseluruh penjuru negeri untuk menyembuhkan orang sakit dan mengembangkan ilmumu."

10 hari kemudian, Hua Tuo meninggal didalam penjara. Wu Membawakan peti mati dan menguburkannya dengan layak. Setelah selesai dia berhenti jd petugas penjara dan kembali kerumah. Tetapi ketika dia menanyakan pada istrinya dimana buku2xnya, dia menemukan bahwa istrinya sedang membakar buku2x itu. Dia langsung berusaha mengambil yang tersisa tetapi hampir seluruh buku2x itu musnah dan dia sangat marah pada istrinya.

Tetapi istrinya balik berkata ,"Jika kau menjadi tabib hebat seperti Hua Tuo, kau hanya akan mati dipenjara seperti dirinya. Apa bagusnya bisa mempelajari hal ini ?"

Hal ini membuat Wu berpikir bahwa istrinya mungkin mengatakan hal yang benar dan dia akhirnya berhenti memarahi istrinya. Tetapi akibat hal ini maka seluruh ilmu pengobatan Hua Tuo musnah dan hanya tersisa beberaha hal mengenai Kegunaan hewan2x dan tumbuh2xan.

Sementara itu sakitnya Cao-Cao menjadi semakin parah, dibutuhkan selusin Danyan menarik kain yang diikat dikepala Cao-Cao untuk membuatnya merasa lebih nyaman dari sakit kepalanya. Kemudian datang surat dari Wu yug berisi permohonan agar Cao-Cao mau menjadi kaisar dan membantu menyerang Shu, sebagai balasannya maka Wu akan tunduk pada Wei.

Cao-Cao kemudian tertawa dan berkata, "Apakah anak muda ini ingin memasukanku dalam tungku membara ?"

Tetapi menteri Chen Qun dan pejabat lainnya berkata, "Pangeran, Han telah lama runtuh, sementara kebajikanmu dan jasa-jasamu telah banyak dan tinggi seperti gunung. Semua orang berpaling kepadamu dan sekarang Sun Quan mau mengakui dirinya sebagai menteri bagimu. Adalah sangat salah jika kau menolak ksempatan ini. Kau harus segera menjadi kaisar."

Cao-Cao tersenyum dan berkata,"Aku telah melayani Han untuk beberapa waktu. Bahkan jika aku mendapatkan beberapa jasa, aku telah mendapatkan balasannya sebagai upahku. Aku telah memiliki wilayah dan juga jabatan. Aku tidak berani mengharapkan hal yang lebih tinggi lagi. Jika jari langit menunjuk pada diriku maka aku akan memilih menjadi seperti Raja Wen dari Zhou."

"Dan karena Sun Quan sudah mengakui dirinya adalah hamba dan berjanji setia. Kau, tuanku dapat memberinya gelar dan memerintahkannya menyerang Liu Bei." Kata Sima Yi.

Menyetujui usulan itu, Cao-Cao memberikan Sun Quan gelar Jenderal Pasukan Berkuda Kekaisaran dan Bangsawan NanZhang. Dia juga diangkat menjadi Pelundung kekaisaran Wilayah JingZhou. Segera perintah ini dikirimkan pada Sun Quan.

Cao-Cao makin parah sakitnya setiap hari. Suatu malam dia bermimpi mengenai 3 kuda yang makan dari rumput yang sama.

Keesokan harinya dia menceritakan pada Jia Xu, "Aku semalam bermimpi ada 3kuda yang makan dari rumput yang sama. Mimpi ini juga aku alami ketika keluarga Ma Teng mendapatkan petaka. Apa artinya hal ini ?"

"Mimpi ini adalah pertanda baik. Dan maksudnya adalah ada kehormatan besar datang kepada keluarga Cao. Aku pikir kau tidak perlu khawatir mengenai hal ini."

Cao-Cao pun tenang mendengar jawaban Jia Xu ini.

Malam itu Cao-Cao mejadi semakin parah. Dia merasa pusing dan kemudian pandangannya menjadi kabur, dia kemudian bangun dari kursinya dan dia mencoba berbaring di sebuah kursi panjang. Dia merasa seperti ada yang berteriak dan masuk didalam kegelapan matanya. Dia melihat berbagai wajah korban2xnya. Ada Permaisuri Fu, Selir Dong, Fu Wan, Dong Cheng dan lebih dari 20 pejabat lainnya dan semunya bersimbah darah. Mereka berdiri dihadapannya dan meminta nyawanya. Dia berdiri, mengangkat pedangnya dan menebaskannya yang ternyata mengenai udara saja. Tiba-tiba terdengar bunyi keras, Ternyatas sisi Barat Daya bangunan baru itu roboh dan Cao-Cao tertimpa bangunan itu. Para pengawalnya segea membantunya dan membawa dia keistana lain dimana dia dapat lebih tenang.

Tetapi belum dia merasa lebih tenang kemudian dia diganggu oleh tangisan dan teriakan suara wanita dan pria.

Ketika hari menjelang fajar, Cao-Cao memanggil para pejabatnya dan berkata, "30 tahun aku telah menghabiskan hidupku didalam peperangan dan aku selalu menolak percaya pada hal-hal Gaib tetapi sekarang apa artinay semua kejadian yang kualami ini ?"

"Pangeran, kau harus memanggil pendeta Tao untuk melakukan upacara dan doa untuk menenangkan hawa jahat."

Cao-Cao menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Guru bijak berkata,'Dia yang melawan langit tidak akan mempunyai tempat untuk mencari ketenangan.' Aku merasa bahwa nasibku telah berakhir, hari-hari telah habis dan tidak ada lagi bantuan yang bisa kuharapkan."

Dia tidak menyetujui pemanggilan pendeta itu. Keesokan harinya sakit kepalanya semakin keras dan dia tidak dapat melihat apapun dengan jelas. Dia segera memanggil Xiahou Dun yang segera datang. Tetapi ketika Xiahou Dun mendekati pintu, dia juga melihat bayangan dari Permaisuri dan anak2xnya dan juga korba2x lain dari keganasan Cao-Cao. Dia segera ketakutan dan kemudian jatuh pingsan. Para pelayan segera membawanya pergi dan dia sakit keras.

Kemudian Cao-Cao memanggil ke 4 penasehatnya, mereka adalah Cao Hong, Cheng Qun, Jia Xu dan Sima Yi untuk memberikan Wasiat terakhirnya.

Cao Hong berkata mewakili mereka ber 4, "Jagalah kesehatamu, pangeran. Kau akan segera sembuh."

Tetapi Cao-Cao berkata, "30 tahun lebih aku pergi kesana dan kemari. Telah banyak pemimpin hebat yang aku kalahkan. Sekarang yang tersisa hanya Sun Quan di Selatan dan Liu Bei di barat. Aku belum membunuh mereka. Sekrang aku sakit keras dan aku tidak akan pernah lagi berdiri dihadapan kalian. Oleh sebab itu urusan keluargaku harus diselesaikan terlebih dahulu. Anak sulungku, Cao Ang, anak dari Lady Liu, telah gugur dimedan peperangan di Wan Cheng ketika dia masih muda. Lady Bian melahirkan 4 anak untukku. Yang Ketiga Cao Zhi adalah yang paling kusuka, tetapi dia tidak dapat diandalkan. Dia suka sekali bermain-main dan meminum arak. Oleh sebab itu dia tidak pantas jd pewarisku. Anak keduaku, Cao Zhang sangatlah pemberani dan ahli perang. Tetapi dia tidak sabar. Anak Keempatku, Cao Xiong terlalu lemah dan sakit2xan, dia tidak akan berumur panjang. Oleh sebab itu Anak pertamaku, Cao Pi akan menjadi pewarisku, dia adalah orang yang serius dan tegar. Dia cocok untuk mengantikan diriku. Aku harap kalian semua mendukung dirinya."

Cao Hong dan yang lainnya menangis ketika mendengar kata-kata itu dan mereka akhirnya meninggalkan ruangan Cao-Cao. Kemudian Cao-Cao memerintahkan untuk membawa berbagai macam benda-benda yang berharga dan dia menyerahkannya pada dayang2xnya.

Dan dia berkata pada mereka, "Setelah kematianku, kalian harus tetap menjalankan kewajiban kalian. Kalian dapat membuat Sepatu sutera untuk kelian jual sehingga kalian mendaptkan penghasilan untuk hidup."

Dia juga meminta mereka untuk tinggal dimenara Burung Perunggu dan merayakan dirinya setiap hari dengan musik dan nyanyian serta hidangan2x istimewa.

Kemudian dia memerintahkan 72 tempat digali sebagai kuburannya didekat JiangWu sehingga tidak ada yang tahu dimana dia dikubur. Dia menjaga supaya tidak ada orang yang akan menggali kuburannya. Dia juga menyerahkan mustika berharganya yaitu 3 bola naga pada Xiahou Dun, Xu Zhu dan Zhang Liao untuk dijaga.

Dan ketika perintah terakhir ini diberikan, dia menarik napas beberapa kali, meneteskan air mata dan kemudian dia menghembuskan napasnya yang terakhir. Dia berusia 66 tahun ketika dia meninggal pada bulan pertama, ditahun ke 25 masa Jian An atau 30 tahun masa pemerintahan Kaisar Xian (Tahun 220 M).

Ketika Cao-Cao menghembuskan napasnya yang terakhir, seluruh mereka yang hadir disana segera bersujud dan menangis serta memberikan penghormatan terakhir. Berita ini segera menyebar keseluruh penjuru negeri. Pewaris takhtanya, Cao Pi, Bangsawan YanLin Cao Zhang, Bangsawan LinZi Cao Zhi dan Bangsawan XiaoHuai Cao Xiong segera diberitahu mengenai titah terakhir Cao-Cao. Orang-orang kepercayaan Cao-Cao segera membungkus mayat Cao-Cao dengan sutram dan menaruhnya didalam pakaian perang terbuat dari perak dan kemudian meletakannya didalam peti mati emas, kemudian mereka mengirimnya ke YeJun kekampung halamannya.

Cao Pi langsung menangis ketika mendengar hal ini dan dia memimpin rombongan para pejabat untuk melakukan prosesi pelepasan jasad ayahnya. Peti mati itu ditaruh diruangan besar dan seluruh pejabat semuanya berdua dan menangis diruagan itu.

Tiba-tiba satu orang berdiri dari antara mereka yang berduka itu dan berkata "Aku ingin memohon kepada pewaris takhta untuk segera menhentikan tangisannya dan segera mulai dapat mengambil tanggung jawab untuk memenuhi kewajiban mengurus negara."

Dia adalah Sima Fu dan dia melanjutkan, "Kematian dari pangeran akan menyebabkan kekacauan didalam kekaisaran dan sangat penting bagi pewaris untuk segera diangkat menjadi penggantinya secepatnya."

Yang lain menjawab, "Suksesi telah ditetapkan tetapi hal ini tidak dapat berlangsung tanpa titah kaisar."

Kata Chen Jia, Menteri Perang Negara, "Karena pangeran meniggal maka mungkin keributan akan terjadi diibukota dan seluruh negara akan dalam bahaya."

Lalu Chen Jiao menebas ujung pakaiannya dengan pedang dan berkata, "Kita akan mengangkat Cao Pi menjadi pangeran dan siapapun yang tidak setuju biarlah bernasib sama dengan jubah ini."

Walaupun begitu, sebagian besar orang disitu takut karena tidak ada titah kaisar tetapi kemudian Hua Xin datang dari ibu kota secepat mungkin. Mereka semua bertanya-tanya ada apa gerangan.

Segera dia memasuki ruangan utama dan berkata, "Pangeran Wei telah meninggal dan dunia sedang bergejolak. Kenapa kalian tidak segera mengangkat pewarisnya segera ?"

"Kami menuggu titah kaisar," Teriak meeka bersama-sama,"Dan juga menuggu perintah permaisura Bian meyangkut pewaris takhta."

"Aku telah mendapatkan Titah kaisar disini !" Dia mengeluarkanna dari balik jubahnya.

Mereka semua segera berlutut dan berkata, "Semoga Baginda Mulia Panjang Umur dan Sehat Selalu !!!"

Hua Xin membacakan isi titah itu, "Kaisar Yang Mulia, Putra Langit, telah memberi titah untuk mengangkat Cao Pi sebagai Pangeran Wei, Perdana Menteri dan juga Pelindung Kekaisaran wilayah JiZhou. Siapapun yang berani menentang Titah ini akan dianggap pemberontak dan dihukum mati !!!"

Hua Xin selalu setiap kepada Wei dan segera setelah dia mendengar Cao-Cao meninggal, dia segera menulis titah kaisar itu dan memaksa kaisar Xian untuk memberikan stempel pengesahan.

Setelah mengucapkan terima kasih, Cao Pi didudukan diatas singasana pangeran dan menerima ucapan selamat dari seluruh pejabat. Hal ini kemudian diikuti oleh perjamuan besar.

Walaupun begitu, tidak semua hal berjalan lancar. Dalam perjamuan itu tiba-tiba datang berita, "Cao Zhang, Bangsawan dari YanLing datang dengan pasuakn berjumlah 100.000 prajurit mendekat dari Chang An."

Dalam keadaan panik, Cao Pi bertanya pada para pejabat disana, "Apa yang harus kulakukan ? Adikku yang berjanggut emas ini selalu keras kepala dan dia memiliki kemampuan militer yang hebat. Dia datang kesini untuk merebut hak warisku."

"Biarkan aku menemui dia, aku dapat membuat dai mundur." Kata salah satu tamu.

Yang lainnya berkata, "Hanya kau, yang mulia, yang dapat menyelamatkan kami dari petaka ini !"

BAB 79

Semua mataa tertuju pada pejabat tinggi Jia Kui. Cao Pi lalu memerintahkan dirinya untuk pergi menemui adiknya dan berunding. Akhirnya Jia Kui pergi keluar kota dan meminta bertemu dengan Cao Zhang yang dengan cepat datang menghampirinya.

"Siapa yang memegang stempel mendiang ayahku ?" Tanya dirinya.

Jia Kui lalu menjawab,"Ada anak sulung dan ada seorang pewaris. Pertanyaan seperti itu tampaknya tidak perlu ditanyakan lagi."

Cao Zhang dan Jia Kui lalu berdua masuk kedalam kota dan menuju istana. Jia Kui kemudian bertanya padanya, "Kau datang untuk berbela sungkawa atau datang untuk berebut warisan ?"

"Aku datang untuk berbela sungkawa. Aku tidak mempunyai maksud lain."

"Jika memang begitu mengapa kau membawa pasukan ?"

Segera Cao Zhang memerintahkan agar pasukannya untuk mundur dan dia memasuki istana seorang diri. Ketika Cao Zhang bertemu Cao Pi keduanya berpelukan dan menangis. Kemudian Cao Zhang menyerahkan pasukannya dan dia diperintahkan untuk kembali ke Yan Ling dan menjaga tempat itu, pasukannya pun dikembalikan kepadanya. Cao Zhang segera pergi dan kembali menuju Yan Ling setelah memberikan penghormatan terakhir.

Cao Pi sekarang telah resmi diangkat menjadi Pangeran Wei yang baru dan kemudian dia memberi nama era pemerintahannya denga nama Yang Kang yang artinya Kemakmuran yang panjang. Dia mengangkat Jia Xu menjadi Penasehat Utama dan Instruktur angkatan perang utama (Jian Shi). Hua Xin sebagai perdana menteri Wei dan Wang Lang sebagai menteri tinggi Wei. Dia juga memberikan gelar bagi mendiang ayahnya dengan sebutan Raja Besar Cao.

Sebagai pengawas pembangunan makam Cao-Cao, Cao Pi menunjuk Yu Jin sebagai pengawasnya dengan maksud tertentu. Ketika Yu Jin memerikasa perkerjaan itu, dia melihat sebuah ruangan didekorasi dengan lukisan yang mengambarkan ditenggelamkannya 7 divisi pasukan Cao-Cao dan penangkapan dirinya oleh Guan Yu. Guan Yu terlihat sangat ganas dan berwibawa. Pang De menolak untuk tunduk pada Guan Yu sementara Yu Jin berlutut ditanah dan memohon ampunan untuk dirinya.

Cao Pi memilih cara ini untuk membuat Yu Jin merasa malu karena Yu Jin tidak memilih untuk mati seperti Pang De. Cao Pi sengaja memerintahkan agar seorang pelukis melukis tentang kejadian itu dan membuat Yu Jin menjadi malu. Ketika Yu Jin melihat mereka dia menjadi malu dan marah sehingga dia langsung jatuh sakit dan tidak berapa lama kemudian dia meniggal dunia. Dia meninggal di usia 48 tahun.

Segera setelah menaiki takhta, Hua Xin menulis sebuah surat pada Pangeran Wei dan berkata, "Cao zhang telah menyerahkan kekuasaannya padamu dan dia telah pergi menempati posnya, tetapi dua adikmu yang lain tidak datang pada saat upacara penguburan ayahmu. Tindakan mereka harus diberikan hukman."

Cao Pi kemudian menyetujui usulan ini dan mengirimkan utusan memanggil mereka.

Utusan yang dikirim kepada Cao Xiong segera kembali dan melaporkan, "Cao Xiong, bangsawan XiaoHuai telah mengantung dirinya daripada dihukum untuk kesalahannya."

Cao Pi memerintahkan untuk menguburkan Cao Xiong dengan baik dan memberikan gelar Pangeran Xiaohuai.

Segera utusan yang pergi ke LinZi kembali dan mengabarkan, "Bangsawan LinZi, Cao Zhi sedang menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, dia bersama dua temannya yang lain yaitu kakak beradik bernama Ding Yi dan Ding Yin. Mereka berdua sangat kasar. Ketika kami datang untuk bertemu, Cao Zhi hanya duduk terdiam saja tetapi Ding Yi mengunakan kata-kata menghina dan berkata, 'Raja Cao menghendaki tuan kami untuk mengantikannya tetapi dia memilih yang lain karena mendengarkan omongan orang-orang yang iri kepada tuanku. Segera setelah dia meninggal, tuan kalian mulai berpikir bagaimana menyingkirkan darah dan dagingnya sendiri.' "

"Yang lainnya Ding Yin berkata, 'Dalam hal kepandaian, tuan kami mengalahkan semua orang dan dia harusnya menjadi pewaris ayahnya. Sekarang, tidak hanya dia tidak mewarisi takhta ayahnya, tetapi dia juga diperlakukan dengan kasar oleh orang-orang rendahan seperti kalian yang tidak mengerti apa artinya jenius itu.' "

"Kemudian Cao Zhi menjadi marah dan dia memerintahkan pengawalnya untuk memukuli dan mengusir kami."

Perlakuan terhadap utusan Cao Pi ini telah mengesalkan Cao pi dan dia mengirimkan 3.000 prajurit 'Armored Tiger' dibawah Xu Chu untuk menahan adiknya dan juga kawan2xnya itu. Ketika Xu Chu tiba di LinZhi, penjaga gerbang menghentikan dirinya. Xu Chu lalu membunuhnya dan dia langsung memasuki kota. Dia lalu pergi kekediaman Cao Zhi dan menemukan Cao Zhi bersama teman-temannya sedang mabuk berat. Lalu dia mengikat mereka semua dan menaruhnya didalam kereta kurungan. Mereka semua dikirim ke pengadilan di Ye Jun. Dia juga menahan semua pejabat diistana Cao Zhi itu.

Perintah Cao Pi yang pertama adalah memenggal Ding Yi dan Ding Yin.

Ibu Cao Pi, Lady Bian sangat sedih melihat kelalukan putra sulungnya yang baru menaiki takhta. Dia sangat terluka ketika mendengar putra bungsunya membunuh dirinya sendiri. Ketika dia mendengar Cao Zhi telah ditangkap dan teman-temannya dihukum mati, dia segera meninggalkan istananya dan menemui Cao Pi. Segera setelah Cao Pi melihat kedatangannya, dia segera menghampirinya. Lady Bian langsung menangis begitu melihat Cao Pi.

"Adikmu selalu senang meminum arak, tetapi aku membiarkannya karena mengingat kemampuannya yang hebat. Aku harap kau tidak melupakan bahwa dia adalah adikmu dan aku melahirkan kalian berdua. Maafkanlah kesalahannya dan aku akan menutup mata dengan tenang ketika aku meninggal nanti."

"Aku juga sangat kagum pada kemampuannya, ibu, dan aku tidak memiliki niat untuk menyakitiya. Tetapi aku ingin memberinya pelajaran. Kau tidak perlu takut akan bagaimana nasibnya." Kata Cao Pi.

Akhirnya sang Ibu berhasil ditenangkan dan kemudian Pangeran Wei pergi kesebuah ruangan pribadi dan memerintakan penjaga memanggil adiknya.

Kata Hua Xin, "Pasti Ibumu telah memintamu melepaskan adikmu, bukankah begitu ?"

"Benar." Jawab Cao Pi.

"Maka akan kukatakan bahwa Cao Zhi terlalu pandai dan dia memiliki ambisi. Jika kau tidak menyingkirkannya maka kau akan disakitinya suatu hari nanti."

"Tetapi aku harus mentaati perintah ibuku."

"Orang-orang berkata bahwa adikmu sangat pandai dalam hal sastra. Aku sendiri tidak begitu percaya, tetapi dia boleh membuktikan dirinya. Jika dia menyandang reputasi palsu maka kau dapat membunuhnya. Jika apa yang dikatakan orang-orang adalah benar maka kita dapat menurunkannya sebagai seorang sarjana istana saja."

Segera Cao Zhi masuk dan didalam ketakutan yang luar biasa dia bersujud pada kakaknya dan mengakui kesalahannya.

Cao Pi lalu berkata, "Walaupun kita bersaudara tetapi sekarang kau dan aku adalah pangeran dan pejabat, oleh sebab itu kita tidak boleh melihat hubungan darah. Kenapa kau bersikap tidak sopan terhadap utusanku ? Ketika Ayah kita masih hidup, kau menyombongkan kemampuan sastramu tetapi aku pikir kau hanya menyontek puisi orang lain. Sekarang aku ingin kau membuat suatu puisi, waktunya hanya 7 langkah untuk memikirkannya dan aku akan memaafkan dirimu jika kau berhasil. Tetapi jika gagal maka aku akan menghukumu dengan berat."

"Apakah kau akan mengusulkan suatu tema ?" Tanya Cao Zhi.

Di ruangan itu tergantung lukisan dua banteng bertarung, salah satu dari mereka jatuh kedalam sumur dan mati. Cao Pi lalu menunjuk kelukisan itu dan berkata, "Itulah temamu, tetapi kau tidak boleh menggunakan kata-kata 'Dua Banteng, Satu Banteng, beradu, kaki, tembok, jatuh, sumur dan mati.' "

Cao Zhi lalu berjalan 7 langkah dan membuat puisi ini :

'Dua Korban sedang berjalan,

Masing2x dari mereka memiliki tanduk dan juga badan yang kekar.

Mereka bertemu dibawah bukit dan keduanya sama-sama kuat,

Masing2x menghindari lubang yang ada disana.

Mereka bertarung cukup lama,

Akhirnya yang satu berada dibawah tak bernyawa,

Bukannya mereak tidak memiliki kekuatan yang sama

Hanya saja yang satu tidak melakukan yang terbaik.'

Hal ini membuat Cao Pi dan pejabat-pejabat lainnya disana sangat kagum. Cao Pi berpikir untuk mengadakan tes lain, lalu dia memerintahkan agar adiknya itu membuat puisi lagi bertemakan hubungan mereka berdua tetapi kata-kata, persaudaraan atau saudara tidak boleh digunakan. Tanpa berpikir lagi, Cao Zhi lalu berpuisi :

'Ada sup mendidih diatas Api ungun,

Menghasilkan suara bergelora diatas panci,

mengapa kita yang berasal dari satu akar

kau harus membunuhku dengan amarah yang sangat ?'

(Penulis :* Kedua puisi ini ditranslasikan secara literatif sehingga nilai seninya tidak ada lagi.)

Perumpamaan ini mengambarkan perlakuan buruk yang diterima oleh anggota keluarga lainnya. Cao Pi ketika mendengar ini langsung meneteskan air mata.

Kemudian Ibu mereka berdua segera datang dan berkata," Haruskan Kakak sulung menekan dia yang lebih muda ?"

Cao Pi langsung berdiri dan berkata, "Ibu, Hukum negara harus ditegakkan."

Cao Zhi lalu diturunkan kedudukannya menjadi Bangsawan AnXiang. Dia menerima keputusan ini tanpa berkata apapun lagi dan segera pergi.

Naiknya Cao Pi menjadi tanda bahwa hukum baru dan perintah2x baru akan dikeluarkan. Sikapnya terhadap Kaisar Xian lebih tidak sabaran dibandingkan dengan sikap ayahnya.

Cerita mengenai kekasarannya mencapai Cheng Du dan membuat takut Liu Bei yang segera memanggil semua penasehatnya untuk mendiskusikan apa yang harus dilakukan.

Kata dia, "Sejak kematian Cao-Cao dan naiknya Cao Pi menggantikan dirinya. Posisi kaisar telah menjadi lebih sulit dari sebelumnya. Sun Quan mengakui kepemimpinan Wei dan pengaruhnya telah makin membesar. Aku ingin menghancurkan Sun Quan untuk membalaskan dendam adikku. Setelah itu selesai aku akan meneruskan menuju ibukota Xu Chang dan menghancurkan seluruh pemberontakan dinegeri ini. Apa saran kalian ?"

Kemudian Liao Hua segera berdiri dan dia segera bersujud dan dengan berlinang air mata dia berkata, "Liu Feng dan Meng Da adalah penyebab utama kematian adikmu dan anak angkatnya. Kedua orang ini pantas untuk mati."

Liu Bei juga berpikiran sama dan dia sedang akan mengirim utusan untuk menangkap mereka berdua, tetapi Zhuge Liang mencegah dan memberikan nasehat yang lebih bijak.

"Ini bukan jalan yang baik. Kau harus pelan2x atau malah akan menyebabkan pemberontakan dan pembelotan. Promosikanlah kedua orang ini dan kemudian pisahkan mereka. Setelah itu kau dapat menangkapnya."

Pangeran HanZhong melihat maksud dibalik nasehat ini. Dia kemudian mengangkat Liu Feng sebagai Gubernur MianZhu dan dgn hal itu dia memisahkan Liu Feng dan Meng Da.

Meng Da memiliki seorang sahabat bernama Peng Yang. Peng Yang yang mendengar rencana ini segera pulang dan menulis surat untuk memperingatkan Meng Da. Surat itu diberikan kepada orang kepercayaannya untuk dibawa dan diserahkan pada Meng Da. Tetapi Orang itu tertangkap ketika dia sedang keluar kota oleh Ma Chao yang mengetahui maksud surat itu. Dia kemudian segera kekediaman Peng Yang yang tanpa curiga menerimanya dengan baik dan kemudian keduanya minum arak bersama.

Kemudian Ma Chao melihat bahwa Peng Yang sudah mulai mabuk, lalu dia berkata, "Pangeran HanZhong dahulu selalu menomor satukan dirimu, kenapa sekarang tidak lagi ?"

Peng Yang mulai memaki tuannya, "Si Tua itu ! Tapi aku akan mencari cara agar dia membayarnya."

Untuk melihat sejauh mana Peng Yang merencanakan hal ini dia berkata, "Sejujurnya, aku juga telah lama membenci orang itu."

"Jika begitu kau bergabunglah dengan Meng Da dan menyerang Cheng Du, sementara aku akan mempengaruhi orang di sisi timur dan barat sungai untuk mendukungmu. Hal ini akan membuat kita jadi lebih mudah," Kata Peng Yang.

"Apa yang kau usulkan masuk akal, tetapi kita akan membicarakan hal ini esok saja." Kata Ma Chao dan dia berpamitan.

Ma Chao kemudian menemui Liu Bei dengan membawa utusan yang tertangkap itu dan juga suratnya. Kepada Liu Bei dia menceritakan seluruh kejadian dengan Peng Yang. Liu Bei menjadi sangat marah dan dia segera memerintahkan agar Peng Yang ditahan dan dimasukan dalam penjara dimana dia dapat diinterogasi.

Sementara Peng Yang berada di penjara, Liu Bei berkonsultasi dengan Zhuge Liang.

"Orang ini cukup terpelajar tetapi kurang bertanggung jawab. Dia terlalu berbahya untuk dibiarkan hidup." Jawab Zhuge Liang.

Segera perintah diberikan bahwa dia diminta untuk bunuh diri didalam penjara. Berita ini sangat membuat takut pendukungnya dan juga Meng Da. Terlebih lagi Liu Feng sekarang telah ditugaskan ke MianZhu dan ini membuatnya tambah takut. Akhirnya dia meminta saran dari kedua temannya Shen Dan dan Shen Yi yang berada di Shang Yong.

"Temanku Peng Yang dan aku telah melakukan banyak hal untuk pangeran. Tetapi sekarang Peng Yang telah mati dan aku dilupakan. Lebih dari itu Pangeran ingin aku mati, Apa yang dapat kulakukan ? " Kata Meng Da.

Shen Dan menjawab, "Aku pikir aku dapat mencari jalan untuk menjamin keselamatanmu."

"Apakah itu ?" Tanya Meng Da yang merasa lebih lega.

"Desersi. Adikku Shen Yi dan aku telah lama ingin pergi ke Wei. Kau tulislah surat pengunduran dirimu kepada Pangeran yang mengatakan pengunduran dirimu dan kau pergilah kepada Pangeran Wei yang pasti akan memberikanmu posisi yang terhormat. Setelah itu kemudian kami berdua akan mengikutimu."

Meng Da melihat bahwa ini adalah jalan terbaik yang dia miliki. Akhirnya dia menulis surat dan memberikannya pada seorang utusan untuk diserahkan ke Cheng Du. Malam itu Meng Da meninggalkan posnya dan pergi ke Wei.

Utusan itu kemudian sampai dia Cheng Du dan dia menceritakan mengenai desersi yang dilakukan Meng Da. Liu Bei lalu merobek surat itu.

"Orang yang tak tahu balas budi itu !!! Dia menjadi pengkhianat dan masih bernai untuk menghinaku dengan mengirimkan surat pengunduran dirinya"

Liu Ben sedang akan memerintahkan pasukan untuk menangkap Meng Da ketika Zhuge Liang mencegahnya dan berkata, "Kau lebih baik mengirim Liu Feng untuk menangkapnya dan biarkan kedua harimau saling menerkam. Apakah Liu Feng berhasil atau gagal, dia tetap harus datang ke IbuKota dan saat itu kau dapat menghukumnya."

Liu Bei setuju dengan usulan ini dan dia segera mengirim utusan ke MianZhu dan Liu Feng menurut dengan perintah itu. Dia lalu memimpin pasukan untuk menangkap Meng Da.

Sementara itu Meng Da tiba di Wei ketika Cao Pi sedang mengadakan sidang besar. Ketika pengawal memberitahukan bahwa Jenderal Meng Da dari Shu tiba, Cao Pi langsung memerintahkannya masuk.

Kata Cao Pi kepadanya, "Apakah kau benar-benar tulus untuk menyerah ?"

Meng Da berkata, "Aku sedang terancam mati karena tidak membantu Guan Yu. Ini adalah satu-satuny alasanku datang kemari."

Walaupun begitu Cao Pi tidak percaya. Kemudian dilaporkan bahwa Liu Feng membawa pasukan dan menyerang Xiang Yang serta menantang Meng Da untuk berduel.

Cao Pi berkata, "Jika kau memang jujur maka pergilan ke Xiang Yang dan lawanlah Liu Feng. Jika kau membawa kepalanya maka aku tidak akan ragu lagi."

Meng Da berkata, "Aku akan menyakinkan dia untuk bergabung. Tidak perlu pasukan. Aku akan membuatnya menyerah."

Akhirnya Meng Da diangkat menjadi Bangsawan PingYang, Gubernur XianCheng dan juga diperintahkan untuk menjaga XiangYang dan FanCheng.

Sekarang disana sudah ada dua jenderal yang bertugas yaitu Xiahou Shang dan Xu Huang. Ketika Meng Da tiba, mereka mengatakan padanya bahwa Liu Feng masih berada kira2x 30 Li dari kota. Segera Meng Da menulis surat dan memintanya untuk menyerah saja. Tetapi Liu Feng tdk mengubris surat itu, dia merobek surat itu dan membunuh utusannya.

"Pengkhianat ini sudah membuatku melupakan tugasku membantu paman dan sekarang dia ingin aku mencelakakan ayahku dengan menjadi pemberontak juga !!"

Meng Da lalu keluar membawa pasukan untuk menghadapi Liu Feng. Liu Feng juga berkuda kedepan dan dia menunjuk kepada lawannya itu serta memakinya.

"Kematian sudah sangat dekat dengan dirimu !!! Tetapi kau masih saja tidak melihatnya. Menyerahlah dan mengabdilah pada Pangeran Wei." Balas Meng Da.

Liu Feng segera maju dan menebaskan pedangnya kearah Meng Da. Meng Da kemudian langsung kabur dan dikejar oleh Liu Feng sejauh 15 Li. Kemudian Liu Feng masuk kedalam jebakan musuh. Di sisi jalannya tiba-tiba bermunculan pasukan Wei yang dipimpin oleh Xiahou Shang dan Xu Huang. Meng Da juga berbalik dan menyerang dari depan. Liu Feng terpaksa melarikan diri. Dia segera pergi ke Shang Yong. Ketika dia sampai didepan kota dan memanggil penjaga gerbang, tiba-tiba hujan panah menyambutnya.

"Aku telah menyerah pada Wei !" Teriak Shen Dan dari atas tembok kota.

Liu Feng menjadi sangat marah dan dia bersiap untuk menyerang kota. Tetapi pasukan Wei sudah sangat dekat dibelakangnya dan dia lalu menuju FangLing. Dia tiba disana dan juga melihat Bendera Wei berkibat didepan tembok kota. Kemudian dia melihat Shen Yi memerintahkan agar prajurit pemanah segera bersiap di tembok kota. Dibelakangnya juga pasukan Wei yang dipimpin oleh XuHuang telah tiba. Akhirnya dia terpaksa melawan sambil berusaha meloloskan diri.

Pasukan Liu Feng berusaha keluar dari kepungan musuh dan mereka bergerak menuju Cheng Du. Akhirnya mereka berhasil sampai ke Cheng Du dengan hanya 100 penunggang kuda saja yang tersisa.

Dia menemui ayahnya tetapi bukan simpati melainkan amarah yang didapatnya.

Liu Bei berkata, "Anak tak tahu malu !!! Berani sekali kau datang dan menemui diriku ?"

"Petaka yang menimpa pamanku bukan karena aku yang tidak ingin menolongnya, tetapi karena Meng Da yang menyesatkanku."

"Kau makan seperti manusia, kau berpakaian seperti manusia, tetapi kau tidak memiliki pikiran seperti manusia. Kau hanya seperti manusia yang terbuat dari tanah liat atau kayu. Apa maksudmu dengan berkata bahwa bedebah itu telah menyesatkanmu ???"

Liu Bei lalu memerintahkan agar algojo membawanya keluar dan menghukum mati Liu Feng. Tetapi kemudian Liu Bei menyesal setealh mendengar perlakuan Liu Feng kepada utusan yang membawa surat Meng Da yang membujuknya untuk menyerah. Dan dia juga kembali memikirkan kematian Guan Yu. Hal ini membuatnya akhirnya jatuh sakit kembali. Karena hal ini tidak ada tindakan militer dilakukan untuk beberapa saat.

Setelah mendapatkan takhtanya, Cao Pi mengangkat para bawahannya menjadi pejabat pemerintah dengan posisi tinggi. Dia juga membangun pasukannya sendiri berkekuatan 300.000 prajurit. Dia juga kemudian mengadakan perjamuan besar di Daerah Qiao dan Juga Pei yang merupakan tanah leluhurnya. Ketika pasukan besarnya melewati tempat itu, penduduk menyambutnya ditepi2x jalan dan memberikan hadiah seperti arak dan juga makanan.

Saat itu lalu datang berita bahwa Jenderal Besar Xiahou Dun sedang sakit keras.Cao Pi segera kembali secepatnya ke Ye Jun tetapi dia datang terlambat. Dia lalu memerintahkan agar seluruh prajurit berkabung untuk jenderal besar itu dan dia mengadakan upacara yang sangat megah dan besar untuk Xiahou Dun. Xiahou Dun meninggal diusianya yang ke 59 tahun, legenda mengatakan dia juga dikubur bersama bola naga yang ditaruh didalam mulutnya.

Pada bukan ke 8 tahun ke 26 masa pemerintahan Jia An atau tahun 1 pertama masa Huang Chu (Tahun 220 M), dilaporkan bahwa burung Phoenix melintas diatas ShiYi dan QiLin terlihat di LanZi sementara Naga Kuning terlihat di YeJun.

Segera Komandan kekaisaran Li QU dan juga Menteri Xu Zhi mendiskusikan penampakan2x ini. Mereka akhirnya mengambil kesimpulan dan berkata, "Tanda2x ini menunjukan bahwa Wei harus menggantikan Han dan Altar penurunan takhta harus disiapkan."

Kemudian sebuah petisi dari 40 pejabat tertinggi istana disiapkan, baik pejabat militer mau sipil memberikan capnya. Hua Xin, Wang Lang, Xin Pi, Jia Xu, Liu Ye, Liu Zi, Chen Jiao, Chen Qun dan Huan Jie datang kekota terlarang dan mengusulkan pada kaisar bahwa dia harus menyerahkan takhtanya dan sujud kepada Pangeran Wei, Cao Pi.

BAB 80

Hua Xin adalah juru bicara dari para pejabat yang datang ke kota terlarang dan dia berkata , "Sejak naik takhtanya Pangeran Wei, kebajikannya telah menyebar ke 4 penjuru negeri dan Kebesarannya telah menyelimuti bumi lebih daripada yang pernah ada, bahkan telah melebihi jaman Raja Tang dan Raja Yu dimasa lalu. Kami, hambamu telah memikirkan beberapa hal dan mencapai kesimpilan bahwa keberuntungan Han telah habis. Oleh sebab itu kami percaya bahwa yang mulia mengikuti apa yang dilakukan oleh Raja Yao dan Raja Shun akan menyerahkan gunung, sungai, dan rakyat negeri ini kepada mereka yang lebih mampu yaitu pangeran Wei. Hal ini akan membuat Langit dan bumi tentram kembali. Yang mulia daapt menikmati kesenangan dan kebebasan serta beristirahat dari tugas sebagai pemimpin utama. Kebahagian leluhurmu dan juga seluruh umat manusia akan bertambah dengan hal ini. Setelah memperdebatkan masalah ini cukup panjang, kami datang untuk memberitahukan pada yang mulia mengenai hal ini. Mohon yang mulia menyetujui dan segera memutuskan."

Kaisar mendengarnya dgn penuh keterkejutan dan dia tidak dapat menjawab apapun.

Kemudian sambil menatap para bawahannya itu dia berkata dengan sedih, "Bagaimana mungkin aku menyerahkan kekaisaranku dengan alasan untuk beristirahat. Kekaisaran ini dibentuk oleh leluhurku ketika dia dengan pedangnya membunuh ular putih dan menegakkan kembali kebenaran dan keadilan, kemudian dia meruntuhkan Qin dan menyatukan Chu. Apakah harus kuserahkan Kekaisaran yang sudah diwariskan secara turun temurun selama 4 abad ini ? Walaupun aku tidak memiliki kemampuan yang luar biasa tetapi aku tidak melakukan suatu kesalahan apapun. Kembalilah dan kalian bicarakanlah lagi hal ini."

Lalu Hua Xin bersama Xu Zhi dan Li Qu maju mendekat ke singasana dan berkata, "Jika Yang Mulia berpikir kami salah maka tanyalah kedua orang ini dan mereka akan menjelaskannya."

Kata Li Qu, "Sejak pangeran Wei naik takhta, QiRin telah turun dari langit dan Burung phoenix terlihat melintas kekaisaran kita. Naga Kuning juga muncul, tanaman padi tumbuh dengan subur dan embun manis telah membasahi bumi. Semua hal ini adalah petunjuk langit bahwa Langit memberi mandat untuk perubahan. Wei harus menggantikan Han !"

Xu Zhi berkata,"Ahli perbintangan telah melihat bahwa bintang Han telah hampir menghilang dan bintang yang mulia sendiri telah redup. Dilain pihak, seluruh aspek langit dan bumi telah seluruhnya mendukung Wei sampai pada tahap yang tdk dapat diungkapkan dengan kata-kata. Peramal telah meramal dan mereka mendapatkan kata-kata 'Kejahatan', 'Dipinggir', 'Telah dikirm', 'Tanpa Kata'. Kemudian peramal yang lain mendapatkan kata-kata, 'Ditimur', 'Sinar bergerak ke barat', 'Dua matahari bersinar dan udara berhembus ke selatan.' Kedua hal ini jika digabungkan akan mebentuk arti Xu; 'Dua matahari, satu disetiap sisi' akan berarti Chang. Maka tanda ini tidak mungkin salah lagi, karena jika semua kata-kata ini dirangkat dapat berarti, 'Wei di Xu Chang akan menerima penyerahan Han.', Jika kau memikirkan hal ini maka Yang Mulai akan harus mengakui bahwa Wei harus menggantikan Han."

"Semua hal ini hanya omong kosong dan gila !!! Apakah beralasan bahwa aku harus menyerahkan warisan besar leluhurkan hanya untuk omong kosong ini ?"

Kemudian Wang Lang berkata, "Bersinar dan menjadi redup merupakan hukum yang universal, Setiap masa kejayaan pasti akan diikuti oleh masa kejatuhan. Adakah pemimpin yang bertahan selamanya atau dinasti yang tidak pernah runtuh ? Pemerintahan Han yang telah berlansung selama 4 abad telah kehilangan peruntungannya dan sekarang waktunya untuk menyerahkannya pada yang lain. Pengunduran dirimu tidak dapat ditunda lagi atau kekacauan akan segera terjadi."

Kaisar lalu menangis dan dia pergi ke istana pribadinya sedangkan para pejabat-pejabat itu semuanya tertawa.

Keesokan paginya mereka berkumpul di istana lagi tetapi Kaisar tidak hadir. Lalu mereka memerintahkan agar pelayan istana meminta kehadirannya. Walaupun begitu kaisar terlalu takut untuk hadir.

Permaisuri Cao berkata, "Kenapa yang mulia tidak memimpin sidang seperti biasanya, terutama ketika kau diminta untuk keluar ?"

"Karena kakakmu ingin mengantikan diriku dan menjadi kaisar. Dia telah mengatur semua pejabat untuk menetangku dan memaksaku untuk turun takhta. Dan aku tidak akan hadir dihadapan para bedebah itu !"

"Tetapi apa yang telah merasuki kakaku sehingga dia berani sekali melakukan perbuat memberontak ini ?" Tanya Permaisuri Cao denan marah.

Ketika dia berkata begitu, tiba-tiba Cao Hong dan Cao Xiu keduanya bersenjata lengkap memkasa masuk kedalam kediaman kaisar dan meminta agar kaisar segera menhadiri sidang rapat.

Permaisuri lalu berkata, "Jadi kalian berdua yang karena keuntungan pribadi telah berkonspirasi dan membuat perbuatan besar ayahku menjadi sia2x. Walaupun dia menguasai seluruh daratan tetapi dia tidak berani untuk merebut takhta kaisar. Tetapi kakakku yang baru saja menggantikan ayah sudah berani untuk memberontak. Langit pasti akan menghukum dirinya."

Dia kemudian menangis dan para pelayannya juga ikut menangis. Tetapi Cao Xiu dan Cao Hong tetap memaksa kaisar untuk menghadiri sidang dan pada akhirnya untuk turun takhta. Disana Hua Xin bertanya lagi.

"Yang Mulia harus bertindak seperti yang kami katakan kemari sehingga dapat menghindari petaka yang mungkin terjadi."

Kaisar kemudian sedih dan berkata, "Kalian semua telah mengabdi pada Han untuk sekian tahun dan telah mendapatkan banyak darinya. Dan diantara kalian ada ayah dan kakek yang telah sangat berjasa. Bagaimana mungkin kalian memintaku melakukan hal ini dan bertindak tidak pantas dihadapanku ?"

"Jika yang mulia menolak untuk mengikuti saran kami maka aku khawatir akan segera terjadi kekacauan dan keselamatan yang mulia akan terancam. Kami bukannya tidak setia tetapi perubahan harus terjadi sesuai kehendak langit."

"Siapa yang berani membunuhku ?" Teriak Kaisar.

"Semua orang tahu bahwa yang mulia tidak memiliki peruntungan yang tepat sebagai seorang pemimpin dan oleh sebab itu banyak kekacauan terjadi di negeri ini. Jika bukan karena perlindungan pangeran Wei terdahulu maka telah banyak orang yang akan membunuhmu. Yang mulia tidak pernah belajar bagaimana menghadapi orang dan menghargainya, apakah sudah memang tujuan hidupmu untuk selalu membuat orang melawan dirimu ?"

Kaisar langsung terkejut mendengar kekasaran dalam nada bicara Hua Xin, dia lalu segera akan pergi. Kemudian Wang Lan melihat pada Hua Xin yang segera maju kedepan dan menarik tangan kaisar.

"Apakah kau setuju atau tidak ?" Teriak Hua Xin dengan marah, "Satu kata saja, setuju atau tidak ?"

Kaisar langsung ketakutan.

"Dimanakah penjaga stempel kekaisaran ?" Teriak Cao Hong dan Cao Xiu dengan mengeluarkan pedang mereka.

"Penjaga stempel ada disini." Teriak Zu Bi dari barisan pejabat dan dia beranjak kedepan.

Mereka berusaha untuk merebut stempel itu dari dirnya tetapi Zu Bi berkata, "Stempel ini adalah milik kaisar dan aku tidak akan menyerahkannya !"

Cao Hong segera membunuh dirinya dan memerintahkan pengawal memenggal kepalanya.

Kaisar menjadi sangat ketakutan dan seluruh ruang sidang segera menjadi kacau dan prajurit2x Wei bermunculan mengepung istana itu. Kaisar Xian langsung menangis.

"Ya, aku akan memberikan takhtaku pada pangeran Wei dan semoga dia akan membiarkan aku hidup beberapa saat lagi seperti yang telah diberikan langit padaku." Tangisnya.

Chen Qun langsung mengeluarkan sebuah dokuman dan segera Hua Xin berserta seluruh pejabat membawa titah kaisar itu keistana pangeran Wei dan jg menyerahkan Stempel kekuasaan kaisar. Mereka membacakan titah itu atas nama kaisar dan setelah semunya selesai Cao Pi sangat senang sekali.

Cao Pi ingin langsung menerima titah ini.

Tetapi Sima Yi berkata, "Walaupun titah kaisar dan stempel itu sudah dikirim tetapi kita harus menolaknya terlebih dahulu untuk membungkam kritikan masyarakat."

Kemudian Wang Lang membuatkan surat yang isinya Pangeran Wei menolak kehormatan besar ini dan berharap agar Kaisar memilih orang lain. Ketika hal ini sampai pada kaisar, dia bertanya apa yang harus dilakukannya kemudian.

Jawab Hua Xin, "Ketika ayahnya diberikan gelar pangeran, dia menolaknya sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menerimanya. Oleh sebab itu Yang Mulia harus memperbaharui tawaran ini dan pada akhirnya dia akan menerimanya."

Huan Jie diperintahkan untuk membuat titah kaisar ini yang kemudian diserahkan pada Zhang Yin bersama dengan panji2x kaisar dan juga stempel kekaisaran.

Setelah mendapatkan titah yang kedua ini, Cao Pi ingin segera menerimanya.

Tetapi dia berkata pada Jia Xu, "Walaupun aku telah menerima dua titah, tetapi aku khawatir bahya orang-orang masih akan berpikir aku melakukan kudeta."

"Hai ini mudah untuk diatur, mintalah pada Zhang Yin untuk membawa kembali stempel ini dan katakan pada Hua Xin untuk meminta kaisar membuat Altar besar baginya sebagai tempat upacara penurunan takhta dan pilihlah hari baik untuk mengadakan upacara ini. Kemudian kumpulkan semua pejabat dan disana kaisar akan menyerahkan sendiri stempel jabatan itu dari tangannya. Dengan ini dia akan menyatakan menyerahkan seluruh kekaisaran ini pada dirimu dan akan menghindarkan dirimu dari keraguan rakyat."

Akhirnya Stempel itu sekali lagi ditolak dan Zhang Yin pun dikirim kembali. Kemudian Kaisar memanggil para bawahannya untuk mengerti maksud dari semua ini.

Lalu Hua Xin berkata, "Yang mulia dapat membuat altar besar dan menghadirkan semua bangsawan, pejabat dan juga rakyat untuk menyaksikan secara langsung penyerahan takhta ini. Segera setelah itu maka Han akan digantikan oleh Wei."

Kaisar terpaksa setuju dan dia mengirim undangan bahwa upacara kekaisaran akan diadakan dia FangYang dan disana dia membangun altar 3 tingkat, mereka memilih hari baik pada hari ke 9 dibulan ke 10 untuk upacara ini. Pd hari yang telah ditentukan, Kaisar Xian mengundang Cao Pi untuk naik keatas altara dan menerima penyerahan kekaisarannya. Dibawah altar berdiri para pejabat kurang lebih 400 orang banyakanya dan juga pasukan Armored Tiger dan juga Prajurit lainnya yang jumlahnya mencapai 300.000 prajurit. Segera kaisar menyerahkan takhtanya dan juga stempel kekaisarannya kepada Cao Pi. Kemudian semua yang berada dibawah altar itu berlutut dan mendengarkan titah kaisar.

"Kepada Pangeran Wei, Dimasa lau, Yao menyerahkan kekaisarannya kepada Shun dan Shun memberikannya pada Yu. Kehendak langitu tidak sejalan dengan kehendak manusia, kehendak langit adalah jalan kebajikan. Han telah kehilangan peruntungannya. Ketika aku memerintah, kekacauan besar terjadi dan kejahatan merajalela, kekaisaran menjadi kacau balau. Aku percaya kepada kemampuan Pangeran Wei terdahulu untuk mengembalikan keadaan dan menghancurkan kejahatan dimana aku dapat menjamin ketentraman negeri ini. Kemudian Pangeran Wei yang sekarang menggantikan ayahnya. Dia juga dipenuhi oleh kebajikan. Kemampuannya sama seperti Raja Wu dan Raja Wen. Langit dan bumi mendukungnya dan ditangannya masa depan cerah berada. Seperti leluhurku sebelumnya, Langit telah memberikan mandatnya pada mereka yang pantas dan dia akan menentramkan seluruh negeri. Pangeran Wei adalah orang yang terpilih untuk menerima mandat langit ini dan aku berharap dia akan mau menerima kedudukan tinggi ini dan menentramkan rakyat sesuai dengan kehendak langit”

Setelah selesai membacakan titah ini, Pangeran Wei naik keatas altar dan duduk diatas singasana kaisar. Kemudian Jia Xu sebagai kepala dari seluruh pejabat segera berbaris dibawah altar itu dan sidang pertama pemerintahan Cao Pi diadakan. Masa Pemerintahan Wei diubah dari masa Yan Kang menjadi masa Huang Chu (Kuning Terbit) tahun pertama (Tahun 220 M). Sebuah titah dikeluarkan untuk amnesti dan gelar Pendiri dinasti diberikan kepada Cao-Cao.

Lalu Hua Xin berkata, "Seperti langit yang punya satu matahari maka rakyat hanya boleh mempunyai satu penguasa saja. Han telah menyerahkan takhtanya pada Wei dan aku rasa mereka harus pergi ketempat yang jauh sekali. Aku mohon Yang Mulia mengeluarkan titah untuk mentapkan tempat kediaman bagi keluarga Liu."

Dengan memegang tangan kaisar, Hua Xin memimpin dia turun altar dan memaksanya bersujud kepada Cao Pi dan mendengarkan titah kaisar. Kemudian Kaisar Pi memberikan titah bahwa Liu Xian harus pergi ke Shang Yang dan dia diangkat menjadi Raja Muda ShangYang.

Segera Hua Xin mengeluarkan pedangnya dan berkata kasar,"Ini adalah tradisi lama bahwa naik takhtanya satu kaisar artinya adalah turun takhtanya kaisar sebelumnya. Sekarang , dengan kebaikan hati kaisar Pi dia mengampuni nyawamu dan mengangkatmu menjadi Raja Muda. Segera pergi ketempatmu dan Jangan kembali lagi keibu kota tanpa perintah."

Kaisar Xian lalu berusah mengontrol perasaannya dan dia berterima kasih kepada Kaisar Pi. Dia kemudian naik keatas seekor kuda dan segera pergi. Semua yang melihat kepergiannya merasa kasihan kepada dirinya.

Kata Cao Pi kepada para bawahannya, "Sekarang aku mengerti kisah Shun dan Yu."

Mereka kemudian semua bersujud dan berkata, "Semoga Baginda Yang Mulia Sehat Selalu dan Panjang Umur !!!"

Para pejabat kemudian memohon pada Cao Pi untuk membuat deklrasi kepada langit dan bumi yang dilakukannya dengan penuh kerendahan hati.

Tetapi pada saat itu tiba-tiba angin ribut muncul dan debu serta batu berterbangan. Semua lilin dan obor yang ada dialtar itu padam. Kaisar yang baru itu lalu langsung ketakutan dan dia kemudian jatuh pingsan. Ketika sadar dia lalu dibantu keistana dan untuk beberapa hari dia jatuh sakit dan tidak dapat menghadiri sidang istana.

Ketika dia sudah sembuh, dia menemui bawahannya yang memberinya selamat. Dia lalu mengangkat Hua Xin sebagai menteri dalam negeri dan Wang Lang sebagai menteri perkerjaan. Seluruh pejabat yang membantunya mendapatkan jabatan dan promosi. Tetapi kesembuhannya cukup lambat dan dia berpikir bahwa terlalu banyak hawa negatif di istana Xu Chang. Kemudian dia pindah ke Luo Yang dimana dia mendirikan istana besar.

Cerita mengenai hal ini sampai ke Cheng Du dan disana Pangeran HanZhong, Liu Bei menangis dan sedih karena dia mendengar kabar burung bahwa kaisar Xian telah dibunuh. Dia memerintahkan agar semua orang berkabung dan mengadakan upacara. Hal ini telah menyebabkan Liu Bei jatuh sakit dan dia tidak dapat melaksanakan tugas-tugasnyadiistananya yang akhirnya diserahkannya pada Zhuge Liang.

Kemudian Zhuge Liang dan beberapa orang lainnya berdiskusi satu dengan yang lainnya dan dia berkata, "Kekaisaran tidak mungkin satu hari saja tanpa seorang kaisar oleh sebab itu kami menginginkan agar pangeran HanZhong diangkat menjadi Kaisar."

Qiao Zhou berkata, "Aku telah melihat ada pertanda baik. Uap kuning yang menjadi awan terlihat disebelah barat laut Cheng Du dan bintang kaisar bersinar terang sekali sampai sinarnya terang seperti bulan. Tanda2x ini berarti bahwa Pangeran kita akan menjadi penerus Dinasti Han. Tidak ada keraguan mengenai hal ini."

Segera Zhuge Liang dan Xu Jing bersama beberapa pejabat lainnya segera membuat petisi meminta agar Liu Bei menjadi Kaisar tetapi Liu Bei berkeberatan.

"Apakah kalian ingin membuatku dicap sebagai pemberontak dgn melakukan hal yang salah ini ?"

"Bukan begitu, tetapi Cao Pi telah merebut takhta sementara kau adalah keluarga kekaisaran. Ini adalah hal yang benar dan pantas bahwa kau mengantikan kaisar Xian dan meneruskan dinasti Han.", Kata Zhuge Liang.

Tetapi Liu Bei tiba-tiba marah dan meninggalkan ruangan itu.

3 hari kemudian Zhuge Liang mengulangi lagi permintaannya ini dan mereka semua bersujud memohon hal ini.

Xu Jing berkata, "Kaisar Xian telah dibunuh oleh Cao Pi, Pangeran, kau akan gagal menunjukan loyalitasmu dan rasa kebenaranmu jika kau tidak menjadi kaisar dan menghancurkan pemberontak ini. Seluruh kekaisaran memohon agar kau memerintah dan membalaskan dendam kaisar terdahulu. Rakyat juga akan kecewa pada dirimu jika kau tidak mengikuti kehendak mereka."

Liu Bei berkata, "Walaupun aku keturunan dari Kaisar Jing tetapi jia kau mengambil langkah menjadi kaisar maka apa bedanya aku dengan pemberontak Cao itu ?"

Zhuge Liang memohon lagi dan lagi tetapi Liu Bei tidak mau mendengarkan. Lalu Zhuge Liang kemudian memikirkan suatu taktik. Dia mengatur hal ini dengan beberapa pejabat lainnya. Dia kemudian berpura-pura sakit parah dan berada dirumahnya selama berhari-hari. Kemudian seseorang mengatakan pada Liu Bei bawah kondisi Zhuge Liang sudah sangat serius dan segera Liu Bei datang menemuinya sedang terbaring di kasurnya.

"Apa yang menyebabkan sakitmu, temanku yang baik ?" Tanya Liu Bei.

"Hatiku sangat sedih dan serasa seperti terbakar, aku akan segera mati." jawab Zhuge Liang.

"Apa yang menyebabkan kesedihanmu ini ?"

Tetapi Zhuge Liang tidak mau mengatakannya dan ketika Liu Bei mengulang pertanyaanya lagi dan lagi Zhuge Liang tetap tidak mau berkata apa-apa, dia hanya terbaring dan matanya menutup seperti dia terlalu sakit untuk berbicara.

Walaupun begitu Liu Bei tetap menekannya untuk mengatakan sebabnya dan dengan tarikan napas panjang Zhuge Liang berkata, "Tuan Pangeran, Dari hari pertama aku meninggalkan gubukku yang sederhana untuk mengikutimu, kau selalu mendengarkanku dan saran2xku. Sekarang didaerah barat ini, seluruh wilayah kedua sungai sudah menjadi milikmu seperti kata-kataku dahulu. Tetapi pemberontakan Cao Pi ini berarti musnahnya Han. Oleh sebab itu aku dan seluruh pejabat yang lain ingin menghendakimu menjadi kaisar dengan maksud menghancurkan Wei dan mengembalikan Han. Kami semua berkerja untuk tujuan ini dan tidak pernah berpikir bahwa kau akan menolak keingin kami. Sekarang seluruh pejabat sudah menjadi kesal dan mereka akan pergi tidak lama lagi. Jika kau hanya tinggal sendiri dan Wu serta Wei menyerang, maka akan sangat sulit bagi dirimu untuk bertahan dengan apa yang kau punya. Apakah kau pikir ini bukan alasan yang cukup bagiku untuk menjadi sangat sedih seperti ini ?"

"Kecuali jika kutolak maka kutakutkan seluruh dunia akan menyalahkanku." Jawab Liu Bei.

Dengan mengutip Konfusius, Zhuge Liang berkata, "Jka nama tidak dibenarkan maka bahasa tidak akan sesuai dengan kebenaran sesuatu. Dengan kata lain ika seseorang tidak benar maka orang-orang tidak akan mendambakannya. Pangeran, Kau berkata benar dan orang-orang mendambakan kepemimpinanmu. Apa lagi yang harus kukatakan ? Kau tahu bahwa langit memberimu kesempatan dan kau menolanya begitu saja. Kau pasti akan dipersalahkan orang-orang jika begini."

"Ketika kau sembuh, aku akan menuruti segala keinginanmu." Jawab Liu Bei.

Lalu Zhuge Liang langsung bangun dari tempat tidurnya dan dia segera membuka jendela serta pintu kamarnya dan disana telah menunggu sekumpulan pejabat tinggi dan menteri negara yang lalu bersujud padanya dan berkata, "Jadi kau telah setuju pangeran ! Maka pilihlah hari yang baik untuk mengadakan upacara ini."

Disana datang semua pejabat-pejabat tinggi Shu, Ada Menteri Negara Xu Jing, jenderal yang membawa kedamaian bagi Han Mi Zhu, Bangsawan QingYi Xiang Ju, Bangsawan YangQuan Liu Bao, Wakil gubernur Zhao Zhuo, Sekertaris utama Yang Hong, Penasehat istana Du Qiong, sekertaris Zhang Shuang, menteri Lai Gong, Menteri Huang Quan, Menteri He Zong, Sarjana istana Yin Mo, menteri Qiao Zhou, Panglima besar Yin Chun, Komandan kekaisaran Zhang Si, bendahara Wang Mou, Sarjana kekaisaran Yi ji, Penasehat Qin Mi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pangeran lalu terkejut dan berkata, "Kau telah menipuku untuk melakukan hal yang tidak terpuji !"

Tetapi Zhuge Liang berkata, "Karena persetujuan telah dibeirkan, maka altara akan dibangun dan hari baik akan dipilih untuk perayaan besar ini."

Liu Bei kemudian segera kembali keistananya dan Pelajar Xu Ci serta penasehat tinggi Meng Guang diperintahkan untuk mengawasi pembangunan Altar ini di atas Gunung Wu Tang disebelah selatan Cheng Du. Dan ketika semuanya telah siap maka pada hari yang telah ditetapkan seluruh pejabat Shu menyertai Liu Bei yang duduk didalam tandu dengan tanda2x kebesaran kaisara menuju tempat yang telah disiapkan. Liu Bei kemudian naik keatas altara dan dia melakukan ritual berdirinya sebuah dinasti.

Setelah ini selesai lalu dengan suara keras Qiao Zhou membacakan pengumuman :

"Pada hari ke 12 bulan ke 4 ditahun ke 25 masa Jian an, Liu Bei, Pangeran HanZhong, diangkat menjadi kaisar sesuai dengan kehendak langit."

Kemudian Qiao Zhao juga membacakan deklarasi manifesto yang mengambarkan tujuan dan cita2x kekaisaran yang baru ini.

Setelah selesai, Zhuge Liang atas nama seluruh yang hadir kemudian naik keatas altar untuk menyerahkan Stempel Kekaisaran yang baru.

Liu Bei menerimanya dan kemudian menaruhnya diatas altar, dan dia berkata, "Aku, Liu Bei tidak pantas untuk menerima hal ini. Aku harap kau memilih yang lainnya, yang lebih mampu."

Tetapi Zhuge Liang berkata, "Tuanku baru saja mendirikan kekaisaran dan kebaikannya telah tersebar keseluruh penjuru negeri. Lebih lagi, kau berasa dari keluarga kekaisaran dan sangat tepat bila kau berada diposisi ini. Sekarang inaugurasi telah selesai, penolakanmu sudah tidak mungkin dilakukan."

Seluruh pejabat yang lain lalu berkata, "Hidup Kaisar Liu !" Dan mereka semua bersujud sebagai tanda penghormatan.

Masa pemerintahan dari masa Jian An ke 25 dirubah menjadi Masa Zhang Wu (Manifestasi kekuatan) tahun 1. Lady Wu dingkat menjadi permaisuri Wu dan anak tertuanya Liu Shan sebagai putra mahkota. Sedangkan anak keduanya, Liu Yung diangkat menjadi Pangeran Lu dan Liu Li menjadi pangeran Liang. Zhuge Liang diangakt menjadi Perdana Menteri, Panglima besar pasukan Shu, Gubernur Cheng Du dan Bangsawan Han dan Xu Jing sebagai menteri dalam negeri. Yang lainnya jugas mendapatkan jabatan dan promosi dan amnesti segera diumumkan sehingga seluruh daerah bergembira dan bersuka-cita.

Keesokan harinya ketika sidang pertama diadakan, dia kemudian mengumumkan.

"Ditaman bunga persik, Aku dan adik2xku, Guan Yu dan Zhang Fei bersumpah untuk hidup dan mati bersama. Tetapi Guan Yu adikku ini telah menemui ajalnya ditangan Sun Quan, penguasa Wu. Aku harus membalaskan dendam ini. Oleh sebab itu aku memerintahkan agar seluruh pasukan dikerajaanku ini untuk menghancurkan Wu dan menangkap Sun Quan. Hanya hal itu saja yang dapat meredakan amarahku."

Tetapi baru saja dia berhenti berbicara, seorang pejabat maju kedepan dan berkata, "Hal itu tidak boleh dilakukan !"

Semua mata mengarah pada orang ini dan dia adalah Salah satu jenderal Harimau, Zhao Yun.

0 Response to "BAB 71 - BAB 80"

Poskan Komentar

Powered by Blogger